
Daffa memegang pipinya yang sakit, darah keluar dari sudut bibirnya. Nyonya Laila dan Nadia sangat shock melihat tuan Fahri menyerang Daffa tiba-tiba.
"Apa salah putraku, mengapa kamu memukulnya?" tanya nyonya Laila yang sudah tersulut emosinya karena perlakuan tuan Fahri kepada putranya.
"Dia telah mengabaikan putriku yang lagi hamil tua hingga ia mau melahirkan, sedikitpun tidak ada perhatiannya sama sekali kepada putriku dan lebih menyakitkan kami, putriku harus menyaksikan adegan kemesraan putramu dengan wanita ini, apa lagi sekarang dia rujuk lagi dengan wanita ini tanpa ijin Anjani." teriak tuan Fahri begitu murka di depan Daffa dan juga Nadia serta nyonya Laila.
"Aku tidak perlu ijin siapapun untuk rujuk lagi dengan istriku Nadia apa lagi itu adalah Anjani, lagi pula dia tetap istri pertamaku, untuk alasan apa aku harus minta ijin dari Anjani, lagipula Nadia sedang mengandung anakku dan aku berkewajiban untuk mengurusnya apa lagi hanya dia satu-satunya wanita yang aku cintai bukan putrimu Anjani, dia hanyalah sebuah kesalahan yang telah ku perbuat padanya." ujar Daffa menatap tajam mata tuan Fahri, tatapan membunuh akhirnya terlihat juga, mata yang membuat orang tidak mampu berlama-lama berurusan dengan lelaki tampan ini.
Lain halnya dengan ibunya Anjani, kini gilirannya ia yang melabrak Nadia, tidak tanggung-tanggung, ia berteriak dengan lantang sengaja mendoktrin pengunjung rumah sakit yang ada di sekitar situ, untuk mempermalukan Nadia.
"Hei kau wanita pelakor yang tega merebut suami orang demi anak yang kau kandung itu, dasar perempuan mura**han!" ucap ibunya Anjani seraya ingin menampar pipi Nadia, namun tangannya dicegah oleh nyonya Laila sehingga tamparan itu tidak mencapai pipi mulus itu.
"Hati-hati nyonya Dyah, jangan coba-coba menyentuh menantuku, walau itu hanya bagian dari pakaiannya." ucap nyonya Laila geram pada ibunya Anjani lalu menghempaskan tangan itu dengan kasar.
"Cih, nasib kalian sama, sama-sama pelakor." ucap nyonya Dyah dengan menarik sudut bibirnya ke atas.
"Nggak salah nyonya, bukankah Nadia itu adalah istri pertamanya putraku dan Anjani masuk ke kehidupan pernikahan mereka dengan memanfaatkan kehamilannya untuk memisahkan mereka berdua. Dan sebentar lagi, kita akan tahu kebohongan putrimu dengan cucumu yang sekarang sudah hadir ke dunia." ucap nyonya Laila yang masih menimpali hinaan besannya ini.
Ditengah pertengkaran mereka, datanglah pihak keamanan rumah sakit memberi peringatan kepada mereka untuk tidak membuat keributan disini. Semuanya tampak diam. Daffa mengajak mami dan istrinya pulang, ia tidak berminat lagi untuk memberi empatinya kepada bayinya Anjani.
"Ayo kita pulang mami, Daffa tidak ingin berurusan dengan keluarga ini, secepatnya Daffa akan menceraikan Anjani setelah melakukan tes DNA kepada bayinya." ucap Daffa lalu menarik pergelangan tangan dua wanita beda usia ini mengajak keduanya pulang bareng.
"Daffa berhenti!" atau kamu ingin aku permalukan keluargamu disini hhmm!" ancam tuan Fahri yang tidak ingin menantunya itu meninggalkan rumah sakit tanpa melihat putrinya yang baru melahirkan cucunya.
Bukannya berhenti, Daffa malah mempercepatkan langkahnya sambil menarik tangan Nadia dan maminya. Nadia yang sejak tadi menangis tidak bisa lagi mengikuti langkah kaki Daffa yang terlalu cepat berjalan.
"Mas Daffa, perutku keram." ucap Nadia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Daffa.
Daffa menghentikan langkahnya, melihat keadaan Nadia yang sudah tersengal-sengal nafasnya karena lumayan lelah. Daffa yang melihat ada kursi roda nganggur didepan mereka, mengambil kursi roda itu dan meminta Nadia untuk duduk, ia pun mendorong kursi roda itu menuju parkiran mobilnya.
Setelah berada didalam mobil, mami Laila menenangkan menantunya, ia memeluk gadis malang itu yang selalu mengorbankan perasaannya untuk orang lain.
