
Livia tidak henti-hentinya mengumpat dalam hati.
Dasar pria bodoh! awas saja kau nanti kalau sampai kau mengadu pada papa, akan aku hancurkan hidupmu itu. Dasar pria miskin!! bisanya cuma nyusahin orang.
Sementara itu, ditempat Tuan Brawijaya bersama Abi dan juga Bella.
" Saya sudah menyuruh Livia untuk kembali lagi ke tempat ini, Abi. " ujarnya Tuan Brawijaya kepada Abi.
" Hmm? " keduanya pun terkejut mendengar itu.
" Kamu tenang saja. "
" Tapi om.. " ujarnya Abi kemudian dipotong oleh calon mertuanya itu.
" Sudah tidak usah tapi-tapi. Sebentar lagi aku akan memberi dia pelajaran. "
Abi mengangguk secara perlahan, jujur dia tidak enak hati pada calon mertuanya dan terutama lagi pada calon istrinya itu, Livia. Karena sudah pasti dia mengira kalau dirinya lah yang sudah memberi tahu semua kejadian tadi kepada calon mertuanya.
Tuan Brawijaya seketika melihat kearah keduanya sambil teringat sesuatu dan menanyakannya.
" Oh iya, ngomong-ngomong kalian sedang apa berdua disini? pertanyaan ku masih kalian belum jawab tadi. " ujarnya Tuan Brawijaya sambil melihat kearah Abi dan juga Bella secara bergantian.
" Hmm? eh, anu om kami tadi tidak sengaja bertemu disini. " ujarnya Bella.
__ADS_1
" Iya om, kami tidak sengaja bertemu tadi. " ujarnya Abi yang menimpali perkataan dari Bella.
Tuan Brawijaya mengangguk-ngangguk.
" Kalian tidak ada main dibelakang anakku kan? " ujarnya Tuan Brawijaya dengan tatapan mata yang menelisik kearah keduanya.
Abi dan Bella saling bersitatap lalu kemudian kembali lagi melihat kearah Tuan Brawijaya.
" Tidak om, kami tidak ada main dibelakang. Dan tidak mungkin juga saya berkhianat kepada keluarga om Wijaya. Kami memang betul-betul tidak sengaja bertemu disini tadi. " ujarnya Abi.
" Iya tuan, memang benar kata mas Abi. Kami tidak ada main dibelakang. Dan lagi pula saya sudah mengikhlaskan mas Abi menikah dengan nona muda Livia. Saya sudah mengikhlaskan semuanya tuan. Mungkin saja ini memang sudah bagian dari takdir hidup saya. " timpal Bella.
Brawijaya hanya tersenyum melihat tingkah laku keduanya. Karena dia sudah tau yang sebenarnya terjadi tadi, dan dia juga sudah tau waktu Livia menampar Abi tadi dan pergi meninggalkan Abi sendirian di tempat itu.
" Benarkah? apa kalian tidak bermaksud untuk membohongiku? " ujarnya Tuan Brawijaya kembali memancing kejujuran dari kedua orang yang ada di hadapannya itu.
Brawijaya melirik kearah Abi.
" Benar apa yang dikatakan oleh Bella om. Kami berdua tidak bermaksud untuk membohongi om. Kalau memang om tidak percaya pada kami, om bisa mengecek daerah sekitar sini. Mungkin di daerah sini termasuk daerah kawasan cctv. " sahut Abi.
Brawijaya hanya mengangguk sekali.
" Baiklah, aku percaya pada kalian. " ujarnya Tuan Brawijaya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, mobil yang dikendarai oleh Livia kini tiba dihadapan mereka semua. Kini Livia mulai membuka pintu mobilnya dan langsung melihat kearah Abi.
Livia terkejut dengan kehadiran seseorang yang tak diharapkan itu. Ya, tentu saja itu Bella. Livia mengernyitkan dahinya sambil menunjuk kearah Bella.
" Kamu? "
Bella mengangguk sambil mengulurkan tangannya. " Iya non, ini saya Bella. "
Livia menghela nafasnya dengan kasar dan tidak membalas uluran tangannya dari Bella.
" Saya sudah tau itu, yang saya tidak tau itu sedang apa kamu ada disini? atau jangan-jangan kamu mau merebut calon suami orang? " ujarnya Livia sambil membuang muka ke segala arah.
Sementara itu, Bella hanya menelan salivanya sendiri karena nona muda Livia tidak membalas uluran tangannya tadi.
Melihat itu, Tuan Brawijaya langsung turun tangan dan berjalan mendekati Livia sambil menjewer telinganya.
" Aduh, aduh, aduh. Sakit pah. "
" Kamu ini, baru datang bukan ngucapin salam malah menuduh orang yang nggak jelas. Dari mana kamu? "
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG.