
" Kamu sudah mau tidur? " tanyanya Abi kepada wanita yang tengah membelakanginya itu.
" Iya. " sambil memejamkan kedua matanya dengan suara sedikit kecil seakan tengah mengantuk berat dan ingin segera untuk tidur.
" Nggak mau ritual dulu nih? "
" Ritual apa? aku capek, tadi seharian aku harus bersalaman dengan tamu undangan satu persatu. "
" Ohh, ya sudah tidak apa-apa kalau kamu capek. Mungkin ritual malam pertamanya bisa diganti di lain waktu. "
" Mmmmm. "
" Ya sudah, selamat malam sayang. " sambil menarik selimutnya pula sambil sejenak melirik kearah Livia lalu pura-pura memejamkan matanya.
Livia terdiam sejenak. 'Kok ngerayunya segitu aja sih? nggak dipaksa atau apa. Dia ini benar-benar pengen atau tidak sih sebenarnya? Dasar laki-laki aneh, kalau mau itu ya harus usaha jangan pasrah gitu aja.'
Livia mulai membalikkan badannya itu kearah Abi. Dia melihat kearah Abi sambil tersenyum.
'Aku tidak menyangka akan menikah dengan pria seperti dirimu Abi. Aku sadar, awal-awal saja aku tidak menyukaimu bahkan membencimu. Tapi lama-lama aku mulai merasa nyaman denganmu, aku merasa ada kecocokan denganmu. Aku harap kita bisa selalu bersama Abi, aku harap aku dan kamu nanti akan merobek surat perjanjian kontrak kita bersama-sama. Dan kita bisa hidup bersama sampai tua sampai kita melihat anak cucu kita kelak. Aku juga yakin, pria baik sepertimu tidak akan pernah mengkhianati pernikahan ini. Aku mohon ya abi, jangan pernah mengecewakanku. Karena aku akan sangat sangat bersedih nantinya. Aku mohon, tolong jaga kepercayaan ku ini padamu. I Love You.' gumam Livia sambil tersenyum melihat kearah Abi, sementara yang ditatap kini mulai merasa bahwa Livia kini tengah menatapnya.
Abi langsung membuka kedua matanya itu lalu melirik kearah Livia. Sementara itu, Livia langsung kaget karena Abi tiba-tiba melihat kearahnya.
" Katanya capek mau langsung tidur? tapi kok masih ngeliatin aku? " tanyanya Abi sambil memberikan senyuman kecil kepada Livia.
" Dih, GR. Siapa yang ngeliatin kamu?! "
" Itu, tadi. Buktinya. "
" Nggak, aku nggak ngeliatin kamu! Gak usah kepedean deh jadi orang!! Dasar aneh! "
Abi malah memberikan senyumannya kepada Livia.
" Kamu itu memang aneh ya? aku kata-katain tapi kamu malah senyum-senyum gitu kaya orang gila. " ujarnya Livia sambil melihat kearah Abi.
" Senyum itu ibadah loh, sayang. "
__ADS_1
Livia terdiam sejenak sambil bergumam. 'Dia itu kenapa sih?! kok malah senyum-senyum sendiri seperti itu kaya orang gila, udah senyumannya manis lagi. Jadi bikin aku makin sayang'
" Ibadah sih ibadah, tapi ya nggak senyum-senyum gitu juga kali. " ujarnya Livia dengan ketus.
Abi melihat kearah Livia dan menatapnya dalam-dalam. " Memangnya kamu nggak suka kalau aku senyum-senyum seperti itu? "
" Bukannya nggak suka, tapi aku agak ilfeel sama kamu. Kamu itu aneh, dikata-katain bukannya marah tapi malah senyum-senyum gitu, sudah seperti orang gila tau nggak kamu?! "
" Aku memang gila sayang. Aku gila karena kamu, aku gila karena melihat kamu yang begitu cantik dan begitu menawan disaat sedang berdua didalam kamar ini denganku. "
" Dihh, gak usah ngegombal deh. Gombalan kamu itu nggak mempan sama aku. Gombalan kamu itu masih kelas teri, tau nggak?! "
" Kelas teri??! "
Livia mengangguk.
" Memangnya gombalan itu ada kelasnya? " tanyanya Abi.
" Ya iyalah ada. "
" Ya kaya kamu ini, gombalannya kaya bocil. "
" Apa?! kamu manggil aku bocil?! "
" Memangnya kenapa? kamu nggak suka kalau aku manggil kamu bocil? " sambil bersedekap dada.
" Aku ingin kamu manggil aku mas suami seperti tadi, bukan bocil. "
" Dih, mas suami. Aku tadi itu cuma salah manggil. Jadi gak usah kepedean jadi orang." sambil menatap langit-langit kamar itu.
" Yasudah, terus sekarang kamu mau manggil apa nih? "
" Bocil. "
" Hati-hati dengan lisanmu loh. "
__ADS_1
" Kenapa??! "
" Iya, kamu manggil aku bocil dan aku pun juga bisa menghasilkan bocil untuk kamu. Jadi jangan mancing-mancing. "
" Dih, siapa yang mancing coba? "
" Kamu lah. "
" Dih, kamu aja yang kepancing. "
Abi kemudian memeluk Livia. Sementara itu, Livia yang kini dipeluk oleh Abi langsung terkejut.
" Maafkan aku, Livia. Apa aku boleh memelukmu sebentar saja? kalau kamu keberatan, bilang ya??! "
Sementara itu, Livia hanya diam saja. Ada kehangatan tersendiri yang ia rasakan saat ini disaat Abi memeluknya.
'Terus peluk aku abi, jangan lepaskan dan jangan pergi. Aku saat ini mulai merasa nyaman denganmu.' gumam Livia.
" Ibu ku sudah lama pergi, aku merindukan sesosok wanita seperti ibuku. Wanita yang selalu memperhatikanku, wanita yang merawatku, wanita yang menjagaku, dan wanita yang mengajarkan aku dan menjadi guru pertamaku sebelum aku bersekolah. Aku rindu dia. " ujarnya Abi, tak terasa kini Abi meneteskan air matanya yang mulai jatuh membasahi rambut Livia. Livia yang menyadari itu membiarkannya saja.
'Kasihan juga ya dia. Sudah ganteng, baik, tapi ibunya sudah meninggal. Aku jadi ngerasa bersalah dengannya.'
Abi mengeratkan pelukannya, sementara itu Livia mulai mencubit lengannya karena Abi membuat ia merasa sesak nafas. Abi yang menyadari bahwa sedang memeluk Livia dengan erat-erat lalu melepaskan pelukannya itu.
" Maafkan aku, Livia. Maafkan aku. "
Livia menghela nafas dengan ngos-ngosan.
" Kamu mau buat aku mati ya??! " ujarnya Livia.
" Bukan gitu maksud aku, Livia. "
" Kamu kalau nggak suka sama aku bilang aja, nggak usah modus seperti itu. "
" Sok-sokan peluk segala, tau-tau sampai buat aku sesak nafas seperti itu tadi. " sambungnya Livia.
__ADS_1