"Mami, apakah tindakan Nadia salah, menerima rujukan lagi dengan mas Daffa?" tanya Nadia dengan masih terisak.
"Tidak sayang, kamu tidak salah, kamu wanita yang sangat dicintai Daffa putraku, kamu adalah pelabuhan terakhirnya, setelah sekian lama berlayar dari hati ke hati, dia memilihmu karena akhlaq muliamu, karena dirimu, dia belajar mengenal ilmu Allah, mengubah adabnya dengan ilmu yang kamu tularkan kepadanya, kamu mengubah pribadinya yang kasar menjadi santun, yang keras menjadi lembut, kamu segala baginya, jika kamu melepaskan cintamu pada Daffa demi wanita itu, maka hidup Daffa akan hancur nak." ucap nyonya Laila yang juga ikut menangis menasehati Nadia, menantu kesayangannya itu.
"Sayang tetaplah bersamaku, jangan terpengaruh oleh ancaman orang lain, kita harus kuat ya." ujar Daffa sambil mengendarai mobilnya.
Mobil itu terus melaju melewati jalanan ibukota menuju mansion ibu mertuanya Nadia. Nyonya Laila yang masih merasa shock tetap beristighfar tanpa henti, ia terus berdoa semoga Allah melindungi putra dan menantunya ini.
🌷🌷🌷🌷
Beberapa menit kemudian, mobil Daffa sudah memasuki mansion maminya. Di dalam mansionnya sudah ada tuan Edy Subandrio yang sedang menanti istrinya pulang dari rumah sakit. Daffa yang tidak mengetahui ayahnya ada di mansion itu, ikut turun bersama Nadia menemani maminya.
__ADS_1
Nyonya Laila sengaja mengundang keduanya untuk makan malam bersama. Ketika memasuki mansion itu, Daffa sedikit kaget melihat ada ayahnya. Iapun berusaha menyalami ayahnya walaupun ia sendiri tidak menyukainya. Nadia menyapa ayah mertuanya itu, yang jarang ia temui selama menikah dengan Daffa.
Tuan Edy lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menemani putra keduanya dan istri pertamanya yang berada di Amerika karena sedang menjalani perawatan. Jadi kalau berada di Indonesia paling tiga bulan sekali mengunjungi istri mudanya ini, yang tidak lain adalah nyonya Laila.
"Assalamualaikum!" ayah, kapan datang? tanya nyonya Laila dengan wajahnya berbinar cerah ketika melihat pujaan hatinya sudah tiba di Indonesia.
"Waalaikumuslam sayang, maaf baru sekarang datang mengunjungimu." ucap tuan Edy seraya mengecup bibir istrinya.
"Sebentar ya sayang, ada kabar bahagia untukmu, aku sengaja tidak ingin mengabari kabar gembira ini kepadamu melalui telepon karena ini sangat membanggakan kita berdua sebagai orangtua Daffa, dan kebetulan sekali Daffa dan Nadia berada di sini." ucap nyonya Laila mengadu kepada suaminya.
"Ada kabar baik apa sayang?" tanya tuan Edy memeluk pinggang istrinya dengan mesra sembari menghadap ke arah Nadia dan Daffa.
"Nadia sekarang sedang hamil cucu pertama kita dan usia kandungannya sudah empat bulan dan mereka berdua sudah rujuk kembali." ucap nyonya Laila sambil tersenyum kepada pasangan muda ini.
"Wah, ini kabar yang sangat.. sangat gembira untukku, ayah bahagia mendengarnya sayang. Dan selamat Daffa kamu sekarang sudah menjadi calon ayah dan Nadia terimakasih sudah kembali untuk putraku Daffa, selamat atas kehamilanmu nak.
"Sama-sama ayah, mohon doanya semoga kandungan Nadia selalu sehat sampai Nadia melahirkan nanti." ucap Daffa tulus kepada ayahnya.
Sekilas tidak ada yang ganjil dari hubungan tuan Edy dan nyonya Laila, pasangan yang sudah berusia paruh baya ini nampak bahagia. Lantas apa yang salah, kelihatannya tuan Edy sangat sayang kepada ibu mertuanya, itu yang saat ini sedang Nadia pikirkan.
"Ayo kita makan malam dulu, sebelum Nadia dan Daffa beranjak pulang ke apartemen mereka." ucap nyonya Laila lalu meminta para pelayan menyiapkan makan malam untuk mereka.
Keluarga ini menjadi lengkap karena sudah ada anak, menantu dan suami tercinta, nyonya Laila merindukan suasana kekeluargaan ini, yang sudah lama ia impikan. Makan bersama dan becanda bersama tanpa ada pengganggu di tengah kebahagiaan mereka. Di saat mereka sedang merayakan kebersamaan mereka dengan datangnya dua kabar gembira sekaligus, kakek Subandrio datang dengan teriakannya yang lantang hingga mengagetkan keluarga tuan Edy.
