Romantika Cinta

Romantika Cinta
Bab 23


__ADS_3

Refleksi Livia langsung tertawa terbahak-bahak begitu mendengar perkataan dari pria yang dianggapnya terlalu percaya diri itu.


"jangan terlalu lebay, ini hanyalah sebuah kebetulan saja, jadi jangan pernah berpikir yang berlebihan! sudah selesai bukan? aku ingin pergi sekarang karena aku harus segera bekerja."


Abi mengerutkan keningnya. "apa Nona muda tidak mengambil cuti? bukankah biasanya kalau wanita yang mau menikah itu tidak boleh kemana-mana sebelum hari pernikahan? apalagi acara pernikahannya besok dan aku yakin Papa dan Mama Nona akan menyuruh Nona untuk mengambil cuti beberapa hari kedepan, kalau tidak percaya dengan perkataan saya anda bisa menghubungi orang tua anda."


Mendengar perkataan dan pria yang terlihat sangat yakin itu membuat Livia tengah memikirkan hal yang baru saja dibicarakan oleh Abi itu.


"Papa dan Mama mungkin tidak akan melarangku karena selama ini aku selalu berbuat sesukaku sendiri, tetapi perkataanmu ada benarnya juga karena sepertinya seorang wanita yang akan menikah itu memang harus duduk diam di rumah tapi aku malah berkeliaran di sini bersamamu bukan? itu berarti Papa dan Mama tidak akan melarangku untuk pergi bekerja."


"Ya sudah kalau anda tidak percaya." ucap Abi sambil berjalan meninggalkan wanita itu yang masih terdiam di tempatnya dan seperti tengah merasa ragu memikirkan perkataan darinya tadi.


Lebih baik Aku bertanya saja pada Mama, apa aku boleh kerja atau tidak, jika aku hanya duduk diam dirumah saja maka aku akan semakin stress dan semakin larut dalam kesedihan. Aku butuh merefresh otak ku karena jika tidak maka aku benar-benar akan gila, Om Fahri benar-benar sangat kejam padaku.


Setelah puas mengungkapkan kesedihannya di dalam hati, Olivia mulai mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempangnya itu, kemudian dia mencari daftar kontak wanita satu-satunya yang sangat disayanginya itu untuk beberapa saat dirinya menunggu dan terdengar suara dari sang Mama yang terdengar dari seberang.


"Hallo sayang, apa urusanmu dengan calon suamimu sudah selesai?"


"Iya ma, sudah selesai malah dari tadi titik aku sebentar lagi akan pulang karena aku harus segera pergi bekerja."


"Bekerja? dasar gadis nakal! apa kamu mau mama menjewer telingamu lagi? kamu besok mau menikah dan kamu berniat untuk bekerja? kamu tahu sendiri kan kalau mama dan papa sedang sibuk mengurus urusan acara pernikahanmu besok?"


"memangnya apa yang harus diurus ma? kan cuma acara akad nikah saja? jadi jangan terlalu berlebihan. Lagi pula itu adalah salah Mama dan Papa sendiri kenapa juga harus segera memaksaku untuk segera menikah, bukannya tadi aku tidak mau?"

__ADS_1


"Astaghfirullah.. Livia, kamu ini jadi anak perempuan tidak mengerti apa kalau mama dan papa melakukan ini untuk kebaikan mu sendiri, nanti kamu akan berterima kasih kepada Mama dan Papa saat kamu mulai menemukan kebahagiaanmu."


"Terserah apa kata Mama saja elivia lagi malas berdebat cuma jadi juga tidak boleh pergi bekerja dan hanya harus duduk diam di rumah ya ma?"


"Seharusnya begitu nak tapi karena acaranya mendadak makanya kamu juga harus ikut membantu kami."


"Membantu? memangnya membantu apa sih ma?"


"sekarang juga datang ke butik Bibimu untuk mengukur gaun pengantin untuk acara akad nikah besok, jangan lupa ajak Abi sekalian."


"kenapa harus mengukur segala sih ma? kenapa harus ribet ini sih untuk menikah?"


