SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
81. INDAHNYA KEBERSAMAAN


__ADS_3

Beranda di kota suci Mekkah adalah kebahagiaan tersendiri bagi umat Islam sedunia. Menantikan panggilan Allah untuk beribadah kepadaNya walaupun hanya dengan ibadah umroh. Tidak semua hamba dimampukan Allah untuk di undang ke sana walaupun dengan harta melimpah, namun Allah akan memampukan hambaNya yang beriman untuk bisa mendatangi rumahNya yaitu baitullah walaupun sedikit harta yang ia punya.


Keluarga Daffa dan juga keluarga Nadia khusu menjalankan ibadah umroh. Hafiz yang ikut serta dalam ibadah itu digendong oleh Rio. Semua ritual ibadah diikuti mereka satu persatu, mulai dari tawaf hingga sa'i. Tidak ada kelelahan disana, tidak ada amarah maupun keegoisan yang diperlihatkan di sana. Semua orang nampak hanyut dengan ibadah mereka.


Daffa yang menjaga istrinya, begitu pula tuan Edy menjaga nyonya Laila sedangkan si kembar mengapit ummi mereka. Perubahan drastis sikap ummi yang menjadi kalem saat bersama dengan keluarga besannya itu. Tidak ada sedikit dendam pun yang diperlihatkan oleh Daffa dan keluarganya, hal itu membuat ummi Kulsum semakin malu kepada keluarga itu walaupun tidak memiliki ilmu agama yang tinggi tapi adab mereka jauh lebih baik daripada dirinya yang lebih banyak mengetahui hak dan batil namun tidak mempedulikan itu semua karena sibuk dengan penilaian orang lain.


"Nadia, apakah ummi layak mendapat ampunan Allah nak?" Tanya umminya usai mereka melakukan tahalul.


"Ummi lebih tahu jawabannya dari pada Nadia, Nadia adalah putri ummi yang harus lebih banyak mendengar nasehat ummi bukan menasehati ummi, kami menganggap semua adalah tahapan ujian yang harus dilewati tanpa perlu mengeluh karena Allah berkuasa atas segala sesuatu." Ucap Nadia yang mengutamakan adabnya dari pada ilmu sehingga ia merasa tidak pantas mendikte umminya.


"Nadia kamu pantas bersanding dengan nak Daffa, dia sangat menyayangimu nak," ucap ummi lagi.


"Aku belajar cinta dari ummi dan Abi yang membesarkan aku dan si kembar dengan penuh cinta, makanya cintaku tidak mudah berpaling hanya karena ujian Allah yang sangat menyakitkan untukku. Ummi adalah kiblatku untuk menjadi seorang istri sholehah." Ungkap Nadia santun kepada umminya tanpa menyudutkan perempuan yang telah melahirkannya ini.


"MasyaAllah, ummi sangat bangga memiliki putri sepertimu. Walaupun ummi menyakitimu, kamu tetap santun kepada ummi." Jawab ummi Kulsum lalu memeluk putrinya yang penuh dengan kelembutan itu.


Daffa yang berada disamping Nadia pura-pura tidak mendengar percakapan diantara ibu dan anak itu, ia hanya menikmati air zamzam yang ada di tangannya. Dalam hatinya, betapa bangganya ia pada istrinya Nadia, ia hanya mengulum senyumnya dan menatap wajah Hafiz yang berada dalam gendongan Fadil.


"Apakah sudah selesai rehatnya jeng, biar kita bisa kembali ke hotel" ajak nyonya Laila kepada besannya ummi Kulsum, yang sudah mulai segar lagi setelah beristirahat lama di puncak bukit Marwah.


"Sudah jeng, ayo kita kembali ke hotel." Umi Kulsum bergegas berdiri dibantu oleh Daffa menantunya. Raut wajah ummi seketika bersemu merah melihat perlakuan menantunya yang begitu lembut pada dirinya.


Keluarga itu meninggalkan bukit Marwah, berjalan menyusuri bukit Safa dan melintasi kembali baitullah untuk menuju hotel yang kebetulan mereka menginap dekat dengan jam tower yang ada di hadapan Masjidil haram.


Keesokan harinya tempat yang mereka akan tuju selanjutnya adalah Jabbar Rahmah yaitu tempat pertemuan Adam dan hawa setelah sekian lama berpisah setelah di turunkan Allah di bumi, karena satu dosa yang mereka lakukan demi mendengar bisikan setan dari pada perintah Allah.


Satu dosa itu yang membuat nabi Adam menyesali dosanya itu dengan terus memohon kepada Allah dalam doanya, yang artinya sebagai berikut,


“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi"

__ADS_1


Disinilah dua sejoli Daffa dan Nadia, mengingat kembali perjuangan nabi Adam yang berpisah dengan istrinya Siti Hawa selama 500 tahun lamanya.


