SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
74. TERUNGKAP


__ADS_3

Daffa membawa tubuh polos Anjani ke dalam bathtub yang sudah ada hamsternya. Ketika tubuh Anjani masuk ke dalam bathtub yang sudah di isi air tersebut sebelumnya, Anjani belum merasakan apapun. Tidak lama hamster itu mulai bergerak menghampiri Anjani, gadis itu langsung tersentak kaget dan berteriak histeris lalu bergegas keluar dari bathtub.


"Aaakkk!" Apaan ini?" Anjani berdiri dan turun dari bathtub.


"Ko kamu bisa berdiri dan berjalan Anjani?" Kamu sedang menipuku?" Tanya Daffa sambil menahan tawanya.


"Br*ngsek!" Apakah ini pekerjaanmu Daffa!" Teriak Anjani dengan wajah memerah karena malu dan takut.


"Siapa yang sedang kamu tipu?" Aku?" Tidak!" kamu lihat perbuatanmu yang sudah ketangkap basah olehku, masih mau berdusta atau mau mengadukan kepada ayahmu?" Selamat tinggal Anjani, kau bukan wanita yang pantas untuk dicintai, apa lagi untuk dimiliki. Pergilah kau ke neraka perempuan sialan!" Ucap Daffa lalu keluar dari kamar mandi memungut bajunya, mengambil ponsel dan tasnya kemudian mengenakan pakaiannya satu persatu.


Daffa meninggalkan Anjani yang nampak kebingungan dan mencari sesuatu yang bisa dipakainya untuk mengejar Daffa. Para pelayan nampak heran melihat Anjani yang hanya melilitkan tubuhnya dengan handuk mengejar Daffa yang sedang menghampiri mobilnya.


"Anjani!" Teriak ibunya yang melihat putrinya nekat keluar dengan handuk.


"Daffa tunggu sayang aku bisa menjelaskan ini padamu," pinta Anjani dengan menggedor kaca mobil Daffa.


"Pelayan ambil piyamaku untuk Anjani cepat!" Perintah ibu Anjani kesal.


"Beruntunglah malam hari jadi tubuh Anjani tidak menjadi tontonan para pelayannya yang laki-laki.


Lampu depan di matikan oleh ibunya. Daffa sudah menancap gas mobilnya meninggalkan Anjani yang berteriak-teriak memanggil namanya.


"Daffaaa!" Aku akan balas perbuatanmu." Anjani lari masuk ke kamarnya tanpa mempedulikan para pelayan dan ibunya memperhatikannya.


"Anjani buka pintunya, kamu sudah bisa berjalan, mengapa kamu membohongi kami semua, buka anak nakal!" Teriak ibunya sambil menggedor pintu kamar putrinya dengan keras.

__ADS_1


"Akkkkhh!" Tinggalkan aku ibu!" Aku tidak ingin diganggu." Anjani mengusir ibunya.


"Kamu sangat keterlaluan Anjani, demi ambisimu untuk mendapatkan laki-laki itu, kamu rela mempermalukan dirimu." Ucap ibunya yang sudah tidak kuat menghadapi sikap licik Anjani.


Anjani memakai bajunya dan ingin ke mansion Daffa. Ia tidak peduli dengan waktu yang sudah hampir jam dua pagi. Ayahnya yang baru bangun tidur menghadang putrinya yang sudah rapi hendak keluar dari rumah. Tuan Fahri menatap kaki putrinya yang sudah bisa berjalan.


"Anjani, kamu sudah bisa berjalan dan pura-pura lumpuh dihadapan orangtuamu?" Mengapa kamu begitu licik Anjani?" Tanya Tuan Fahri menatap tajam wajah putrinya itu.


"Hah...aku belajar dari pakarnya, ayah kandungku sendiri, Tuan Fahri yang terhormat...ha..ha!" Tawanya menggelegar seperti orang gila.


"Sekarang kamu mau ke mana?" Mengejar bajingan itu? untuk apa?" Kamu kira dia akan menerima semua kebohonganmu? Masuk ke kamarmu sekarang!" ayah tidak akan mengijinkanmu pergi dari sini, pelayan bawa masuk putriku dan kunci kamarnya, jangan pernah membuka kamarnya sampai aku perintahkan." Tuan Fahri begitu murka dengan putrinya.


"Ayah, keluarkan aku dari sini ayah!" Aku ingin bertemu dengan mas Daffa, ayahhh!" Pinta Anjani sambil menendang-nendang pintu kamarnya. Tidak cuma itu kaca rias yang ada di kamarnya di lempar dengan botol parfum hingga pecah berantakan.


"Kalian pastikan putriku tidak keluar dari kamarnya, biar saja dia teriak dan mengamuk sampai dia lelah dengan sendirinya." Pinta tuan Fahri kemudian kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidur.


Keesokan harinya, Daffa, pengacara dan ayahnya Tuan Edy mendatangi mabes polri untuk mengklarifikasi kasus yang pernah dituduhkan kepadanya sekitar lima bulan yang lalu. Polisi mencatat semua berita acara yang disampaikan oleh Daffa dengan bukti rekaman yang dimilikinya. Ia juga melaporkan bahwa Anjani sudah menipunya dengan memalsukan laporan tes DNA palsu dari rumah sakit yang mengeluarkan hasil laporan itu, beserta kebohongannya dengan berpura-pura lumpuh.


