
Abi tersenyum sambil menghela nafasnya. " Semua yang terjadi di bumi ini atas izin Allah dan kehendak Allah. Semua ini sudah ada yang mengaturnya, kita hanya mengikuti alur skenario dari yang Maha Kuasa. "
Livia tersenyum sejenak kearah Abi lalu membuang pandangannya kembali.
" Kisah hidupku ini sama seperti kisah yang ada di film drama Korea yang bintang film itu terdapat artis-artis Korea yang wajahnya glowing-glowing semua. " ujarnya Livia sambil cengengesan.
" Jangan pernah bandingkan kisah hidupmu dengan kisah yang ada di film. Kisah yang ada di film itu ditulis oleh penulis naskah dan skenario film, sementara kisah hidupmu ditulis dan di skenarioi langsung oleh Allah. "
Perkataan Abi membuat Livia yang semula cengengesan kini langsung terdiam.
'Perkataan Abi juga ada benarnya, kenapa dia bisa sedewasa ini si? kan aku jadi nyaman saat didekat dia. Alhamdulillah ya Allah, terimakasih engkau telah kirimkan Abi untuk hamba. Semoga kita berjodoh dunia akhirat.' gumam Livia.
" Kenapa diam?! sedang memikirkan apa? " tanya Abi.
Livia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. " nggak ada. "
" Sebaiknya kita pulang, aku yakin mama dan papa sudah menunggu kita dirumah. "
Abi mengangguk. " Kamu sudah minumnya? kalau sudah ayo kita pulang sekarang! "
Livia mengangguk. " sudah kok. "
Abi berdiri dan menunggu Livia untuk berdiri pula namun ia tidak berdiri.
" Kenapa kamu nggak berdiri? " tanya Abi.
" kan kaki aku masih sakit. "
" tapi masih bisa berjalan kan? "
__ADS_1
Livia menggeleng sambil mengerucutkan bibirnya kepada Abi. " nggak bisa. "
Abi menghela nafasnya dengan kasar.
" Abi.. gendong! " sambil membuka kedua tangannya untuk digendong Abi layaknya seorang anak kecil yang ingin digendong oleh orang tuanya.
Maka mau tidak mau pun akhirnya Abi mengikuti permintaan dari Livia. Dia mulai menggendongnya seperti tadi yang sewaktu berjalan kearah kios minuman itu. Kini keduanya berjalan kearah pintu keluar dan menuju ke arah tempat parkir untuk memasuki mobilnya dan berangkat untuk pulang kerumahnya.
.
......................
.
Setelah sampai di Mansion keluarga Wijaya, kini Abi mulai membuka pintu lalu keluar terlebih dahulu dan mulai mempersilahkan Livia untuk keluar mengikutinya.
Setelah Livia turun dari mobil, lalu Abi mulai berpamitan kepada calon istrinya itu.
" Eh, abi tunggu dulu. " Livia menghentikan langkah kaki Abi dan Abi pun langsung menoleh kearahnya.
" Kenapa? ada apa? "
Livia mulai gugup dan menjadi salah tingkah saat Abi melihat kearahnya. Lebih tepatnya sih, dia grogi di depan Abi.
" Ehmm, kamu nggak mau mampir dulu ke dalam? atau mau minum kopi mungkin? "
Abi menghela nafasnya. " Aku kan harus kerja, masa iya semua waktuku aku habiskan hanya untuk kamu? "
" Bukan gitu maksud aku bi. "
__ADS_1
Abi mengernyitkan dahinya. " Terus? "
" Ya,, mungkin kamu ingin mengenal aku atau papa atau mama atau siapa mungkin yang ingin kamu kenal lebih dekat lagi. "
Abi menghela nafasnya lagi. " kan masih ada hari lain Livia. Kita bisa bicarakan ini kapanpun yang kamu mau nanti setelah kita resmi menikah. "
" Tapi aku maunya sekarang. "
" Tapi aku harus kerja, kalo aku nggak kerja gimana kita mau berumahtangga nantinya? biaya berumahtangga itu nggak murah, aku juga harus nabung buat itu semua. Ya, meskipun kamu berasal dari keluarga yang kaya dan mungkin saja gajiku tidak seberapa dengan gajimu itu. Tapi aku ini laki-laki, dan sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab ku untuk membiayai dan menafkahimu. Aku harap kamu mengerti itu, Livia. "
Livia terdiam sejenak sambil bergumam.
'Aku mengerti maksudmu Abi, aku mengerti itu. Tapi kamu nggak peka, aku menahanmu agar tidak langsung pulang kan agar aku bisa berduaan denganmu agar kita bisa saling mengenal dan lebih dekat lagi satu sama lain. Aku akan mencoba untuk membuka hatiku untukmu Abi, aku akan mencobanya. Karena aku tidak mau kehilanganmu, aku tidak rela bahkan aku tidak ikhlas jika engkau harus pergi meninggalkanku.'
" Hey, kenapa diam seperti itu? apa ucapanku ada yang salah??!! " tanyanya Abi yang langsung membuyarkan lamunannya Livia itu.
Seketika itu juga Livia menggeleng sambil tersenyum kecil kearah Abi.
" Jadi kamu mau mampir dulu apa nggak nih? " tanyanya Livia sekali lagi.
" Nggak, makasih. Biar besok aja aku yang masuk ke Mansion mu itu. " sambil tersenyum.
" Yasudah, aku tidak akan memaksamu. Kalau gitu hati-hati dijalan. "
" Iya, terimakasih Nona. Mari, assalamualaikum. " sambil menunduk hormat lalu melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
" Iya waalaikumsalam. " jawabnya Livia sambil tersenyum melihat kearah siluet tubuh Abi yang meninggalkan tempat itu.
Setelah itu, Livia mulai masuk kedalam Mansion dengan berjalan seperti orang normal pada biasanya. Karena dia memang tidak sakit atau pun terluka, itu hanya sebuah ide untuk menjahili calon suaminya itu agar dia digendong oleh calon suaminya dan bisa merasakan kemesraan agar lebih dekat lagi satu sama lain.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG..