SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
27. SURPRISE


__ADS_3

Perlombaan pembacaan Al-Qur'an yang melibatkan beberapa negara di dunia, yang diikuti oleh hampir 50 peserta yang sudah melewati seleksi ketat tahap akhir oleh masing-masing negara asal para peserta, kini sedang memasuki babak awal.


Babak pertama adalah penilaian performa semua peserta, babak kedua, penilaian kriteria suara dan hukum bacaan tajwid yang baik dan benar sesuai hukum bacaan tajwid Alquran. Babak terakhir atau babak penentuan juara satu perlombaan itu, adalah penilaian keseluruhan lomba dengan satu tambahan penilaian, yaitu uji ketangkasan peserta lomba dalam mengupas tafsir dari bacaan ayat yang dibaca peserta dalam surah Al-Qur'an sesuai dengan pilihan tim juri.


Di hotel tempat dimana Nadia menginap, sedang dilakukan pengamanan ketat karena ada penjemputan orang-orang penting yang akan menghadiri acara perlombaan tersebut. Termasuk salah satu tim juri, yaitu tuan Farhan yang menjadi tamu penting malam itu, ia dijemput dan dikawal oleh para keamanan yang ada di negara tersebut serta pejabat terkait yang juga ikut hadir di acara perlombaan itu.


Nadia yang tidak mengetahui apa yang terjadi dibawah lobby hotel, karena ia sendiri sedang mempersiapkan dirinya dan menunggu jemputan dari pihak panitia dari Indonesia yang menginap di tempat yang berbeda dengan dirinya. Setelah kepergian Farhan, ia baru turun ke bawah menunggu jemputannya.


Tidak lama ia menunggu, akhirnya salah satu panitia datang juga menjemputnya, Nadia pun masuk ke mobil itu menuju lokasi tempat acara yang sedang berlangsung. Nona Andini yang menjadi utusan panitia untuk mengurus persiapan lomba untuk Nadia, tampak gelisah karena gadis ini sudah hampir telat.


Ketika sudah berada di mobil bersama Nadia, keduanya terlibat obrolan penting, apa saja yang harus diperhatikan oleh Nadia yang menjadi poin-poin penting dalam penilaian lomba yang harus dilakukan oleh gadis ini, saat ia tampil di acara tersebut.


"Mbak Nadia nanti, kamu hanya mempersiapkan mentalnya saja, karena saya perhatikan dan yakin hal lainnya yang menjadi poin-poin penting dalam penilaian lomba tersebut, sudah mbak Nadia mempersiapkan diri dengan matang. Apa lagi tujuh orang tim juri kali ini berbeda dengan dengan tahun-tahun sebelumnya mbak." ucap Andini pada Nadia yang sedang mendengarkan penuturan cewek berbadan subur ini.


"Insya Allah mbak Andini, Nadia mohon doanya saja semoga Nadia tampil dengan maksimal di babak pertama nanti." ucap Nadia sambil mengusap punggung tangan Andini untuk meredakan kegugupan gadis ini.


Tidak lama kemudian mobil keduanya, akhirnya sampai juga disalah satu gedung penyelenggaraan acara lomba tersebut. Nadia di sambut oleh panitia penyelenggara acara lomba dan dikawal ketika memasuki ruang tunggu para peserta lomba yang sudah nampak hadir semua, hanya Nadia yang menjadi peserta yang terakhir yang datang terlambat di acara tersebut.


Setelah diberikan nomor urut untuk tampil, Nadia kembali berdoa dengan khusu, memejamkan matanya menyebut nama Allah dan berdoa dengan penuh harap pada Robbynya, agar ia mampu menjalankan tugasnya sebagai perwakilan negara Indonesia yang mempercayakan kehormatan Indonesia pada ajang lomba tersebut pada dirinya.


Setelah menunggu satu jam lebih, akhirnya namanya dipanggil oleh MC, untuk tampil di acara lomba pembacaan Al-Qur'an tingkat Qoriah dari Indonesia.


"Peserta Qoriah, selanjutnya adalah dengan nomor urut 10 yaitu Nadia Syafira Az-Zahra dari Indonesia, yang akan membacakan ayat suci Al-Quran dengan surah Al-Baqarah ayat 172- 175, untuk peserta Nadia kami persilahkan." ucap MC acara tersebut memanggil nama Nadia untuk maju ke panggung acara.