Polisi Beno yang pernah menangani kasus Daffa meminta anak buahnya untuk segera menangkap tuan Fahri dan putrinya Anjani dengan tuduhan pencemaran nama baik atau fitnah, pemalsuan laporan tes DNA dan sudah menipu keluarga Daffa demi kepentingan pribadi. Dan masih banyak kasus lain yang dilakukan oleh Anjani.


"Terimakasih atas laporannya Tuan Daffa, saya harap anda tidak boleh keluar kota ataupun keluar negeri sampai kasus ini disidangkan." Ucap polisi Beno dengan tegas.


"Baik pak, kami mohon untuk mengklarifikasi kasus ini juga ke media, karena kami tidak mau kasus ini mempengaruhi bisnis perusahaan milik saya akan menjadi kacau imbas dari masalah ini. Kami juga akan melaksanakan perintah bapak jika dibutuhkan kesaksian dari kami." Ucap Daffa.


"Pak Samsudin dan pak Angga, segera tangkap Tuan Fahri dan nona Anjani di kediaman mereka." Titah pak Beno pada bawahannya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Siang itu dua buah mobil polisi mendatangi kediaman tuan Fahri untuk menjemput secara paksa Tuan Fahri beserta putrinya di gelandang ke kantor polisi.


"Selamat siang Tuan Fahri, kami datang untuk menangkap anda dan nona Anjani atas Tuduhan laporan palsu, memanipulasi data tes DNA dan juga perbuatan yang tidak menyenangkan, anda berhak didampingi pengacara dan untuk selanjutnya anda bisa menyampaikan keberatan anda di kantor polisi, silahkan ikut kami." Ucap polisi Angga tanpa kompromi dengan Tuan Fahri.


Polisi Samsudin meminta pelayan untuk membuka pintu kamar Anjani. Rupanya gadis ini sedang berusaha kabur dengan menggunakan tali sobekan seprei yang digunakannya untuk turun dari dari balkon dari atas kamarnya kamarnya.


Polisi Samsudin menghubungi rekannya untuk menangkap Anjani yang sudah kabur ke arah pintu gerbang utama dengan berpura-pura menggunakan baju seragam pelayannya.


"Hallo, target sedang melarikan diri menggunakan seragam pelayan, tangkap dia atau tembak di tempat jika dia melarikan diri." Perintah polisi Samsudin pada rekannya yang ada di luar pagar mansion Tuan Fahri.


Penangkapan itu jadi berujung ricuh, Anjani yang berhasil kabur dengan menggunakan sepeda milik pelayannya di beri timah panas pada kakinya hingga ia jatuh terjerembab di atas aspal.


"Akkkhhh!" Teriak Anjani ketika sudah berkali-kali diingat polisi untuk berhenti namun ia tetap mengayuh sepedanya secepat mungkin.


"Anda akan dikenai pasal tambahan jika melarikan diri nona Anjani." Ucap polisi Anggia seraya menarik tubuh Anjani untuk masuk ke dalam mobil polisi tersebut.


Jauh di negara Kairo Mesir, ada acara pertemuan dua keluarga yaitu keluarga pihak Nadia dan Farhan yang sedang bersilaturahim di kediaman ummi Kulsum. Farhan yang datang dengan rombongan keluarga besarnya ingin berkenalan dengan keluarga Nadia lebih dekat. Ketika sudah berada di flat ummi Kulsum, kedua keluarga itu berbicara basa basi. Tidak lama Nadia pun di panggil untuk menemui Farhan dengan penampilan yang sangat cantik malam itu. Ibu satu anak ini hanya tertunduk sedih tanpa melihat lelaki yang akan dijodohkan oleh keluarganya.


"Nadia bukalah cadarmu nak agar nak Farhan bisa melihat wajahmu!" Pinta ummi Kulsum pada putrinya.


Nadia terperanjat ketika nama Farhan disebut oleh umminya. Begitu juga Farhan yang tidak percaya jika Nadia gadis yang akan dijodohkan dengannya.


Tante Mirna melepaskan cadar Nadia untuk diperlihatkan kepada Farhan. Farhan yang selama ini mendambakan Nadia merasa sangat bahagia ketika mendapatkan kehormatan menatap wajah gadis itu secara langsung bukan lagi hanya mata indahnya.


"MasyaAllah cantiknya" ucap Farhan tanpa sadar dihadapan para tamu yang nota bene keluarga dekatnya.

__ADS_1


Semua yang hadir di situ menatap kagum wajah cantik Nadia. Tidak sedikit dari mereka yang membicarakan paras Nadia yang hampir mendekati sempurna. Nadia merasa tidak nyaman dan bangkit dari duduknya beralih ke kamarnya. Ia menangis dikamarnya memanggil nama kekasihnya Daffa.


"Mas Daffa cepat datang sayang, aku tidak tahan dengan semua ini." Tangisnya sambil membenamkan wajahnya di dalam bantal.


__ADS_2