
Hari libur adalah masa yang paling menyenangkan untuk keluarga, dimana kebersamaan lebih terasa jika bisa menghabiskan waktu bersama. Momen ini juga berlaku untuk Daffa dan Nadia yang ingin menghabiskan kebersamaan mereka dengan belanja di supermarket besar yang ada di pusat kota Jakarta dekat dengan area apartemen mereka.
Nadia yang mengambil setiap barang yang ada di deretan rak yang ada supermarket tersebut, yang sesuai dengan kebutuhan dapurnya, sedangkan Daffa yang mendorong troli belanjanya, keduanya jalan berdampingan sambil melihat rak yang berisikan barang-barang yang akan menjadi incaran mereka untuk memenuhi troli belanjaannya.
Baru kali ini, Daffa menemani seorang wanita belanja bulanan, layaknya seorang suami yang siap mengantar istrinya ke tempat-tempat pusat perbelanjaan.
Senyum ceria Nadia menghiasi wajah cantiknya, karena hari ini karena baru pertama kali ia ditemani suaminya belanja bulanan untuk kebutuhan mereka. Daffa yang setia mendampingi istrinya terus mengawasi Nadia karena tidak ingin tubuh gadisnya itu tersentuh oleh para pengunjung lain yang sedang melihat dan memilih barang yang menjadi kebutuhan mereka yang ada di super market itu.
Sikap posesif terhadap istrinya baru kelihatan sekarang ini, setelah sekian lama mereka berumah tangga. Rasa kuatir jika miliknya akan terancam oleh para pengunjung super market tersebut. Daffa tidak berhenti mengawasi Nadia. Gadis ini tidak tahu kalau suaminya sedang mengawasinya sampai barang terakhir yang diambil olehnya.
"Sayang, aku sudah selesai, mau antri di kasir sekarang." ucap Nadia kepada suaminya yang masih mengawasinya.
Daffa mengangguk lalu mengambil dompetnya dan memberikan black card kepada Nadia. Padahal sebelum melihat wajah istrinya, Daffa hanya memberi uang belanja untuk Nadia secukupnya. Sekarang Daffa menjadi lebih royal kepada Nadia hingga memberikan kartu ajaib itu untuk istrinya. Ketika mengantri, banyak pasang mata memperhatikan pasangan ini yang lebih dominan melihat wajah tampan Daffa. Mereka saling berbisik memuji ketampanan Daffa dan mencela gaya pakaian istrinya.
"Nggak salah tuh cowok, dapat istri kaya gitu, ganteng-ganteng malah punya istri pakaiannya begitu, apa istrinya jelek kali ya, hingga malu menampakkan wajahnya." ucap salah satu pengunjung yang sedang antri di belakang Daffa yang sedikit miring ke samping hingga wajahnya bisa terlihat oleh kedua gadis itu.
Daffa yang mendengar istrinya dikatakan jelek seketika berbalik lalu melabrak dua gadis yang sedang menggosipkan dirinya dan istrinya.
"Maaf nona boleh kita berkenalan?" tanya Daffa kepada kedua gadis, yang memiliki kecantikan wajahnya pas-pasan itu, dengan sedikit senyum yang dipaksakan untuk mengelabuhi dua gadis yang tidak jauh berbeda dengan usianya Nadia.
Dua gadis itu merasa besar kepala karena tidak menyangka lelaki tampan yang baru saja mereka elu-elukan ternyata ingin berkenalan dengan mereka.
"Tuhkan apa gue bilang, si tampan akhirnya naksir salah satu diantara kita." ucap salah seorang dengan nada angkuh kepada temannya sambil berbisik.
"Oh iya boleh tuan," ucap mereka berbarengan dengan tampang genitnya.
"Apakah kalian ingin mengenal istriku juga?" tawar Daffa kepada kedua gadis itu.
"Tuan aja deh." tolak keduanya dengan saling melempar senyum diantara mereka.
"Mau lihat tampang istri saya?" ucap Daffa seraya mengambil ponselnya, memperlihatkan foto Nadia yang hanya mengenakan jilbab tanpa cadar.
Usai mengucap beberapa kata kepada kedua gadis itu sambil tersenyum dan menatap tajam wajah kedua gadis itu yang heran melihat sikap Daffa yang tiba-tiba menyerahkan ponselnya kepada mereka.