"Edy di mana kamu, anak bodoh!" ucap kakek Subandrio garang sambil melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan.
"Rupanya kalian ada di sini, sedang bersenang-senang ketika Anjani menderita di rumah sakit karena melahirkan cucumu yang cacat karena putramu yang bajingan ini. Dasar anak perempuan pelac**r!" teriak tuan Subandrio Diningrat lantang sembari melayangkan tongkatnya ke arah tubuh Daffa namun dengan reflek tuan Edy bangun memeluk putranya hingga tongkat itu mengenai punggungnya.
"Akkhhh!" pekik tuan Edy menahan sakit pada punggungnya.
Tindakan tuan Subandrio Diningrat memancing teriakan spontan Nadia dan nyonya Laila bersamaan. Tuan Edy kembali berdiri tegak, entah kekuatan dari mana, ia yang dari dulu menjadi anak penurut, kini berbalik 360 derajat untuk menyerang papanya yang telah menghina istri dan putranya di hadapannya.
"Hentikan omong kosong papa mengenai istriku Laila. Papa sangat tahu jika Laila tidak seperti yang dituduhkan keluarga istri pertamaku untuk menghasut papa selama ini. Sudah cukup papa menghinanya, sudah cukup papa mengancamku untuk memisahkan aku dengan istriku dengan dalih keturunan bahkan putraku yang harus menderita selama ini karena aku tidak pernah menyayanginya. Sekarang keluar dari rumahku, jika aku mau ingin rasanya aku menjebloskan papa ke penjara karena papalah yang telah menghancurkan masa depan Laila ..?"
"Hentikaaann ayahh!" kata-kata tuan Edy terhenti karena nyonya Laila tidak ingin suaminya meneruskan perkataannya.
"Sayang, tolong jangan membuka aib ini dihadapan Daffa dan Nadia, mereka tidak pantas tahu ini, aku mohon sayangku." ucap nyonya Laila bersimpuh dibawah kaki suaminya.
"Biarkan saja mami, biarkan anakku dan menantu kita tahu siapa tuan Subandrio Diningrat sebenarnya, dia yang telah berkomplot dengan ayah dari istri pertamaku Maya yang menghancurkan keluargamu, demi ambisi harta milik ayahmu yang sengaja diambil alih oleh orangtuaku yang menjijikkan ini." ucap tuan Edy yang tidak ingin lagi menutupi aib papanya dengan ayah
mertuanya dari istri pertamanya.
Tuan Subandrio, langsung tercengang ketika mendengar pengakuan putranya yang selama ini mengetahui jika dirinya dan tuan Hermanto yang telah membunuh sahabat mereka karena ingin mengusai perusahaan tuan Indra Kusuma ayah dari nyonya Laila.
__ADS_1
Tiba-tiba tuan Subandrio memegang dadanya karena mendapat serangan jantung mendadak. Tubuh kakek berusia 75 tahun itu hilang keseimbangan hingga ia jatuh ke lantai.
Daffa dan ayahnya berusaha membantu sang diktator itu, memapah tubuh renta itu ke sofa ruang keluarga. Beberapa orang pelayan juga ikut membantu. Nyonya Laila menghubungi rumah sakit untuk mengirimkan mobil ambulans ke mansion mereka.
Nyonya Laila mengambil kotak obat, membantu semampunya untuk menolong papa mertuanya ini. Sambil menangis ia terus memanggil nama papa mertuanya untuk segera sadar. Nadia yang sangat shock melihat kejadian ini, ikutan limbung dan keadaan ini membuat Daffa kalang kabut menyelamatkan istrinya yang saat ini sedang hamil muda.
"Sayang Nadia!" teriak Daffa menahan tubuh istrinya yang mendadak limbung itu.
Kepanikan keluarga ini makin bertambah. Nyonya Laila beralih ke menantunya Nadia. Daffa membawa tubuh istrinya ke kamarnya pribadinya yang sudah lama tidak ia tiduri karena tidak ingin berada di keluarganya yang selalu membuatnya tertekan.
Ia membaringkan tubuh Nadia di kasur empuknya. Kamar itu masih sama seperti pertama kali ia tinggalkan. Baru kali ini, ia kembali lagi ke mansion maminya kalau bukan karena alasan yang mendesak.
Dibawah sana ambulans sudah membawa tubuh tuan Subandrio yang saat ini masih belum sadar, ke rumah sakit mewah di sekitar daerah Jakarta Selatan. Hanya tuan Edy yang menemani papanya ke rumah sakit, sedangkan nyonya Laila berusaha menolong Nadia dengan mengantarkan dokter pribadi keluarga itu untuk memeriksa keadaan Nadia.
