Romantika Cinta

Romantika Cinta
Bab 31


__ADS_3

Livia mulai menetralkan nafasnya yang memburu akibat menahan kemarahannya dan tentu saja dirinya kini sangat sadar bahwa dirinya tidak bisa melampiaskan amarahnya itu pada pria yang kini ada di depannya yang masih memegang tangannya. Akhirnya dirinya mulai berusaha menampilkan senyuman palsu dan menjawab perkataan dari pria yang sudah di bayarnya itu.


" Baiklah, baiklah sayang. Aku akan berusaha untuk menjadi seorang wanita yang baik dan bersikap manis di depan kakak dan kakak ipar, tapi apa kamu bisa melepaskan tangan mu sekarang? apa sekarang aku boleh mengganti gaun pengantin ini? karena aku sangat bersih sekali memakai bahan brokat ini. "


Abi yang baru saja menyadari perbuatannya itu yang memegang tangan Livia langsung melepaskan genggaman tangannya. " maafkan aku Livia! aku tidak untuk bermaksud untuk mencuri kesempatan dengan memegang tanganmu, tapi aku hanya ingin menasehatimu agar engkau bisa bersikap lebih baik lagi pada mama dan juga kakakmu dan hanya itu saja, jadi engkau jangan salah paham padaku! maaf, kamu bisa mengganti pakaian mau sekarang! "


Dengan masih berpura-pura menampilkan wajah dengan senyumannya yang manis, kini Livia mulai menanggapi perkataan dari pria yang sangat dibencinya itu. " tidak masalah sayang, kamu tidak perlu meminta maaf padaku karena aku tidak marah kok. "


Aku memang tidak marah tapi rasanya saat ini aku ingin langsung mencekik lehermu itu. Astaga, mau sampai kapan aku harus berpura-pura di depan mama dan juga kakakku ini? bahkan aku rasanya ingin mual saat memanggilmu sayang, ya ampun ini benar-benar sudah membuat aku gila.


Setelah puas merungut di dalam hati kini Livia mulai melangkah masuk kedalam ruang ganti dan menutup pintu tersebut.


Begitu Livia menghilang dibalik pintu dan kini Abi yang merasa sangat terkejut karena mendapat tepukan dari belakang oleh wanita yang merupakan calon mertuanya itu dan langsung seketika itu menoleh untuk menatap wajah cantiknya.


" kamu harus selalu sabar dalam menghadapi sikap Livia yang selalu seenaknya Abi! aku sangat percaya bahwa kamu suatu saat pasti bisa merubah sifat buruk putriku itu itu, karena kamu tipe pria yang sangat sabar dan aku yakin pasti kamu bisa mengayomi dan merubah putriku itu. dan aku serahkan putriku sepenuhnya padamu Abi. " ucap Gisel dengan menepuk bahu kokoh calon menantunya itu.


" Nyonya, jangan terlalu menaruh harapan padaku karena aku pun tidak tahu apakah aku bisa merubah sifat Livia yang memanglah sangat angkuh, mungkin aku hanya bisa memohon pertolongan pada Allah yang lebih bisa merubah hati manusia dengan mudahnya dan meskipun begitu Aku akan berusaha untuk menjadi seorang suami yang baik untuk Livia. "


" meskipun Livia hanya menganggap pernikahan ini hanyalah sebuah sandiwara, tapi demi Allah saya tidak pernah sedikitpun untuk mempermainkan sebuah ikatan suci pernikahan karena saat saya mengucapkan janji suci pernikahan saat Ijab Kabul itu merupakan sebuah janji yang harus saya pertanggungjawabkan pada Tuhan dan insya Allah saya akan selalu berusaha untuk membahagiakan dirinya dengan sepenuh hati. " sambungnya Abi.


" aku percaya padamu Abi! " dan kini Gisel beralih menatap kearah putra dan menantunya itu. " kalian berdua juga percaya pada adik ipar kalian bukan? "


Salsa dengan refleks nya mengacungkan jempolnya itu. " tentu saja kami berdua sangat percaya ma, Livia akan sangat bahagia memiliki seorang suami seperti Abi karena dia bukanlah tipe pria yang munafik dan pastinya Livia juga sangat beruntung mendapatkan seorang pria yang baik seperti dirinya dan semoga Livia cepat menyadari ketulusan hati seorang Abi. " beralih menatap ke arah pria yang merupakan Papa dari anak-anaknya. " bukankah seperti itu sayang? "


Zian refleks menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan menuju ke arah pria yang akan menikahi adik kesayangannya itu. " aku memang sangat mendukung mu Abi dan aku pun tidak meragukan ketulusanmu itu. " kemudian beralih mendekatkan mulutnya ke daun telinga Abi. " akan tetapi kamu harus pertimbangkan tawaranku yang tadi, maksudku mengenai obat perangsang itu dan jika kamu berhasil meniduri adikku satu kali saja dan aku sangat yakin si putri yang angkuh itu akan langsung takluk padamu. "

__ADS_1


Abi refleks mengusap dadanya begitu mendengar perkataan bernada vulgar dari kakak iparnya itu yang menurutnya sangat konyol dan hanya sebuah gelengan kepalanya menjadi jawaban dari perkataan Zian, kemudian dirinya menepuk bahu kokoh sang kakak ipar itu. " aku mau mencoba pakaian dulu untuk acara besok. "


Zian hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap siluet pria yang sudah berjalan masuk kedalam ruang ganti itu dan mengumpat kebodohan dari pria yang akan menjadi adik iparnya itu.


