Romantika Cinta

Romantika Cinta
Bab 28


__ADS_3

Abi yang sama sekali tidak pernah menyangka akan mendengar perkataan dari pria yang merupakan kakak dari Livia itu bisa dengan mudahnya menyebutkan tentang obat perangsang. "Apaaa??!! obat perangsang??!!"


"Astaghfirullah hal adzim.. sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan saat ini hingga mempunyai ide seperti itu? aku tidak akan pernah berbuat hal yang dilarang oleh agama karena itu sama saja aku telah menipu dan berbuat dosa kepada wanita yang aku nikahi. Lebih baik urungkan niatmu karena itu namanya dosa!"


Begitu mendengar reaksi dari calon suami adiknya itu membuat Zian langsung menepuk jidatnya. Ya, tentu saja di dalam hati dirinya sudah sibuk untuk pria yang menurutnya sangat bodoh itu.


Astaga.. pria ini terlalu baik atau terlalu bodoh? bukankah seharusnya dia merasa sangat senang disaat aku bilang ingin memberi obat perangsang pada Livia? bukankah dia bisa bebas untuk bercinta dengan wanita yang sudah sah dia nikahi? Tapi apa tadi katanya? dia bilang itu dosa? Astaga.. dia laki-laki normal atau laki-laki dari planet lain? Bagaimana caranya agar aku bisa menjelaskan padanya tentang ini?


"jadi kamu menolak rencanaku? dan kamu tidak akan pernah mau memberi nafkah batin untuk istrimu sendiri? bukankah itu malah lebih berdosa lagi?" tanyanya Zian.


Abi menggelengkan kepalanya. "justru lebih berdosa lagi jika aku memaksa seorang istri untuk melayaniku. Dalam syariat Islam menuntun bahwa hubungan intim antara suami dengan istri itu harus dilakukan dengan keintiman dan cinta. Karena Allah SWT pernah berfirman di dalam Al-Qur'an. "Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datanglah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman. (Q.S Al-Baqarah:223)"


Zian membantah perkataan Abi. "Akan tetapi setahuku jika seorang istri menolak ajakan suami untuk bercinta itu bukankah Allah juga akan marah? bukankah nanti adikku yang malah akan berdosa padamu dan dilaknat oleh Allah?"


"itu memang benar, tapi itu semua akan terjadi jika aku yang menginginkannya. Seperti yang dijelaskan dalam (Muttafaq alaih dari hadis Abu Hurairah) "bila seorang suami memanggil istrinya untuk segera ke ranjang lalu tidak dituruti, hingga sang suami tidak dalam keadaan marah kepadanya niscaya para malaikat melaknat dirinya sampai subuh." ujarnya Abidzar.

__ADS_1


"demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, tidak seorang suami pun yang mengajak istrinya lalu sang istri enggan memenuhi panggilannya itu melainkan yang di atas langit (Allah ta'ala) marah kepadanya sampai suaminya Ridha kepadanya. (H.R Muslim)" sambungnya.


"karena itulah aku tidak akan meminta hakku untuk melindungi istriku dari dosa, dengan memberikan obat perangsang pada istriku yang sama sekali tidak menginginkan untuk berhubungan intim, itu sama saja aku telah melakukan pemerkosaan. Dan hal yang paling fatal lagi adalah Livia akan selamanya membenciku, jadi aku ingin minta maaf padamu karena aku tidak akan menuruti idemu itu."


Zian dari tadi memijat pelipisnya, menurutnya berbicara dengan pria yang ada di depannya itu harus membutuhkan ekstra kesabaran yang besar. Dan yang ada, dirinya kini benar-benar merasa pusing karena tidak berhasil membujuk calon suami dari adiknya itu. "jadi kamu tidak akan pernah mau bercinta jika adikku tidak mau?"


Abi langsung menganggukkan kepalanya. "InsyaAllah, ku tidak akan pernah memaksa Livia untuk melayaniku karena aku akan memberinya nafkah batin saat dirinya sudah siap dan mau menyerahkan dirinya sepenuhnya kepadaku."