"Lihat ini!" cantikkan mana wajah istriku dengan kalian?" tanya Daffa sinis kepada kedua cewek kepo itu.
Kedua gadis itu langsung lemas melihat wajah istri si tampan seperti bidadari. Wajah keduanya langsung pucat, mereka sekarang mengerti cowok tampan ini sedang marah kepada mereka, karena keusilan mulut mereka yang mengatai istrinya jelek.
"Masih mau menghina istriku?" maaf ya nona, karena dia terlalu cantik, makanya ia menutupi wajah dan tubuhnya hanya untuk diriku seorang, bukan diumbar kecantikannya untuk semua orang dan berharap mendulang pujian dari orang lain." ucap Daffa yang menatap tajam kedua wajah gadis itu dengan tatapan membunuh.
"Maaf tuan, kami sudah keterlaluan." ucap salah satu temannya yang sudah gemetar karena tatapan tajam mata daffa yang ingin mencakar wajah keduanya.
__ADS_1
"Aku peringatkan ya, jangan terlalu menilai orang lain dari sampulnya saja, karena tidak semua orang sama seperti apa yang kalian gunjingkan." hardik Daffa kesal membuat kedua gadis itu hanya menunduk malu dan ketakutan.
Keduanya saling menyikut satu sama lain dan saling menyalahkan. Daffa meninggalkan dua orang gadis itu dan kembali ke istrinya yang sudah berada di depan kasir untuk membayar belanjaan mereka. Nadia tidak menyadari ada insiden kecil di belakang sana yang suaminya lakukan kepada dua orang gadis yang sudah menghina dirinya.
🌷🌷🌷
Setibanya mereka di apartemen, Nadia mengeluarkan barang yang ingin di susunnya di tempat penyimpanan. Daffa meminta istrinya untuk menyalin bajunya supaya mudah dalam gerakannya. Sesaat kemudian Nadia sudah keluar memakai stelan baju sederhana lalu membantu suaminya menyusun bahan makanan ke dalam kulkas.
"Sayang kamu nonton tv atau apa saja yang ingin kamu mau lakukan, aku mau memasak dulu," ucap Nadia yang sudah mengeluarkan sayuran segar serta ayam potong untuk di olahnya.
"Masak saja sayang , aku ingin menemanimu memasak," ucap Daffa yang sudah duduk santai di kursi meja bar di dapurnya yang terhubung langsung dengan ruang keluarga.
"Jangan gitu, entar masakanku jadi kacau kalau ada kamu di sini." ucap Nadia lalu mendorong tubuh suaminya untuk menjauhinya.
Daffa menangkap tubuh istrinya dan membawa tubuh itu dalam pelukannya, membuat Nadia sulit bergerak untuk melepaskan diri dari cengkraman pelukan erat tangan Daffa pada pinggangnya.
"Supaya kamu memasak dengan tenang, bagaimana kalau kita bercinta dulu," ucap Daffa dengan tawaran yang akan menguntungkan dirinya.
Nadia tidak bisa menolaknya karena itu adalah perintah yang wajib, yang harus ia laksanakan, ketika suaminya sedang menginginkan dirinya. Merasa istrinya tidak menolak permintaannya, Daffa mencium bibir istrinya dengan sedikit menggiring tubuh Nadia ke arah sofa yang ada di ruangan itu. Baju yang baru dipakai Nadia kembali dicopotnya. Mungkin masih terbawa suasana pengantin baru walaupun sudah berjalan lima bulan pernikahan mereka, tapi bagi keduanya yang baru melakukan ritual hubungan intim mereka semenjak menjadi suami istri. Nadia membiarkan tubuhnya diperlakukan seperti yang diinginkan suaminya.
Entah berapa gaya yang sudah dimainkan oleh mereka, untuk mencari keringat dalam olahraga syahwat itu. Iringan desa**n meramaikan suasana percintaan keduanya yang makin dahsyat, hingga membuat Daffa tak ingin berhenti menjelajahi tiap ruas tubuh istrinya. Setelah beberapa kali penyatuan tubuh akhirnya keduanya kehabisan tenaga dan Daffa mengangkat tubuh istrinya yang sudah lemas itu ke kamar mereka.