Yang menarik perhatian di acara tersebut adalah tuan Farhan yang merupakan kenalan Nadia tiga hari ini, ia sangat terkejut dan tidak menyangka bahwa nama Nadia adalah salah satu peserta lomba dengan Nadia yang dikenalnya saat ini. Iapun memperhatikan Nadia ketika ingin mengambil tempat duduk yang telah dipersiapkan untuk para peserta dipanggung tersebut, untuk ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Farhan tidak tahu harus mengucapkan apa, ketika teman juri disebelahnya mengajaknya berbicara saat menilai penampilan Nadia yang merupakan peserta Qoriah satu-satunya yang mengenakan cadar. Baju abaya berwarna putih berenda silver menghiasi beberapa sisi dari busananya tersebut, menjadikan tampilannya begitu anggun dan memukau, ditambah lagi bagian cadarnya yang sedikit memperlihatkan mata dan iris yang tertata rapi dan menarik serta maskara pada bulu mata lentiknya membuat kagum orang yang menatap wajahnya yang setengah tertutup itu.


"Tuan Farhan, gadis itu sangat cantik dari pada peserta yang lainnya, aku sangat menyukainya, mungkin setelah acara ini aku ingin berkenalan dengannya siapa tahu dia jodohku." ucap tuan Ibrahim yang merupakan salah satu juri dari negara Maroko ini.


"Nadia, subhanallah betapa cantiknya penampilanmu malam ini." ucap Farhan dalam hatinya, tanpa memperdulikan pernyataan teman juri yang duduk disebelahnya.


Suara Nadia yang merdu, dengan bacaannya yang sudah fasih, seakan menghipnotis para juri dan penonton yang sudah terdiam dan hening, ketika mendengar lantunan ayat demi ayat Alqur'an itu yang keluar dari dari bibir indahnya yang tertutup cadar putih. Banyak diantara penonton yang mengagung-agungkan nama Allah setiap pemberhentian ayat suci yang dibacakan oleh Nadia.


Ayat suci yang dilantunkan oleh Nadia dengan penuh penjiwaan langsung meresap dalam sanubari para pendengarnya. Ditambah lagi kesedihan yang saat dirasakannya oleh gadis ini, menjadikan lantunan ayat suci tersebut sebagai ungkapan hatinya saat ini. Hampir semua penonton meneteskan air mata mereka dan tidak terkecuali Farhan yang makin kagum dengan sosok gadis, yang sudah masuk dalam daftar hatinya, untuk menempatkan gadis itu menjadi pilihannya yang terakhir menggantikan sang pujaan hati yang telah kembali kehariban Illahi.

__ADS_1


Setelah mengakhiri bacaannya kini Nadia mengucapkan salam terakhirnya pada juri dengan menatap wajah mereka di hadapannya. Seketika pijakannya goyah karena matanya tertuju pada sosok lelaki yang dikenal baik olehnya dalam tiga hari ini menjadi salah satu tim juri di acara ajang lomba tersebut.


Antara kaget dan kecewa memenuhi rongga dadanya mengetahui siapa tuan Farhan yang sebenarnya. Lelaki itu tidak pernah terbuka apa pekerjaannya, selama dua hari ini dekat dengannya. Iapun juga tidak bisa menyalahkan Farhan, karena dirinya sendiri juga tidak terbuka pada lelaki yang baru dikenalnya itu. Farhan yang memperhatikan reaksi dari gestur tubuh yang diperlihatkan oleh Nadia pada dirinya, ia yakin bahwa Nadia pasti sangat marah padanya. Nadia berjalan cepat, lalu keluar menuju tempat ruang tunggu tersebut dengan nafas tersengal. Yang membuatnya ia sesal adalah acara itu akan berlangsung dua hari lagi berarti dia harus bertemu dengan Farhan sebagai jurinya di tim lomba besok dan lusa.


🌷🌷🌷


Di Jakarta Indonesia. Daffa yang sedang menyalakan televisi dikamarnya, tidak sengaja memencet tombol chanel acara lomba yang diikuti oleh Nadia yang diliputi oleh salah satu televisi swasta menampilkan performa Nadia di atas panggung. Apa lagi kamera televisi terus tertuju pada wajahnya yang teduh yang hampir memenuhi layar televisi di kamar apartemennya.


