Romantika Cinta

Romantika Cinta
Bab 44


__ADS_3

Sementara itu, Livia kini tengah asyik membuka menu handphone milik Abi. Dia mulai mengecek nomor ponsel yang disimpan Abi dan mengecek namanya satu persatu.


Dia mulai men'scrol'kannya kebawah sambil mencari nama seseorang.


Dan akhirnya dia menemukannya.


Ya, siapa lagi kalau bukan nama Bella. Mantan kekasih dari Abi, saingan Livia. Karena memang Livia merasa tersaingi dengan kecantikan dari Bella ditambah lagi gadis itu memiliki sebuah perasaan yang sangat besar terhadap calon suaminya itu.


Baru mau menghapus kontak namanya di ponsel milik Abi, kini Livia dibuat terkejut saat melihat panggilan telepon dari ponsel itu.


" Hah??!! Bella??!! mau apa dia menelepon Abi? "


Kemudian Livia mulai mengarahkan tombol hijau keatas dan mulai berbicara dengannya melalui panggilan telepon itu.


" Hallo, ada apa Bella? " ujarnya Livia dengan nada suara sedikit tinggi.


" Hmm? " Bella terkejut ketika mendengar suara dari ponselnya itu.


" Assalamualaikum, ini Livia ya? " tanya Bella dengan basa-basi.


" Nggak usah basa-basi, saya yakin kamu masih ingat betul dengan suara saya. "


" Aaa waalaikumsalam, iya tentu saja saya ingat non. Begini non, apa saya boleh bicara dengan mas Abi? "


" Abi lagi sibuk, tidak bisa diganggu. Memangnya ada apa? biar nanti saya sampaikan langsung ke dia. "


" Eh, ini hanya masalah sepele kok non. Tidak apa-apa. "


" Yaudah kalau cuma masalah sepele. "


" Yaudah, nanti kalau ada waktu lagi saya mau menghubungi mas Abi kembali. "


" Terserah. "


" Iya, baik non. Maaf sudah mengganggu. Assalamualaikum. "

__ADS_1


" Waalaikumsalam. " sambil mematikan panggilan teleponnya itu.


'Aneh, katanya cuma masalah sepele. Tapi kenapa dia tidak ingin memberi tahuku? atau jangan-jangan dia punya rahasia atau masih berhubungan dengan pria miskin itu? Awas aja ntar, kalau memang bener. Aku pasti akan buat kamu menyesal karena sudah menghianatiku nanti.' gumam Livia.


" Siapa yang menelepon? " ujarnya Abi mengejutkan Livia dengan membawa dua gelas minuman yang telah diminta Livia tadi untuk membelikannya.


Livia terkejut dengan kedatangan Abi yang secara tiba-tiba. " Astaghfirullah hal adzim, terkejut aku bi. "


Abi tersenyum sambil menduduki tempat duduk itu dan duduk disampingnya Livia.


" Nih, minuman yang kamu minta tadi. " sambil memberikan segelas minuman itu ke Livia.


" Makasih. " sambil tersenyum menerima segelas minuman itu dari Abi.


" Iya, sama-sama. " lalu Abi mulai meminum minuman itu sejenak dan Livia pun mengikutinya.


" Minumannya lumayan enak. " ujarnya Livia sambil melihat ke arah gelas minuman yang dipegangnya itu.


" Iya lumayan, kamu suka? "


Livia pun mengangguk-ngangguk.


Livia tersenyum.


" Oh iya, ngomong-ngomong tadi siapa yang meneleponmu? " Abi mulai menanyakannya kembali kepada Livia.


" Mantanmu. " ujarnya Livia dengan ketus.


" Siapa? Bella? "


" Iya siapa lagi? memangnya mantanmu ada berapa? " dengan tatapan mata yang menelisik kearah Abi.


Abi tersenyum kearah Livia.


" Ada berapa aku tanya??!! " dengan suara yang sedikit tinggi.

__ADS_1


Abi pun masih setia dengan senyumannya.


" Kenapa senyum-senyum gitu? bukannya malah ngejawab tapi malah senyum-senyum kaya orang nggak waras. " ujarnya sambil membuang pandangannya ke arah depan.


Abi menatap kearah Livia dalam-dalam.


" Kamu cemburu? "


Livia sontak saja langsung melihat kearah Abi sambil mengernyitkan dahinya.


" Apa?! cemburu?! aku cemburu sama kamu?! "


Abi mengangguk.


" Mana ada aku cemburu sama pria murahan seperti kamu, Yang ada aku malah jijik setiap melihat wajahmu itu. " ujarnya Livia lalu membuang pandangannya ke arah depan.


Abi hanya diam dan menghela nafasnya.


" Yasudah, kalau gitu. Mana ponselku? "


" Nih, aku kembalikan ponselmu itu. " sambil memberikan ponselnya kepada Abi.


" Makasih. "


Livia mengernyitkan dahinya. " Kan harusnya aku yang bilang makasih? "


" Yasudah, nggak apa-apa. Kan yang penting sudah bilang makasih. " sambil memberikan senyuman kepada Livia.


" Aneh kamu itu ya.. "


Lalu Livia kembali melihat kearah depan, sementara itu Abi mengecek ponselnya barang sejenak. Dan Livia pun sejenak melirik samar-samar kearah ponsel Abi.


'Kenapa dia menjadi aneh seperti itu? apa jangan-jangan aku salah berucap tadi? apa jangan-jangan aku telah melukai perasaannya? Arrhh, Livia-livia. Kamu itu bodoh sekali, harusnya kamu bilang iya jika kamu cemburu kepada Abi.' gumam Livia sambil menghela nafasnya dengan kasar.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2