Astaga, baru seumur hidup ini ini aku baru menemukan pria langka seperti dirinya, sebenarnya Abi itu bodoh apa terlalu lugu? sabar-sabar Zian, kamu pasti bisa bersabar menghadapi Livia dan kamu juga pasti bisa bersabar menghadapi si manusia langka dari planet lain ini.


Gisel dan Salsa menatap kearah pria yang kini terlihat tengah melamun itu dan kemudian sama-sama mengeluarkan suaranya untuk menghilangkan rasa penasaran. " apa yang kamu katakan pada Abi? "


Lamunan Zian seketika itu buyar begitu mendengar suara dari dua wanita yang sangat disayanginya itu. " bukan apa-apa, ini hanya masalah laki-laki jadi perempuan tidak boleh tahu! "


" Jangan meracuni pikiran bersih dari Abi dengan pikiran burukmu Zian! Mama tidak mau menantu idaman Mama berubah tengil sepertimu. "


Salsa refleks menimpali perkataan dari mama mertuanya itu. " benar apa yang dikatakan oleh Mama, kamu jangan mencoba untuk mengaruhi pikiran dari Abi, apalagi dengan ide-ide kamu yang selalu membuat semua orang sakit kepala. "


Livia yang baru saja keluar dari ruang ganti langsung menghampiri tiga orang yang sangat disayanginya itu. " memangnya ide konyol apa kakak ipar? "


Begitu pula dengan Gisel yang mengendikkan bahunya saat putrinya mengarahkan tatapan matanya yang penuh dengan pertanyaan.


Lalu Livia mengarahkan tinjunya ke arah lengan saudaranya itu. " jangan berbuat macam-macam di belakangku kakak! aku sangat tidak suka ketika ada orang yang mencampuri urusan pribadiku, jadi jangan mencampuri urusan rumah tangga aku nanti! " beralih menatap kearah sang mama. " Oh iya ma, rencananya nanti aku ingin tinggal di rumah sendiri setelah menikah! karena kami ingin hidup mandiri tanpa ada yang mengganggu, bukankah pengantin baru selalu ingin berduaan dan tidak suka diganggu? "


Sontak saja perkataan dari Livia membuat tiga orang itu sama-sama bersitatap seolah memberi tahu bahwa apa yang ada dipikiran mereka sama.


" jadi kamu ingin tinggal sendiri setelah menikah nanti? "


" iya ma. "

__ADS_1


" kalau seperti itu nanti Mama akan bilang saja pada papamu itu untuk menghancurkan Mansion keluarga Wijaya yang besar itu karena tidak ada yang ingin tinggal di sana! "


" Astaghfirullah hal adzim ma, jangan bicara seperti itu! Mansion adalah istana dari keluarga Widjaja jadi jangan dihancurkan ma! " rayu Zian pada sang mama.


" iya, Mama apa-apaan sih kan hanya sementara, nanti setelah aku bosan tinggal di rumah sendiri maka aku akan balik lagi ke Mansion. " Livia sambil memegangi lengan sang Mama untuk merayu wanita itu agar mau menuruti kemauannya.


" Dulu kakakmu juga bilang ingin tinggal di rumah sendiri dan sekarang kamu juga mau ikut-ikutan?! makanya lebih baik Mama hancurkan saja Mansion keluarga Widjaja daripada Mama dan Papa mu tinggal di istana sebesar itu sendirian. "


" kami berdua juga tidak akan pergi kemana-mana Nyonya, setelah menikah nanti aku dan Livia akan tinggal di Mansion keluarga Wijaya dan bukan apa-apa, seharusnya kan Livia ikut tinggal bersama suaminya setelah menikah namun, karena saya bukanlah berasal dari keluarga yang kaya raya jadi saya tidak mungkin mengajak Livia tinggal di rumah saya yang kecil. " ucap Abi yang baru saja keluar dari ruang ganti.


Sontak saja membuat empat orang yang sedang membahas masalah serius itu langsung menoleh kearah Abi yang terlihat sangat tampan saat memakai setelan jas berwarna hitam putih itu.


Livia menatap Abi dengan tatapan intens seolah dirinya tengah menilai penampilan pria yang telah dibayarnya itu.


Tampan juga dia saat memakai jas seperti ini, paling tidak dia tidak malu-maluin aku jika sampai awak media mencium kabar pernikahan kami.


Lamunan Livia seketika itu buyar saat mendengar suara dari sang mama.


" Mama akan mengizinkan kalian keluar dari Mansion untuk hidup mandiri. "


Seketika itu wajah Livia terlihat sangat berbinar. " benarkah mah? I LOVE YOU mama. " kemudian mencium pipi wanita yang sangat disayanginya itu.


" dengan satu syarat. "


" syarat apa mah? " dengan wajah penuh dengan syarat pertanyaan.

__ADS_1


" kamu harus tinggal di rumah suamimu itu karena sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk mengikuti kemanapun suami pergi. "


Tentu saja perkataan dari sang Mama membuat Livia membelalakkan kedua bola matanya. " Apaaaa?!!! aku harus tinggal di rumah Abi?? itu sama saja Mama mengirimku untuk tinggal di gubuk derita ma. "


__ADS_2