
Mereka berjalan menembus keramaian nan kerumunan orang banyak, lalu setelah sampai di suatu tempat di depan sebuah toko baju bayi mereka berhenti.
Abi berbalik badan dan melihat kearah Livia. " kita mau kemana? "
Livia melihat kearah sekelilingnya. " Makan dulu yuk?! "
Abi pun mengangguk.
Livia mengatakan itu seakan sudah lupa dan mengikhlaskan semua kejadian sebelumnya yang terjadi diantara mereka berdua. Kemudian mereka berjalan menuju kearah resto yang ada di Mall itu.
" Kamu mau makan apa? " tanya Abi pada Livia yang keadaannya masih sama yakni masih menggenggam tangan Livia.
Livia mendongakkan kepalanya dan melihat kearah daftar menu di resto itu. " Mmmm, mau makan apa ya? "
" Steak, pizza, burger, atau..?? "
Perkataan Abi dipotong oleh Livia.
" Ada nasi pecel nggak? " melihat kearah Abi sambil tersenyum sumringah.
Abi mengernyitkan dahinya dan membulatkan kedua matanya. " Hah? nasi pecel??!! "
Livia dengan cepat mengangguk.
Kemudian Abi beralih melihat kearah daftar menu dan mencari nama masakan itu.
__ADS_1
" Kayaknya nggak ada deh. Coba kamu lihat kalo nggak percaya. Tuh kan nggak ada. " sambil menunjuk kearah daftar menu yang dipasang diatas dinding itu.
" Eeuummmm, padahal aku pengennya nasi pecel. " sambil merengek seperti anak kecil yang seakan merajuk karena keinginannya tidak terpenuhi.
" Ya mau gimana lagi, wong nasi pecelnya nggak ada. "
" Yaudah, balik. Nggak jadi! " sambil berjalan pergi meninggalkan tempat itu dan menyeret Abi untuk mengikutinya.
" Mm? kok nggak jadi? "
Livia tak menjawab dan matanya kini tengah tertuju kearah tempat permainan.
Kini kedua bola matanya menatap kearah satu tempat. Abi mengikuti arah pandang Livia dan kembali melihat kearah Livia dan bertanya padanya. " Mau main? "
Livia mengangguk cepat. " boleh kan? " ujarnya, namun kedua bola matanya masih tetap melihat kearah satu tempat. Ya, tempat dimana orang-orang ingin membakar lemaknya sambil bersuka ria. Apalagi kalau bukan tempat dance yang ada di samping tempat permainan mobil-mobilan itu.
" Kamu ngebolehin aku atau nggak? " ujarnya Livia dengan ketus tanpa melihat kearah Abi.
Abi yang sangat takut jika Nona muda nya itu merajuk lagi maka dia pun mengiyakan saja perkataan dari calon istrinya itu.
" Iya iya boleh. "
" Oke, makasih. " kemudian Livia melepaskan genggaman tangannya dan pergi meninggalkan Abi berjalan melangkahkan kakinya menuju ke tempat permainan dance itu. Sejenak Abi melihat kearah calon istrinya itu.
" Kalau kamu malu, mending kamu langsung ke mobil aja biar bisa berduaan dengan pak sopir. " ujarnya Livia tanpa menoleh kearah Abi.
__ADS_1
Perkataan dari Livia itu, sontak saja membuat Abi langsung mengikuti langkah kakinya. Bagaimana bisa dia berduaan dengan sopir? kan yang dia sukai itu Livia bukan sopirnya.
Livia sejenak melihat kearah tempat dance itu karena dia harus mengantri terlebih dahulu dengan seseorang yang saat ini tengah beraksi menari-nari ditempat.
" Kamu mau nari? " tanya Abi dengan polosnya kepada Livia.
Livia hanya melihat sejenak kearah Abi lalu kembali melihat kearah tempat dance itu yang kini tengah dimainkan oleh seseorang.
Abi lalu melihat kearah tempat dimana Livia melihat sambil menelan salivanya sendiri.
'Astaga.. ini orang terbuat dari apa ya? lemes banget kaya karet.' gumam Abi.
Sementara itu, Livia tersenyum sumringah sambil memberi tepuk tangan untuk orang yang kini tengah menari-nari di hadapannya itu.
Abi melihat kearah Livia sambil mengernyitkan dahinya dan geleng-geleng kepala.
'Jadi kamu suka dengan laki-laki yang modelnya seperti ini? astaghfirullah hal adzim.. kamu suka dengan pria jadi-jadian? aku kira semua wanita akan suka dengan pria yang macho tapi ternyata aku salah, malah kamu suka dengan pria yang jadi-jadian seperti ini. Kamu yang tidak normal atau aku yang kurang waras?' gumamnya Abi kembali sambil menghela nafasnya dalam-dalam.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG..