
Tuan Edy menenangkan nyonya Laila ketika keduanya sudah berada di kamar, nyonya Laila tidak berhenti gemetarnya, walaupun tuan Edy sudah memeluknya erat.
"Sayang!" Apakah kamu mengingat sesuatu, tolong katakan kepadaku, jangan menyiksaku dengan diam dan rasa ketakutanmu, ada aku disini, ada aku yang siap melindungi dan membelamu, jika ada yang akan berbuat jahat kepadamu. Ku mohon sayang, demi Allah bicaralah kepadaku!" Apakah kamu mau aku memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu?" Ucap tuan Edy yang meminta penjelasan istrinya yang masih menangis dalam ketakutannya.
"Mereka akan membunuhku, mereka tidak akan membiarkanku hidup, orangtuaku sudah mereka bunuh, sebentar lagi pasti giliranku....aaakkk!" Aku takut!" teriak nyonya Laila histeris sambil menutupi kedua telinganya.
"Sayang, astaghfirullah, ya Allah, apa kamu mengingat semua kejadian dimalam naas itu?" apakah kamu ingat wajah pembunuh orangtuamu yang sebenarnya?" Katakan kepadaku Laila, jangan menyimpannya sendiri, apakah kamu melihat pelakunya diantara para tamu undangan itu, katakan sayang, jangan pernah takut untuk membongkar sebuah kejahatan, aku siap mengantarmu ke polisi sekarang, atau kamu mau aku menghubungi polisi untuk datang ke sini, mendengar kesaksianmu?" tanya tuan Edy yang sudah tidak sabar menghadapi jiwa istrinya yang sedang tergoncang mengingat kembali peristiwa pembunuhan orangtuanya 28 tahun yang lalu.
Setelah mengatakan banyak hal kepada istrinya, tuan Edy meraih ponselnya hendak menelepon pihak berwajib, namun nyonya Laila merebut ponsel suaminya, dengan menggeleng kepalanya.
"Jangan ayah, jika kamu menghubungi polisi, keluarga ini akan hancur." Ujarnya mencegah suaminya.
"Apa maksudmu Laila, apa hubungannya peristiwa itu dengan keluarga ini atas pembunuhan kedua orangtuamu?" Tanya tuan Edy merasa heran dengan ucapan istrinya.
"Karena pembunuh kedua orang tuaku adalah tuan Hermanto dan juga papamu tuan Subandrio." Ungkap nyonya Laila berkata jujur kepada suaminya.
"Deggg!" Tubuh tuan Edy terhuyung ke belakang lalu jatuh diatas karpet dengan wajah pucat dengan air mata menetes sedih, antara marah, kecewa dan ketakutan, mungkin banyak hal yang saat ini hadir bertubi-tubi dipikirannya. Ia ingin menganggap istrinya sedang berbohong, tapi tidak, mana ada hal keji seperti itu menjadi bahan candaan atau menciptakan sebuah kebohongan yang tidak mungkin dilakukan oleh Laila yang menjadi korban dan sekaligus saksi utama peristiwa pembunuhan itu." Tanyanya dalam keheningan.
"Maafkan aku ayah, ini sangat berat bagiku ketika mengingat ini semua, ini sangat tidak mudah bagiku, mengetahui pembunuh sebenarnya adalah keluargamu sendiri dan salah satunya mertuaku." Ungkap Laila lalu menghampiri tubuh suaminya yang masih duduk diatas karpet kamar mereka.
"Aku harus menanyakan ini kepada papa dan juga mertuaku yang bajingan itu." Ucap tuan Edy bergegas berdiri seraya menyeka air matanya. Rahangnya mengatup rapat dengan gesekan giginya yang gemeretuk serta matanya terlihat nyalang, menahan ledakan amarah yang sudah sulit dikendalikan oleh dirinya saat itu.
Tangannya mengepal erat, rasanya ia ingin menghajar lelaki yang sudah membesarkannya itu, seorang yang selama ini ia hormati, bahkan ia tidak bisa melawan semua perintah orang tuanya itu saking hormatnya ia pada papanya. Ia keluar dari kamarnya hendak pergi mencari papanya, namun tubuhnya dicegah oleh istrinya, menahannya untuk tidak mendatangi tuan Subandrio maupun tuan Hermanto yang saat ini masih berada di mansion tuan Fahri.
"Ayah, jangan seperti ini, jangan biarkan emosimu menghancurkan keluarga ini, pikirkan nama baik putra kita, jika orang luar tahu bahwa papa mertuaku adalah kaki tangan pembunuh berarti tamatlah riwayat hidup putra kita. Pikirkan tanggapan besan kita, orangtua Nadia, mereka tidak akan membiarkan putra kita bisa rujuk lagi dengan putri mereka Nadia, putraku saat ini sedang menderita, kehilangan istri yang sangat ia cintai hanya karena keegoisan papamu yang menginginkan keturunan yang tidak bisa diberikan oleh Nadia. Ku mohon hentikan niatmu untuk menghardik papamu sendiri walaupun aku juga menginginkan pertanggungjawaban darinya dan juga tuan Hermanto." Ucap nyonya Laila memohon kepada suaminya yang saat ini sangat murka kepada dua orang yang sangat penting dalam hidupnya.
"Sayang tahukah kamu, siapa tuan Hermanto itu?" dia adalah ayah mertuaku, ayah dari istri pertamaku Maya. Dari dulu persahabatan mereka begitu kuat sampai menikahkan aku dengan Maya, wanita yang tidak pernah aku cintai seumur hidupku, hanya karena hubungan bisnis kotor mereka aku dipaksa untuk menikahinya." Ucap tuan Edy memberi tahu siapa sebenarnya tuan Hermanto.
"Jadi Maya, istrimu.. ya Allah mengapa jadi serumit ini." Pekik nyonya Laila yang makin tertekan karena lingkaran hidupnya di bawah kekuasaan para pembunuh, mereka pura-pura tidak mengenalnya bahkan selalu mengancamnya untuk memisahkan dirinya dengan suaminya jika apa yang mereka mau tidak dituruti oleh Laila.
"Apa yang harus aku lakukan kepada papa dan mertuaku sayang?" Tanya tuan Edy yang merasa sangat malu pada Laila karena papa dan mertuanya sudah membunuh dan mengambil alih perusahaan orangtuanya istrinya Laila.
"Allah maha adil, aku yakin Allah akan memberikan ganjaran yang setimpal untuk mereka, alam yang akan menghukum mereka dan papamu pasti mendapatkan hukuman itu suatu saat nanti. Hanya tuan Hermanto dalang dari pembunuhan itu, kita harus kumpulkan semua bukti kejahatan mereka dan aku akan mencari tahu semuanya, sebelum menyeret lelaki itu ke meja hijau dan aku akan menuntut hakku untuk mengambil kembali perusahaan milik papiku yang sudah ia kuasai." Ucap nyonya Laila dengan wajah garang juga tegas.
"Kami diam-diam sudah menyelidiki pembunuhan orangtuamu sebelumnya sayang, hanya saja kami masih belum tahu siapa pembunuh sebenarnya karena kurangnya bukti." Ucap tuan Edy menimpali perkataan istrinya.
"Maksud ayah apa?" Tanya Laila meminta penjelasan dari suaminya.
"Sopir pribadi ayahmu yang menjadi tersangka atas peristiwa pembunuhan itu." Ucap tuan Edy yang mulai membuka satu persatu benang kusut dari peristiwa naas itu.
"Astaga jadi mamang Anton yang mereka tuduh sebagai pelaku pembunuhan itu, mas kota harus bertemu dengan mamang Anton sebelum kasus ini sudah tidak berguna lagi, ini pasti konspirasi kakek Subandrio dan sobatnya tuan Hermanto."
"Dia masih di penjara karena dituntut hukuman seumur hidup." Ucap tuan Edy mengatakan bagaimana mang Anton yang menjadi tumbal oleh tuan Hermanto, yang harus mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak ia lakukan.
"Astaghfirullah ya Allah, mereka tega banget menjebak lelaki malang itu, berarti ia sekarang menghabiskan masa tuanya dipenjara selama ini. Kita harus melakukan sesuatu untuknya dan mempertemukan kembali ia dan keluarganya. Aku ingin meminta maaf kepadanya dan memberinya kompensasi atas sesuatu yang tidak ia lakukan. Aku akan bersaksi untuk mengugurkan kasusnya demi menegakan hukum yang berlaku di tanah air ini. Orang lemah tidak selamanya diinjak karena kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki oleh tuan Hermanto. Ini pasti ide gilanya yang memanfaatkan mamang Anton untuk menjebaknya dalam peristiwa pembunuhan tersebut.
"Baiklah!" Jika itu telah kamu pertimbangkan dengan matang, aku akan mengikuti semua instruksi darimu, aku meminta maaf merahasiakan identitasmu karena ingin melindungimu dari para penjahat yang selama ini mengincarmu, aku meminta anak buahku menyebar untuk mengawasimu ke manapun kamu berada, sekarang aku sangat bodoh karena menjagamu selama ini tapi musuh sebenarnya malah ada dilingkungan keluargaku sendiri. Maafkan atas ketidaktahuanku sayang, dan aku tidak tahu cara meminta maaf atau menembus kesalahan dan dosa papaku kepadamu, aku sangat malu Laila."
"Ini bukan salahmu, ini hanya permainan takdir, jika kedua orang itu melakukan dosa dimasa lalu, aku tidak akan menghukummu atas kesalahan mereka kepadaku." Ujar nyonya Laila kepada suaminya yang merasa takut akan reaksi Laila yang akan menuntutnya juga.
"Yang lebih membuatku muak adalah mereka tega memfitnah dirimu sebagai wanita...ohh!" dan aku hanya menerima ancaman mereka dengan rasa ketakutan selama 28 tahun ini hidup bersamamu, menjauhi dan putraku tanpa menjadi sosok ayah yang diinginkan oleh Daffa." Ungkap tuan Edy sambil menutup matanya menangis meratapi kebodohannya yang selama ini telah dipermainkan oleh orang yang paling ia sayangi.
__ADS_1
Nyonya Laila memeluk suaminya, menangis bersama dikamar mereka, hati dan jiwa mereka seakan terkoyak oleh kepedihan yang selama 28 tahun harus menjaga jarak, menahan rasa kerinduan dan hidup dibawah ancaman, ketakutan akan kehilangan satu sama lain dan saling melindungi tanpa sedikitpun mengeluh apalagi untuk berontak.
Flash back off
🌷🌷🌷🌷
Tuan Edy menyelesaikan kisah cinta itu yang sudah terungkap, setelah sekian lama disembunyikan oleh papanya tuan Subandrio Diningrat, yang ingin menyingkirkan istrinya karena takut ketahuan baunya, karena bangkai yang sudah ia kubur selama 28 tahun sampai beranak cucu dan mungkin sebentar lagi memiliki cicit dari Daffa.
"Ayah betapa menderitanya dirimu selama ini. Dan aku anak yang sangat bodoh mengabaikan perasaanmu dan menganggap kamu adalah ayah yang sangat jahat. Setelah mengetahui ini, Daffa sangat sayang pada ayah dan bangga dengan kesabaran ayah dan mami." Ucap Daffa tulus lalu kembali memeluk kedua orangtuanya.
"Sekarang sudah siang, bawalah Nadia ke kamarmu, dia butuh istirahat, jaga emosinya dan jangan lakukan apapun sampai kita harus mendapatkan bukti dari kejahatan mereka. Biarlah ayah dan mamimu mengurus masalah ini. Kamu mengerti sayang?" ucap nyonya Laila menasehati putranya.
"Baik mami, kami mau ke kamar dulu, terimakasih ayah dan mami sudah berbagi beban kalian dengan kami, semoga Allah melindungi kita semua..aamiin." Ucap Nadia lalu berusaha berdiri dibantu oleh Daffa.
Daffa menggendong istrinya membawa Nadia ke kamar mereka, sikap Daffa yang sangat romantis membuat kedua orangtuanya tersenyum bahagia. Keduanya saling mengecupkan bibir dan merasa telah menemukan kebahagiaan mereka yang telah hilang selama 26 tahun terakhir ini.
