
Setelah tiga hari kemudian sakit demam yang di derita oleh Nadia berangsur membaik. Nadia kembali mengajar dan juga suaminya Daffa kembali ke perusahaannya.
"Sayang, nanti pulang ngajar aku yang akan menjemputmu ya, jangan pernah pergi ke mana-mana sampai aku datang, walaupun sekolah mau runtuh sekalipun, ini perintah Nadia, kamu mengerti," ucap Daffa dengan tegas dan serius ketika istrinya ingin pamit turun dari kendaraannya.
"Iya mas Daffa, aku akan menunggu mas menjemputku disini," ucap Nadia dengan suara yang masih lemah lalu mencium punggung tangan suaminya.
Daffa meninggalkan sekolah itu, menjalankan lagi mobilnya. Nadia langsung masuk ke kelasnya karena sudah hampir jam masuk ke sekolah setelah ia absen kehadiran guru diruang kantornya.
Sampai di perusahaan, Daffa menyelesaikan tugasnya yang tiga hari ini tertunda, ia memeriksa kembali berkas-berkas yang harus ia tanda tangani. Daffa yang baru masuk ke ruangan menanyakan mengapa bosnya ini tidak masuk tiga hari.
"Bos, apakah ada masalah bos, selama tiga hari ini?" tanya Rio yang mengawali pertemuan pagi hari ini dengan Daffa.
"Banyak sekali permasalahan bos, saya hampir bingung dengan keadaan ini di mana para relasi kita banyak mengajukan pemutusan kontrak kerjasama mereka dengan perusahaan kita." ucap Rio asistennya kepada Daffa.
"Apa??" mengapa mereka memutuskan kontrak kerjasama dengan perusahaan kita secara sepihak?" tanya Daffa nampak kesal
"Itu dia bos, mereka ingin bertemu langsung dengan bos untuk mengajukan alasannya."
"Baiklah kalau begitu kamu boleh kembali ke ruanganmu, saya akan menghubungi mereka sekarang." ucap Daffa yang sudah meraih gagang telepon untuk menghubungi relasi perusahaannya.
"Bos, ada satu hal lagi yang ingin saya beritahukan kepada anda walaupun saya sudah dilarang oleh..?
Kata-kata Rio tiba-tiba berhenti begitu saja membuat Daffa menatapnya kesal.
"Kamu kalau bicara yang jelas, jangan menyampaikan setengah hati seperti itu," ucap Daffa yang sudah hampir naik pitam melihat kata-kata Rio yang kelihatan ragu-ragu menyampaikan sesuatu kepadanya.
"Ini mengenai nona muda Nadia bos. Tiga hari yang lalu, ia mengunjungi perusahaan ini, ia ingin bertemu dengan anda dan meminta saya untuk tidak memberi tahu kedatangannya kepada anda, namun ia kembali lagi bertemu dengan saya tapi meminta saya untuk tidak memberi tahu anda kalau dia tidak datang ke sini tuan.
"Apa?" jadi dia...astaga Rio!" pantas dia sampai jatuh sakit karena dia datang dan mendengarkan semua pertengkaranku dengan kakek tempo hari." ucap Daffa sambil menepuk jidatnya kesal.
"Iya bos, saya ingin beritahu bos, tapi bosnya buru-buru mau jemput nona muda Nadia, jadi saya tidak bisa berkata banyak kemarin bos.
"Terimakasih infonya Rio, sebentar lagi saya mau jemput Nadia, tolong hari ini kamu yang memimpin rapat hari ini, sekarang moodku jadi nggak enak.
Sekitar jam satu siang Daffa menjemput lagi istrinya disekolah ia sangat gusar dengan ulah Nadia yang sudah bersandiwara didepannya. Ketika hendak masuk ke tempat parkir, ia melihat Nadia sedang ngobrol dengan teman gurunya pak Bahar. Betapa cemburunya Daffa melihat interaksi antara keduanya yang kelihatan sangat akrab. Daffa membunyikan klakson mobilnya, seketika Nadia melirik ke arah mobil suaminya, iapun pamit dengan pak Bahar.
"Saya duluan ya pak Bahar, suami saya sudah jemput tuh, ucap Nadia lalu melambaikan tangannya kepada suaminya.
