
Kastil Perdamaian.
Guru Chiron sedang menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi kepada Pangeran Ketiga, dari awal ketika Sang Ratu lama meninggal karena ilmu sihir hitam dan bukan karena sakit parah. Dia juga menjelaskan dengan detail, semua kejadian yang selama ini terjadi kepada putri Ellora padanya.
Stelah mendengar semuanya, Everald mengepalkan kedua tangannya dan meninju tangannya ke sebuah meja. Dia tidak menyangka betapa bodoh dirinya selama ini, sampai tidak tahu bahwa istrinya setiap saat selalu melindunginya.
"Argggghhhht!!!." Everald berteriak dengan penuh kemarahan dan kesakitannya.
"Kenapa? Kenapa Guru tidak memberitahuku saja semuanya?! Kenapa! Kenapa harus mengorbankan istriku!!." Jeritnya dengan penuh kemarahan, dia juga sangat marah kepada dirinya sendiri.
"Tenanglah, sekarang aku sudah jujur padamu. Kami semua bukannya sengaja mengorbankan istrimu, tapi itu memang sudah menjadi Takdirnya dari saat dia datang kesini. Takdirnya adalah menjadi penyelamatmu..." Guru Chiron menjelaskannya dengan sabar.
"Takdir! Takdir apa maksud Guru?! Apa takdirnya hanya untuk mengorbankan nyawanya untuk melindungiku! Jika begitu, biarkan aku mati sekarang! Aku tidak akan pernah membiarkan istriku mempertaruhkan nyawanya untukku! Jika dia mati, sama saja aku juga ikut mati! Aku tidak bisa hidup tanpanya!"
Akhirnya Everald meluapkan semua kemarahannya, dia langsung terjatuh terkulai menangisi penderitaan istrinya selama ini.
Guru Chiron yang melihatnya menangis seperti itu, akhirnya tak tega melihatnya. Dia menjelaskan kembali, alasan lainnya dari kejadian semua ini.
"Dengar Pangeran, aku tau kamu tidak bisa menerima semua ini. Tapi ini semua bukan hanya demi kebaikanmu saja, tapi juga demi kebaikan kerajaan kita dan Negeri ini. Jika Ratu Letizya dan keturunannya berkuasa, maka yang terjadi nanti hanyalah kesengsaraan dan penderitaan semua rakyat. Juga semua perjuangan semua orang selama ini, akan sia-sia saja." Guru Chiron menjelaskannya lagi.
Guru Chiron melanjutkan perkataannya. "Kamu harus mengerti, bahkan Ibumu adalah korban dari kekejaman Ratu yang sekarang. Bayangkan jika Ratu Letizya dan Klan-nya berkuasa, Negeri ini akan hancur! Kami harus melindungimu dan menjadikanmu Seorang Raja!."
"Putri Ellora yang adalah istrimu adalah Anugrah yang datang kepada kita, dia adalah seseorang yang sangat Istimewa. Yang bahkan kedatangannya sudah dikatakan Seorang Peramal berpuluh tahun yang lalu." Lanjutnya.
Setelah mendengar semua penjelasan Gurunya, Everald menenangkan dirinya, lalu memikirkan segalanya. Jika memang Takdir istrinya harus berkorban nyawa untuknya, maka dia pasti akan merubah Takdir itu. Tapi dirinya juga berjanji, tidak akan pernah menyerah kepada kekejaman Ratu Letizya dan Klan Icarus.
Sedangkan Ellora yang terbaring terluka masih belum sadarkan diri, sepertinya proses penyembuhannya membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama.
***
Istana Prygia.
Everald berjalan cepat memasuki Istana, dengan semua kemarahannya dia ingin segera membunuh Ratu Letizya. Tapi karena mengingat perkataan Gurunya, dia pun menyerah dan hanya bisa menahan kemarahannya. Dia lalu berjalan menuju kamar Putra Mahkota untuk memperingatinya, agar ibunya jangan melewati batas kesabarannya lagi.
__ADS_1
Brakkkkk !!!
Everald membuka pintu dengan keras, Putra Mahkota sedang bersama seorang wanita panggilan di atas ranjang, dengan tubuh wanita itu yang setengah polos.
Wanita itu terkejut dan langsung menarik selimut, sedangkan Putra Mahkota hanya diam tak bergeming. Lalu ketika Putra Mahkota melihat ada jejak kemarahan di wajah Pangeran Ketiga, dia pun menyuruh wanita panggilan itu keluar.
Setelah wanita itu keluar, Putra Mahkota langsung membuka mulutnya. "Wah! Mimpi apa aku semalam, saudaraku tersayang mendatangiku kesini." Ledek Putra Mahkota.
Everald yang menahan amarahnya langsung geram mendengar ejekannya, dia langsung mendekati Putra Mahkota sampai wajah mereka berdua hampir menempel, dia menatapnya dengan tajam.
"Jaga kelakuan Ibumu! Jika sekali lagi dia melukai istriku dengan cara ingin membunuhnya, aku tak akan pernah memberi ampunan lagi kepadanya!." Setelah mengatakannya dia langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Putra Mahkota.