Dokter Yeni meminta Daffa dan nyonya Laila untuk menunggu diluar kamar, supaya ia bisa leluasa untuk memeriksa keadaan Nadia, menantu keluarga besar tuan Edy Subandrio. Tidak lama Nadia siuman, ia mencari keberadaan suaminya. Dokter keluar untuk menemui Daffa dan meminta pria tampan dan jenius ini menemui istrinya yang sedang mencarinya.
Sekarang tinggal dokter Yeni dan nyonya Laila yang membicarakan keadaan Nadia. Daffa menemui lagi istrinya yang masih terbaring lemah dikamarnya.
"Apakah ini kamar kamu mas Daffa?" tanya Nadia ketika suaminya sudah berada disampingnya.
"Iya sayang, ini kamar aku saat aku masih sekolah dulu, setelah bekerja aku pindah ke apartemen. Apakah sekarang kamu sudah baikan?" tanya Daffa sambil mengelus perut istrinya.
"Aku sudah merasa mendingan. Mas bagaimana keadaan kakek?"
"Aku belum tahu kabar selanjutnya, mungkin sebentar lagi ayah yang akan mengabari kita, kita tunggu saja dulu. Mau pulang ke apartemen sekarang?" tanya Daffa kepada Nadia yang sedikit pucat paska keributan tadi.
"Iya sayang, aku ingin di apartemen kita saja, berdua denganmu saja." pinta Nadia yang sudah tidak betah di mansion nyonya Laila.
Daffa membantu Nadia turun dari tempat tidurnya, Nadia berjalan dengan sangat perlahan. Ketika baru membuka pintu kamar, nyonya Laila sudah masuk ke kamar putranya.
"Nadia menginap di sini saja ya sayang. Kata dokter kamu tidak boleh merasa kelelahan karena kandunganmu cukup lemah. Disini ada mami, banyak pelayan dan juga Daffa selalu siap melayanimu 24 jam. Mami juga merasa tenang kalau kamu dekat sama mami sayang." tanya mami Laila yang cemas dengan keadaan Nadia.
"Baiklah mami, aku tidak akan menolak, jika ini buat kebaikan si baby dan juga untuk kita semua." jawab Nadia yang tidak ingin membuat nyonya Laila makin kuatir kepada dirinya.
"Apakah sudah ada kabar dari ayah mami?" tanya Daffa yang ingin mengetahui keadaan kakeknya.
"Mungkin sebentar lagi ayahmu akan menghubungi mami atau dirimu, sebaiknya kamu temani Nadia. Maafkan kejadian barusan Nadia, seharusnya kamu tidak perlu mendengar ini semua." ucap nyonya Laila merasa sangat tidak nyaman dengan pertengkaran antara suami dan papa mertuanya.
"Nanti Daffa ingin bicara dengan mami lagi setelah menidurkan Nadia terlebih dahulu, Daffa belum puas mendengar penuturan ayah tentang masalalu kakek." ucap Daffa yang merasa keluarga ini memiliki misteri tersendiri.
"Nanti saja sayang, kalau keadaan sudah kondusif, jangan terlalu memaksakan dirimu ingin mengetahui semuanya. Mami keluar dulu, ponsel mami ada di bawah ruang makan, siapa tahu ada telepon dari ayahmu." ucap nyonya Laila yang ingin menghindari pertanyaan dari putranya ini.
Ketika nyonya Laila keluar dari kamarnya, Daffa mengunci pintu kamarnya. Daffa mengganti baju Nadia dengan lengerie baru dari maminya yang masih belum dipakai oleh maminya.
__ADS_1
Nadia membiarkan suaminya menanggalkan baju kebesarannya dan Daffa memakaikan lengerie berwarna cream itu untuk Nadia. Ia kemudian menemani Nadia tidur, membiarkan setengah tubuh Nadia berada dalam pelukannya.
Harum tubuh Nadia sangat merangsangnya, hingga ia dan si junior kecil dibawah sana sama-sama bangkit. Untuk membuat Nadia bisa tidur pulas adalah dengan cara mereka harus melalui sesi bercinta. Tapi sebelumnya itu Daffa membisikkan kata-kata manis dan juga kata-kata yang merangsang yang mengawali sesi percintaan mereka. Ini sangat penting bagi pasangan suami istri karena terciptanya kata-kata vulgar yang diucapkan kepada istri atau sebaliknya kepada suami itu adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh pasangan. Kata-kata nakal dari pasangan selain erangan dan lenguhan akan membangkitkan libido pasangan dalam sesi bercinta, tidak perlu malu jika kita butuh itu, sebagai pelengkap kepuasan kita diatas ranjang.