SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
73. JEBAKAN


__ADS_3

Tiga bulan sudah berlalu, janji Daffa untuk menemani Anjani yang hampir putus asa menanti janji pria tampan itu, karena Daffa sudah menghubunginya bahwa ia akan pulang lebih awal menemui Anjani yang saat ini sudah nampak sehat. Karena perhatiannya yang beberapa kali menemani Anjani terapi untuk bisa berjalan lagi secara normal. Sebenarnya Anjani sudah bisa berjalan kembali secara normal, namun kelicikan gadis ini masih melekat pada otaknya yang sudah bersarang iblis di dalamnya.


Walaupun ia sudah dinyatakan sembuh oleh dokter namun mentalnya yang masih belum sembuh dari sifat liciknya. Ia ingin tampil menjadi wanita serakah yang ingin mengusai Daffa dengan masih berpura-pura lumpuh.


Hari ini Daffa akan menemuinya. Secercah harapan harapan tumbuh di hati Anjani. Ada kebahagiaan tersembunyi di hatinya, dia memang wanita yang dingin, tidak bisa memperlihatkan ekspresi apapun diwajahnya. Walaupun ia bahagia dengan datangnya hari ini, wajahnya tetap saja datar dan tak terbaca.


Anjani bangun jam lima sore, mandi dan berdandan secantik mungkin. Ia mengeluarkan gaun terbaiknya dari dalam lemari, bagaimana pun ia ingin tampil mempesona bertemu dengan Daffa setelah tiga bulan ini tidak saling menyapa karena kesibukan Daffa pada perusahaannya yang bermasalah.


Ia lebih banyak mengurung diri di kamarnya kecuali pergi terapi bersama ibunya yang setia menemaninya. Wajah pucat dan pipi tirus karena memendam rasa kecewanya pada Daffa, lelaki yang sampai saat ini ia harapkan akan mendampingi dirinya sampai akhir hayatnya. Ia tidak bisa mendapatkan kebahagiaan pada laki-laki lain kecuali menyenangkannya di tempat tidur, itupun tidak bisa membuatnya bahagia.


Malam itu rupanya Daffa belum juga menampakkan batang hidungnya. Sedangkan Anjani sangat bersemangat, berkali-kali mengecek penampilannya di depan kaca.


Jam berlalu dengan lambat, Anjani melihat dari arah balkon mansionnya untuk memastikan kepulangan Daffa berkali-kali, hingga ia capek bolak balik ke tempat yang sama. Iapun merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya hingga tertidur.


Saat ini ia terbangun, malam sudah menampakkan wajah sepinya ditemani kegelapan alam sekitarnya dan diterangi kerlap kerlip bintang menghiasi langit kota Jakarta. Ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Belum sedikitpun tanda-tanda kepulangan Daffa.


Penampilannya kembali kusut, ia memutuskan kembali berdandan dan menyemprot parfum di beberapa bagian tubuhnya. Anjani menghibur dirinya, mungkin tengah malam Daffa akan tiba di mansion seperti biasa seorang laki-laki yang kerja lembur. Dia menyalakan televisi agar kamarnya tidak terlalu hening, masih ada harapan beberapa jam lagi. Beberapa jam pun berlalu berkali-kali, dia memperbaiki dandanannya bahkan ini sudah hampir jam satu pagi.


Anjani marah mengurai rambutnya yang disanggulnya dengan paksa, menghapus lipstik meninggalkan bibir pucat tak berdarah, ia mengamuk, menghancurkan apa saja yang ada di kamarnya, vas bunga, bingkai foto dan peralatan makeup pecah berhamburan.

__ADS_1


Suara tangisnya menyayat hati, mengapa Daffa tidak menempati janjinya. Dia sudah menunggu hari ini datang sejak berapa hari lalu. Tidakkah laki-laki itu pulang hanya sebentar saja? Wangi dikamarnya sudah mulai menghilang hal itu membuatnya kesulitan untuk tidur, Anjani menangis, menangis sejadi jadinya. Dia kalah dengan Nadia, entah sejak kapan cinta bersarang dalam hatinya. Apakah ini hukuman Tuhan padanya? Yang selalu menyakiti, membenci dan menjebak pria tampan itu untuk bisa masuk dalam hidupnya.


Tiga bulan dia menghabiskan waktunya dengan merindukan orang yang sama sekali tidak tertarik kepadanya. Anjani memukul kecil dadanya, di sana terasa sakit, hancur dan kecewa. Betapa sangat menyedihkan dirinya, bahkan dia dianggap tak layak mendapatkan cinta Daffa. Lagi-lagi cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Iapun kembali menenggak obat tidur agar bisa mengarungi mimpi indah bertemu dengan pangerannya Daffa.


