Romantika Cinta

Romantika Cinta
Bab 42


__ADS_3

Livia sejenak melihat kearah tempat dance itu karena dia harus mengantri terlebih dahulu dengan seseorang yang saat ini tengah beraksi menari-nari ditempat.


" Kamu mau nari? " tanya Abi dengan polosnya kepada Livia.


Livia hanya melihat sejenak kearah Abi lalu kembali melihat kearah tempat dance itu yang kini tengah dimainkan oleh seseorang.


Abi lalu melihat kearah tempat dimana Livia melihat sambil menelan salivanya sendiri.


'Astaga.. ini orang terbuat dari apa ya? lemes banget kaya karet.' gumam Abi.


Sementara itu, Livia tersenyum sumringah sambil memberi tepuk tangan untuk orang yang kini tengah menari-nari di hadapannya itu.


Abi melihat kearah Livia sambil mengernyitkan dahinya dan geleng-geleng kepala.


'Jadi kamu suka dengan laki-laki yang modelnya seperti ini? astaghfirullah hal adzim.. kamu suka dengan pria jadi-jadian? aku kira semua wanita akan suka dengan pria yang macho tapi ternyata aku salah, malah kamu suka dengan pria yang jadi-jadian seperti ini. Kamu yang tidak normal atau aku yang kurang waras?' gumamnya Abi kembali sambil menghela nafasnya dalam-dalam.


Dan kini sudah tiba saatnya Livia memulai permainan itu setelah Abi membeli koinnya terlebih dahulu. Ya, abi yang membeli koinnya terlebih dahulu. Jika tidak membeli koin terlebih dahulu, maka Livia tidak bisa memulai permainannya itu.


Kini Abi mulai memasukkan koinnya itu ke tempat yang sudah ditentukan. Dan Livia malah antusias ingin segera memulainya.


Musik pun mengalun dengan disco nan dj, Livia menari-nari seperti tali karet yang begitu lunturnya sampai dia tak mengenal usia dan tak menghiraukan keadaan sekitar yang mulai memperhatikannya.


Abi yang menyadari itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kearah Livia.


" Ehemm, pulang yuk?!! " ujarnya Abi kepada Livia.


Livia tak menghiraukan perkataan dari Abi, dan kini dia malah semakin menjadi-jadi dalam tariannya.


Abi hanya menghela nafasnya dalam-dalam sambil beristighfar dalam hati.


'Astaufirullah hal adzim.. maafkan calon istri hamba ya Tuhan'


Beberapa saat berlalu..


Setelah selesai bermain permainan itu, Livia kini turun dan berjalan melangkah kearah Abi yang kini duduk di tempat tunggu yang tak jauh dari tempat itu.


Karena Abi tidak mungkin kan, berdiri sendiri sedangkan calon istrinya itu tengah asyik menari-nari, maka dari itu Abi lebih memilih untuk mencari tempat duduk dan menunggunya.


" Sudah selesai mainnya? " tanya Abi pada Livia.


Livia mengangguk.


" Selanjutnya kita mau kemana? " ujarnya Abi lagi.

__ADS_1


Livia melihat ke segala arah seperti sedang mencari sesuatu. " Aku haus. Beli minum dulu yuk. "


Abi pun mengangguk. " Yaudah, ayok. "


Kemudian keduanya pun berjalan beriringan untuk mencari kafe atau sebuah toko yang menjual minuman yang ada dalam Mall itu.


Selama keduanya berjalan, Abi dan Livia tidak banyak bicara karena Livia saat ini tengah merasa kelelahan sehabis dari permainan dance itu.


Kini Livia berjalan di belakang Abi sambil tersenyum jahil dan berniat untuk menjahili calon suami bayarannya itu.


'Kalau dilihat-lihat ganteng juga calon suamiku ini. Benar-benar tidak salah aku memilihmu. Apa sebaiknya aku kerjain saja ya dia?' gumamnya Livia sambil mengangguk-angguk.


Livia yang berjalan dibelakang Abi dan mulai menjalankan misinya itu.


" Aduh aduh aduh. " sambil memegangi kakinya sendiri seolah-olah tengah sakit.


Abi yang refleks langsung menoleh dan mendekati Livia.


" Kamu kenapa? "


" Nggak tau nih, tiba-tiba kram. " sambil meringis seolah tengah merasakan sakit yang luar biasa.


" Kram? "


Livia pun mengangguk cepat.


" Iya mungkin. "


" Yaudah, tunggu aja sebentar. Mungkin kaki kamu sebentar lagi akan sembuh. "


" Tapi aku haus. " ujarnya Livia sambil merengek didepan Abi.


" Yaudah, kamu tunggu sini aja. Biar aku yang beli minum. Tunggu ya. "


" Nggak mau!! "


" Loh kenapa? katanya haus? "


" memangnya kamu laki-laki seperti apa yang tega meninggalkan perempuan kesakitan sendirian disini? "


" Aku cuma mau beli minum bentar, ntar juga balik lagi kesini. Siapa yang mau ninggalin kamu? "


" Pokoknya nggak mau, aku mau ikut!! "

__ADS_1


" Gimana caranya kamu mau ikut? kan kaki kamu sakit? "


" Coba aja kamu pikir sendiri!!! " ujarnya Livia dengan ketus sambil bersedekap dada karena tidak memahami sebuah isyarat atau kode dari dirinya yang ingin digendongnya.


Abi menghela nafasnya.


'Sepertinya kamu mulai memancingku. Baiklah, aku akan mengikuti semua permainan darimu, calon istriku.' gumam Abidzar.


" Yaudah, ayo gendong. " sambi mengendak dan memberikan punggungnya agar Livia mau untuk digendong.


Livia memasang mode munafik.


'Nah, gitu dong peka. Coba dari tadi, kan enak.' gumam dalam hati Livia.


Lain dihati, lain pula di mulut yang berucap dari Livia. Karena dia terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya sendiri dihadapan Abi.


" Ngga mau ah, malu. Ntar diliatin banyak orang lagi. "


Abi melirik kearah Livia.


" Mau apa nggak nih? kalau nggak mau ntar aku tinggal disini sendirian loh. " ancam Abi.


" Eh, iya iya mau. "


Livia dengan cepat memeluk leher Abi dari belakang dan menerima gendongan dari Abi.


'Yes, berhasil.' gumam Livia.


Sementara itu, Abi hanya tersenyum karena ternyata Livia takut dengan ancamannya tadi.


Dan kini Abi pun berjalan sambil menggendong Livia kearah tempat dimana toko yang menjual minuman yang berada di dalam Mall itu.


Semua pasang mata tertuju padanya, namun keduanya pun tak menghiraukan itu. Karena bahagia tidak harus menghiraukan keadaan sekitar kan? bahagia itu kita sendiri yang merasakan, dan orang lain yang berkomentar dan memberi tanggapan pikirnya.


.


BERSAMBUNG..


.


.


.

__ADS_1


.


Maaf ya, author up nya pendek-pendek. Semoga kalian suka dengan karya ini, jangan lupa beri dukungan terbaik kalian disini. Terimakasih banyak 🙏🏻


__ADS_2