Romantika Cinta

Romantika Cinta
Bab 49


__ADS_3

Kini Abi mulai memasuki ruangan tempat dimana ia dan Livia akan melakukan Ijab Kabul pernikahan itu.


Abi yang sudah dari tadi duduk di depan penghulu menunggu calon mempelai wanita itu, dirinya kini sudah tidak sabar untuk segera memulai acaranya. Namun dia sadar, kalau mau memulai atau melakukan sesuatu hendaknya jangan tergesa-gesa.


Dia menoleh ke segala arah sambil mencari-cari keberadaan calon mempelai wanitanya.


'Kemana ya dia? kok lama sekali?'


Sambil terus melihat ke sekelilingnya.


Dan kini, ada seorang wanita cantik memakai gaun pengantin berwarna yang senada nan serasi dengan setelan jas yang dipakainya itu. Dia tersenyum kearahnya dan dibalas pula dengan senyuman Abi.


Seorang wanita yang tengah berjalan melangkah perlahan menuju kearahnya sambil memberikan sebuah senyuman yang manis kepada dirinya itu sambil tak lupa dikawal oleh para maid dibelakangnya karena takut terinjak atau tersangkut oleh sesuatu, karena setelan gaun pengantin yang dipakainya kini memiliki panjang sekitar kurang lebih 5 meter.


Semua pasang mata tertuju pada wanita itu, tak luput juga dengan Abi yang dilihatnya sejak tadi.


'Kamu cantik, Livia. Aku rasanya seperti mimpi karena bisa menikah denganmu. Aku saja yang hanya orang biasa ini tidak menyangka harus menikah denganmu secepat ini. Do'akan aku, dan ingatkan aku agar aku bisa membimbingmu dan bisa menuntunmu menuju ke Jannah-Nya. Aamiin.' gumam Abi dalam hati.


Abi yang dari tadi tengah asyik bergumam sambil terus menatap kearah Livia dan dirinya kini tidak sadar bahwa Livia telah duduk disampingnya itu.


" Sedang memikirkan apa mas suami? " ujarnya Livia sambil tersenyum.

__ADS_1


Abi yang semula terkejut dengan panggilan itu. Ya, panggilan " Mas suami. "


" Hmm? mas suami? "


Livia mengangguk. " Kenapa? kamu nggak mau kalau aku memanggilmu mas suami? "


Abi tersipu malu dan menjadi salah tingkah sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. " Bukan gitu Livia, kita kan masih belum sah. "


" Kalau belum sah, ya tinggal di sah kan aja. Gitu aja kok repot?! "


Abi tersenyum nakal ke arah Livia sambil terus melihat kearahnya. Sementara itu Livia yang menyadari bahwa sedang dilihat oleh Abi langsung menegurnya.


Abi semakin mengembangkan senyumnya. " Kamu mau kita cepet-cepet nikah kan, agar kamu bisa dengan secepatnya melakukan itu? "


Livia mengernyitkan dahinya lalu melihat kearah Abi. " Melakukan apa? jangan mesum ya pikiran kamu itu. "


" Gimana nggak mesum, wong kamu dulu yang sudah menggodaku tadi. "


" Kamu aja yang tergoda. Aku nggak. "


" Awas ya nanti. " sambil tersenyum nakal kembali kearah Livia.

__ADS_1


" Awas kenapa? "


" Tidak akan aku beri ampun. " sambil terkekeh.


Livia yang mendengar perkataan dari Abi sontak saja langsung memukul lengannya Abi itu.


" Isshh, kamu ini ya. Belum apa-apa sudah mikir kesana. "


" Ya nggak apa-apa lah, buat persiapan. "


Livia kembali memukul lengan Abi, sementara Abi hanya terkekeh.


Penghulu yang sempat mendengar perkataan dari kedua calon mempelai itu hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah laku keduanya.


" Bagaimana mas? apa sudah siap dan bisa dimulai acaranya ini? " tanyanya penghulu itu.


Abi langsung menghentikan candaannya dengan Livia dan langsung melihat kearah penghulu itu. " Siap pak, sudah bisa dimulai acaranya. "


" Baik kalau gitu kita mulai saja acaranya ya. "


Abi pun mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2