"Nadia sayangku, masyaAllah, kamu sangat cantik sayang dan suaramu, ya Allah aku merindukan suaramu, suara indah itu yang menghiasi setiap malam di kamar ini, Nadia aku merindukanmu sayang, merindukan bacaan ayat-ayat Al-Qur'an yang selalu kamu perdengarkan di sepertiga malammu." ucap Daffa yang terus menyimak bacaan lantunan ayat suci Alquran yang dibacakan oleh kekasihnya itu.


Hingga acara itu berakhir, Daffa meraih ponselnya menghubungi asistennya Rio, untuk mempersiapkan perjalanannya ke Istambul Turki dengan jet pribadinya.


"Rio, bagaimana dengan perkembangan pengawasan anak buahmu terhadap istriku Nadia selama berada di kota Istanbul?" tanya Daffa kepada asistennya itu.


Sesaat Rio tertegun dengan pertanyaan bosnya mengenai mantan istri bosnya itu di Istanbul, ia sulit mengatakannya karena Nadia terlihat akrab dengan pria yang baru dikenalnya dipesawat dan berlanjut sampai hari ini. Apalagi anak buahnya mengirimkan beberapa foto dan video saat Nadia bersama pria yang bernama Farhan itu. Ia tidak mampu menyaksikan reaksi bosnya itu jika tahu istri yang sangat dirindukannya itu, sedang dekat dengan seorang pria di negara kekuasaan presiden terkenal hebat yaitu Er**n tersebut.


"Rio, apakah kamu mendengar pertanyaanku atau tidak?" tanya Daffa sekali lagi.


"****!" mampus deh gue, tamat sudah riwayat hidup gue, jika si bos kutub Utara itu ngamuk, bisa-bisa karirku berakhir hari ini, ya Tuhan bagaimana cara menjelaskannya, tolong aku ya Allah, jantungku akan di gantungnya, kalau aku ketahuan berbohong padanya." ucap Rio lirih namun tidak terdengar jelas oleh Daffa.


Akhirnya Rio menceritakan apa adanya tanpa ditutupi, tentang mantan istrinya Daffa. Ia juga mengirim foto-foto kedekatan Nadia dengan Farhan yang merupakan dosen tetap di universitas di Kairo Mesir.


Daffa yang mendengar penuturan tentang keadaan istrinya yang sedang bermesraan dengan lelaki lain nampak geram, hingga ia meninju tangannya ke kaca hias di dinding ruang tamunya itu. Terdengar suara pecahan kaca yang berserakan membuat Rio makin gemetar mendengarnya.


"Aku mau berangkat malam ini juga ke Istambul, pesan hotel dan kamar yang dekat dengan kamar Nadia, agar aku bisa mengawasinya secara langsung disana." titahnya kepada asistennya Rio.


"Baik bos, segera saya kerjakan permintaan bos, maafkan saya." ucap Rio dengan suara bergetar lalu mengakhiri pembicaraannya setelah ditutup sepihak oleh Daffa.


"Nadiaaa!" secepat itukah kamu melupakan cinta kita sayang, apa tidak ada lagi harapan kita untuk kembali bersama?" ucap Daffa yang kembali menangis dengan punggung tangannya yang terluka terkena serpihan kaca yang di tinjunya barusan.


Daffa membiarkan darahnya mengalir, membiarkan darah itu mengering dan berhenti sendiri dari jalurnya. Daffa yang memang tidak mau tinggal di mansion maminya walaupun ia tahu ada Anjani di sana sedang menunggunya setiap hari. Tidak sedikitpun ia mengkuatirkan kondisi istri mudanya itu, yang ada hanyalah kemarahan yang ia punya untuk gadis brengsek itu.


Tidak lama kemudian, Rio datang menjemput bosnya itu untuk mengantar Daffa ke bandara, dengan beberapa dokumen penting untuk persyaratan perjalanan seperti visa dan paspor milik Daffa yang selalu disimpannya.


"Astaga bos!" ada apa dengan tanganmu?" tanya Rio cemas melihat darah yang masih mengucur deras dari tangan Daffa.

