
Setelah puas mengumpat pria yang membuatnya merasa mati kutu, Livia menatap tajam Abi. "Brengsek!! apa aku sudah tidak waras lagi hingga berjalan telanjang di depanmu? meskipun di dunia ini hanya tinggal seorang pria saja dan itu kamu, aku tidak akan pernah menggodamu. Jadi cam kan kata-kataku ini."
Livia yang sudah terlihat merah wajahnya karena merasa murka pada perkataan Abi langsung berjalan menuju pintu masuk yang merupakan kakak dari mamanya itu. Namun saat dirinya baru berjalan dua langkah, Livia yang mulai mengingat sesuatu itu mulai berbalik menatap pria yang berjalan di belakangnya itu.
"ada satu hal lagi yang terlupa, kita tidak akan pernah tidur satu ranjang bersama-sama karena kamu harus tidur di sofa, dan jangan pernah berpikir bisa berbuat macam-macam padaku!! jika kamu bermacam-macam, maka aku akan memanggil para pengawal untuk menghabisimu!!"
Abi refleks langsung terkekeh ketika mendengar perkataan yang sangat konyol itu yang keluar dari seorang Nona muda sekaligus dokter dengan kemampuan IQ diatas rata-rata. "Apa kamu tidak sadar bahwa yang kamu katakan barusan itu sudah menghilangkan kejeniusan yang sudah kamu kamu miliki?"
Mendengar kalimat ambigu dari Abi membuat ia mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?" tanya Livia.
"Apa kamu akan memanggil para pengawal untuk menghabisiku karena sudah memperkosamu? Apa salah kalau seorang suami memperkosa istrinya?" sambil tersenyum kecil.
"Lalu apa yang akan kamu katakan? kamu akan membuat laporan kalau aku sudah memperkosamu? silahkan saja. Aku tidak takut." sambungnya.
Livia terdiam sejenak lalu memukul dada bidang pria yang berada di depannya itu. "Arrrggggghhhh.. dasar pria brengsek!!"
Abi yang mendapatkan pukulan berkali-kali dari Livia malah menyunggingkan senyumannya. "Kenapa? apa kamu merasa kalah berbicara denganku?"
Livia sama sekali tidak menjawab perkataan jadi Abi yang membuatnya sangat marah itu. "Dasar pria menyebalkan!! aku sangat membencimu!!"
Meskipun pukulan dari wanita yang masih tidak berhenti memukul yaitu rasa tidak sakit namun entah mengapa dirinya merasa tubuhnya seolah mendadak menegang begitu tangan Livia menyentuhnya sehingga dirinya berusaha untuk menghentikan tangan dan Livia dengan menangkap kedua tangan yang mendarat di dadanya itu.
__ADS_1
"Hentikan Livia!!!"
"Tidak mau." ucap Livia dengan wajahnya yang semakin merah karena sudah dikuasai oleh amarah.
"Aku bilang hentikan!!! bukankah tadi sudah aku bilang untuk jangan menggodaku?" ucap Abi dan tangannya itu berhasil menghentikan gerakan wanita yang dari tadi asik memukulinya.
Livia yang merasa sangat terkejut dengan suara bariton dari pria yang mengancamnya itu lalu mulai menatap tajam kearah pria yang saat ini tengah menatapnya sambil memegang tangannya. "Kamu berani membentakku? memangnya kamu siapa ha?!! lepaskan tanganku!!"
Begitu menyadari kesalahannya itu, Abi buru-buru melepaskan genggaman nya lalu kemudian dirinya mulai menjelaskan kan ke salah pahaman yang terjadi saat ini. "maafkan aku Livia, aku sama sekali tidak bermaksud untuk membentakmu tadi, akan tetapi pukulan mu tadi itu membuatku lupa diri dan lupa akan siapa aku yang sebenarnya bahwa aku hanyalah seorang pria miskin yang sudah kamu beli harga dirinya, maafkan aku."
Wajah Livia yang awalnya diliputi oleh amarah karena merasa sangat murka dan marah, lalu mendadak mulai merasa sedikit kasihan dengan melihat wajah memelas penyayang terlihat sangat tulus saat meminta maaf kepadanya.