"Baiklah-baiklah, masalah itu terserah padamu saja! lagipula itu adalah urusanmu dan kenapa malah aku yang pusing memikirkannya? astaga, memikirkan pasangan aneh seperti kalian ini benar-benar membuatku merasa stress saja, kalau memang kamu memegang prinsip itu mungkin kamu selamanya tidak akan pernah bisa menyentuh adikku itu." ujarnya Zian.


Abi menggelengkan kepalanya. "InsyaAllah suatu saat nanti Livia akan melihat kebaikan dan ketulusan dari ku, dan lama-lama kerasnya hatinya itu akan mulai luluh oleh perasaan yang tulus yang aku miliki untuknya."


"ternyata inilah alasan Papa sangat menyukaimu dan mendukungmu untuk menjadi menantunya, dulu ada satu orang yang disukai oleh orang tuaku dan mereka ingin menikahkannya dengan Livia tapi untungnya dia menikah dengan sepupuku, karena aku sangat tidak setuju jika Livia menikah dengannya, karena aku lebih menyukaimu." ujarnya Zian.


"kamu itu cocok menjadi suami dari adikku bukan karena dia adalah adikku sehingga aku memujinya. Akan tetapi, karena adikku itu sangatlah suci karena dia belum pernah sekalipun berpacaran dengan seorang laki-laki, dan kamu tahu artinya kan? itu berarti dia sama sekali belum pernah bersentuhan dengan laki-laki, apalagi berciuman. Sepertinya itu pun sama denganmu, karena setiap orang akan mendapatkan jodoh yang sesuai dengan dirinya sendiri." sambungnya Zian.

__ADS_1


"karena adikku sangat baik dan suci, maka dia juga akan mendapatkan seorang pasangan sepertimu yang merupakan pria yang lugu dan baik. Seperti hukum alam, kita akan menuai apa yang kita tanam." sambungnya kemudian.


Abidzar menyunggingkan senyuman nya begitu mendengar kalimat bernada pujian dari calon kakak iparnya itu. " Alhamdulillah, semoga aku dan liriknya kelak bisa membina hubungan rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah. Aku juga sangat-sangat berterima kasih kepada keluarga Wijaya karena sudah mempercayaiku dan mempercayakan Nona muda Livia pada pria yang sama sekali tidak mempunyai apa-apa ini."


"InsyaAllah aku akan menjaga amanat ini sebaik-baiknya, dan tidak akan pernah mengecewakan Tuan Brawijaya dan Nyonya Gisella, dan aku juga membutuhkan doa dari kalian agar kedepannya bisa membuat Livia menjadi wanita yang lebih lembut layaknya seorang wanita pada umumnya." sambungnya.


"akan tetapi, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu? maksudku tentang alasan darimu kenapa tidak menyukai laki-laki yang disukai oleh Tuan dan Nyonya?." tanya Abi pada pria yang sudah berubah sedikit masam mendengar pertanyaannya itu.


"karena pria itu adalah mantan kekasih dari istriku dulu saat SMA, karena itulah aku sangat tidak menyukainya jika harus tinggal bersama dengan pria yang mungkin akan melirik istriku lagi. Lagipula Livia pun sama sekali tidak pernah tertarik padanya, karena katanya dia itu terlalu tampan meskipun sebenarnya itu hanya alasan saja karena dia masih tetap mengharapkan Om kesayangannya itu."


"Oh iya, aku juga mau bilang hal penting padamu. Setelah kalian resmi menikah nanti, kalian tinggal saja di Mansion dan kamu akan bekerja di perusahaan Wijaya, karena aku sudah menyiapkan posisi yang penting untukmu aku pun sudah mengurus semuanya dan atasanmu sudah tahu kalau kamu akan bekerja di perusahaan Wijaya. Jadi kamu tidak perlu bekerja lagi di sana." sambungnya.


Abi tentu saja merasa sangat terkejut begitu mendengar hal yang sama sekali tidak ada di pikirannya itu, yakni bisa bekerja di perusahaan besar Wijaya yang sangat terkenal itu.


"A-apa?? aku akan bekerja di perusahaan Wijaya? apa ini tidak terlalu berlebihan? apa orang-orang tidak akan berpikir macam-macam mengenai aku? mereka semua pasti berpikir aku bekerja di sana karena koneksi."

__ADS_1


__ADS_2