Daffa lebih mendekatkan mobilnya ke arah Nadia yang sedang berlari ke arahnya. Nadia membuka pintu mobil lalu memberikan salam kepada suaminya.
"Assalamualaikum mas Daffa!" ucapnya sambil tersenyum kepada suaminya lalu menyalami tangan Daffa.
"Waalaikumuslam!" ucap Daffa singkat dengan wajah datar.
"Mas Daffa sudah makan siang?" tanya Nadia ketika mobil itu sudah kembali bergerak meninggalkan sekolah.
"Belum, aku sengaja menjemputmu untuk makan siang bersama." timpal Daffa dengan wajah yang masih sama datarnya membuat Nadia sedikit tidak nyaman.
__ADS_1
"Mas Daffa, marah sama aku?" ko jadi dingin begitu.
"Buka cadarmu, aku sudah bilang ketika bersamaku kamu harus melepaskan cadarmu!" titahnya kepada Nadia. Nadia langsung melepaskan cadarnya lalu menatap wajah suaminya. Ketika melihat lagi wajah istrinya, setengah beban dihatinya mulai berkurang, inilah keunikan dari Nadia untuk seorang Daffa, jika banyak masalah perusahaan yang sedang dihadapi nya, namun ketika sudah melihat wajah istrinya, sesaat beban itu akan sirna begitu saja berganti dengan ketenangan dihatinya.
Walaupun begitu kecemburuannya, masih saja nampak diwajahnya ketika melihat Nadia yang akrab dengan pak Bahar. Iapun kembali mengungkapkan perasaan cemburunya pada istrinya.
"Bisa nggak kamu tidak begitu dekat dengan teman guru priamu itu?" tanya Daffa menatap sesaat ke arah Nadia.
"Maksud mas Daffa, pak Bahar?" ya ampun mas, dia tadi hanya menemani aku ngobrol sambil tungguin kamu jemput aku, kenapa mas jadi cemburu begitu?" ucap Nadia menjelaskan keadaan sebenarnya.
"Apakah harus dia, yang temanin kamu ngobrol, aku tidak suka cara dia menatap matamu apa lagi kamu becanda dengannya, terus tertawa lepas, seakan kamu bahagia banget berada didekatnya." ucap Daffa sinis terhadap Nadia.
"Baiklah mas, jika mas tidak suka aku dekat dengannya, aku akan menjaga jarak dengannya, aku tidak mau mas Daffa merasa terluka melihatku ngobrol dengan pria lain walaupun itu temanku sendiri dan obrolannya juga nggak penting, aku mohon maafkan aku jika tingkahku tidak sengaja menyakiti hatimu," ucap Nadia yang tidak ingin memperpanjang masalah.
🌷🌷🌷
Setibanya mereka di salah satu restoran Korea, Nadia hendak membuka pintu mobil untuk turun, namun tangannya dicegah oleh Daffa.
"Nadia, jangan turun dulu, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu, dan tolong jangan berbohong kepadaku karena dari dulu aku paling tidak suka dengan orang yang suka berbohong," ucap Daffa dengan suara agak meninggi.
"Mas Daffa mau nanya apa?" tanya Nadia hati-hati, takut membuat suaminya akan memarahinya lagi.
"Apakah benar tiga hari yang lalu kamu ke perusahaanku dan mendengarkan semua pertengkaranku dengan kakek?" tanya Daffa sambil mencari kebenaran dari manik istrinya.
"Degg!" astaga, apakah Rio menceritakan tentang kedatanganku ke perusahaan mas Daffa?" tanyanya membatin.
Nadia hanya tertunduk dengan tubuhnya yang sudah hampir lepas semua sendi-sendinya. Ia tidak mampu lagi bersandiwara dihadapan suaminya setelah Daffa menelanjangi kebohongannya.
"Kenapa diam?" apakah kamu ingin aku memaafkanmu?" kamu berani sekarang bermain teka-teki denganku!" bentak Daffa membuat Nadia seketika terperanjat dari duduknya.
Nadia memainkan jari-jarinya untuk menghalau perasaannya yang kalut, rasanya ia ingin pingsan lagi setelah ketahuan berbohong kepada suaminya. Ia menelan salivanya dengan kasar, bingung harus mulai dari mana untuk menjawabnya, jika ia menjawab apakah Daffa mau memaafkannya?" pertanyaan demi pertanyaan mulai menggerogoti otaknya yang sejenak menjadi tumpul karena amarah suaminya.