Dikamar Daffa masih merasa tidak sanggup menahan rasa sedihnya, rasa bersalah yang amat mendalam, sebuah kesalahan yang tidak cukup ditebus dengan kata maaf, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk membahagiakan ayahnya dan tetap bersama dengan maminya tanpa terpisahkan oleh waktu.
"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?" Apakah ada yang masih ingin kamu tanyakan kepada ayah dan mami?" Tanya Nadia sedikit memiringkan tubuhnya ke arah suaminya, ketika keduanya sedang berbaring di atas kasur.
"Aku hanya memikirkan bagaimana caraku menebus kesalahanku pada ayah yang selama bertahun-tahun sudah salah paham padanya, bahkan aku sangat kurangajar padanya." Ucap Daffa kembali berkaca-kaca.
"Doa anak yang sholeh, sedekahkan dengan menyebutkan namanya, belikan sesuatu yang beliau paling sukai, luangkan waktumu sejenak hanya sekedar menanyakan kabarnya. Itu sudah lebih dari cukup untuk menebus kesalahanmu padanya." Ucap Nadia memberi saran kepada suaminya.
"Apakah cukup hanya itu?" Tanya Daffa lirih.
"Hati orang tua seluas samudera untuk memaafkan anaknya, tidak peduli berapa banyak luka yang ia rasakan ketika anaknya menyakitinya, sedikitpun ia tidak pernah menaruh dendam kepada darah dagingnya sendiri." Ucap Nadia menghibur suaminya lalu mengecup bibir seksi itu.
"Sayang, bukan saatnya kamu menyanjungku, tapi aku ingin tanpa aku pun kamu harus tetap mendatangi Allah dalam setiap waktu, entah itu sholat lima waktu atau saat kamu sedang berpikir dan berdzikir melalui bacaan Alquran atau bertafakur tentang kebesaran Allah." Ujar Nadia tersenyum kepada suaminya yang sangat mendambakan dirinya untuk lebih mendalami ilmu Allah melalui dirinya.
"Nadia, setelah kamu tahu kakekku adalah kaki tangan pembunuh, bagaimana perasaanmu kepada keluargaku?"
"Cintaku padamu tidak akan pernah berubah walau apapun yang terjadi kepada keluarga ini, aku tetap mencintaimu sekalipun kamu mengkhianati cintaku."
"Sebesar itukah cintamu untukku?"
"Lebih dari yang kamu impikan dan kamu harapkan dariku."
"Bagaimana jika aku menginginkan yang ini?" Tanya Daffa yang mulai iseng dengan jari jemarinya yang sudah merayap di tempat sensitif Nadia.
Tanpa mau menjawab pertanyaan itu, Nadia hanya memejamkan matanya, merasakan kembali sensasi setiap sentuhan dari suaminya, tanpa mengeluh hanya melenguh, apalagi menolaknya, karena ia juga membutuhkannya juga. Hanya ini dan satu-satunya hal yang paling membahagiakan mereka adalah bercinta.
Dua hari kemudian, tuan Edy menemani istrinya nyonya Laila, mengunjungi penjara di daerah Jakarta untuk menemui sopir pribadi papinya, yang menjadi tersangka pembunuhan atas kedua orangtuanya. Nyonya Laila dengan sabar menunggu sopirnya di ruang tamu yang sudah disiapkan oleh sipir penjara tersebut.
Tidak lama keluarlah seorang lelaki tua dengan tubuhnya yang kurus dan sedikit agak membungkuk, raut wajahnya yang kusut dengan kelopak matanya yang makin cekung karena kebanyakan menangis. Tapi wajah itu tampak bersinar walaupun matanya tidak menggambarkan suasana hatinya yang tidak secerah wajahnya karena basuhan air wudhu.
Salah satu sipir penjara memperlakukan lelaki tua itu dengan sangat baik, ia menduduki pak Anton di kursi yang akan didudukinya, matanya yang sudah mulai rabun karena usia, menatap wajah cantik nyonya Laila. Nyonya Laila ingin sekali berteriak memanggil nama mamang Anton yang sangat bersahaja itu, tapi suaranya tertahan karena harunya mulai menyekat kerongkongannya.
"Assalamualaikum mang Anton, masih ingat Laila mang?" tanyanya dengan wajah sendu.
