Romantika Cinta

Romantika Cinta
Bab 48


__ADS_3

" Kalau memang jodoh tidak akan kemana kak. "


" Memang betul, jodoh itu tidak akan kemana. Tapi ya setidaknya kita harus berusaha Livia. Inget, kita itu harus usaha dan berdo'a. Selebihnya ya biar yang Maha Kuasa yang berkehendak. "


Livia terdiam dan mengangguk.


" Saranku, kamu harus jaga baik-baik calon suamimu itu. Dia itu sangat langka, di jaman sekarang sangat jarang ada orang baik yang seperti dia. "


" Meskipun baik, tapi miskin ya percuma juga kak. Mau diharapkan apanya? " ujarnya Livia sambil terkekeh.


Zian geleng-geleng kepala. " Kalau kamu mencari yang sempurna, maka bersiaplah untuk menjomblo seumur hidup. Karena di dunia ini tidak ada yang sempurna Livia, kesempurnaan hanya milik Allah semata. "


Livia terdiam begitu mendengar perkataan demi perkataan dari pria yang saat ini tengah ada dihadapannya itu.


" Pasangan itu bukan saling mengejek seperti yang kamu bilang barusan. Pasangan itu saling melengkapi satu sama lain. Inget, roda kehidupan ini selalu berputar. Kadang ada kalanya kita ada diatas, dan ada kalanya juga kita berada di bawah. "


" Yang harus kamu cari itu, seseorang yang benar-benar tulus menerima kamu dan mencintaimu apa adanya, dan yang bisa berjuang untuk hidup dalam suka-duka bersamamu. Bukan hanya menerimamu dalam suka saja. " sambungnya Zian.


" Memang betul, kita apa-apa harus menggunakan uang. Tapi perlu kamu ingat, uang itu bukan segalanya dan bukan menjadi tolak ukur seseorang. Kalau cinta ya harusnya mau dong diajak hidup bersama, mau melewati suka duka bersama. Karena sejatinya cinta itu buta. " sambungnya Zian lagi.


" Kalau cinta ya cinta aja, tidak usah bersyarat. Karena dalam cinta tidak ada syarat. " ujarnya Zian lagi.


" Seperti kakak yang mencintai kakak ipar tanpa memandang usia? " tanya Livia dengan polosnya.


Zian mengangguk.


" Aku sih, sejujurnya lebih suka dengan wanita dewasa. Karena wanita dewasa ini lebih mengerti dari wanita muda pada umumnya. "


" Lebih mengerti bagaimana kak? "


" Iya, karena wanita dewasa ini ya jalan pikirnya itu sudah kedepan, bukan kaya bocil lagi. "


" Hmm? bocil? " Livia menahan tawanya.


Zian mengangguk. " Iya bocil, kalau apa-apa harus selalu memberi kabar, harus balas chatnya, kemana-mana harus pamit, dan lain sebagainya. "


" Memangnya kakak pernah mengalami itu? "


Zian hanya tersenyum. " Sudah, jangan bahas itu. Yang harus kamu pikirkan saat ini, kamu siap atau tidak untuk menikah dengan Abi besok? "

__ADS_1


Livia tersenyum. " Insya Allah aku siap. "


" Apa kamu siap menerima segala kelebihan dan kekurangan dari calon suamimu itu? "


Livia tersenyum kembali. " Kelebihan dan kekurangan dari pasangan kita itu juga termasuk ujian buat kita kak, kita bisa menerima dia dengan baik atau tidak. Kalah aku sih, yakin dengan Abi. Ya, meski pun Abi orang miskin aku percaya dengannya. "


Zian tersenyum ketika mendengar perkataan itu dari adik perempuannya.


'Aku rasa kamu juga sudah mulai mencintai Abi, Livia. Aku harap dan berdoa semoga kalian jodoh dunia akhirat. Aamiin.' gumam Zian dalam hati.


" Baiklah, aku harap kamu tidak kecewa dengan pilihan mu itu nanti. " ujarnya Zian meyakinkan Livia.


" Isshh, kok doanya gitu sih kak? " sambil merajuk.


" Kan aku cuma memberi peringatan untuk kamu Livia, bukan mendoakanmu. "


" Ohh gitu? yasudah, tidak apa-apa. Terimakasih banyak atas waktunya karena sudah memperingatkan ku. " ujarnya Livia sambil melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamarnya.


