Romantika Cinta

Romantika Cinta
Bab 30


__ADS_3

Livia yang merasa sangat kikuk dan tidak suka karena bersibobrok dengan netra pekat milik pria yang saat ini tengah menatapnya dengan intens. Namun dirinya kini tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak berani memarahi pria yang sudah dibayarnya itu di depan mama dan juga kakaknya.


Sial ! ngapain juga sih pria miskin itu memandangku seperti ini? menyebalkan sekali, dia pasti tidak pernah melihat wanita cantik secantik diriku. Ya iyalah, karena yang dia lihat cuma si Bella yang malang itu. Bella, bella, pria yang kamu puja puja dan kamu bangga banggakan ini sudah tidak mengingatmu lagi karena dia pun sudah terpesona denganku, mana ada sih pria normal di dunia ini yang tidak menyukaiku? ada, hanya Om kesayanganku yang terang-terangan menolakku, dasar bodoh kamu Livia! bodoh memang sangat bodoh! gara-gara om kesayangan mu itu kamu terlihat sebodoh ini.


Tiga orang yang berada di dalam ruangan butik itu hanya mengamati interaksi dari dua calon mempelai yang tengah saling memandang itu dengan saling memberikan sebuah kode kedipan mata.


Salsa *******-***** pergelangan tangan Zian dan tak lupa pula mengedipkan matanya kepada sang Mama mertua.


Hingga keheningan di ruangan itu sirna saat suara dari Livia yang mulai berteriak membahana. " Ma, Mama kok diam saja sih?! Aku kan tadi bertanya pada mama, Aku cantik atau tidak? "


Gisel menganggukkan kepalanya dan beralih menatap kearah calon menantunya itu. " bagaimana menurutmu Abi? putriku itu cantik atau tidak? " tanya Gisel untuk memancing pendapat dari sang calon menantu.


Abi yang mulai tersadar dari lamunannya itu langsung seketika itu juga menganggukkan kepalanya. " iya Nyonya Gisel, putri anda memang sangat cantik dan anda pun masih terlihat sangat cantik meski sudah mempunyai putri sedewasa Livia. "


Livia terlihat bertepuk tangan. " Wahh, kamu sangat pintar merayu mamaku ternyata dan aku pikir kamu tidak akan menatap wanita lain selain aku tapi ternyata kamu malah juga melirik kearah wanita lain, bukankah menatap wanita yang bukan merupakan muhrimnya itu juga berdosa? seperti yang selalu kamu sebut kan bukan muhrim bukan muhrim yang selalu aku dengar. "

__ADS_1


" Sayang, jaga sikapmu pada calon suamimu itu! setelah kamu menikah, kamu harus menjaga sopan santunmu pada suami! apa kamu mau masuk neraka karena berbuat kurang ajar pada suamimu? apa perlu Mama menjewermu agar kamu sadar dari kesalahanmu? " ucap Gisel sambil mengarahkan tangannya ke atas untuk mendarat pada daun telinga dari putrinya itu.


Abi langsung mengarahkan tangannya ke depan dan seolah ingin menegaskan larangannya. " sudah sudah Nyonya! Livia sangat tidak suka jika ada yang menjewer telinganya dan apalagi memberinya sebuah hukuman di hadapan orang lain, jadi tolong nyonya jangan menghukum Livia lagi! biarkan saja saya nanti yang akan menasehatinya untuk bersikap lebih baik lagi pada seorang suami karena itu merupakan tugas bagi seorang suami untuk membuat istrinya menjadi wanita yang lebih baik lagi. "


Melihat calon menantunya itu mulai melindungi putrinya membuat sudut bibir Gisel melengkung ke atas lalu kemudian dirinya menurunkan tangannya dan mulai menatap tajam kearah putrinya itu. " tuh coba kamu lihat! calon suamimu itu benar-benar seorang laki-laki yang luar biasa, jadi turuti semua perkataan dari suamimu itu dan jangan sekali-kali kamu membantah perintah dari suamimu atau kamu mau merasakan panasnya siksa api neraka? "


Livia menatap jengah ke arah Abi dan wajahnya sudah berubah masam dan tentu saja dirinya hanya bisa menyimpan di dalam hati.


