
Abi benar-benar sangat terkejut dengan perkataan dari pihak yang merupakan kakak dari wanita yang akan dinikahinya itu. "Apaaa??!! kamu tau kalau aku ini adalah pria yang sudah dibeli oleh adikmu?"
Zian hanya terkekeh menanggapi ekspresi terkejut dari calon adik iparnya itu kini tangannya menepuk bahu Koko pria yang terlihat sejajar dengannya. "Tidak perlu terkejut seperti itu! bukan hanya aku yang sudah mengetahui bahwa dirinya telah membayar mu untuk menjadi suami pura-puranya."
Mendengar kalimat ambigu yang dilontarkan oleh pria yang ada di depannya itu membuat Abi yang merasa sangat penasaran dengan siapa yang sudah mengetahui sandiwaranya bersama Livina, langsung melontarkan sebuah pertanyaan yang ada di kepalanya itu. "bukan hanya kamu? lalu, memangnya siapa lagi yang mengetahui sandiwara Nona Livia?"
"coba saja kamu tebak menurutku kamu tidak sebodoh itu." jawab Zian sambil tangannya bersedekap di dada bidangnya kembali.
Abi yang merasa mulai mengerti arah pembicaraan dari Abang wanita yang selalu disebutnya angkuh itu, tampak memijat pelipisnya. "A-apa??!! Tuan Brawijaya dan Nyonya Gisel sudah mengetahui bahwa aku hanyalah pria yang dibayar untuk menjadi suami palsu putrinya?"
Zian mengangguk dengan wajah tersenyum.
"Astaghfirullah.. jadi itu benar? dan aku terlihat sangat bodoh di depan Tuan dan nyonya tanda tanya rasanya aku sudah tidak mempunyai muka lagi untuk bertemu dengan mereka."
Zian refleks menurunkan tangannya yang dari tadi bersedekap di dada bidangnya itu, kini dirinya mulai menepuk bahu kokoh pria yang terjebak karena terpaksa menikahi adiknya.
"tidak perlu merasa malu ataupun tidak enak hati pada orang tuaku dan juga aku, karena kami semua sangat mendukungmu!"
"A-apa??!! mendukung??!! maksudnya?" jawab Abi dengan wajah penuh dengan sorot pertanyaan.
"Papa dan Mama sangat menyukaimu adik ipar, karena apa? karena orang tua ku aku sangat pandai dalam menilai seseorang karena itulah mereka bisa menilai bahwa kamu adalah seorang pria yang baik dan papa mama sangat yakin bahwa kamu akan mampu merubah sifat angkuh Livia menjadi seorang wanita yang lebih baik dan berubah menjadi seorang istri yang berbakti kepada suaminya." ujarnya Zian.
"jadi aku serahkan sang Nona muda itu kepadamu! aku percaya bahwa kamu akan jadi seorang suami yang bertanggung jawab pada diriku itu." sambungnya Zian dengan tangan yang masih berada di bahu Abi.
__ADS_1
Abi yang masih merasa kebingungan, tidak berhenti menatap pria yang akan jadi kakak iparnya itu.
"kenapa aku merasa sangat aneh? bagaimana mungkin ada orang tua yang membiarkan putrinya berencana untuk menjalani pernikahan atas dasar perjanjian? bukankah seharusnya Tuhan Brawijaya menghabisi ku karena telah berani menikahi putrinya itu atas dasar sandiwara?"
Lagi-lagi Zian hanya terkekeh menanggapi pertanyaan dari Abi. "itu karena papaku tahu bahwa kamu bisa membahagiakan putrinya, karena laki-laki baik sepertimu sangat susah dicari dan selama ini Papa dan Mama sangat bingung mencari calon suami untuk Livia, karena mengingat adikku itu benar-benar sangat nakal dan keras kepala."
"Apa lagi dia selalu membantah perintah dari orang tua yang menyuruhnya untuk segera menikah, Papa adalah agar putrinya tidak semakin menjadi gila karena menyukai pria yang merupakan mantan kekasih dari mama." sambungnya.
Refleks Abi membulatkan kedua matanya begitu mendengar penjelasan dari Zian. "Apaaa??!! mantan kekasih dari mamamu? jadi Om kesayangan itu?"
Zian langsung menganggukkan kepalanya. "ya, seperti dugaanmu. Pria yang dicintai oleh adikku adalah pria yang merupakan mantan kekasih dari mamanya sendiri, bukankah adik ku benar-benar sangat bodoh dan konyol?"
Lagi-lagi raut wajah terkejut tampak jelas di wajah Abi begitu mulai mengetahui takbir yang mulai tersingkap kenyataannya. "Astagfirullah... jadi seperti itu cerita yang sebenarnya? bagaimana mungkin? maksudku bagaimana bisa ia menyukai pria yang umurnya terpaut sangat jauh darinya?"