"Waalaikumuslam, apakah neng Laila putri tuan Indra Kusuma?" Tanya mang Anton dengan bibirnya bergetar hebat menahan tangisnya.
__ADS_1
"Benar mang ini saya Laila, yang mamang selalu mengantarku ke sekolah sejak Laila masih usia 4 tahun sampai Laila bisa membawa mobil sendiri karena mang Anton yang mengajari Laila." Ucap nyonya Laila mengenang masa kebersamaannya dengan lelaki tua yang ada dihadapannya ini.
"Neng ke mana saja, mengapa baru datang sekarang, neng Laila lah, alasan mamang bertahan hidup di penjara ini. Karena hanya neng Laila yang akan membersihkan nama baik mamang.
Mamang memang nggak punya apa-apa kecuali kehormatan dan iman, karena mamang yakin Allah maha adil, mamang tidak tahu lagi dengan cara apa untuk meminta tolong, kalau bukan kepada Allah mamang mengadu nasib mamang ini non, mamang ingin mati dalam keadaan mulia karena keluarga mamang sampai saat ini tidak mau lagi mengakui mamang sebagai bagian dari mereka. Mungkin kebebasan di dunia ini mahal untukku, tapi kebebasanku yang sebenarnya adalah kematian, kembali kepada Robbku." Ucap mang Anton sambil meratap pilu hingga terdengar menyayat hati nyonya Laila dan tuan Edy, yang mendengar jeritan hati mang Anton yang sudah terpendam selama 28 tahun menjalani hukuman yang tidak pantas ia terima.
"Mang, Laila datang ke sini, ingin membebaskan mamang, tolong bertahanlah karena aku akan membeberkan semua kejahatan yang dilakukan oleh pelaku yang sebenarnya." Ucap nyonya Laila yang sama sedihnya dengan mang Anton.
"Terimakasih neng Laila, tolong proses hukum ini dipercepat penyelesaiannya, sebelum Allah memanggilku pulang kepadaNya." Ucap mang Anton dengan suara yang makin parau.
"Kita sama-sama berjuang ya mang, tapi aku ingin mamang ceritakan semua kepada pengacaraku nanti yang akan membela kita di pengadilan. Kasus mamang akan kembali digelar di persidangan nanti setelah dilakukan penyelidikan." Ucap nyonya Laila meyakinkan Lelaki tua itu, yang sangat ia sayangi.
Sebelum waktu kunjungannya habis, nyonya Laila meminta mamang Anton untuk menceritakan bagaimana ia bisa dijadikan tersangka oleh pihak berwajib. Mang Anton mengungkapkan semua bagaimana dua bajingan yang dengan tega melimpahkan semua kesalahan mereka, pada dirinya saat peristiwa pembunuhan itu terjadi. Nyonya Laila merekam semua pengakuan mang Anton dengan ponselnya sebagai bukti kuat untuk bisa membawa kasus ini kembali ke pengadilan. Setelah mengakui semuanya, mang Anton dibawa lagi ke lapasnya dan nyonya Laila dan tuan Edy kembali ke mansion mereka. Tuan Edy menahan sakit hatinya dan rasa kecewanya kepada kedua lelaki yang selama ini sangat ia cintai, keduanya tidak banyak bicara, tenggelam dalam lamunan masing-masing.
"Kalau bukan kamu papaku, mungkin aku akan membunuhmu tuan Subandrio Diningrat." Ucapnya dengan mengepalkan tangannya erat hingga terlihat putih pada buku-buku kepalan tangannya.
🌷🌷🌷🌷
Satu bulan kemudian, Anjani berada dirumah orangtuanya, ia benar-benar tidak ingin kembali ke mansion maminya Daffa karena takut terjadi sesuatu pada bayinya jika ia bertahan di mansion itu. Ia tidak ingin kedoknya akan terbongkar oleh Daffa jika bayinya ini bukanlah bayinya Daffa. Walaupun begitu ia juga sedikit malas merawat bayinya yang ia anggap adalah suatu kesialan memiliki seorang putri yang bisu dan tuli.
"Apa yang bisa ku banggakan memiliki bayi ini, rasanya ingin ku buang dirimu wahai bayi sial." Umpatnya kepada bayi perempuan yang sangat cantik itu.