"Dasar gadis nakal! karena mengukur gaun merupakan kegiatan yang penting dan tidak boleh disepelekan, kamu juga harus mengukur gaun pengantin karena gaun pengantin yang akan dipilih harus pas badan, tidak kecil, tidak besar dan tidak menimbulkan kain berkerut-kerut di badanmu itu, jadi cepat pergi sekarang karena bibi Andra sudah menunggu kalian."


"Iya iya ma, jangan marah-marah terus, nanti cepat tumbuh uban loh ma."


Refleks Livia mulai tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat lucu dari wanita yang sangat disayanginya itu dan tentu saja membuatnya sedikit terhibur, untuk sesaat jadinya bisa melupakan kesedihannya yang baru dirasakannya tadi.


"meskipun Mama sudah tua tapi mama tetap terlihat sangat cantik kok, karena itulah aku pun juga sangat cantik karena menurun dari kecantikan Mama, aku baru saja selesai membeli cincin kawin jadi aku langsung saja pergi ke tempat bibi."


"Mama juga mau berangkat ke sana kok jadi kita bertemu di sana ya."


"Oke ma, sampai jumpa."

__ADS_1


Livia langsung memasukkan ponsel miliknya itu ke dalam tasnya, kemudian dirinya mulai mendekati Abi dan menatap kearah karyawan wanita yang sedang menyiapkan cincin kawin tersebut.


"berapa Mbak semuanya?"


"semua sudah dibayar sama calon suami anda nona, ini perhiasannya!"


Livia mengerutkan keningnya begitu melihat satu kotak perhiasan karena merasa penasaran akhirnya dirinya mulai membuka kotak berukuran sedang itu dan terlihat satu set perhiasan emas mulai dari kalung gelang, anting-anting, dan juga terakhir adalah cincin kawin itu.


Tatapan mata tajam dirumuskan oleh Nya untuk menatap kearah pria yang berada di sebelah kirinya itu.


"Apa-apaan ini? apa kamu pikir perhiasan murahan ini akan bisa untuk meluluhkanku?"


"sama sekali bukan seperti itu nona muda, bukankah tadi aku sudah mengatakan padamu bahwa aku akan memberikan mahar untukmu memakai uangku sendiri? karena itu merupakan salah satu syarat pernikahan agar sah, aku akan merasa sangat malu jika sampai orang tuamu menganggapku pria tidak tahu malu yang sama sekali tidak mengeluarkan sepeser pun uang karena berpikir kalian sudah kaya, jadi kau anggap saja ini adalah harga diriku Nona muda, jadi terimalah dan jangan menolaknya."


Refleks Livia terkekeh begitu mendengar kalimat terakhir dari pihak yang menyebutkan tentang harga diri ini.


"apa kamu tidak sadar juga harga dirimu sudah aku beli saat di rumah sakit pada waktu itu? dengan uang 200 juta aku sudah membeli harga dirimu bukankah uang segitu lebih banyak dari harga perhiasan ini? memangnya berapa harga perhiasan ini?" Livia menatap kearah karyawan wanita yang ada di depannya itu.


"20 juta Nona muda."


Abi langsung mengeluarkan suaranya. "Memang harganya sangat murah Nona, tapi jangan menilai dari harganya. Tapi nilai dari semua ketulusannya, pernah sebuah ketulusan ini tidak dapat dibeli dengan uang sebanyak apapun."


Livia yang merasa tersudut dengan perkataan sindiran dari pria yang ada di depannya ini lalu hanya terdiam membisu karena dirinya pun kini tengah meresapi kata-kata dari Abi yang telah menyindirnya itu.

__ADS_1


Sebuah ketulusan memang tidak bisa dibandingkan dengan uang sebanyak apapun dan di dunia ini ketulusan dari Om Fahri lah yang aku inginkan, aku pun tidak akan pernah pernah menukarnya dengan uang sebanyak apapun karena yang aku inginkan hanyalah dirinya itu.


Akan tetapi perkataan dari nya tadi itu seolah menjelaskan bahwa aku tidak akan pernah bisa mendapatkannya. Lalu apa kini yang harus aku lakukan Tuhan?


__ADS_2