Romantika Cinta

Romantika Cinta
Bab 21


__ADS_3

"Menjauhlah dariku! Kamu sengaja kan mau mencuri-curi kesempatan?" ujarnya Livia.


Abi refleks langsung mundur 1 langkah dan seketika itu mengangkat kedua tangannya ke atas.


"astagfirullah, maafkan aku nona muda, karena aku sama sekali tidak terlintas niat untuk mencuri kesempatan seperti apa yang kamu katakan, justru aku menyelamatkanmu dari tatapan pria yang mungkin akan berpikir mesum saat melihat pahamu itu yang terbuka dan terlihat jelas, ada baiknya kamu memakai pakaian yang lebih tertutup saat berjalan di tempat umum!" ujarnya Abidzar.


Lagi-lagi Lifia memegangi pangkal hidungnya; "sudah ceramahnya? sekarang kamu bahkan melebihi mamaku ya cerewetnya? aku jadi bahkan bosan mendengar itu semua, jadi sudahi ceramahmu itu! Oh ya, mengenai tentang gaya berpakaian Aku tidak akan merubahnya. Karena ini style ku dari dulu, jika kamu tidak menyukainya jangan melihatnya! begitu saja kok repot!" ujarnya Livia.


"hidup itu jangan dibuat ribet, kita jalani saja semuanya menurut yang kita nyaman, jadi jangan terlalu banyak berpidato di hadapan ku! jika kamu mau ceramah nanti saja pas acara pengajian setiap 1 bulan sekali di Mansion yang selalu keluarga Wijaya lakukan untuk menyantuni anak yatim dan para dhuafa." sambungnya.


"tidak perlu nona muda, karena aku pun masih belum mempunyai ilmu yang mempunyai mumpuni untuk memberikan sebuah ceramah pada orang banyak, akupun hanya berniat baik untuk mencoba mengingatkan kamu saja, bukan berniat untuk ceramah seperti yang kamu bicarakan itu. "


"tapi menurutku, kamu cocok untuk menjadi pak ustad karena perkataanmu yang sering memberiku ceramah dan persis sekali seperti ceramah dari ustad yang sering mengisi di acara pengajian keluargaku nanti aku juga akan bilang sama Papa dan Mama kalau kamu juga ingin memberikan sebuah ceramah."


" tidak perlu nonamuda! "jawab Abi sambil mengarahkan tangannya untuk menolak.


Karena aku hanya ingin memberikanmu sebuah nasehat, agar kamu bisa sedikit berubah dan bisa memperbaiki dirimu, aku tidak ingin memberikan ceramah pada orang lain, karena bagiku yang paling penting adalah istri dan anak-anakku yang harus lebih baik dulu, karena itu adalah tanggung jawab besar bagi seorang suami dan ayah untuk membawa keluarganya menjadi keluarga yang dirahmati Allah.


Refleks Livia tertawa terbahak-bahak begitu melihat reaksi dari pria yang berada di depannya itu.


"kenapa memangnya? apa kamu tidak berani?"


"bukan tentang berani atau tidak nona muda, aku hanya ingin melindungi istriku saja, karena setelah kita menikah kamu merupakan tanggung jawabku dan aku harus mempertanggungjawabkan semuanya di akhirat kelak, maafkan aku karena aku selalu menganggap bahwa yang akan terjadi besok bukanlah sebuah sandiwara, itu karena aku belum pernah berpura-pura apalagi melakukan sebuah kebohongan yang besar seperti ini."


"aku tahu, itu sudah sangat terlihat jelas dalam sikapmu selama ini, jadi aku sudah tidak merasa heran gara-gara kamu terlalu banyak bicara sehingga membuat kita terlalu lama berada di sini, ayo cepat! kita pilih cincin kawin untuk acara pernikahan palsu kita."


Livia buru-buru melangkahkan kakinya untuk menuju salah satu toko perhiasan yang merupakan langganan sang mama.


"selamat siang nona muda, anda sedang mencari apa?" tanyanya karyawan toko perhiasan itu.


Livia menyunggingkan senyumannya dan mulai mengatakan apa yang dibutuhkannya kepada karyawan itu.

__ADS_1


"cincin kawin mbak."


"mau yang seperti apa nona muda? mau yang elegan, glamour atau yang berlian?"