"Nadia!" bentakan suaminya langsung dijawab oleh Nadia dengan perkataan buru-buru..
"Apakah semuanya akan berubah jika aku berkata jujur kepadamu?"
bukankah mas Daffa juga tidak berdaya dengan pilihan yang diajukan kakek Subandrio?" apa yang bisa mas lakukan dengan nasib pernikahan kita jika mami dipertaruhkan dalam masalah ini karena gadis yang sudah dihamili mas?" tanya Nadia memberanikan dirinya untuk balik bertanya sebagai jawaban atas pertanyaan suaminya, dengan kembali bertanya, membuat Daffa sekarang yang mati kutu setelah ditembak dengan kata-kata yang menyakitkan hatinya yang diucapkan Nadia. Nadia kembali menyambung ucapannya yang masih menumpuk didadanya.
"Aku tidak mempermasalahkan masa lalumu karena aku ingin memahami alasan yang menyebabkan mengapa mas selalu berpetualang cinta dengan wanita manapun. Aku berusaha menerima mu apapun keadaan dirimu tanpa banyak menuntut dirimu menjadi laki-laki sempurna. Walaupun begitu aku terus berdoa agar Allah yang akan membolak-balikan hatimu agar bisa menerimaku dan belajar mencintaiku apa adanya bukan ada apanya. Untuk apa memohon kepadamu agar kamu harus meninggalkan tabiatmu yang buruk, bukankah lebih baik aku mendatangi langsung kepada Sang Pemilik hatimu melalui doa disetiap sujudku?" ucap Nadia dengan suaranya sudah mulai parau karena menahan tangisnya agar ia bisa menyelesaikan setiap kata-katanya supaya tidak tersendat mengucapkan kepada suaminya.
Sekarang giliran Daffa yang tidak bisa berbuat apa-apa, dengan perkataan istrinya yang sedang menguliti hatinya, kata-kata itu tenang namun perlahan menyusup kedalam sanubarinya. Keberaniannya yang tadi berapi-api berganti menjadi seperti maling yang sudah ketangkap basah oleh pemiliknya. Betapa tidak, gadis sealim Nadia rela berkorban untuk menerima dirinya yang nota bene play boy kelas kakap yang setiap saat berganti wanita hanya untuk menjadi pelariannya.
Sangat konyol bukan lelaki bejat sepertinya harus dipertemukan oleh takdir dengan menikahi gadis yang berparas cantik, hampir sempurna tanpa cela yang tidak tertoreh oleh dosa walaupun itu ada, walaupun dosanya itu ada namun akan terhapus dengan sholat atau ibadah lainnya yang akan menggugurkan dosanya. Ironis bukan, lelaki bajingan dan gadis sholehah tinggal seatap dengan ikatan pernikahan.
Apakah ini rencana Tuhan, supaya ia kembali ke jalan yang benar, jika iya, mengapa harus terhalangi oleh seseorang yang ingin merebut lagi kebahagiaannya yang baru saja ia raih?" Pertanyaan demi pertanyaan menghinggapi hatinya, ia juga tidak rela meninggalkan istrinya yang sangat ia cintai, dengan ia memiliki bidadari ini, perempuan diluar sana, menjadi hambar untuk dilihat apa lagi untuk disentuh.
Walaupun terlambat melihat kecantikan istrinya, tapi bagi Daffa sekali menatap pesona kecantikan gadis yang berada disampingnya ini seolah telah merantai hati dan jiwanya bahkan mata dan gerakan kaki serta tangannya.
__ADS_1
Kecantikan wanita diluar sana telah tergantikan oleh seorang Nadia yang setiap saat membuat hatinya bergetar, bahkan begitu gelisah ketika sudah berjauhan dengan istrinya.
"Nadia jika aku meninggalkanmu bukankah aku sedang menggali kuburanku sendiri karena duniaku kembali gelap dan hampa tanpamu sayangku. Mengapa takdir begitu kejam kepadaku, ketika aku baru mulai menyusun rapi amal dan imanku di dalam jiwaku yang baru ku tanam dan belum sempat ku tuai?" tanyanya dalam lamunan.
