Romantika Cinta

Romantika Cinta
Bab 47


__ADS_3

'Aku mengerti maksudmu Abi, aku mengerti itu. Tapi kamu nggak peka, aku menahanmu agar tidak langsung pulang kan agar aku bisa berduaan denganmu agar kita bisa saling mengenal dan lebih dekat lagi satu sama lain. Aku akan mencoba untuk membuka hatiku untukmu Abi, aku akan mencobanya. Karena aku tidak mau kehilanganmu, aku tidak rela bahkan aku tidak ikhlas jika engkau harus pergi meninggalkanku.'


" Hey, kenapa diam seperti itu? apa ucapanku ada yang salah??!! " tanyanya Abi yang langsung membuyarkan lamunannya Livia itu.


Seketika itu juga Livia menggeleng sambil tersenyum kecil kearah Abi.


" Jadi kamu mau mampir dulu apa nggak nih? " tanyanya Livia sekali lagi.


" Nggak, makasih. Biar besok aja aku yang masuk ke Mansion mu itu. " sambil tersenyum.


" Yasudah, aku tidak akan memaksamu. Kalau gitu hati-hati dijalan. "


" Iya, terimakasih Nona. Mari, assalamualaikum. " sambil menunduk hormat lalu melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.


" Iya waalaikumsalam. " jawabnya Livia sambil tersenyum melihat kearah siluet tubuh Abi yang meninggalkan tempat itu.


Setelah itu, Livia mulai masuk kedalam Mansion dengan berjalan seperti orang normal pada biasanya. Karena dia memang tidak sakit atau pun terluka, itu hanya sebuah ide untuk menjahili calon suaminya itu agar dia digendong oleh calon suaminya dan bisa merasakan kemesraan agar lebih dekat lagi satu sama lain.


Baru saja Livia membuka pintu dan masuk kini dia dikejutkan oleh ulah dari abang nya itu.


" Gimana pacarannya? masih belum selesai? " ujarnya Zian yang kini mengagetkan adiknya itu sambil bersedekap dada menyambut kedatangan Livia.


Livia yang merasa kaget langsung memegang dadanya sambil menghela nafasnya dengan kasar. " Ya Allah, kakak ini mengagetkanku saja. Kakak sudah lama ada disini? "


Zian hanya tersenyum dan tak menjawab.


Livia mulai melangkahkan kakinya untuk menuju kearah kamarnya, belum sampai beberapa langkah dia sudah dihentikan oleh perkataan dari kakaknya itu.

__ADS_1


" Tunggu dulu! "


Livia menoleh kearah kakaknya. " Ada apa kak? "


" Apa kamu sudah siap untuk menikah dengan pria pilihanmu itu besok? "


Livia terdiam tak menjawab dan dia kini malah menunduk.


" Apa kamu sudah benar-benar melupakan Om kesayanganmu itu? "


" Dan kamu bersedia untuk menikah dengan seorang laki-laki yang sudah kamu bayar itu? " sambungnya Zian lagi.


Perkataan dari Zian itu sontak saja membuat Livia langsung menoleh kearahnya sambil membulatkan kedua bola matanya itu.


" Apa maksudmu kak? laki-laki yang aku bayar? dia itu kekasihku, jangan kamu sembarangan berucap! "


Zian tersenyum kecil, karena sudah pasti Livia tidak pernah mau mengakui perbuatannya itu.


" Kekasih? apa benar dia itu kekasihmu? " ujarnya Zian sambil dengan menatap Livia dengan tatapan mata yang menelisik.


Livia mengangguk pasti.


Zian kembali tersenyum. " Kekasih macam apa yang tega meninggalkannya sendirian di tempat parkir butik tadi? "


Livia seketika itu langsung membulatkan kedua matanya. " Hmm? "


'Bagaimana kakak bisa tau tentang masalah ini?'

__ADS_1


Zian menggeleng-gelengkan kepalanya. " Kamu harus jaga baik-baik calon suamimu itu, Livia. Jika tidak, maka dia pasti akan kembali lagi dengan masa lalunya. "


Livia semakin terkejut dengan perkataan dari kakaknya itu. Kalau dipikir-pikir, perkataan dari Zian kini ada benarnya juga pikirnya.


'Yang dikatakan oleh kakak memang ada benarnya juga, tadi aja saat aku pergi keluar bersama Abi, Bella masih saja menghubunginya. Padahal kan, sudah jelas kalau aku ini calon istrinya dia. Tapi kenapa Bella masih sering menghubungi Abi? atau jangan-jangan dia masih mengharapkan Abi untuk kembali pada dirinya?' gumamnya Livia.


Livia menghela nafasnya dalam-dalam sambil menutup kedua matanya.


" Kalau memang jodoh tidak akan kemana kak. "


" Memang betul, jodoh itu tidak akan kemana. Tapi ya setidaknya kita harus berusaha Livia. Inget, kita itu harus usaha dan berdo'a. Selebihnya ya biar yang Maha Kuasa yang berkehendak. "


Livia terdiam dan mengangguk.


" Saranku, kamu harus jaga baik-baik calon suamimu itu. Dia itu sangat langka, di jaman sekarang sangat jarang ada orang baik yang seperti dia. "


" Meskipun baik, tapi miskin ya percuma juga kak. Mau diharapkan apanya? " ujarnya Livia sambil terkekeh.


Zian geleng-geleng kepala. " Kalau kamu mencari yang sempurna, maka bersiaplah untuk menjomblo seumur hidup. Karena di dunia ini tidak ada yang sempurna Livia, kesempurnaan hanya milik Allah semata. "


Livia terdiam begitu mendengar perkataan demi perkataan dari pria yang saat ini tengah ada dihadapannya itu.


" Pasangan itu bukan saling mengejek seperti yang kamu bilang barusan. Pasangan itu saling melengkapi satu sama lain. Inget, roda kehidupan ini selalu berputar. Kadang ada kalanya kita ada diatas, dan ada kalanya juga kita berada di bawah. "


" Yang harus kamu cari itu, seseorang yang benar-benar tulus menerima kamu dan mencintaimu apa adanya, dan yang bisa berjuang untuk hidup dalam suka-duka bersamamu. Bukan hanya menerimamu dalam suka saja. " sambungnya Zian.


" Memang betul, kita apa-apa harus menggunakan uang. Tapi perlu kamu ingat, uang itu bukan segalanya dan bukan menjadi tolak ukur seseorang. Kalau cinta ya harusnya mau dong diajak hidup bersama, mau melewati suka duka bersama. Karena sejatinya cinta itu buta. " sambungnya Zian lagi.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG..


__ADS_2