Romantika Cinta

Romantika Cinta
Bab 56


__ADS_3

Livia langsung saja mencubit lengannya Abi dengan keras lalu melepaskannya.


Abi yang refleks langsung mengeluarkan suara indahnya itu. " Aawww. "


" Sakit, kamu itu ya apa-apa langsung nyubit. " ujarnya Abi sambil mengelus-elus bekas cubitan dari Livia di lengannya itu.


" Kamu itu nakal. Dosa tau! "


" Nggak ada lah, mana ada dosa? "


" Iya dosa, itu termasuk zina loh. "


" Yang dosa itu kalau aku ini melihat tubuh wanita lain yang bening, putih, mulus, glowing-glowing itu baru namanya dosa. Lah, kalau aku melihat tubuh istriku sendiri dosanya dimana? "


Seketika itu juga kalimat skakmat dari Abi langsung membuat Livia terdiam tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya itu.


" Yang ada malah aku mendapat pahala Livia. Dan coba kamu pikir baik-baik, melihatnya saja mendapat pahala apa lagi sampai menyentuhnya? Subhanallah, sungguh indah hidup ini. " ujarnya Abi sambil tersenyum sumringah.


Sementara itu Livia hanya bisa bergumam dalam hati.


'Tuh kan, pasti ujung-ujungnya kesitu. Dasar laki-laki, pikirannya selalu aja mesum! Tapi ngomong-ngomong bagaimana ya rasanya? aku sempat baca dari beberapa artikel kalau malam pertama setelah pernikahan itu rasanya sakit, apa benar sesakit itu? aku penasaran, tapi aku belum siap untuk melakukannya. Aku belum siap di unboxing oleh suamiku sendiri.' gumam Livia.

__ADS_1


" Oh iya, katamu tadi kamu sedang halangan kan? " tanyanya Abi sambil melihat kearah Livia.


Livia tak menjawab namun mengangguk.


" Coba sini aku lihat, kamu betul halangan atau tidak. "


Livia memukul lengannya Abi dengan keras. " Enak aja, yang ada nanti kamu malah macem-macem lagi. "


Sementara itu Abi hanya terkekeh sambil mengelus-elus bekas pukulan dari Livia.


" Kan aku ini sudah suami kamu Livia. Lagi pula kita juga sudah resmi kok, sudah sah. Sah dimata agama dan juga sah dimata hukum. Apa lagi yang kamu takutkan denganku? "


Abi menatap Livia dalam-dalam, sementara itu Livia membuang pandangannya ke segala arah.


Livia seketika itu langsung melihat kearah Abi. " Gila ya kamu itu?! nggak, ah. Aku nggak mau kalau dipaksa. "


" Apa aku harus memohon bersujud kepada mu gitu, agar kamu memberinya? "


Livia menghela nafasnya. " Aku halangan Abi. Sekali lagi sudah kubilang aku saat ini sedang halangan. "


" Iya aku tau itu, maka dari itu aku pengen liat dan pengen tau kalau kamu sedang berbohong padaku atau tidak. Aku akan mengeceknya sendiri. "

__ADS_1


Kemudian Abi memeluk Livia dan tangannya pun mulai memegang perut dari Livia.


" Abi, jangan memaksa! kalau aku nggak mau ya nggak mau! kamu ngerti bahasa aku nggak sih??!! " ujarnya Livia mengeraskan suaranya itu sehingga menggema di dalam kamar mereka.


Seketika itu juga Abi melepaskan pelukannya itu dari tubuh Livia.


" Dasar pria miskin! belum apa-apa sudah mau langsung melakukan itu. " ujarnya Livia kepada Abi.


Abi menghela nafasnya. " Jadi kamu nggak mau? ya sudah tinggal bilang aja Livia. Tinggal ngomong aja dengan jujur nggak usah bohong gitu, karena aku nggak suka dibohongi. "


" Kamu tadi yang memaksa, jadinya aku nggak ada cara lain untuk mengakalimu. "


Abi tak menjawab sepatah kata pun.


Livia melihat kearah Abi. Dia melihat wajah Abi yang kini tengah seperti sedang terdiam membisu melamunkan sesuatu.


" Dasar pria miskin dan mesum! " ujarnya Livia dengan keras ditelinga Abi.


Sementara itu, Abi menoleh kearah Livia.


" Aku tidak suka kamu memanggilku pria miskin. Aku tau, aku memang nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan kamu yang anak dari keturunan ningrat ini. Tapi perlu kamu ingat Livia, aku ini seorang manusia. Dan aku juga sama sepertimu, sama-sama memiliki sebuah perasaan. Dan perlu kamu ingat, derajat kita dimata Tuhan yang Maha Esa itu sama. Dan dunia ini hanya titipan dan hanya bersifat sementara. Kita meninggal tidak membawa dunia sepeser pun. " ujarnya Abi.

__ADS_1


Perkataan dari Abi sontak saja membuat Livia terdiam. Seperti tengah disambar petir mendadak karena mendapat wejangan dari Abi.


__ADS_2