Perkataan Mama sudah seperti Abi saja, menyebalkan sekali! awas saja kamu Abi, aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan simpati lagi dari keluargaku karena aku harus membuatmu terlihat buruk dimata mereka agar aku bisa dengan mudah menceraikanmu nanti.


Abi mulai mengerti arti dari tatapan mata tajam dari Livia dan kini dirinya hanya bisa berusaha tersenyum untuk menanggapi perkataan dari calon istrinya yang terlihat sangat kesal padanya. " InsyaAllah Livia, aku akan membimbingmu menjadi seorang istri yang baik dan semuanya akan mudah jika kamu mau berubah dan dengan niat hati yang ikhlas mau belajar untuk menjadi seorang istri yang baik. "


Livia yang sebenarnya merasa sangat kesal mendengar perkataan dari pria yang sangat tidak disukainya itu dan terpaksa menganggukkan kepalanya dan terpaksa juga menjawab perkataan dari Abi. " tentu saja aku akan menuruti perkataan darimu sayang, aku ingin menjadi seorang istri yang baik untukmu. "


Astaga.. rasanya aku mau muntah mendengar kalimat ku sendiri yang mengatakan akan menjadi istri yang baik untuk pria miskin ini dan mungkin juga aku tidak akan merasa seperti ini jika yang di depanku adalah Om kesayanganku.

__ADS_1


Melihat Livia mulai bersikap manis pada pria yang sudah dibayar membuat Zian seketika itu berkomentar menanggapi perkataan dari adik kesayangannya itu. " Hei Livia, kamu harus bersyukur karena bisa menikah dengan pria seperti Abi, karena kata istriku tadi Abi itu merupakan sebuah berkah untuknya dan sedangkan bagi Abi kamu adalah malapetaka baginya hahaha.. "


" Brengsek kau kak! " ucap Livia dan beralih menatap kearah sang kakak ipar. " apa kamu bilang tadi kakak ipar? coba katakan sekali lagi di depanku secara langsung! "


Salsa hanya bisa menelan salivanya sendiri dengan kasar di saat mendapat tatapan tajam setajam silet dari adik iparnya itu dan kini dirinya mengarahkan tangannya seolah menunjukkan bahwa ia mengaku untuk menyerah. " ampun Livia, maaf aku tadi hanya bercanda saja pada Abi. Jangan dimasukkan ke dalam hati, abangmu saja yang tengil itu dan dia pasti ingin membuatmu marah dengan menggodamu bukan kah selalu begitu? masa kamu tidak kenal dengan kelakuan dari abangmu sendiri? "


" kalian berdua itu sama saja dan tidak ada bedanya, jadi jangan berpura-pura untuk bersikap munafik aku sudah malas mendengarnya! " setelah puas merungut Livia langsung berjalan meninggalkan orang-orang yang membuatnya merasa sangat kesal.


Namun saat dirinya baru beberapa langkah hendak memasuki ruang ganti lalu tangannya itu ditahan oleh pria yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.


" Tunggu Livia! mulai sekarang kamu berubah sikapmu yang sangat tidak sopan itu berbicara pada orang yang lebih tua darimu! abang dan kakak ipar mu itu lebih tua darimu jadi kamu harus berbicara lebih sopan padanya, apa kamu mengerti? paling tidak sedikit demi sedikit kamu harus belajar untuk menjadi seorang wanita yang lemah lembut layaknya seorang wanita. "


Livia menolehkan kepalanya ke belakang dan beralih menatap kearah tangannya yang kini dipegang oleh pria yang tidak disukainya itu.


Apa yang pria miskin ini lakukan? apa dia mau mati? berani beraninya dia menyentuhku, apakah dia berpikir ada mama dan kakak yang akan melindunginya? brengsek! lalu apa yang selalu dikatakannya tadi? bukan muhrim bukan muhrim? lalu kenapa dia sekarang berani menyentuh tanganku? awas aja kamu Abi aku akan menghabisi musuh setelah keluargaku pergi!

__ADS_1


__ADS_2