Lama keduanya terdiam, tenggelam kedalam pikiran mereka masing-masing. Karena merasa bosan didiamkan Nadia akhirnya memakai lagi cadarnya lalu turun dari mobil. Daffa yang ketakutan istrinya kabur lagi darinya, ikut turun dan menyusul langkah kaki Nadia.
"Nadia sayang kamu mau ke mana?" tanya Daffa lantas meraih pergelangan tangan istrinya.
"Bukankah mas Daffa membawaku ke sini ingin mengajakku makan siang?" tanya Nadia mengingatkan suaminya yang sekarang terlihat kembali cerah wajahnya.
"Alhamdulillah sayang, ku kira kamu akan kabur lagi dariku sayang, akan sulit sekali menemukanmu, jika kamu sudah mulai ngambek lagi." gumamnya dalam hati.
"Ok, kita makan siang sayang!" ajaknya sambil merangkul pundak istrinya.
Keduanya memasuki restoran Korea Selatan yang sedang naik daun itu tentunya sudah bersertifikat halal dari MUI.
Ada banyak restoran korea di Jakarta yang menawarkan makanan khas Korea yang otentik.
Mereka mengambil tempat sedikit jauh dari para pengunjung agar lebih privasi.
Nadia menarik buku menu yang ada dihadapannya, sesaat ia melihat menu yang tertera yang disesuaikan dengan lidahnya.
Makanan negeri Ginseng seperti bibimbap, gimbab, japchae, Samgyetang, dan masih banyak lainnya dapat mereka nikmati di sini.Â
Nadia memesan salah satunya dan ia melirik suaminya yang sedang bingung mau makan apa.
"Mas Daffa mau makan apa?" tanya Nadia kemudian, yang ditanya kembali menatap wajah istrinya.
"Aku ikut kamu saja sayang," sahut Daffa mengembalikan pilihan menunya kepada istrinya.
"Tapi selera kita belum tentu sama sayang?" protes Nadia yang sudah menulis pesanannya.
"Apapun bagian dari dirimu hingga menu pilihan yang kamu pesan mulai hari ini, aku akan mengikuti selera makanmu, karena pilihanmu tidak akan pernah salah untuk kebutuhan perutku." ucap Daffa tegas dengan ekspresi wajah serius.
"Baiklah, kita akan makan dengan menu yang sama, berhentilah menatapku dengan wajahmu yang nakal itu." pinta Nadia yang tidak kuat melihat pupil mata suaminya yang terus menatapnya yang pada akhirnya akan berakhir di pembaringan.
"Apakah kamu lebih suka diperhatikan lelaki lain daripada suamimu sendiri Nadia?" tanya Daffa dengan nada sindir.
"Apakah mas ingin merusak acara makan siang kita dengan bumbu cemburumu yang akan menghilangkan selera makan siang kita hari ini?" tanya Nadia membungkam mulut suaminya.
"Sayang mengapa kamu selalu menjawab pertanyaanku dengan balik bertanya?" sungut Daffa yang sudah menaikan satu oktaf suaranya kepada Nadia.
"Berdebatnya nanti saja sayang tuh, pesanan kita sudah datang," ucap Nadia yang kembali meredam amukan suaminya terhadap dirinya membuat lelaki dihadapannya ini menahan emosinya. Nadia tersenyum dalam hatinya karena dengan mudahnya ia mampu mengendalikan sifat arogan suaminya. Entah kekuatan apa yang dimiliki gadis ini seorang Daffa menjadi penurut dalam waktu singkat.
Keduanya menikmati makan siang mereka dengan saling memberikan lauk daging yang terdapat di panggangan di atas meja mereka. Sesekali mereka melempar pandangan dengan saling bergantian senyum. Keduanya seakan sedang bermain untuk memerankan sandiwara disaat hati mereka sedang dilanda masalah yang sangat pelik. Mungkin keduanya ingin menghabiskan kebersamaan mereka yang akan berakhir entah itu kapan dimulai persidangan perceraian yang akan memisahkan keduanya, ketika cinta mereka sedang bersemi dengan indahnya.
Rasanya keduanya ingin berontak, melawan setiap tekanan yang datang menghadang cinta mereka, namun mereka bisa apa, jika seorang ibu menjadi pilihan yang harus mereka relakan untuk melepas kebahagiaan itu yang saat ini sudah terbentuk sempurna. Tidak ada yang mampu melawan takdir kecuali Allah yang merubah takdir itu sendiri.
__ADS_1