"terserah saja mbak yang penting pas dijari, pilihkan saja yang sekiranya cocok untuk aku dan dia!" ucap Livia sambil menunjuk ke arah pria yang berada di sebelahnya.


"biar aku saja yang pilih nona muda!" ucap Abi sambil menatap wajah cantik wanita yang terlihat sangat tidak bersemangat itu.


"baiklah, terserah kamu saja!"


Livia beranjak dari tempatnya itu dan mulai berjalan ke arah kursi yang berada di sudut toko perhiasan itu kemudian dirinya langsung mendaratkan tubuhnya di atas kursi tersebut dan mulai sibuk dengan ponselnya.


Sementara itu, Abi yang mulai memperhatikan berbagai macam cincin couple yang berada di etalase kaca, tidak berkedip karena sedang berkonsentrasi untuk memilih cincin yang akan dirinya pakai sebagai mahar pernikahan.


"anda maunya yang seperti apa Tuan? sepertinya Anda dari tadi sangat kebingungan untuk memilih."


"Iya mbak, tentu saja saya merasa bingung untuk memilih, karena nona muda pasti mempunyai selera yang sangat luar biasa bukan? yang seperti itu tuh contohnya."


Sontak saja karyawan wanita itu menggelengkan kepalanya seolah ingin menegaskan bahwa tebakan dari pria yang berada di depannya itu salah.


"anda salah Tuan, meskipun nona muda adalah seorang wanita keturunan konglomerat, namun dirinya sama sekali tidak menyukai perhiasan yang terlalu glamor seperti itu, nona muda sama seperti mamanya yang menyukai sesuatu yang sederhana dan simpel, bukankah saat ini nona muda sama sekali tidak memakai perhiasan?"


"itu semua karena nona mengikuti jejak nyonya besar yang hanya memakai perhiasan saat acara besar yang mengharuskan mereka datang untuk menghormati acara itu. Saya sangat tahu karena saya selalu mengamati penampilan dua ratu keluarga Widjaja yang selalu disorot oleh para awak media itu." sambungnya.


"Oohhh, jadi begitu rupanya? berarti nona muda adalah seorang wanita yang sederhana? kalau begitu aku bisa membelikan cincin kawin yang lebih simpel dan tidak terlalu mahal, maklum lah mbak saya hanyalah karyawan biasa di sebuah perusahaan kecil."


"jadi mas adalah calonnya nona muda Livia?"


"InsyaAllah mbak, do'akan saja ya! agar saya bisa merubah sifat angkuh sang Nona muda menjadi seorang istri yang sholehah.",


"Aamiin. Tentu saja mas, kalau begitu selamat ya! saya sama sekali tidak menyangka kalau Nona muda Livia akan menikah secepat ini."

__ADS_1


"kita tidak pernah tahu yang namanya jodoh mbak, karena saya pun sama sekali tidak pernah menyangka jika saya akan menikah dengan seorang Nona muda. Mbak coba cincin yang itu!"


Tangan kanan Abi menunjuk ke arah cincin yang terlihat sangat sederhana namun dengan tidak meninggalkan kesan elegan karena dihiasi batu permata di atasnya.


Kemudian karyawan wanita tersebut mulai mengambil cincin yang berada di etalase dan menyerahkannya pada pria yang dari tadi dengan intens menatap kearah cincin yang dipilihnya itu.


"Ini mas?"


"Iya mbak, sepertinya ini sangat cocok untuk nona muda, untuk ukurannya ada pilihannya kan mbak?"


"ada mas, nanti ada pilihannya untuk ukurannya ini."


"kalau begitu saya suruh Nona muda untuk memakainya dulu kira-kira pas apa nggak."


"Silahkan mas."


Abi langsung menganggukkan kepalanya kemudian dirinya berjalan menghampiri wanita yang terlihat tengah menundukkan kepalanya menatap kearah ponselnya itu.


"Nona muda, coba kamu pakai cincin ini di jari manismu! kira-kira pas atau tidak?"


Abi mengerutkan keningnya saat tidak mendapat tanggapan dari perkataannya itu.


"Nona muda Livia...."


Karena masih juga tidak mendapat tanggapan akhirnya Abi refleks menepuk pundak wanita yang masih menundukkan kepalanya itu.


"Livia.."


Abi sangat terkejut begitu melihat wanita yang perlahan mendongak menatapnya.


"Nona muda Livia, ada apa? kenapa kamu menangis?"

__ADS_1


__ADS_2