"Mas Daffa, cinta tulus nabi Adam dan ibunda Siti Hawa mempertemukan kembali keduanya di tempat ini, setelah itu keduanya membina rumah tangga sampai melahirkan banyak anak dan kita adalah bagian dari keturunannya" Nadia menceritakan perjalanan kisah cinta nabi Adam dan istrinya kepada Daffa.


"Mereka setia karena tidak ada saingannya sayang, tidak perlu menerima perjodohan siapapun kepada mereka, beda dengan kita berdua diuji dengan cara dijodohkan dengan orang lain, tapi hati kita memilih untuk setia" seloroh Daffa pada istrinya.


"Tapi penghalang cinta kita sudah tidak ada, kita hanya perlu memperbaiki semuanya dan mempertahankan apa yang telah kita perjuangkan" jelas Nadia bijak.


"Aaa... aduh!" pekik seorang gadis yang hampir jatuh tergelincir.


"Kamu tidak apa-apa nona?" tanya Rio yang berhasil memegang tangan gadis yang hampir jatuh itu.


"Terimakasih Tuan, hampir saja saya jatuh, Alhamdulillah ada Tuan yang menyelamatkan saya" ucap wanita yang bercadar itu pada Rio.


Daffa dan Nadia yang menyaksikan adegan Rio dan seorang gadis saling menyikut, keduanya tersenyum dan memalingkan wajah mereka agar Rio tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh bosnya ketika menyelamatkan seorang gadis.


"Aku bersama kedua orangtuaku, kami terpisah karena terlalu banyak orang disini sehingga membuatku bingung mencari mereka." Ucap gadis sambil meremas kedua tangannya.


"Mau aku temani untuk mencari orangtuamu, aku hanya ingin menolongmu saja karena kebetulan kita sebangsa" Rio menawarkan dirinya menolong gadis bercadar itu.


"Apakah tidak merepotkan anda Tuan?" Tanya gadis itu sungkan.


"Tidak apa, ini tempat asing, kamu harus dilindungi jika kamu tidak keberatan.


"Baiklah Tuan, terimakasih atas kebaikannya." Ucap gadis itu berjalan beriringan dengan Rio sambil menghubungi orangtuanya melalui ponsel.


"Apakah tersambung panggilannya?" tanya Rio.


"Sepertinya ponsel ibuku low," ucap gadis itu terdengar kuatir.

__ADS_1


"Kamu tinggalkan pesan aja, nanti kalau orangtuamu cass ponselnya, mereka akan tahu kamu berada di mana." Ucap Rio.


"Aku bingung menentukan posisiku untuk menunggu mereka, kasihan pasti mereka saat ini kuatir mencariku." Ucap gadis itu.


"Bukankah kamu memiliki ketua rombongan travelmu, kenapa kamu tidak hubungi saja mereka." Rio memberi saran.


"Masalahnya aku tidak diperkenankan untuk menyimpan nomor orang lain dalam rombonganku sendiri.


"Ya Allah, mengapa jadi ribet begini atau kamu mau mengikuti rombonganku saja. Kamu menginap di hotel apa, biar nanti kami antarkan, sebentar aku hubungi bosku dulu ya," ucap Rio lalu menghubungi Daffa.


"Ada apa Rio? aku ada di belakangmu." Jawab Daffa yang sudah berdiri di samping Rio.


"Assalamualaikum ukhti, apa kamu sedang ada masalah?" tanya Nadia pada gadis bercadar yang sama dengannya.


"Eh, maaf ukhti, aku terpisah dengan kedua orangtuaku." Jawab gadis itu.


"Namaku Nadia, ini suamiku dan ini saudara seimanku" Nadia memperkenalkan dirinya, suaminya dan Rio.


"Namaku Hanna" aku tinggal di hotel, sekitar jam tower depan Masjidil haram.


"Maukah kamu mengikuti rombongan kami, nanti kami yang akan mengantarkan kamu ke orangtuamu Hanna." Ujar Nadia.


"Terimakasih ukhti, mohon maaf aku sudah menyusahkan kalian." Ucap Hanna.


"Tidak apa, kebetulan kamu bertemu dengan kami, bukan orang lain dengan negara yang berbeda." Sahut Nadia lalu menggandeng tangan Hanna.


Mereka berjalan ke arah bis yang sudah menunggu mereka. Hanna merasa tenang ketika berada ditengah orang-orang baik, apa lagi bisa bertemu dengan gadis yang sama-sama bercadar dengannya.


Hanna akhirnya mengikuti bis rombongan milik keluarga Daffa. Karena menginap di hotel yang sama membuat gadis ini tidak menolak.

__ADS_1


__ADS_2