__ADS_1


"Ayo antarkan aku ke bandara Rio dan jangan pedulikan luka ditanganku ini, karena sakitnya tidak seberapa dibandingkan dengan sakit hatiku mendengar ceritamu tentang Nadia.


"Jangan begitu bos, kalau tubuhmu lemas karena darah yang keluar terlalu banyak, bagaimana kamu akan menemui nona muda Nadia?" tanya Rio yang ingin Daffa harus mengobati lukanya dulu ke rumah sakit terdekat.


Daffa berpikir sesaat membenarkan perkataan asisten Rio untuk keselamatannya. Jika ia sakit bagaimana bisa ia bertemu dengan jantung hatinya itu di sana. Iapun mengangguk pasrah dan setuju jika Ia harus berobat sebelum berangkat ke Istambul Turki menemui Nadia.


🌷🌷🌷


Di Istanbul Turki, Nadia tidak memperdulikan bunyi bel yang berkali-kali di luar kamarnya. Ia sudah yakin bahwa Farhan yang ingin menemuinya. Sebelumnya Farhan sudah menghubunginya dan meminta maaf padanya bahwa dia sengaja menutupi tujuannya datang ke Istambul Turki karena menjadi tim juri di acara lomba tersebut dan lebih mengejutkan dirinya bahwa Nadia adalah satu peserta lomba tersebut.


Karena merasa tidak ada reaksi dari Nadia untuk membuka pintu kamarnya, Farhan pun kembali lagi ke kamarnya. Sepertinya ia harus menelan pil pahit karena tujuannya untuk menembak Nadia yang akan menjadikan gadis itu sebagai kekasihnya.


Karena terlalu lelah malam itu akhirnya keduanya tidur dengan membawa mimpi mereka masing-masing, di alam indah itu yang hanya ada ketika mata kita terpejam tak sadarkan diri.


Keesokan harinya, Nadia yang ingin makan siang di restoran yang ada di hotel tersebut dikejutkan dengan kedatangan Daffa yang sudah ada di balik punggungnya.


"Assalamualaikum sayangku Nadia." sapa Daffa yang sudah berdiri di belakang punggung Nadia.


Mendengar suara yang familiar ditelinganya, Nadia segera menengok ke arah suara itu, betapa terkejutnya Nadia melihat sosok yang sangat dirindukannya ini telah berada di sampingnya.


"Mas Da-ffa," ucapnya hampir tak terdengar oleh Daffa.


"Iya sayang, ini aku, belahan jiwamu yang sedang kamu lamunkan saat ini." ucap Daffa lalu duduk di sebelah sisi kanan Nadia.


Nadia ingin berkata-kata lagi pada Daffa tapi ia mengurungkan niatnya untuk berbicara ketika melihat balutan perban terlilit sempurna di tangan kanan Daffa.


"Astagfirullah, kenapa dengan tanganmu mas Daffa?" pekik Nadia yang memancing pengunjung restoran hotel itu melihat ke arah mereka.


Dan jauh disudut kiri sana, ada Farhan yang sedang melihat adegan drama romantis itu, merasa sangat cemburu pada Nadia dengan lelaki yang ia tidak tahu, ada hubungan apa diantara mereka.


"Mas Daffa, tolong jawab pertanyaanku!" pinta Nadia dengan mata yang berkaca-kaca, sambil memegang dan mencium punggung tangan mantan suaminya itu. Ia sudah tidak ingat posisinya sekarang sebagai janda dari mantan suaminya ini. Ia sedang mengutamakan emosionalnya yang tidak bisa tertahankan.


"Tidak apa sayang, ini tidak seberapa jika diukur dengan sakitnya kerinduanku pada dirimu. Nadia, aku kangen padamu sayang." ucap Daffa lalu mengecup bibir Nadia tiba-tiba walaupun terhalang cadar gadis ini, ia tidak perduli karena ia hafal letak bibir sensual itu.


Nadia mencubit perut Daffa seketika, ia juga bingung mau marah, tapi nggak enak, karena mereka sedang berada di tempat umum, jika nggak marah juga, bakalan Daffa nekat menciumnya lagi.

__ADS_1


"****!" siapa pria itu yang sudah berani mengecup wanitaku." ucap Farhan sambil mengepalkan tangannya erat.


__ADS_2