Romantika Cinta

Romantika Cinta
Bab 22


__ADS_3

Kejadian sebelumnya..


Livia mendaratkan tubuhnya di atas kursi besi berwarna hitam yang berada di sudut toko emas langganan keluarganya, karena sejujurnya dia sangat malas sekali untuk membeli cincin kawin yang akan digunakan untuk pernikahan yang dianggapnya palsu itu.


Arrrggggghhhh.. malas sekali seperti ini memilah memilih cincin kawin palsu, jika saja bukan Papa yang memaksa ogah banget aku beli kesini, kira-kira Om kesayanganku lagi ngapain ya? aku juga sudah lama tidak berkomunikasi dengannya, mending aku mencoba mengechatnya saja.


Livia membuka tas selempang miliknya itu dan mulai meraih ponsel miliknya dan tentu saja daftar kontak dengan nama Om kesayangan yang dicarinya terlebih dahulu, senyuman mengembang nampak jelas dari wajahnya itu saat melihat bahwa nomor dari pria yang sangat dicintainya itu sedang online dan baru saja membuka WA beberapa detik yang lalu.


Aku harus mencari tahu tentang perasaannya padaku.


Livia mulai mengetik pesan pada pria yang sudah lama dicintainya itu.


Livia


Apa kabar om kesayangan?


Setelah menekan tombol sein pada pesan singkat yang akan dikirimkan nya, Livia tidak berkedip menatap kearah ponselnya itu, kini dirinya menunggu sampai pesan yang dikirim nya itu dibaca oleh pria yang berada sangat jauh darinya.


"Kenapa nggak dibaca sih! bukannya 5 menit yang lalu baru saja dia online?"


Setelah bersungut-sungut Olivia menimbulkan senyumnya saat pesannya sudah dibaca dan terlihat tulisan sedang mengetik pada nomor pria yang dicintainya itu.


"Akhirnya om kesayangan Fahriku membaca pesanku." sambil menghela nafasnya.


Om kesayangan


Kabar om baik Livia, bagaimana denganmu? semua keluarga yang ada di Jakarta baik juga kan?


Livia

__ADS_1


Ya om, semua keluarga disini sehat semua. Syukurlah kalau om pun baik dan sehat. Kapan om main-main ke Jakarta lagi? Livia sudah kangen om.


Om kesayangan


Akhir-akhir ini Om sibuk Livia, jadi tidak bisa ke Jakarta dalam waktu dekat, mungkin om akan ke Jakarta jika kamu menikah, kapan kamu menikah Livia? Om akan sangat bahagia jika bisa melihatmu menikah, bahkan setiap hari Om selalu berdoa agar kamu segera mendapatkan jodoh yaitu seorang pria baik yang mencintaimu dengan tulus.


Membaca pesan balasan dari pria yang paling berarti di dunia itu menyuruhnya untuk segera menikah membuat jantungnya seketika itu terasa sesak, perasaan bahagia yang awalnya dirasakan itu mendadak berubah menjadi sebuah kesedihan yang semakin lama menghancurkan hatinya.


Livia refleks memegangi dadanya itu rasa sesak seketika itu yang membuatnya seolah kesulitan untuk bernafas sekuat tenaga dirinya menahan air mata yang sudah menghiasi bola matanya itu dirinya hanya bisa mengungkapkan kesedihannya di dalam hati.


Livia terdiam sejenak. "kenapa rasanya sakit ini Tuhan, tega banget Om Fahri bicara seperti itu. Tadi padahal aku berencana untuk membuatnya cemburu dengan mengatakan aku akan menikah, tapi om malah lebih dulu menyuruhku untuk menikah, Om benar-benar sangat kejam. Hikss, hikss, hikss."


Lamunan Livia seketika itu buyar saat mendengar suara bariton dari pria yang menyuruhnya untuk mencoba cincin kawin yang sudah dipilih oleh pria yang akan menikahinya besok.


"Nona muda Livia, coba kamu pakai cincin ini di jari manismu! kira-kira pas atau tidak?"


"Nona muda Livia!"


"Nona muda Livia!"