"Sebenarnya Aku ingin menghukummu, tapi karena kamu menunjukkan bahwa kamu benar-benar sudah menyesali kesalahanmu aku jadi tidak tega melihatmu seperti ini. Karena aku bukanlah seorang wanita yang tidak punya hati. Baiklah-baiklah, kali ini aku akan memaafkanmu, akan tetapi lain kali tidak ada ampun bagimu jadi jangan berbuat kesalahan yang sama. Apa kamu mengerti?"
"Memangnya laki-laki ini telah berbuat kesalahan apa padamu Livia? kenapa kamu malah terlihat seperti seorang majikan yang sedang memarahi jongosnya? bukan seperti seorang wanita yang tengah mencintai calon suaminya?"
"Kamu siapa? lalu kenapa berasumsi sendiri seperti itu? lebih baik jangan suka mencampuri urusan pribadi orang lain! karena apapun yang terjadi antara aku dan Livia, itu bukanlah urusanmu! jadi tolong kamu jangan mencampuri hal yang bukan urusanmu ini!" jawab Abi yang dari tadi merasa tidak suka ada seorang pria berparas lebih tampan dari nya mendekati Livia.
Sontak saja perkataan dari pria yang baru diketahuinya adalah calon suami dari adik kesayangannya itu, membuat Zian langsung tertawa terbahak-bahak dan tak lupa juga netra pekatnya kini mulai mengamati pria yang sudah diketahuinya itu adalah pria bayaran dari adiknya yang dianggapnya sangat nakal dan angkuh itu, dan semuanya itu tentu saja dari cerita orangtuanya.
Setelah puas mengamati penampilan dari calon adik iparnya itu, kini Zian beralih menatap kearah sang adik yang terlihat sangat terkejut melihatnya. "Nemu di mana kamu pria ini Livia? kamu sudah benar-benar masuk ke dalam perangkap Papa dan Mama rupanya, sehingga kamu tidak bisa berbuat apa-apa di saat kamu dipaksa menikah, kasihan ya"
__ADS_1
Livia yang merasa tersindir dengan kalimat telak dari sang kakak itu refleks langsung mengarahkan tangannya untuk menuju perut six packs pria kedua yang disayanginya setelah sang ayah. "Sialan kamu ya!! Nemu? memangnya dia barang bekas apa? ngapain juga kamu datang ke sini? kamu kepo ya? dan ingin mengetahui pria yang akan menikah denganku?"
"Iya, aku merasa sangat penasaran karena itulah tadi Mama menghubungi aku untuk menemani kalian fitting baju pengantin, dan aku langsung mengantarkannya datang ke sini setelah selesai meeting, dan ternyata pilihanmu lumayan juga ya? meskipun dia jauh berada ada di bawah si om kesayanganmu itu tapi dia lumayan karena dia nggak malu-maluin saat diajak jalan."
Abi hanya bisa tersenyum kecut saat pria yang tidak diketahuinya siapa selalu mulai menyebutnya lumayan dan kalah tampan dari pria yang dipuja oleh wanita yang akan dinikahinya itu. "Sebenarnya siapa pria ini Livia? kenapa dia bisa berbicara sangat tidak sopan pada calon suamimu ini?"
"tanya saja sendiri padanya!! Aku sedang malas untuk berbicara dengan para pria yang menyebalkan." jawab Livia dan mulai meninggalkan sang kakak dan juga pria yang akan menjadi suami pura-puranya itu.
Sedangkan Zian dan Abi yang mengamati siluet wanita yang sudah masuk ke dalam butik itu langsung bersitatap.
"Kamu sebenarnya siapa?" tanyanya Abi.
"Aku? apa kamu tidak pernah menonton televisi? atau melihat sosial media mungkin?"
"Tidak pernah, karena hidupku hanya aku habiskan untuk bekerja keras di dunia dan di akhirat."
"ohh... begitu? pantas saja kamu kuper dan tidak tahu siapa aku, tapi baguslah. Aku sangat menyukaimu. Ternyata apa-apa yang dikatakan oleh Papa dan Mama itu benar."
"maksudmu? kamu belum menjawab pertanyaanku tadi."
"Aku kakaknya Livia, dan aku juga sudah mengetahui kalau kamu adalah pria yang dibayar oleh adikku untuk menjadi suami pura-puranya itu!"
__ADS_1
Abi yang sangat terkejut karena ketahuan dan hanya bisa menelan salivanya.
"Apaaaa??!! kamu tahu kalau aku hanyalah seorang pria yang sudah dibeli oleh adikmu?"