
" Aku cuma mau beli minum bentar, ntar juga balik lagi kesini. Siapa yang mau ninggalin kamu? "
" Pokoknya nggak mau, aku mau ikut!! "
" Gimana caranya kamu mau ikut? kan kaki kamu sakit? "
" Coba aja kamu pikir sendiri!!! " ujarnya Livia dengan ketus sambil bersedekap dada karena tidak memahami sebuah isyarat atau kode dari dirinya yang ingin digendongnya.
Abi menghela nafasnya.
'Sepertinya kamu mulai memancingku. Baiklah, aku akan mengikuti semua permainan darimu, calon istriku.' gumam Abidzar.
" Yaudah, ayo gendong. " sambi mengendak dan memberikan punggungnya agar Livia mau untuk digendong.
Livia memasang mode munafik.
'Nah, gitu dong peka. Coba dari tadi, kan enak.' gumam dalam hati Livia.
Lain dihati, lain pula di mulut yang berucap dari Livia. Karena dia terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya sendiri dihadapan Abi.
" Ngga mau ah, malu. Ntar diliatin banyak orang lagi. "
Abi melirik kearah Livia.
" Mau apa nggak nih? kalau nggak mau ntar aku tinggal disini sendirian loh. " ancam Abi.
" Eh, iya iya mau. "
Livia dengan cepat memeluk leher Abi dari belakang dan menerima gendongan dari Abi.
'Yes, berhasil.' gumam Livia.
Sementara itu, Abi hanya tersenyum karena ternyata Livia takut dengan ancamannya tadi.
Dan kini Abi pun berjalan sambil menggendong Livia kearah tempat dimana toko yang menjual minuman yang berada di dalam Mall itu.
Semua pasang mata tertuju padanya, namun keduanya pun tak menghiraukan itu. Karena bahagia tidak harus menghiraukan keadaan sekitar kan? bahagia itu kita sendiri yang merasakan, dan orang lain yang berkomentar dan memberi tanggapan pikirnya.
Setelah cukup lama berjalan, akhirnya mereka sampai juga di tempat sebuah toko. Lebih tepatnya seperti kios yang menjual aneka minuman dingin yang serba ada, kios ini juga ramai pengunjung yang mengantri untuk membelinya.
Livia yang meminta Abi berhenti tepat disamping kanannya itu yang kebetulan disitu ada tempat duduk, lalu Abi pun menurutinya dan menurunkan Livia pada tempat duduk itu.
Sejenak Abi menghela nafasnya dengan ngos-ngosan.
__ADS_1
Livia yang melihat itu merasa tidak enak hati dengan Abi dan bertanya padanya.
" Kamu capek ya? "
Abi mengangguk-ngangguk. " Iya kamu berat. " sahutnya sambil tersenyum kecil.
" Haa?!! berat??!! " Livia mulai memasang wajah kusutnya seperti seorang anak kecil yang tengah ngambek.
" Iya, kenapa? kan aku jujur. "
" Orang langsing gini kamu bilang berat. "
" Iya, berat karena rasa cintamu padaku yang begitu besar. " ujarnya Abi sambil terkekeh.
" Apaan sih, gombalannya garing ah. Kalau gak bisa ngegombal jangan dipaksain, ntar yang ada kamu yang malu dan kesannya pun jadi nggak jelas. " sambil melihat kearah depan.
" Memang gombalanku tidak bermutu ya? "
" Aku haus! kalau mau ngegombal nanti aja kalau aku sudah minum!! "
Abi pun seketika itu langsung mengiyakan perkataan dari calon istrinya itu. " Oke oke, baik tuan putri. "
" Kamu tunggu sini ya, biar aku yang kesana. " ujarnya Abi.
Livia mengangguk.
" Abii.. "
Abi menoleh kearah Livia. " Iya? "
" Pinjem handphone kamu boleh? "
Abi mengernyitkan dahinya. " pinjem handphone? "
Livia mengangguk-ngangguk. " Ya itu pun juga kalau kamu tidak keberatan sih.. "
Sejenak Abi terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
" Yaudah, nih. " sambil memberikan handphone miliknya kepada Livia.
Livia tersenyum sumringah. " Aaaa makasii.. "
Abi tersenyum. " Iya sama-sama. "
__ADS_1
Kemudian Abi kembali berjalan untuk mengantri membeli minuman yang ada didekatnya itu.
Sementara itu, Livia kini tengah asyik membuka menu handphone milik Abi. Dia mulai mengecek nomor ponsel yang disimpan Abi dan mengecek namanya satu persatu.
Dia mulai men'scrol'kannya kebawah sambil mencari nama seseorang.
Dan akhirnya dia menemukannya.
Ya, siapa lagi kalau bukan nama Bella. Mantan kekasih dari Abi, saingan Livia. Karena memang Livia merasa tersaingi dengan kecantikan dari Bella ditambah lagi gadis itu memiliki sebuah perasaan yang sangat besar terhadap calon suaminya itu.
Baru mau menghapus kontak namanya di ponsel milik Abi, kini Livia dibuat terkejut saat melihat panggilan telepon dari ponsel itu.
" Hah??!! Bella??!! mau apa dia menelepon Abi? "
Kemudian Livia mulai mengarahkan tombol hijau keatas dan mulai berbicara dengannya melalui panggilan telepon itu.
" Hallo, ada apa Bella? " ujarnya Livia dengan nada suara sedikit tinggi.
" Hmm? " Bella terkejut ketika mendengar suara dari ponselnya itu.
" Assalamualaikum, ini Livia ya? " tanya Bella dengan basa-basi.
" Nggak usah basa-basi, saya yakin kamu masih ingat betul dengan suara saya. "
" Aaa waalaikumsalam, iya tentu saja saya ingat non. Begini non, apa saya boleh bicara dengan mas Abi? "
" Abi lagi sibuk, tidak bisa diganggu. Memangnya ada apa? biar nanti saya sampaikan langsung ke dia. "
" Eh, ini hanya masalah sepele kok non. Tidak apa-apa. "
" Yaudah kalau cuma masalah sepele. "
" Yaudah, nanti kalau ada waktu lagi saya mau menghubungi mas Abi kembali. "
" Terserah. "
" Iya, baik non. Maaf sudah mengganggu. Assalamualaikum. "
" Waalaikumsalam. " sambil mematikan panggilan teleponnya itu.
'Aneh, katanya cuma masalah sepele. Tapi kenapa dia tidak ingin memberi tahuku? atau jangan-jangan dia punya rahasia atau masih berhubungan dengan pria miskin itu? Awas aja ntar, kalau memang bener. Aku pasti akan buat kamu menyesal karena sudah menghianatiku nanti.' gumam Livia.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG..