SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
62. PENYELIDIKAN


__ADS_3

Di mansion nyonya Laila meminta pelayannya untuk memeriksa kembali CCTV yang ada di ruang tamu. Mungkin dengan alat bukti itu Daffa terbebas dari jeratan hukum. Ia pun memanggil pelayan Raka sebagai penanggungjawab bagian keamanan ruang CCTV.


"Raka siapkan segera rekaman CCTV yang ada di ruang tamu," pinta Nyonya Laila.


"Maaf Nyonya, sejak nona muda Nadia tinggal di sini, tuan Daffa meminta saya untuk tidak mengaktifkan CCTV di ruang tamu, ruang keluarga dan ruang makan bahkan ruang dapur." Jawab Raka.


"Apa?" Bukankah selama kami berlibur hampir tiga minggu di Spanyol, kamu bisa mengaktifkannya lagi?" Tanya Nyonya Laila geram.


"Maaf Nyonya, saya tidak melakukannya jika tidak di pinta oleh nyonya dan tuan Daffa."


"Harusnya kamu tanya dong, tanpa diminta, itu tugasmukan?" kecam nyonya Laila.


"Iya nyonya saya lupa melakukannya, mohon maafkan saya nyonya, saya tidak tahu bakalan ada kejadian seperti ini."


"Sekarang apa yang harus kita lakukan jika kita tidak memiliki alat bukti untuk membebaskan putraku dari ancaman hukum. Tuan Fahri akan menindas putraku dengan kesaksian palsunya. Jika Anjani siuman lalu memberikan kesaksian palsu juga akan menambah hukuman berat bagi Daffa." Nyonya Laila mengamuk di depan para pelayannya.


"Maaf Nyonya, di hari kejadian itu mas Daffa meminta kami untuk tidak berada di ruang tamu, jadi kami tidak menyaksikan pertengkaran mereka kecuali suara-suara yang terdengar ketiganya." Jawab Raka.


"Berarti kalian semua mendengar pertengkaran mereka?" Tanya Nyonya Laila menatap satu persatu wajah para pelayan di mansionnya.


"Iya nyonya, hanya suara pertengkaran itu yang mungkin bisa membantu tuan Daffa bisa bebas dari tuduhan tersangka atau pun pelaku utamanya."


"Baiklah, aku akan memanggil pengacara untuk membicarakan ini dengannya. Ia lebih mengetahui seluk beluk hukum pidana seperti ini." Ucap Nyonya Laila, lalu menghubungi pengacara keluarganya.


Nyonya Laila menceritakan kronologi percakapan antara Daffa dan Anjani sebelum terjadinya kecelakaan itu. Namun dari pihak pengacara merasa, jika kesaksian dengan hanya mendengarkan saja tidak cukup dijadikan alat bukti, kecuali melihat dan mendengar langsung di TKP. Nyonya Laila tampak kecewa dengan pengacaranya. Ia pun tidak bisa menyalahkan pengacaranya itu, karena semuanya harus melalui prosedur hukum yang berlaku sesuai undang-undang.


Di rumah sakit Nadia, Nadia hanya menangis ketika mendengar suaminya tidak bisa dibebaskan kecuali mendapatkan alat bukti atau pihak penggugat atau pelapor mau mencabut tuntutan pada Daffa. Ditengah kesedihannya ia didatangi oleh tuan Fahri. Nadia yang sendirian tanpa ditemani siapapun saat itu cukup kaget dengan kedatangan tuan Fahri di kamarnya.


"Assalamualaikum Nadia!" Ucap tuan Fahri datar.

__ADS_1


"Waalaikumuslam Tuan!" Nadia mengangguk hormat pada ayahnya Anjani.


"Kamu pasti sudah tahu siapa saya, lagi pula posisimu sebagai istri Daffa sama seperti posisi Anjani bagi Daffa saat ini.


"Apa kepentingan Tuan sampai menemui saya di sini?" Tanya Nadia merasa sangat takut dengan tuan Fahri.


"Saya datang atas kehendak saya sendiri, saya ingin menolongmu agar kamu tidak bersedih lagi." Jawab Tuan Fahri.


"Apa maksud anda dengan menolong saya, jelaskan secara rinci, agar saya tidak salah paham pada anda tuan." Nadia masih tidak mengerti ucapan ayahnya Anjani.


"Begini Nadia, jika kamu sangat mencintai suamimu, bagaimana kalau kita buat suatu kesepakatan yang saling menguntungkan. Kamu harus menandatangani perjanjian ini yang menyatakan kamu akan menceraikan Daffa dan aku akan mencabut tuntutan hukum pada Daffa, apakah kamu bersedia berkorban sedikit untuk suami tercintamu itu nona Nadia?" Bujukan Tuan Fahri yang ingin menggoyahkan keyakinan Nadia.


"Mengapa anda sangat menginginkan saya menceraikan suami saya, apa tujuan anda?" Nadia mulai tersulut emosi.


"Aku hanya tidak ingin putriku menjadi seorang janda, lagi pula di keluargaku sangat pantang mengenal kata cerai. Itupun kalau kamu bersedia nona Nadia, kalau kamu tidak tega melihat suamimu mendekam di jeruji besi sesuai dengan perbuatannya karena sudah mencoba membunuh putriku."


