
Sewaktu keduanya saling berbincang-bincang tiba-tiba terdengar suara dari suatu sudut yang mengagetkan keduanya.
" Ekhemmm. "
Keduanya pun sama-sama saling melihat kearah sumber suara itu.
" Tuan Brawijaya.. " keduanya pun sama-sama kaget melihat siapa yang datang menghampirinya.
Tuan Brawijaya berjalan mendekati keduanya. " Sedang apa kalian disini? "
Mendengar perkataan dari Tuan Brawijaya sontak saja membuat Bella langsung menjawab pertanyaan itu.
" Eh, anu tuan. Kami tidak sengaja bertemu disini tadi. "
" Iya benar om, kami tadi tidak sengaja bertemu disini. " timpal Abi.
Mendengar itu lalu Brawijaya mengangguk-ngangguk. " Lalu dimana Livia? "
Mencoba memancing kejujuran dari Abi, karena yang sebenarnya terjadi adalah dia sudah mengetahui kalau Livia sudah pergi meninggalkannya di tempat itu dan melihat semua kejadian yang sebenarnya yang sudah dilakukan oleh Livia kepada Abi.
Abi terdiam sejenak sambil memikirkan sesuatu.
Bagaimana ini? apa iya aku harus menceritakan semuanya yang sudah terjadi tadi kepada calon mertuaku tentang Livia? tapi kan tidak enak, lagi pula itu anak kandungnya. Tapi, masa iya aku harus berbohong?
Pasang mata dari Bella dan juga Tuan Brawijaya kini melihat kearah Abi karena Abi terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
" Abi, Livia dimana? " ujarnya Tuan Brawijaya kepada Abi mengulanginya lagi.
Abi tidak menjawab. Lalu Bella mulai membuyarkan lamunannya itu dengan menepuk lengannya Abi.
__ADS_1
" Mas, itu ditanyain sama Tuan Brawijaya. "
" Hmm? " Abi melihat kearah tuan Brawijaya.
" Ehh, maaf maaf om. Saya tadi tidak mendengarnya. " sambungnya.
Tuan Brawijaya hanya tersenyum melihat tingkah laku dari calon mantunya itu karena dia sudah tau pasti Abi akan menutupi semua ulah dari anaknya yakni Livia.
Lalu kemudian Tuan Brawijaya langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam sakunya itu dan lalu mulai mencari nomor Livia untuk melakukan panggilan telepon.
Sementara itu, Abi dan Bella hanya terdiam melihat kearah tuan Brawijaya.
" Hallo, Livia. " ujarnya Tuan Brawijaya kepada seseorang di dalam panggilan teleponnya itu.
" Hallo Pa. "
" Ada dimana kamu sekarang? "
" Dimana calon suamimu saat ini? "
" Ada kok Pa, dia sedang bersamaku saat ini. "
" Mana? coba tolong berikan ponselmu padanya. Papa ingin bicara sekarang. "
" Hmm? " Livia diam terkejut dikala papanya mengatakan itu. Sudah pasti dia tidak bisa berbohong lagi, karena pada kenyataannya memang Abi tidak sedang bersamanya.
" Cepat berikan! Papa ingin bicara sekarang. "
" A-anu pa... "
__ADS_1
" Anu kenapa??!! Kamu jangan bohong sama papa. Papa sudah tau atas semua yang kamu lakukan pada Abi. Kamu tega meninggalkan calon suami kamu sendirian disini? cepat kembali! atau kamu nanti akan menyesal jika tidak menuruti perintah dari papa! "
" tapi Pa.. "
" Cepat kembali atau nanti kamu akan menyesal!! " Lalu kemudian Brawijaya mematikan sambungan telepon itu.
" tapi Pa.. Hallo, hallo.. Aaarrrhhhh, sial. " Livia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya itu dengan kasar.
" Pak, kita putar balik sekarang! " ujarnya Livia kepada supirnya itu dan supirnya itu pun mulai mengiyakan perkataan dari Livia.
" Baik Non. "
Livia tidak henti-hentinya mengumpat dalam hati.
Dasar pria bodoh! awas saja kau nanti kalau sampai kau mengadu pada papa, akan aku hancurkan hidupmu itu. Dasar pria miskin!! bisanya cuma nyusahin orang.
Sementara itu, ditempat Tuan Brawijaya bersama Abi dan juga Bella.
" Saya sudah menyuruh Livia untuk kembali lagi ke tempat ini, Abi. " ujarnya Tuan Brawijaya kepada Abi.
" Hmm? " keduanya pun terkejut mendengar itu.
" Kamu tenang saja. "
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.