
Bella yang melihat itu hanya tersenyum, kemudian dia beralih menuju ke arah Livia sambil mengulurkan tangannya. Dan Livia pun membalas uluran tangannya itu.
" Selamat ya non, atas pernikahan kamu. Saya cuma ingin berpesan kepada non, tolong jaga mas Abi dengan baik-baik. Dan juga kalau non sudah bosan atau sudah tidak mau lagi bersama mas Abi, non bisa kembali kan mas Abi kepada saya. Saya dengan senang hati menerima mas Abi kembali. "
Livia tersenyum sinis. " Terima kasih, aku harap kamu juga akan segera menikah dengan pria lain. Tidak baik juga mengganggu rumah tangga seorang pria yang sudah mempunyai istri. Iya kan sayang? " beralih menatap kearah Abi, dan Abi pun mau tidak mau memaksa untuk tersenyum dan mengangguk.
Kemudian Livia melepaskan tangannya dari genggaman Bella.
'Sial, dia pikir Abi barang apa? seenaknya aja dia berucap seperti itu. Iya sih, aku sadar aku yang salah karena sudah mengambil kekasih hatinya, tapi mau bagaimana lagi? takdir yang memaksaku untuk melakukan ini.' gumam Livia.
" Maafkan saya ya Bella, karena saya belum bisa menjadi laki-laki yang terbaik untuk kamu. Saya do'akan kamu mendapat jodoh yang terbaik dan lebih baik lagi dari saya. Aamiin. " ujarnya Abi kepada Bella.
Bella tersenyum. " Terima kasih banyak mas. "
" Oh iya satu lagi, kalau mau menikah jangan lupa untuk mengundang kami ya. " timpal Livia.
__ADS_1
Bella pun tersenyum kembali. " Insya Allah dengan senang hati non. "
Livia membalasnya dengan senyuman yang sinis, ada kebahagiaan tersendiri yang ada di dalam hatinya kini karena sudah berhasil membuat mantan kekasih dari suaminya itu untuk segera melupakan masa lalunya.
Abi terdiam sejenak sambil memikirkan sesuatu. 'Kasihan Bella, pasti saat ini dia tengah patah hati karena melihat pernikahan ku ini dengan Livia. Andai saja aku bisa jujur dan bisa mengutarakan perasaanku ini, mungkin aku akan bilang kepada semua orang dan pada dunia bahwa aku sangat sangat mencintai Bella. Tapi takdir Allah berkehendak lain, kini itu semua hanya tinggal kenangan. Manusia hanya bisa berencana, dan Allah lah yang menentukan ini semua. Mungkin ini semua sudah menjadi jalanku, bagaimana pun juga aku sudah menikah dengan Livia, seorang Nona muda dari keluarga Wijaya. Dan saat ini pun, Livia sudah resmi menjadi istriku. Aku harus melupakan Bella. Ya, bagaimana pun juga aku harus melupakan Bella, karena aku sudah menikah. Ya Allah bimbing lah hamba dan juga keluarga hamba nanti agar menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Aamiin allahumma aamiin.'
Abi terus melihat kearah siluet tubuh Bella yang kini mulai menjauh darinya, dan Livia yang mulai menyadari bahwa suaminya itu melihat kearah masa lalunya terus-menerus lalu menepuk lengan suaminya itu.
Abi refleks karena lengannya ditepuk oleh seorang wanita yang ada disampingnya itu. " Awwww. " sambil mengelus bekas tepukan itu lalu menoleh kearahnya.
" Awas aja ya, kamu itu kalau masih mikirin mantan kamu itu. Nanti aku hajar kamu. " ujarnya Livia memasang muka emosi dengan nada suara yang sedikit tinggi.
" Kenapa? "
" ihh, malah nanya kenapa. Ya aku nggak suka lah. "
__ADS_1
Abi tersenyum sambil menatap kearah Livia, sementara yang ditatap malah membuang pandangannya ke segala arah.
" Kamu cemburu sama Bella? "
Livia mengernyitkan dahinya lalu melihat kearah Abi. " Diihh, siapa yang cemburu? gak usah GR kamu itu. Aku hanya nggak suka, itu aja. Gak usah dilebih-lebihkan. "
" Memangnya betul seperti itu? "
Livia mengangguk.
" Kamu nggak cemburu sedikit pun dengan Bella? "
Livia menggeleng. " Cemburu itu hanya untuk orang yang tidak percaya diri. "
" Jadi? "
__ADS_1
" Dan aku pun masih percaya diri untuk saat ini. "
" Baiklah, kalau kamu tidak cemburu dengan Bella. Berarti aku juga tidak apa-apa dong untuk menikah lagi dengan Bella. "