"Suamiku bukan pembunuh, jika tidak ada saksi untuk membebaskannya dari tuduhan anda, ada Allah yang akan menjelaskan semuanya dengan caraNya. Jadi anda jangan terlalu percaya diri tuan Fahri. Nadia masih ngotot menimpali tuduhan yang tak berdasar tersebut.


"Suamiku bukan pembunuh, anda salah besar tuan Fahri, anda hanya ingin mendapatkan tujuan anda dengan memanfaatkan suatu kesempatan yang anda pikir akan menguntungkan anda." Ujar Nadia tidak mau kalah.


"Baiklah, hukum yang akan berbicara nona, keyakinanmu akan goyah jika kamu melihat suami tercintamu tidak kuat menahan dinginnya lantai penjara. Ini kartu nama saya, mungkin kamu akan berubah pikiran sejalannya waktu dengan begitu kamu bisa menghubungi saya," ucap tuan Fahri menyerahkan kartu namanya pada Nadia.


Setelah berkata seperti itu, tuan Fahri meninggalkan kamar inap milik Nadia dan kembali ke kamar putrinya yang kebetulan satu lantai dengan Nadia , khusus untuk lantai pasien VVIP.


Nadia mendengus kesal, rasanya ia ingin teriak dengan ujian yang datang bertubi-tubi kepadanya. Tapi kembali lagi, ia hanya bisa pasrahkan kembali kepada pemilik ujian itu sendiri yaitu Allah SWT.


Di sel tahanan Kapolda di ruang interogasi, Daffa di cecar dengan sejumlah pertanyaan dari pihak berwajib untuk mendapatkan jawaban dari pihak tersangka.


Pengakuannya tetap dicatat walaupun tidak adanya saksi yang dapat meringankan hukumannya. Pemeriksaan yang dilakukan oleh kepolisian 3x24 jam membuat Daffa cukup setress karena hampir setiap saat ia mendapatkan pertanyaan yang sama dari bagian tim interogasi.

__ADS_1


Seminggu kemudian dari peristiwa itu, Nadia sudah dinyatakan sehat oleh dokter. Ia mendengar bahwa ibu mertuanya sakit keras karena terlalu memikirkan putranya Daffa. Keadaan ini makin membuatnya tertekan. Iapun berpikir mungkin dengan ia menerima kesepakatan dari tuan Fahri suaminya bisa dibebaskan. Ia tidak tega melihat mertuanya sakit keras karena depresi. Nadia memberanikan diri menghubungi tuan Fahri untuk menerima tawaran dari ayah Anjani itu.


"Assalamualaikum Tuan!"


"Waalaikumuslam Nadia!"


"Apakah saya boleh melihat keadaan Anjani?"


"Oh silahkan dengan senang hati Nadia, jika kamu mau melihat keadaan madumu di sini yang belum sadarkan diri." Tuan Fahri merasa jebakannya berhasil.


"Baik Tuan, saya akan segera ke situ. Ada yang ingin saya bicarakan dengan tuan." Jawab Nadia.


"Apakah kamu sudah berubah pikiran Nadia?" Tanya tuan Fahri penasaran.


"Saya belum bisa memastikan sampai saya sendiri membaca isi perjanjian yang anda buat, yang tidak akan merugikan saya."


"Saya tidak akan mengkhianati anda karena surat perjanjian yang ditandatangani oleh anda akan inginkan akan dibuat oleh pengacara saya. Jika anda mau, anda boleh meminta orang terdekat anda untuk menandatangani perjanjian itu sebagai saksi. Jadi ke depannya tidak ada satu pihak pun dirugikan dalam hal ini." Jawab Tuan Fahri untuk mempengaruhi keputusan akhir Nadia.


"Atur saja apa yang menjadi keputusan terbaik untuk keluarga kita. Saya hanya ingin mas Daffa segera dibebaskan tanpa syarat yang memberatkannya di kemudian hari." Nadia menarik nafas berat.


"Baiklah jam berapa anda mau ke sini supaya saya bisa menghubungi pengacara saya terlebih dahulu untuk membawa berkas pernyataan yang akan anda tandatangani nona Nadia."


"Sampai jumpa nanti sore tuan Fahri, karena nanti sore saya sudah diperbolehkan pulang oleh pihak dokter."


"Baik kami tunggu kedatangan anda nona Nadia. Semoga anda tidak berubah pikiran."


"Assalamualaikum tuan Fahri."


Nadia mengakhiri percakapannya dengan Tuan Fahri, ia pun menangis setelah menyatakan keputusannya untuk menyetujui persyaratan yang diajukan oleh tuan Fahri agar ia bisa melihat kebebasan suaminya.

__ADS_1


"Sungguh pengorbanan yang mahal, mendapatkannya cukup sulit, merelakannya pun membuatku hampir mati, mas Daffa apakah ini sudah nasib pernikahan kita hanya sampai di sini?" Tangisnya terdengar memenuhi ruangan kamarnya.


🔥 Mohon votenya untuk hari ini ya, pembacaku yang baik hati, terimakasih 🔥


__ADS_2