"Kamu tidak usah masak sayang, biar kita nanti makan di luar saja, lagian ini hari libur kamu butuh istirahat." ucap Daffa sambil membawa tubuh bu**l istrinya ke atas kasur king size itu.
"Biar aku saja yang mengurusnya, kamu harus banyak istirahat, karena aku akan membutuhkan tubuhmu setiap saat." ucap Daffa dengan mimik serius membuat nyali Nadia sedikit menciut.
"Ya Tuhan, apakah orang ini memiliki tenaga kuda, tidak bisakah, dia memberiku sedikit saja waktu untuk bisa memulihkan tubuhku sesaat?" keluhnya dalam hati, lalu menatap wajah suaminya yang sudah menaklukkan hatinya ini.
Nadia mengakui kelihaian Daffa dalam bercinta, Daffa mengetahui titik-titik sensitif yang menjadi kelemahan dirinya. Walaupun Nadia begitu lelah, tapi ketika Daffa memulai dengan awal pemanasan yang mampu menjeratnya dengan dengan beribu kekuatan magnet cintanya, untuk menerima kembali setiap rangsangan yang diberikan Daffa pada tubuhnya, hingga membuat Nadia tidak bisa berhenti untuk mengiba lagi dan lagi.
Nadia telah merebahkan tubuhnya, kemudian memejamkan matanya karena kantuk yang mengharuskan ia tidur walaupun hari belum begitu siang. Daffa sendiri tidak ingin tidur, ia memilih menikmati wajah dan tubuh istrinya yang dibiarkannya tetap polos tanpa diselimutinya. Tubuh Nadia bagaikan lukisan hidup yang membuatnya tak bosan memandangnya. Dalam keadaan terlelap wajah Nadia tetap memikat hatinya. Iris tebal, mata sayu dengan bulu mata lentik, hidung mancung kecil ditambah bibir sensual dibungkus dengan kulit putih bersih nan bercahaya karena air wudhu yang selalu dibasuhnya, setiap kali ia menunaikan sholat maupun keluar rumah hingga menjelang tidur, gadis ini selalu menjaga wudhunya.
Saat ini bagian yang lebih menonjol dari tubuh istrinya adalah bentuk tubuh ideal yang dilengkapi dua bongkahan lemak yang cukup besar yang menghiasi dibawah pinggangnya yang ramping bak gitar spanyol. Posisi tidur Nadia yang miring menjadikan dirinya, menjadi tontonan sang suami yang menatapnya dari sofa yang ia duduki tidak jauh dari tempat tidurnya. Ingin rasanya ia menerkam lagi tubuh itu namun ia tak tega karena Nadia begitu kelihatan lelah. Sambil menikmati minuman soda ditangannya ia tetap setia menatap pemandangan indah yang tersuguhkan di atas kasurnya itu.
"Nadia, jika aku tidak menyadarinya lebih cepat bagaimana cantiknya dirimu, maka aku tidak akan bisa memilikimu seutuhnya sayang, andai waktu bisa berulang, aku tidak akan melewatkan setiap jengkal tubuhmu untuk mengisi hari-hariku." ucapnya membatin.
🌷🌷🌷🌷
Merasakan tubuhnya kedinginan, Nadia akhirnya membuka matanya dan melihat Daffa yang sedang duduk di sofa menatap dirinya. Nadia tersenyum dengan wajah bantalnya yang tidak mengubah kecantikannya sedikitpun.
"Astagfirullah, ya Allah ini sudah jam satu siang, mengapa kamu tidak membangunkan aku sayang?" gumamnya kesal menatap suaminya ketika melihat jam dinding yang tergantung di dinding kamar mereka.
__ADS_1
"Emangnya kenapa kalau sudah siang?" tanya daffa yang heran melihat istrinya begitu kaget melihat jam dinding.
"Tentu saja aku harus memasak dan juga sholat dhuhur mas." saut Nadia kesal.
"Kalau sholat, nanti kita akan sholat berjamaah dan setelah itu kita makan di luar hari ini, aku peringatkan setiap hari libur kamu jangan memasak, kamu harus bersamaku selama 24 jam, kamu mengerti sayang?" ucap Daffa dengan tatapan yang mulai menggoda.
