Romantika Cinta

Romantika Cinta
Bab 24


__ADS_3

Abi mulai mengamati raut wajah Livia yang dari tadi terdiam setelah dirinya mengungkapkan kalimat bernada sindiran.


Apa kamu sekarang mulai memikirkan perkataanku Nona muda? karena seangkuh apapun kamu, kamu tetaplah seorang wanita yang memiliki hati lebih sensitif daripada seorang pria, karena pada dasarnya seorang wanita akan lebih mengedepankan hati daripada pemikirannya itu.


"Apa Nona muda mulai mengakui bahwa apa yang aku katakan ini benar?"


Lamunan Livia seketika itu buyar saat mendengar kalimat bernada ejekan dari pria yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan intens.


"sepertinya kali ini aku harus mengakui bahwa perkataanmu ada benarnya juga, karena aku sendiri pun sangat mengharapkan sebuah ketulusan dari seseorang tapi sayangnya dia belum bisa melihat ketulusanku."


"apakah yang kamu maksud adalah Om kesayangan yang kamu sebutkan tadi?"


Abi mencoba mencari tahu tentang rahasia dari wanita yang akan dinikahinya itu karena sejujurnya dirinya pun lama-lama merasa ada sebuah rasa tidak nyaman saat selalu mendengar wanita yang akan dinikahinya itu selalu menyebut nama pria lain di depannya, ada sebuah rasa tersembunyi yang seolah melukai harga dirinya sebagai seorang laki-laki.


Tanpa disadarinya Livia refleks menganggukkan kepalanya kemudian netra coklat miliknya itu seketika bersitatap dengan netra pekat pria yang berada di depannya itu dan mulai mengungkapkan sebuah pertanyaan.


"apa kamu bisa membantuku untuk bisa mendapatkan hati seorang pria?"


Degghhh


Mendengar perkataan dari wanita yang akan dinikahinya itu yang meminta untuk membantu mendapatkan hati pria lain dan tentu saja berhasil membuat perasaan Abi semakin tidak menentu.


Baru beberapa menit yang lalu dirinya harus menguatkan hatinya untuk memutuskan hubungan dengan wanita yang berarti hidupnya kini belum sembuh rasa hati yang terluka malah wanita yang akan dinikahinya itu minta bantuannya untuk mendapatkan hati pria lain.


*Ampuni dosa hamba ya Allah, jika hamba terlalu banyak mengeluh, namun hamba tidak bisa lagi membohongi perasaan ini, bahwa saat ini hamba benar-benar terlihat seperti seorang pria yang tidak punya harga diri lagi.


Apa yang harus aku lakukan? haruskah aku menuruti permintaannya*?

__ADS_1


"lebih baik kita segera pergi dari sini Nona muda! bukankah tadi Mama kamu menyuruh untuk mengukur gaun pengantin untuk acara akad nikah besok?" ucap Abi untuk mengalihkan pembicaraan karena dirinya tidak bisa menjawab pertanyaan dari wanita yang akan menjadi istrinya itu.


Livia refleks melihat mesin waktu yang melingkar di tangan kirinya itu seketika itu raut wajahnya berubah menjadi panik karena menyadari bahwa ia terlalu asyik mengobrol sehingga tidak mengetahui waktu sudah bergulir dengan cepat.


"Astaga, mama bisa mengomel karena terlalu lama menunggu, ayo cepat pergi dari sini! kamu sih kok dari tadi asyik ngomong melulu."


Setelah puas merungut tanpa disadari Livia langsung menggandeng tangan Abi untuk keluar dari toko perhiasan itu dan berjalan dengan langkah kaki cepat karena benar-benar terburu-buru dikejar waktu.


"bisa-bisa Mama nanti malah menjewer telingaku lagi nih."


Abi dari tadi hanya terdiam saja saat tangannya ditarik oleh Livia karena dirinya hanya mengikuti langkah kaki calon istrinya itu, matanya dari tadi fokus menatap kearah tangannya yang saat ini digandeng oleh Livia, dan saat mendengar keluhan dari Livia, Abi mulai menyahutnya.


"kamu tenang saja Nona muda, aku nanti yang akan menjelaskan kepada Mamamu, jadi kamu tidak akan mendapat hukuman lagi dari mama, apalagi sepertinya Mama akan merasa sungkan pada calon menantunya jika memberikan sebuah hukuman."


Begitu sampai di parkiran, sang sopir pun yang melihat kedatangan dari majikannya itu langsung membukakan pintu mobil.


"Silahkan Nona muda."


"Oopps, sorry. Aku lupa kalau bukan muhrim karena saking terburu-buru nya tadi."