Iapun meninggalkan bayinya dan meminta baby sitter menyiapkan susu formula untuk bayinya itu.
"Suster, tolong jaga bayiku dan berikan ia susu formula, aku ada urusan diluar, jika bayiku rewel panggil saja ibuku, aku mau shopping dulu ke pasar raya." Pintanya pada baby sitter itu lalu meraih tasnya meninggalkan kamar babynya.
Di perusahaan milik Daffa, asisten Rio menemui bosnya ini di ruangannya. Ia hanya melaporkan perkembangan perusahaan mereka dengan menyebutkan beberapa saham yang saat ini sedang melonjak pada angka yang memuaskan.
Daffa mendengarkan dengan seksama dan tersenyum puas dengan laporan keuangan perusahaan yang makin meningkat karena produk mereka berhasil tembus di angka pemesanan yang melebihi dari target pasar yang mereka prediksi diawal produk itu meluncur sampai ke tangan distributor yang bekerja sama dengan perusahaan miliknya.
"Terimakasih Rio atas kerja kerasmu selama ini, bonus untukmu akan aku naikkan tiga kali lipat tahun ini." Ucap Daffa sembari menandatangani beberapa berkas yang diserahkan oleh Rio kepadanya.
"Terimakasih bos, saya akan lebih optimal lagi dalam meningkatkan kinerja saya. Tapi bos, ada satu hal yang bos perintahkan kepada saya, belum bisa saya penuhi bos. Itu bos masalah bayinya nona muda Anjani, kami sulit mengambil sampel dari bayi itu untuk dilakukan tes DNA.
"Nanti saja, tunggu waktu yang tepat untuk itu, tanpa tes DNA pun aku yakin, bayi itu bukanlah bayiku." ucap Daffa dengan senyum sinisnya.
"Tapi saya akan pastikan untuk tetap melakukannya untuk bos, supaya bos lebih fokus kepada nona muda Nadia yang saat ini sedang hamil anakmu bos."
"Itu juga harapanku Rio, aku ingin secepatnya menyingkirkan Anjani dari hidupku, tolong awasi gerak geriknya, karena wanita itu selalu menggunakan segala cara untuk bisa menahan diriku untuk tetap disisinya walaupun aku sampai saat ini belum pernah tidur satu ranjang dengannya sampai bayinya lahir."
"Apakah penyelidikan ini terus dilanjutkan atau bagaimana bos?" tanya Rio yang ingin memastikan perintah tuannya itu.
"Tetap dilakukan Rio dan harus tetap waspada karena tuan Fahri dan putrinya sangat cerdik untuk terus menjebakku." Pinta Daffa kepada asistennya Rio.
Di apartemen, Nadia sibuk list pernak pernik perlengkapan bayi yang akan ia beli untuk dua bulan kedelapan dengan dibantu oleh mbok Ina. Keduanya nampak serius membahas apa saja yang harus dilakukan oleh Nadia ketika melewati beberapa bulan kehamilan Nadia yang sudah memasuki usia lima bulan.
"Mbok nanti sore aku ingin cek-up lagi kehamilanku ke dokter kandungan, mbok istirahat saja, tidak usah menghangatkan makanan karena aku dan mas Daffa mungkin akan makan malam diluar. Mbok saja yang makan sendiri ya, atau mbok mau pesan apa nanti aku beliin."
"Ah non, nggak usah mbok setiap hari makan apa saja yang ada di apartemen ini, sampai bingung cara menghabisinya." Ucap mbok Ina tersenyum malu pada Nadia.
"Nggak apa mbok, nggak usah sungkan, mbok juga orangtuaku disini, jadi kesenangan mbok juga tanggungjawabku."
__ADS_1
"Ya Allah non, kamu sama baiknya dengan nyonya besar, kalian benar-benar sangat cocok jadi menantu dan mertua yang sangat ideal. Sama-sama cantik dan sangat baik. Tuan Daffa tidak salah memilihmu non, karena kehadiran non mengubah perilaku buruk tuan muda menjadi sangat santun dengan siapa saja, walaupun ia belum pernah berlaku kasar kepada mbok selama ini." Ucap mbok Ina yang sangat bahagia melihat kemesraan pasangan muda ini.