Romantika Cinta

Romantika Cinta
Bab 25


__ADS_3

Livia yang terlihat sangat berbinar itu tidak berhenti menggoyangkan lengan kekar pria yang duduk di sebelahnya itu. "Astaga, aku nervous nih! Bagaimana ini?"


Sedangkan Abi hanya mampu menelan salivanya sendiri karena efek suara nya seolah langsung tercekat di tenggorokannya saat melihat ekspresi dari wanita yang akan dinikahi nya besok, setelah berhasil menetralkan suaranya dengan berdehem beberapa kali kini suaranya mulai terdengar menanggapi perkataan dari wanita yang terlihat sangat bahagia itu.


"jawab saja panggilannya Livia tidak seru bukankah itu yang selama ini kamu tunggu?"


"Iya ya, kamu benar juga! karena efek nervous membuatku berubah menjadi bodoh." ucap Livia sambil menepuk jidatnya kemudian kini dirinya menggunakan tombol hijau pada ponselnya dan terdengar suara dari pria yang sangat dicintainya itu.


"Hallo Livia, apa saat ini kamu sedang merajuk? karena itulah kamu tidak membalas pesan dari Om tadi?"


"Eh bukan seperti itu om, aku tadi hanya sedang sibuk saja Oma, tumben Om langsung menghubungi aku saat aku tidak langsung membalas pesan Om, memangnya Om sedang tidak sibuk?"


"tentu saja tidak, karena itulah Om bisa menghubungimu sekarang, bagaimana?"


"Bagaimana apanya om?"


"kamu belum membalas juga pesan dari Om tadi bukan?"


"sudahlah Om, aku sedang tidak ingin membahasnya!"


"Apa kamu ingin mama mu itu selalu memarahi Om saat pulang ke Jakarta? memangnya kamu tidak merasa kasihan apa pada Om mu ini?"


"buat apa aku merasa kasihan? Om saja tidak pernah merasa kasihan pada Livia, jadi rasakan saja kemarahan dari mama."

__ADS_1


"justru karena itu Om merasa kasihan padamu, makanya menyuruhmu untuk segera meni..."


"stop Om, jangan bicara itu lagi! atau Livia tutup teleponnya sekarang juga!"


"dasar gadis nakal, jika sekarang Om berada di dekatmu mungkin kamu sudah meringis kesakitan karena pasti Om sudah jewer telingamu itu."


"Om sudah seperti mama saja, cerewet dan suka menjewer telingaku."


"itu karena kamu sangat nakal dan tidak pernah mau mendengarkan nasihat dari orang tua Livia."


"nasihat yang mana yang dimaksud? nasihat untuk segera menikah? apa hanya itu yang selalu ada di kepala para orang tua jaman sekarang? menikah, menikah, dan menikah, dan hanya itu yang kalian pikirkan?"


"sekarang kamu menyadari bahwa Om sudah tua bukan jadi buang jauh-jauh pikiran yang selama ini meracuni hatimu itu! apa kamu mengerti Livia?"


"Aku tidak mengerti dan tidak mau tahu lagi, jadi jangan bahas itu lagi! aku sangat tidak suka saat Om membahas tentang masalah umur, karena apa? karena para wanita itu paling sensitif jika menyinggung tentang umur."


Livia langsung mematikan sambungan telepon sepihak karena dirinya merasa sangat kesal jika pria yang selama ini sangat dicintainya itu selalu mengeluarkan petuah bijak yang malah membuatnya sangat marah.


Abi yang dari tadi mengamati interaksi Livia yang berbicara di telepon dengan pria yang disukainya itu hanya bisa diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun karena dirinya daritadi memasang Indra pendengarannya untuk mencari tahu tentang perihal pria yang selalu disebut Om kesayangan itu. Hingga dirinya kini mengerutkan keningnya saat melihat kakaknya yang mana memutuskan sambungan telepon dan sudah memasang wajah masam nya itu tengah asyik sedang melamun.


Nona, sebenarnya apa yang sudah terjadi antara kamu dan laki-laki itu? harus darimana ku memulai mencari tahu tentangnya?


Abi yang dari tadi masih mengamati wajah cantik wanita yang duduk di sebelahnya itu mulai tersadar saat suara dari pria paruh baya yang mengemudikan mobil mewah itu sudah berhenti tepat di sebuah butik.

__ADS_1


"kita sudah sampai Tuan dan Nona muda."


"iya pak."jawab Abi dan mulai berani menepuk pundak Livia yang terlihat masih melamun. "Livia, kita sudah sampai di butik!"


Livia yang terkejut karena ditepuk oleh pria yang saat ini tengah menatapnya langsung mengerutkan keningnya itu. "tumben kamu nggak bilang bukan muhrim? sudah berani kamu main-main pegang aku ya? awas aja ya kalau sampai kamu berani berbuat macam-macam padaku!"


Mendapat tatapan tajam dari Livia, hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Abi. "hari ini aku memang sudah banyak melakukan dosa Livia, dan Allah pun mengetahui bagaimana sebenarnya hatiku bahwa semua yang aku lakukan bukan disengaja."


Livia hanya bisa menatap sinis pada pria yang mulai membuka pintu mobil bentuknya. "kamu sangat percaya diri sekali dan menunjukkan bahwa kamu seorang pria yang paling suci, aku jadi merasa penasaran bagaimana ekspresi wajahmu itu saat melihat wanita telanjang?"


"apa kamu masih tetap akan mengatakan bukan muhrim, atau malah sebaliknya?" sambungnya.


Abi hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar perkataan bernada sangat sensitif dari Livia. "kamu ini seorang wanita tapi bisa dengan santainya mengatakan kalimat tabu yang seharusnya tidak pantas untuk dikatakan tetapi aku ingin menjawab perkataanmu itu Livia."


"aku memang lah seorang laki-laki biasa yang normal karena memiliki sebuah *****, namun aku bisa menegaskan bahwa aku tidak akan berbuat zina dengan seorang wanita yang bukan menjadi muhrimku, akan tetapi.."


Livia mengerutkan keningnya begitu melihat Abi tidak melanjutkan perkataannya itu. "akan tetapi apa? kenapa kamu tidak melanjutkan perkataanmu itu? apa kamu sudah menyadari bahwa apa yang aku katakan itu benar?"


Abi refleks langsung menggelengkan kepalanya itu. "bukan seperti itu Livia."


"Lalu?" tanya Livia sambil tatapannya menelisik tajam kearah pria yang terlihat ragu-ragu mengatakan hal yang tidak di lanjutkannya tadi.


"akan tetapi lain halnya jika wanita yang telanjang di depanku adalah kamu karena kamu sudah menjadi muhrim ku saat aku mengucapkan ijab qobul nanti, jadi jangan pernah mencoba untuk menggodaku dengan bertelanjang di depanku!"

__ADS_1


Sontak saja perkataan dari pria yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan yang sangat sengit untuk diartikan itu membuatnya seketika itu merasa aneh dan grogi, hingga saat ini ucapan dari Abi langsung terbayang di pikirannya.


Sial! Pria miskin ini selalu mengeluarkan kata-kata yang skakmat untuk mengalahkanku.


__ADS_2