Zian hanya terdiam sambil tersenyum menatap siluet tubuh dari Livia yang masuk ke dalam kamar itu.


.


.


Keesokan harinya.


Kini tibalah waktunya dimana hari pernikahan mereka. Pernikahan yang digelar di sebuah gedung serba guna yang tidak terlalu besar, namun dekorasi dari WO membuat ruangan itu dan di sekitarnya menjadi lebih indah nan cantik elok dipandang.


Pernikahan mereka pun juga tidak digelar dengan terlalu mewah namun minimalis yang hanya dihadiri oleh beberapa orang saja yakni para staf dan karyawan dari kantor Brawijaya sendiri.


Kini Abi yang datang mengenakan setelan pakaian berjas putih dan celana putih tak lupa juga dengan menggunakan pomade agar menata rambutnya untuk menjadi klimis dan elok dipandang. Dia datang beriringan dengan ayahnya dan juga beberapa orang yang mengikutinya sambil tersenyum.


Keluarga Wijaya dengan hormat dan tersenyum sumringah disaat melihat kedatangan calon mempelai dari pria itu langsung menyambutnya dengan hangat. Dan tak lupa pula papa dan juga kakak dari Livia juga memeluknya Abi barang sejenak sebagai isyarat bahwa mereka dengan sangat senang dengan kedatangan dari calon menantunya itu.


" Selamat datang disini calon menantu. " ujarnya Gisel kepada Abi.


Abi tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengannya. " Terimakasih mama. "


Gisel menerima uluran tangan dari Abi untuk bersalaman dengannya.

__ADS_1


Lalu setelah semua orang saling menyapa dan juga saling menyambut satu sama lain, kini keluarga Wijaya mengajak keluarga dan juga rombongan para calon besan untuk masuk dan menikmati hidangan terlebih dahulu sebelum memulai acara pernikahannya nanti.


Keluarga Abi dan juga para rombongan pun langsung dengan antusias mengikutinya.


Namun, tidak dengan Abi. Ya, Abi menghentikan langkahnya sejenak sambil menoleh ke segala arah seperti sedang mencari seseorang.


'Ada dimana ya dia? kok aku tidak melihatnya dari tadi.' gumam dalam hati Abi.


Ketika Abi sibuk menelisik ke segala arah mencari seseorang, lalu dia dikagetkan oleh kehadiran seseorang yang menepuk lengannya itu.


" Sedang mencari siapa? " ujarnya sambil tersenyum.


Abi terkejut. " eh, calon kakak ipar. Anu, itu. "


Zian mengernyitkan dahinya. " Anu? itu? itu siapa? " sambil menahan tawa.


Abi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


" Ya itu dah, siapa lagi. " ujarnya Abi sambil tersenyum kecil namun menjadi salah tingkah karena tidak berani untuk menyebutkan namanya.


" Calon pengantin kalau masih belum sah dan belum ijab belum boleh bertemu katanya. "


Abi tersenyum.


" Kira-kira dia baik-baik aja tidak kak? "


" Baik-baik aja? maksudmu? "


" Apa dia mau menikah denganku? secara kan aku ini hanya orang biasa yang tidak punya banyak harta kak. Dan menikah dengan Nona muda dari keluarga ini pun juga bukan rencana ku. "


Zian mengelus pundak Abi sambil tersenyum. " Kamu jangan berkecil hati seperti itu Abi, aku yakin dia mau menikah dan juga mau menerima semua keadaanmu nanti. "


" Tapi kalau dia tidak menerima bagaimana kak? "


" Insya Allah dia akan menerimamu. Dan seiring berjalannya waktu dia juga akan menerima semua kelebihan dan juga kekurangan dari dirimu itu, Abi. "


" Aamiin. Tapi kakak sendiri menerima ku tidak sebagai calon adik iparmu nantinya? "


Zian tersenyum. " Kita lihat saja nanti. " lalu berlalu meninggalkan Abi ditempat itu.

__ADS_1


Abi merasa heran dengan tingkah laku dari Zian yang berlalu meninggalkannya ditempat sambil terus melihat kearah siluet tubuh dari pria yang kini telah pergi menuju kearah kerumunan para tamu itu.


__ADS_2