Saat Putra Mahkota mendengarnya, dia langsung syok. Dia seketika terdiam memikirkan perkataan dari Pangeran Ketiga. Kemudian dia langsung mengerti, lalu mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dia langsung memakai pakaiannya dan berjalan pergi untuk menemui Ibunya.
"Ibu!!!!." Raung Putra Mahkota setelah masuk ke kamar Ibunya, sang Ratu.
Ratu Letizya tentu saja sangat terkejut mendengar Putranya berteriak padanya, karena baru kali ini anaknya itu berteriak kepadanya sejak dirinya melahirkannya.
"Apa yang Ibu lakukan pada Putri Ellora?!." Tanyanya masih dengan kemarahan.
"Jawab dengan jujur Ibu! Apakah benar Ibu melukainya dan berniat membunuhnya?!." Putra mahkota menatap ibunya tajam.
"Kenapa kamu seperti ini pada Ibu?! Jika memang benar, memangnya kenapa? Apa urusannya dengan mu?!." Sekarang sang Ratu balas berteriak.
"Ibu, aku mohon. Jangan melakukannya lagi! Jangan mencoba mengusik dan melukai Putri Ellora. Aku hanya akan mendukungmu untuk melenyapkan Pangeran Ketiga! Bukan untuk melukai Putri apalagi membunuhnya. Jika Ibu melukai Putri Ellora lagi bahkan seujung rambut pun, akulah yang akan menghadapi Ibu!." Setelah mengatakannya Putra Mahkota langsung pergi, masih dengan amarahnya.
Ratu Letizya terpaku dan mematung mendengar perkataan Putranya barusan.
"Apa pendengaranku salah? Apa yang dipikirkan Putraku itu, hingga ingin melawanku? Apakah benar yang aku pikirkan selama ini, kalau putraku itu sudah jatuh hati pada istri Pangeran Ketiga? Tidak! Tidak boleh!." Gumamnya berbicara pada dirinya sendiri.
***
Kastil Perdamaian.
__ADS_1
Setelah Everald kembali ke Kastil, dia melihat lagi keadaan istrinya yang masih seperti semula. Dia sangat frustasi melihat keadaannya, dia tak sanggup lagi melihatnya dan segera keluar untuk mencari udara segar. Disaat dia akan pergi keluar kastil, dirinya berpapasan dengan Zette, yang sepertinya ingin melihat keadaan istrinya.
"Apakah kamu ingin melihat keadaan Istriku?." tanya Everald.
"Ya." jawabnya.
"Ayo kita bicara dulu, setelah itu kamu boleh melihatnya." Ucap Everald.
Mereka pun keluar untuk mencari tempat untuk berbicara, dan mereka mengarah ke tempat air terjun berada. Mereka berdua membutuhkan udara segar untuk mengurangi rasa sesak di dalam dada mereka.
( Dua Pria Bucin, Ups ! Tambah Putra Mahkota. Tiga Pria Bucin 😌 ).
"Terima kasih kamu sudah menjaga istriku selama ini, aku ucapkan dengan tulus." Everald berkata dengan tulus.
"Tidak masalah, Anda juga tau perasaanku pada Putri. Meskipun perasaanku selamanya tidak akan terbalas, karena Putri sangat mencintai Anda. Bahkan putri sampai rela mempertaruhkan nyawanya untuk anda. Jujur saja, Anda sangat beruntung dan aku sangat Iri. Tapi bagiku selama Putri bahagia, aku juga ikut bahagia." Ucap Zette sambil menghela nafasnya.
"Ya, kamu benar. Aku adalah Pria paling beruntung di Dunia ini dan aku tidak ingin lagi kehilangannya."
Lalu Everald menatap Zette dengan pandangan serius.
"Aku mengajakmu berbicara, karena ingin meminta bantuanmu. Karena aku tau perasaanmu pada Istriku tulus, aku ingin kamu menjaga dan melindunginya. Lebih dari kamu harus melindungiku, jika nanti ke depannya terjadi sesuatu." Pinta Everald, lalu dia melanjutkan perkataannya.
"Aku memang harus dilindungi sesuai perkataan Guru Chiron, karena memang benar, kelak aku harus menjadi Raja. Tapi bagiku semua itu tidak ada artinya, jika harus dengan mempertaruhkan nyawa istriku."
"Zette, berjanjilah padaku. Jika kamu harus mempertaruhkan nyawamu, maka berikan nyawamu untuk melindungi istriku bukan melindungiku. Aku percaya padamu!" Lanjutnya lalu menepuk-nepuk pundak Zette.
Zette yang mendengar permintaan Everald, hanya menatap air terjun yang mengalir dengan derasnya ke bawah. Dia menyimpan permintaan Pangeran ke dalam hatinya.
Dia sebenarnya akan selalu melindungi Ellora tanpa harus Pangeran memintanya, karena dirinya tahu jika sesuatu terjadi kepada Ellora, dirinya juga tak akan bisa menerimanya. Karena sepertinya cintanya kepada Ellora semakin hari semakin dalam, dirinya masih belum bisa dengan tulus melepaskannya.
BERSAMBUNG.......
Jangan Lupa Klik Like dan Komen 😘
__ADS_1
🌹 Happy Reading, Readers-ku ❤️🌹