"tidak masalah, aku sangat suka orang yang tidak bersikap munafik sepertimu Abi. Tidak salah Papa dan Mama mempercayakan adik kesayanganku kepadamu, si Nona angkuh itu memang sangatlah bodoh karena ke jeniusannya itu tidak sebanding dengan hatinya karena hatinya terlalu lemah jika menyangkut tentang Om kesayangannya itu karena dia sudah memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan Om Fahri semenjak masih kecil."
"dan perasaan seorang ibu sangatlah peka karena Mama selalu berpikir bahwa putrinya menyukai mantan kekasihnya itu, namun saat Mama selalu mengatakan itu kepada papa dia selalu saja menganggap perkataan Mama itu tidak tidaklah penting." sambungnya Zian.
"karena menurut papa perkataan dari mama itu sangatlah konyol, namun setelah melihat Livia dewasa yang tidak pernah menunjukkan rasa ketertarikan pada pria dan itu membuat Papa baru menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Mama selama ini benar kalau Olivia begitu tergila-gila pada Om kesayangannya itu." sambungnya lagi.
Zian memegangi lengan kekar Abi dan menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam. "jadi, kamu harus bisa membuat adik ku melupakan punya yang tidak mungkin bisa dimilikinya itu! buat dia jatuh cinta padamu setelah kalian menikah nanti!"
Abi hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun karena dirinya sangat tidak percaya diri akan bisa membuat seorang Nona muda angkuh itu untuk jatuh cinta padanya dan melupakan pria yang sudah lama dicintainya itu.
__ADS_1
Kemudian dirinya menggelengkan kepalanya. "sepertinya itu tidak mungkin aku hanyalah seorang pria biasa yang sama sekali tidak memiliki kelebihan apapun."
"aku pun tidak memiliki wajah tampan dan bisa membuat Livia jatuh cinta padaku. Jadi, aku sama sekali tidak pernah berpikir bisa membuat Livia tertarik padaku, akan tetapi aku akan menyerahkan semuanya pada Allah karena hanya dialah yang bisa membolak-balikkan hati manusia dan aku berharap dia bisa melupakan Om kesayangannya itu dan mulai memikirkan tentang status pernikahan kami nanti." sambungnya Abi.
"karena aku sudah berjanji pada diri sendiri bahwa aku hanya ingin menikah satu kali seumur hidup karena Allah sangat membenci perceraian dan karena itulah Islam menganjurkan pasangan suami istri untuk mencari jalan keluar lain sebelum bercerai." sambungnya Abi lagi.
"perceraian pun bisa dijadikan sebagai jalan paling terakhir untuk menyelesaikan masalah, sebagaimana yang disebutkan dalam surat al-baqarah ayat 277 dimana dijelaskan. "dan jika mereka berketetapan hati hendak menceraikan, maka sungguh Allah maha Mendengar, maha Mengetahui." sambungnya Abi kemudian.
Zian mengarahkan dua jempolnya setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari pria yang terlihat sangat jujur itu. "aku akui kamu memang sangat hebat dalam hal ilmu agama Abi, jadi kamu harus bisa mengubah Livia menjadi seorang istri yang sholihah, dan aku mempunyai sebuah ide yang akan menghancurkan rasa tidak percaya diri mu itu Abi."
"Ide?? memangnya ide apa?" jawab Abi dengan wajah polosnya itu.
"aku bisa membuat adikku menjadi bucin padamu tapi itu juga membutuhkan kerjasama darimu." ucap Zian dengan senyuman menyeringai.
Abi mengerutkan keningnya, dirinya kini merasa ada hal yang tidak beres yang akan dikatakan oleh sang kakak dari wanita yang akan dinikahinya besok. "memangnya aku harus berbuat apa?"
"kamu harus melakukan kewajibanmu untuk memberi nafkah batin pada adikku saat malam pertama kalian besok!!"
"Astaghfirullah.. Jadi kamu menyuruhku untuk memaksa adikmu? nggak, nggak, nggak, aku bukanlah seorang laki-laki yang kurang ajar yang akan memaksa wanita meskipun wanita itu adalah istriku sendiri."
"Tenang saja, kamu tidak perlu memaksa Livia, karena Livia yang akan menyerahkan dirinya padamu dan aku akan memberikan obat perangsang pada saat malam pertama besok!"
Sontak saja perkataan dari Zian membuat Abi membulatkan kedua matanya seraya berteriak dengan suara baritonnya itu.
__ADS_1
"Apaaaaaa??!! obat perangsang??"