Nadia hanya berdehem sambil menganggukkan wajahnya, ia sedikit malas untuk menanggapi suaminya yang lagi candu dengan tubuhnya. Gadis cantik ini melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, namun di cegah oleh Daffa.
"Sayang, aku harus sholat, nanti saja setelah makan siang, kita bisa melakukannya lagi." ucap Nadia yang takut tubuhnya akan diserang lagi oleh suaminya.
"Sayang, siapa yang mau minta bercinta lagi, aku hanya ingin menggendongmu ke kamar mandi." ucap Daffa membuat wajah Nadia merah merona.
"Ih, apaan sih kamu mas, aku bisa ko berjalan sendiri."
"Yakin bisa berjalan sendiri?" ya sudah silahkan sayang."
Dengan tidak merasakan apapun, Nadia bangkit dan melangkahkan kakinya tapi langkah itu terhenti ketika sakit yang terasa di bagian intimnya menyerangnya tiba-tiba. Ia terpekik sambil meringis menahan perih yang amat sangat di bagian kewanitaannya. Daffa yang sudah tahu ini bakalan terjadi karena ulahnya yang hampir lima kali menghajar area in**m istrinya hari ini.
"Auhhgg!" Ya Allah ini sakit banget!"
ucapnya yang mulai menitikkan air matanya.
"Masih mau berani jalan sendiri sayang?" ledek Daffa yang membuat Nadia makin menjerit.
"Aaahhkk, mas Daffa jahat!" omelnya yang membuat Daffa terkekeh."
"Makanya sayang, aku tadi sudah menawarkan diri untuk menggendongmu, karena aku tahu kamu akan kesakitan kalau berjalan walaupun hanya sampai kamar mandi. Mau aku bantu atau masih mau nekat jalan sendiri?" tanya Daffa yang meledek istrinya.
Nadia merasa sangat malu untuk menjawabnya, Daffa yang mengerti sifat pemalu istrinya membuatnya tidak ingin bertanya lagi lalu menggendong tubuh polos istrinya itu ke kamar mandi. Karena ia juga belum mandi wajib, akhirnya siang itu mereka mandi berdua untuk menunaikan sholat dhuhur berjamaah.
Usai sholat dhuhur, Daffa menawarkan Nadia untuk makan diluar, tapi Nadia menolak karena belum kuat berjalan secara normal karena masih merasa sakit pada bagian kewanitaannya yang belum sembuh.
Daffa akhirnya memutuskan untuk memesan makan siang mereka lewat online. Keduanya menunggu sambil menceritakan hubungan in**m yang baru saja mereka lakukan. Daffa terkekeh setiap kali mendengar ocehan manja istrinya dengan berbagai keluhan dalam permainan mereka. Ia malah senang dengan rengekan manja istrinya yang terkesan menggoda dirinya untuk melakukannya lagi.
"Apakah kamu nggak capek sayang selalu kuat bercinta denganku?" tanya Nadia yang sedang menyandarkan tubuhnya dalam pelukan suaminya.
"Itulah kenikmatan sejati sayang, walaupun lelah tetap saja pingin lagi, emang kamu kapok ya bercinta denganku?" tanya Daffa dengan mencolek hidung istrinya.
"Tidak sayang, karena itu sudah kewajibanku melayanimu kapan saja kamu menginginkanku, salah satu sedekah yang terbaik seorang suami yaitu bercinta dengan istrinya.
"Benarkah?" tanya Daffa sedikit bingung.
__ADS_1
"Itu adalah bagian hadist Rasulullah yang mengatakan sedekah suami pada istrinya salah satunya bercinta, dan ritual ibadah hubungan intim suami istri akan menggugurkan dosa keduanya karena keduanya adalah pasangan yang halal, lain halnya pasangan yang belum terikat pernikahan akan menjadi dosa bagi keduanya disamping itu hukum rajam dan cambuk akan menanti mereka kelak, biasanya sih hukum Islam itu diterapkan oleh negara- negara Islam yang menerapkan hukum cambuk dan rajam bagi pasangan yang tidak terikat pernikahan namun nekat untuk berzinah." ucap Nadia menjelaskan panjang lebar bagaimana hukuman bagi para pezinah pada suaminya. Mendengar penjelasan itu hati Daffa langsung mengkerut karena dirinya adalah salah satu pezinah itu.