🌷🌷🌷


Keesokan paginya Daffa menemui Anjani karena malamnya lelaki tampan itu sibuk di perusahaannya. Ia sengaja membawa bunga dan juga hadiah untuk Anjani agar wanita itu percaya akan kesungguhannya, untuk kembali merajut kasih dengan Anjani istri keduanya itu. Jika ia tidak berani berkorban, ia tidak akan mendapatkan informasi apapun pada wanita itu, karena itu jalan satu-satunya untuk membebaskan dirinya dari Anjani dan keluarga besar wanita ular itu adalah bersandiwara.


"Selamat pagi Anjani, apakah keadaanmu baik hari ini," sapanya lembut ketika sudah berada di taman mansion dimana Anjani sedang duduk di atas kursi rodanya sambil melamun.


"Mengapa kamu tidak mengatakan kamu akan datang pagi ini?" bukankah kamu berjanji akan datang semalam?" Tanya Anjani dengan menahan amarahnya. Baginya kehadiran Daffa lebih penting saat ini ketimbang memarahi lelaki itu yang akan membuat Daffa makin menjauhinya.


"Apakah kamu mau aku menyuapkan sarapan untukmu?" Daffa menawarkan dirinya untuk bersikap manis di depan Anjani.


"Mengapa kamu tidak ikut sarapan bersamaku?" Tanya Anjani manja.


"Melihatmu bisa menghabiskan sarapanmu sudah membuatku kenyang." Ucap Daffa bersandiwara di depan Anjani.


Keduanya terkekeh dengan menampakkan sifat kemunafikannya masing-masing.

__ADS_1


Waktu terus berputar, lambat laun Daffa mempelajari semua hal yang ada pada Anjani. Daffa mencurigai kebohongan Anjani yang saat ini sedang mengelabui dirinya yang masih berpura-pura lumpuh.


"Bren**k kamu Anjani sebenarnya kamu sudah bisa jalan, berarti saat ini kamu masih mau menipuku juga. Kita lihat saja nanti siapa yang akan menang dalam permainan ini. Aku akan membuat perhitungan denganmu." Ucap Daffa menahan emosinya yang hampir meledak.


Dua bulan berjalan, Anjani dan Daffa makin terlihat akrab, namun Daffa belum bisa mendapatkan informasi yang diinginkannya dari gadis liar ini. Iapun terus berusaha untuk mendapatkannya hingga suatu waktu ia mengalah. Pada suatu hari iapun terpaksa bercinta dengan Anjani karena hanya ini satu-satunya ia bisa mendapatkan informasi dengan cara menyenangkan perempuan ini di atas tempat tidur.


"Maafkan aku Nadia, aku tidak bermaksud mengkhianatimu, andai pun aku melakukan ini padanya, itu karena aku ingin mengakhiri semua ini sampai tujuan kita tercapai," seru Daffa yang saat ini sedang memuaskan Anjani.


Bagai mendapatkan durian runtuh, Anjani tidak berhenti melenguh dan mengerang nikmat ketika miliknya sudah menyatu dengan milik Daffa, seketika matanya terbelalak karena nikmat yang diincar dari suaminya ini telah ia dapatkan. Iapun tersenyum puas. Daffa mulai dengan niat awalnya dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anjani usai mereka bercinta.


"Sayang, aku minta maaf sudah membuat kakimu lumpuh," ucap Daffa dengan ekspresi wajah menyesal.


"Ini bukan salahmu Daffa, ini adalah murni kecelakaan, aku yang tidak hati-hati saat mengejarmu hingga aku kehilangan keseimbangan, saat itu hak sepatuku tidak berpijak sempurna di anak tangga hingga membuatku terjatuh. Padahal saat itu aku hampir menarik ujung bajumu menahanmu untuk tidak meninggalkanku, aku sangat takut jika kamu akan menceraikanku." Ucap Anjani polos.


"Tapi ayahmu yang menyaksikan itu semua malah berbalik melaporkan kejadian itu sebagai peristiwa percobaan pembunuhan yang ditujukan kepadaku." Daffa pura-pura protes dengan sikap ayah mertuanya.


"Mungkin ayah hanya mencari-cari alasan agar kamu tidak akan meninggalkanku, benarkan kamu tidak akan meninggalkanku sayang?" tanya Anjani dengan mengeratkan lagi pelukannya pada tubuh Daffa.


"Hmmm!" Daffa hanya berdehem sambil tersenyum penuh kemenangan. Ponselnya yang telah merekam semua percakapannya dengan Anjani sudah tersimpan ke memori.

__ADS_1


"Baiklah sayang, maukah aku menggendongmu ke kamar mandi?" Tanya Daffa tetap bersikap mesra pada Anjani.


Dan satu lagi jebakan Daffa yang sudah menaruh hamster di dalam bathtub untuk menakuti Anjani agar kebohongan Anjani yang menipu dirinya saat ini akan terbongkar hari ini.


__ADS_2