Livia yang merasa sangat kesal dan terganggu mendengar suara dari pria yang masih memegangi bahunya itu tersebut refleks menatap wajah pria yang terlihat dengan berdiri menjelang di depannya itu karena efek kesal dirinya melupakan bahwa wajahnya kini sudah terlihat di bumi bulir air mata yang menghiasi pipinya yang putih.


"Ada apa sih? kamu kenapa selalu saja menggangguku dan tidak membiarkan aku tenang tuk sebentar saja kok kamu selalu saja membuatku naik darah karena emosi lama-lama aku benar-benar bisa stroke karena darah tinggi karena ulahmu."


Abi yang merasa sangat terkejut begitu melihat wajah cantik Livia yang sudah berubah sebab itu langsung mengeluarkan pertanyaannya tanpa mempedulikan kemarahan dari wanita yang ada di depannya itu.


"Nona muda Livia, anda menangis?"


Livia yang baru saja menyadari kebodohannya itu refleks langsung membersihkan wajahnya dari sisa-sisa air mata.

__ADS_1


"Dasar bodoh kamu Livia, kenapa kamu sangat ceroboh? pria miskin ini malah melihat kamu yang menyedihkan. Arrhh.. rasanya aku ingin sekali melemparkan tabung gas ke arah pria miskin ini." gumam Livia.


"siapa yang sedang menangis? aku tidak sedang menangis karena tadi mataku terkena debu makanya mataku langsung berair, jadi jangan berpikir yang macam-macam karena aku bukanlah seorang wanita yang lemah seperti kebanyakan wanita yang pada umumnya yang selalu menangis."


Abi yang tidak mempercayai perkataan dari Livia langsung berjalan mendekat untuk menutup kecoklatan milik wanita yang sudah bersungut-sungut padanya itu.


"debu? bahkan tokoh ini sangat bersih nona, dari mana debu itu berasal? jika mata kamu terkena debu, apa perlu aku meniup matamu yang terkena debu itu?"


"tidak perlu, karena ibunya sudah keluar dari mataku, terserah kamu mau percaya atau tidak, aku sama sekali tak pernah peduli, apa semuanya sudah selesai? aku ingin segera kembali ke Mansion, sebentar lagi aku harus kembali bekerja."


Livia terlihat bangkit dari kursi dan menatap kearah cincin yang dipegang Abi. "jadi kamu memilih itu?"


Ami mengikuti arah pandang Livia yang saat di tengah menatap kearah cincin yang baru dipilihnya itu.


"Iya, apa nanam udah menyukainya datanya Oh ya Mama coba saja dulu kira-kira ukurannya pas atau tidak di jarimu."


"Aku tidak terlalu menyukai perhiasan Abi, jadi aku anggap pilihanmu itu biasa saja, karena ini hanyalah sebuah sandiwara maka aku tidak akan pernah mempersalahkan pilihanmu itu."


Livia mengarahkan jarinya kepada pria yang saat ini masih menatapnya dalam-dalam. "Nih, kamu pasangkan saja di jariku ini! anggap saja ini sebagai sebuah latihan untuk sandiwara besok!"


Abi kini mengalihkan pandangannya untuk menatap kearah jari lentik yang sudah mengarah padanya.


"Bagiku pernikahan kita ini bukanlah sandiwara Nona muda, karena disaat aku besok mengucapkan Ijab Qobul dan menyematkan cincin kawin dijemarimu ini aku sudah resmi menjadi suamimu yang sesungguhnya dan selamanya akan menjadi suamimu. Karena aku hanya ingin menikah satu satu kali seumur hidup, meskipun kita memang belum saling mencintai tapi aku yakin Allah akan memberikan jalan untuk pernikahan kita ini menuju rumah tangga yang dirahmati Allah." gumam Abi.


Abi mulai menyematkan cincin kawin yang dipegangnya itu ke jari manis Livia, senyumnya seketika itu mengembang saat cincin yang dipilihnya itu sangat pas dijemari wanita yang akan menjadi calon istrinya itu.


"ternyata Allah telah mengatur semuanya Nona muda, terbukti ini sangat pas sekali dijarimu. Cincin ini telah menemukan tuannya, dan kamulah yang menjadi miliknya itu sangat cocok dan cantik."


.

__ADS_1


Jangan lupa beri like, komen, dan vote ya teman-teman semua 🙏🏻


__ADS_2