Abi yang berada di luar mobil hanya bisa mengarahkan tangannya untuk membuat wanita yang sudah duduk di dalam mobil itu tidak memikirkan tentang hal yang dilakukannya tadi.


"tidak perlu minta maaf Nona, karena aku pun memakluminya, karena kamu memang sedang terburu-buru tadi." jawab Abi dan berniat menutup pintu mobil agar dirinya segera masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah sang sopir, namun saat dirinya hendak melakukannya, suara dari Livia membuatnya mengurungkan niatnya.


"Kamu duduk saja disebelahku!"


Abi masih terdiam dan tidak langsung menuruti perintah dari wanita yang saat ini tengah menatapnya itu. "maksud kamu?"

__ADS_1


Livia terlihat geleng-geleng kepala dan memegangi tengkuk belakangnya. "jangan salah paham dulu ya! aku menyuruhmu untuk duduk disebelahku agar Mama tidak merasa curiga pada kita, kamu mengerti kan maksudku?"


"Ohh begitu? tentu saja aku mengerti Nona muda." sahut Abi sambil mulai masuk ke dalam mobil dan duduk disebelah wanita yang berhasil mengombang-ambingkan hidupnya itu.


Sedangkan Livia langsung bergeser ke arah kanan untuk memberikan tempat bagi pria yang sudah di sebelahnya itu kemudian dirinya mulai menetap Abi.


"jangan panggil aku Nona muda terus! karena takutnya nanti kamu malah keceplosan di depan Papa dan Mama, panggil saja aku Livia, itu akan lebih enak didengar! sebenarnya aku merasa risih mendengar panggilan Nona muda, karena itu selalu menjelaskan bahwa aku selalu dibayang-bayangi oleh identitas dari kebesaran keluarga Wijaya."


"sebenarnya aku ingin jadi diri sendiri, karena itulah aku lebih suka orang-orang memanggilku dokter Livia, rasanya aku sangat bangga bisa dipanggil seperti itu yang menunjukkan kemampuan ku bukan atas dasar kehebatan keluargaku yang selalu dihormati dan disegani oleh banyak orang." sambungnya.


Abi yang dari tadi tidak berkedip menatap wajah cantik wanita yang mulai sedikit demi sedikit terbuka dan mulai mau menceritakan tentang perihal dirinya meskipun hanya sebuah hal yang sepele, mendadak perasaan yang tadinya bergejolak karena merasa terluka harga dirinya kini mulai sedikit demi sedikit merasakan sebuah secercah harapan.


"jadi kamu lebih suka dipanggil dokter Livia? jika memang begitu aku bisa memanggilmu dokter Livia setiap hari bukankah nantinya kamu akan merasa senang?"


"tidak perlu seperti itu juga, kalau di Mansion kamu bisa memanggilku Livia, karena kalau kamu memanggilku dokter Livia maka sudah pasti kamu akan ditertawakan oleh semua pelayan dan juga mama papa, sudahlah panggil saja aku Livia! beda lagi kalau kita bertemu di rumah sakit, baru kamu boleh memanggilku dokter Livia."


Abi refleks menganggukkan kepalanya. "baiklah nona, eh lupa, baiklah Livia."


Livia mengangkat ibu jarinya dan mengarahkannya pada pria yang duduk di sebelahnya itu, perhatiannya kini beralih ke arah ponselnya yang terdengar ada suara notifikasi yang menandakan ada sebuah pesan masuk pada ponsel miliknya itu.


Siapa yang mengirim pesan?


Saat dirinya hendak membuka pesan itu, ponsel yang dipegangnya kini mulai berdering dan dilihatnya ada sebuah panggilan internasional dengan nama Om Fahri, sontak saja dirinya merasa sangat kebingungan, antara rasa senang bercampur terkejut berbaur menjadi satu saat pria yang dicintainya itu menghubunginya.


Abi mengerutkan keningnya saat melihat liftnya tidak kunjung mengangkat telepon itu. "kenapa tidak cepat diangkat Livia? memangnya siapa yang sedang menelpon?"


Raut wajah Livia terlihat sangat berbinar, refleks dirinya menggerakkan tangan Abi. "Aarrhhh, aku nervous Abi, karena yang sedang menelponku saat ini adalah Om Fahri."

__ADS_1


Abi hanya bisa terdiam membisu tanpa sepatah kata pun begitu melihat Livia terlihat sangat berlebihan.


Kenapa? kenapa rasanya sangat aneh? ada apa denganku? apa saat ini aku sedang cemburu?


__ADS_2