
Setelah mobil terparkir di tempat, Livia langsung turun tanpa sepatah kata pun dan dia mulai membuka pintu mobilnya untuk keluar. Sementara Abi terdiam melihatnya sejenak.
" Kamu mau turun apa nggak? " ujarnya Livia kepada Abi.
" Dia bilang ke saya pak? " tanya Abi kepada supirnya itu.
" Iya den, siapa lagi kalau bukan den Abi. "
" Kirain ke bapak. " lalu membuka pintu mobil dan keluar. Sementara si supirnya itu hanya tersenyum geleng-geleng kepala melihat dua insan yang tengah kasmaran namun enggan untuk memberitahukannya satu sama lain.
Setelah Abi keluar dari mobil dan menutup pintu mobilnya lalu disambut oleh Livia.
" Kenapa lama banget sih??!! "
" Ya maaf, kukira aku hanya disuruh menunggumu di mobil. "
" Dasar.. " lalu Livia pergi meninggalkan tempat itu dan Abi pun mau tidak mau mengikutinya.
Mereka berjalan seperti layaknya seorang kakak adek, dimana sang kakak perempuan tengah merajuk dan adiknya ingin meminta maaf karena telah berbuat kesalahan padanya.
Mereka berjalan memasuki pintu masuk Mall, namun baru beberapa langkah kini tangan Livia sudah ada yang menahannya.
" Tunggu dulu! " sambil menggenggam tangan Livia.
Livia menoleh kearah seseorang yang menggenggam tangannya. " Apa lagi sih??!! "
Abi menghela nafasnya. " Kita tidak boleh berjauhan, karena ini tempat yang sangat ramai dan banyak pengunjung. Aku harap kamu mengerti maksudku. "
Lalu kemudian Abi berjalan sambil menggandeng tangan Livia.
__ADS_1
Sementara yang digandeng masih menggerutu.
'Dia pikir aku anak kecil apa? bisa-bisanya menggandeng tanganku seperti ini.'
Livia terus menerus melihat kearah abi, sementara Abi tidak menghiraukannya dan terus berjalan melewati kerumunan para pengunjung di Mall itu.
" Aku denger kamu ngomong apa. " ujarnya Abi.
Sementara itu Livia hanya melihat kearah Abi. " Nyenyenye. " sambil membuat mulutnya merasa jelek dan tak menghiraukan keadaan sekitar yang sudah mulai melihat kearah keduanya.
" Kalau denger ya lepasin! masa digandeng seperti ini? kek anak kecil yang mau diantar orang tuanya ke sekolah!! " ujarnya Livia dengan ketus.
Abi hanya bisa tersenyum dan tak melirik kearah Livia.
Mereka berjalan menembus keramaian nan kerumunan orang banyak, lalu setelah sampai di suatu tempat di depan sebuah toko baju bayi mereka berhenti.
Livia melihat kearah sekelilingnya. " Makan dulu yuk?! "
Abi pun mengangguk.
Livia mengatakan itu seakan sudah lupa dan mengikhlaskan semua kejadian sebelumnya yang terjadi diantara mereka berdua. Kemudian mereka berjalan menuju kearah resto yang ada di Mall itu.
" Kamu mau makan apa? " tanya Abi pada Livia yang keadaannya masih sama yakni masih menggenggam tangan Livia.
Livia mendongakkan kepalanya dan melihat kearah daftar menu di resto itu. " Mmmm, mau makan apa ya? "
" Steak, pizza, burger, atau..?? "
Perkataan Abi dipotong oleh Livia.
__ADS_1
" Ada nasi pecel nggak? " melihat kearah Abi sambil tersenyum sumringah.
Abi mengernyitkan dahinya dan membulatkan kedua matanya. " Hah? nasi pecel??!! "
Livia dengan cepat mengangguk.
Kemudian Abi beralih melihat kearah daftar menu dan mencari nama masakan itu.
" Kayaknya nggak ada deh. Coba kamu lihat kalo nggak percaya. Tuh kan nggak ada. " sambil menunjuk kearah daftar menu yang dipasang diatas dinding itu.
" Eeuummmm, padahal aku pengennya nasi pecel. " sambil merengek seperti anak kecil yang seakan merajuk karena keinginannya tidak terpenuhi.
" Ya mau gimana lagi, wong nasi pecelnya nggak ada. "
" Yaudah, balik. Nggak jadi! " sambil berjalan pergi meninggalkan tempat itu dan menyeret Abi untuk mengikutinya.
" Mm? kok nggak jadi? "
Livia tak menjawab dan matanya kini tengah tertuju kearah tempat permainan.
.
.
.
.
BERSAMBUNG..
__ADS_1