
Livia terkejut dengan kehadiran seseorang yang tak diharapkan itu. Ya, tentu saja itu Bella. Livia mengernyitkan dahinya sambil menunjuk kearah Bella.
" Kamu? "
Bella mengangguk sambil mengulurkan tangannya. " Iya non, ini saya Bella. "
Livia menghela nafasnya dengan kasar dan tidak membalas uluran tangannya dari Bella.
" Saya sudah tau itu, yang saya tidak tau itu sedang apa kamu ada disini? atau jangan-jangan kamu mau merebut calon suami orang? " ujarnya Livia sambil membuang muka ke segala arah.
Sementara itu, Bella hanya menelan salivanya sendiri karena nona muda Livia tidak membalas uluran tangannya tadi.
Melihat itu, Tuan Brawijaya langsung turun tangan dan berjalan mendekati Livia sambil menjewer telinganya.
" Aduh, aduh, aduh. Sakit pah. "
" Kamu ini, baru datang bukan ngucapin salam malah menuduh orang yang nggak jelas. Dari mana kamu? "
" Aduh, sakit pah. Lepasin..!! " sambil memegang telinganya yang dijewer oleh papanya.
" Minta maaf dulu sama calon suamimu, baru papa mau lepaskan! "
" Nggak, gak mau. Bodo amat aku minta maaf sama dia. "
__ADS_1
Tuan Brawijaya malah mempererat jeweran tangannya ke telinga Bella.
" Aduh aduh, sakit pah.. " ujarnya Bella sambil meringis kesakitan.
" Kalau kamu nggak mau minta maaf yasudah papa akan terus menjewer kamu biar kamu tau rasa. "
" Yaudah yaudah, iya pah aku akan minta maaf sama Abi. "
Kemudian Tuan Brawijaya mulai melepaskan tangannya dari telinga Bella dan Bella pun mulai mengelus-elus telinganya itu yang bekas jeweran papanya.
" Yaudah sana cepat minta maaf pada Abi. " ujarnya Tuan Brawijaya.
" Yaudah iya. " kemudian beralih menatap kearah Abi. " Abi aku minta maaf. " ujarnya dengan ketus.
Melihat itu Tuan Brawijaya geleng-geleng kepala.
" Memangnya harus gimana lagi pah? "
" Minta maaf sama orang itu harus tulus, apalagi pada calon suami. Biar bagaimana pun juga Abi ini adalah calon suami kamu, dan kamu harus mulai menghargai dan menghormatinya mulai dari sekarang. "
'menghargai? aku harus menghargai laki-laki yang sudah aku beli ini? tidak tidak, yang ada nanti dia malah ngelunjak' gumam Livia.
Melihat Livia yang hanya terdiam bergumam dalam hati lalu tuan Brawijaya mulai membuyarkan lamunannya itu.
__ADS_1
" Livia, kenapa kamu diam saja? cepat minta maaf ! "
" Eh, iya iya pah. " kemudian beralih menatap kearah Abi. " Yaudah, mas Abi aku minta maaf ya.. Mohon maafkan calon istrimu ini. Maafkan aku, tadi aku khilaf. " ujarnya Livia dengan semanis mungkin sambil memberikan senyuman palsu untuk menipu semuanya.
Melihat tingkah laku dari Livia, Abi tersenyum riang. " Iya nggak papa, sebelum kamu minta maaf aku sudah maafin kamu kok dek. "
'Dih, kalau bukan karena papa aku juga nggak bakal tersenyum seperti ini kepadamu. Awas saja kau nanti!' gumam Livia.
" Nah, gitu dong. Kamu harus menjaga dan bersikap baik kepada calon suamimu ini. Jangan tinggalkan dia sendirian lagi. Mengerti??!! " ujarnya Tuan Brawijaya kepada Bella.
Bella hanya mengangguk.
" Jangan cuma mengangguk, kamu ngerti nggak maksud papa??!! "
" Iya iya pah, aku ngerti kok. Udah ah, mending papa pulang sana. Atau nggak, papa balik aja ke kantor sana. Lagian papa sedang apa disini? harusnya kan papa di kantor sekarang. "
" Papa ingin menjemput mamamu di butik ini, karena habis ini papa ada urusan dan hanya urusan berdua dengan mamamu. "
" Ehemm, cieee.. bilang aja kalau papa kangen sama mama. Iya kan pah? " sindir Livia pada papanya. Livia mengatakan itu seolah mengalihkan pembicaraan dan melupakan yang sudah terjadi tadi.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG..