Romantika Cinta

Romantika Cinta
Bab 32


__ADS_3

" itu sama saja Mama menyuruhku untuk tinggal di gubuk derita ma! " dengan wajahnya yang sudah terlihat sangat kecewa begitu mendengar perkataan dari wanita yang paling disayanginya itu.


Kenapa mama bisa mempunyai ide seperti itu sih? bagaimana ini? aku bisa saja mati berdiri karena tidak kuat hidup di gubuk derita bersama pria miskin ini, sudah bisa dipastikan rumahnya pasti sangat kecil dan kotor dan mungkin juga di dalam perkampungan yang padat penduduknya. Astaga, jangan sampai aku menjadi darah tinggi gara-gara memikirkan hal yang sangat konyol ini.


" yang namanya cinta akan terasa indah meskipun tinggal di gubuk derita sekalipun sayang dan kamu pun belum pernah merasakan indahnya cinta itu seperti apa disaat bisa tinggal berdua bersama orang yang kita cintai, jika kamu benar-benar tulus mencintai Abi kamu tidak akan pernah merasa keberatan hidup di manapun bersama dengan suamimu itu. "


Livia mulai menggaruk tengkuk belakangnya dan kemudian dirinya kini menatap tajam kearah Abi yang terlihat sangat tampan dengan setelan tiga potong itu seolah ingin memberikan sebuah kode untuk pria yang berada tak jauh darinya.


Jangan diam saja bodoh! cepat katakan pada Mama bahwa kamu tidak akan mengajakku untuk tinggal di gubuk derita mu itu, bahkan gajiku sangat sangat bisa untuk membeli rumah yang mewah, memangnya aku bodoh apa mau hidupin di gubuk reyot yang miskin seperti kamu.


Abi yang mengerti dengan arti tatapan dari Livia membuat nya langsung menanggapi perkataan dari wanita yang merupakan calon mertuanya nanti. " Apa yang Nona Gisel katakan dengan benar bahwa merupakan sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk mau ikut kemanapun suami pergi. Namun, karena saya sangat mencintai Livia jadi saya tidak tega untuk membuatnya hidup menderita. "


" karena itulah saya tidak akan mengajak wanita yang saya cintai hidup menderita di gubuk reyot saya karena saya menyadari, bahwa Livia terbiasa hidup mewah dan bergelimang harta. Jadi tidak mungkin mengubahnya untuk menjadi seorang wanita yang bisa hidup sederhana dalam waktu satu malam. " sambungnya Abi.


" Nanti yang ada malah rumah tangga kami akan sering mengalami cekcok karena ketidakcocokan dan bisa berakhir buruk, saya tidak ingin itu terjadi Nyonya jadi saya akan menuruti apapun permintaan dari Livia. " kemudian beralih menatap kearah wanita yang juga tengah menatapnya dengan intens. " bukankah itu yang kamu inginkan Livia?! "


" iya iya, kamu benar sayang. Jika kamu benar-benar mencintaiku dan ingin membuat aku bahagia maka kamu juga harus menuruti permintaan dari istrimu ini. " kemudian Livia menatap kearah sang mama. " Tuh ma, calon suamiku saja tidak menyuruhku untuk tinggal di rumahnya itu tapi kenapa malah Mama yang ngebet banget untuk aku tinggal di tempatnya? "


" dia sangat mencintaiku makanya tidak mau aku hidup menderita tinggal di rumahnya, jadi jangan menyuruhku untuk tinggal di gubuk derita itu mah. "


" ya sudah kalau kamu tidak mau tinggal dirumah mertua mu itu, berarti kamu harus menuruti perintah Mama untuk tinggal di Mansion! " kemudian beralih menatap sang kakak yang baru saja keluar dari ruang ganti tempat putrinya tadi sewaktu fitting gaun pengantin. " Aku mau berbicara dengan Aunty kalian! "


Zian dan Salsa mulai mengerti perkataan dari sang Mama. " Ma, kami mau pulang dulu. Anak-anak pasti sudah menunggu kami dari tadi! "

__ADS_1


" baiklah baiklah, lagi pula tugasmu sudah selesai bukan untuk merayu Abi untuk bekerja di perusahaan Wijaya? Jadi kalian berdua sebaiknya pulang saja! " kemudian beralih menatap ke arah Abi. " kamu bisa mengganti pakaianmu Abi dan kalian boleh pulang juga, biar Aunty kalian saja nanti yang mengurusnya! "


" Baik Nyonya Gisel. " jawab Abi tak lupa dengan anggukan kepala ditunjukkannya dan berlalu pergi menuju ke ruang ganti.


Lalu Zian dan Salsa kemudian berjalan menghampiri dua wanita cantik itu untuk berpamitan dan mencium punggung tangan keduanya.


" kami pergi dulu Aunty, tolong jaga baik-baik adik Aunty ini biar nggak dilirik lagi oleh mafia hahaha. "


Aunty nya yang mendengar itu seketika itu juga tertawa begitu mendengar perkataan dari keponakannya itu. " Kalau papamu mendengar kamu berbicara seperti itu mungkin sudah telingamu sudah merah dijewer olehnya, sudah sana pergi bocah tengil! "


" memang bocah tengil tuh anak! " timpal Gisel dan kemudian beralih menatap kearah menantunya. " jaga bocah tengil ini Salsa! langsung jewer saja jika dia nakal nanti. "


Livia tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari san Mama. " nanti aku akan bantu jewer telinganya kakak ipar hahaha. "


" Livia, kamu tunggu saja calon suamimu di sini! Mama dan Aunty akan ke lantai atas! "


" Sipp ma. " sambil mengangkat jempolnya dan mendaratkan tubuhnya di atas sofa di sebelahnya. Livia hanya mengamati siluet tubuh dua wanita yang sedang berjalan menaiki anak tangga. " lama banget sih si miskin itu? aku sudah tidak sabar ingin menghabisinya. " dan di saat waktu yang bersamaan kini netra coklatnya itu bersitatap dengan netra pekat pria yang dari tadi sudah ditunggunya itu.


Livia langsung berdiri dan berjalan menghampiri Abi dan menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam. " lama banget sih, ayo ikut aku! " dengan posisi tangan yang sudah menarik tangan pria yang membuatnya murka dan menariknya untuk berjalan keluar dari butik milik kakak dari mamanya itu.


Sedangkan Abi yang mulai berjalan mengekor di belakang wanita yang sudah dikuasai oleh amarah itu, kini menatap ke arah bawah dimana tangannya yang sedang ditarik oleh Livia.


Ampuni hamba ya Allah. Ampuni dosa-dosa hamba yang sudah terlalu banyak ini, dan juga ampuni dosa-dosa dari wanita yang akan menjadi istriku ini.

__ADS_1


Begitu sampai di area parkiran, Livia dengan kasar menghempaskan tangan Abi. Tatapan tajam menusuk diarahkan kepada pria yang sangat dibencinya itu, kemudian tangannya mengayun keatas dan berhasil mendarat di pipi dan Abi terlihat tidak bisa menghindar maupun menahan tamparan dari nya.


Plakk


Suara tamparan keras terdengar bahkan tangan Livia kini terasa sangat panas begitu selesai memberi sebuah pelajaran pada pria yang dianggapnya tidak tahu diri itu. " itu adalah hukuman mu karena berani-beraninya kamu memegang tanganku tadi dan kamu sudah memerintahku di depan Mama dan kakakku tadi, apa kamu sudah lupa diri akan posisimu yang sebenarnya? Hahhh?! "


" kamu hanyalah seorang pria miskin yang sudah aku beli dan kamu harus menuruti semua perintahku, jadi ingat baik-baik kata-kataku ini! jangan pernah memerintahku lagi! apalagi di depan keluargaku karena derajatmu tidaklah sebanding dengan keluargaku dan kamu itu ibarat alas kaki yang tempatnya selalu di bawah dan hanya pantas untuk di injak-injak. "


" jadi jangan lupakan posisimu itu hanya karena kamu sudah menikah denganku dan bisa bekerja di perusahaan Wijaya dan membuat mu langsung merasa besar kepala dan melupakan dari mana kamu berasal, berbicara denganmu ini benar-benar sudah menguras banyak tenaga ku dan aku sudah sangat muak melihat wajahmu itu! " sambungnya.


Setelah puas meluapkan amarahnya itu, kini Livia membuka pintu mobil dan mulai masuk ke dalam dan kemudian menyuruh sang sopir untuk segera meninggalkan area butik dan pergi meninggalkan pria yang masih terdiam ditempat. " jalan pak! "


Sang sopir pun menganggukkan kepalanya dan mulai menyalakan mesin dan mengemudikan mobil dengan sekali menatap ke arah spion mobil untuk melihat pria yang masih terdiam di tempat.


Astaghfirullah hal adzim, kasihan sekali nasib den Abi. Bahkan aku yang melihatnya tadi saat Nona muda menamparnya dan rasanya sangat sesak dan iba, apalagi dengan den Abi yang hanya merasakannya sendiri. Kasihan dia..


Abi hanya menatap mobil yang membawa wanita yang sudah menamparnya itu, kini perlahan dirinya mulai mengarahkan tangannya pada jantungnya yang berdegup sangat kencang karena merasa sangat terkejut sekaligus terluka karena sudah mendapat hinaan dari wanita yang akan dinikahinya nanti.


" Astaghfirullah hal adzim.. " sambil menghela nafasnya dalam-dalam. " sungguh begitu luar biasanya engkau mengujiku ya Allah, apakah ini adalah salah satu cara untuk memuliakan hambamu ini? jika memang ini adalah caramu untuk mengangkat derajat ku, hamba akan ikhlas menjalaninya ya Allah. " sambil mengelus dadanya.


" ampunilah wanita yang akan aku nikahi itu, kuatkan Aku dan sabarkanlah hambamu ini dalam menghadapi Nona muda angkuh itu itu, dan hanya kepada-mu lah hamba berserah diri dan hanya kepada-mu lah juga hamba menyerahkan takdir hidup hamba ya Allah. " sambungnya.


Setelah berhasil menenangkan perasaannya yang saat ini benar-benar tidak menentu, Abi berjalan meninggalkan butik namun baru beberapa langkah dirinya berjalan, kini terdengar suara dari seorang wanita yang sangat tidak asing membuatnya menghentikan langkah kakinya itu.

__ADS_1


__ADS_2