
Bel pintu apartemen berbunyi, Nadia melihat siapa yang datang di layar kamera pintu, ternyata kurir pengantar paket. Ia merasa tidak memesan apapun di belanja online, tapi mengapa ada kurir pengantar paket yang datang ke apartemennya.
"Apakah itu paket untuk suamiku," ucapnya membatin."
Ia kemudian membuka pintu kamar apartemennya untuk menemui kurir itu.
"Atas nama ibu Nadia?" tanya petugas kurir itu untuk memastikan nama penerimanya.
"Iya, itu nama saya bang." ucap Nadia kepada kurir itu.
"Tolong paraf di sini, bu." pinta kurir itu pada Nadia sambil menunjukkan kertas yang harus diparaf oleh Nadia.
Nadia menghamburkan parafnya sebagai bukti telah menerima paket itu.
"Terimakasih bang," ucap Nadia singkat.
Ia membawa paket itu dan melihat nama pengirim yang telah mengirimkan paket itu untuknya. Gadis cantik itu tersenyum senang dengan wajah berbinar ketika membaca nama pengirimnya.
"Mas Daffa!" ya Allah suamiku mengirim paket untukku?" apa ya kira-kira isinya?" ucap Nadia yang sudah penasaran ingin cepat-cepat membuka paket tersebut.
Gadis muda itu kemudian membuka paketnya, setelah dilihat isinya ternyata tiga lengerie dengan warna berbeda. Ada juga pakaian dalam yang warnanya sesuai dengan masing-masing lengerie tersebut. Nadia menatap bahan tipis itu.
"Ya Allah, ini sama saja aku nggak pakai baju. Transparan seperti ini?" astaga, ada-ada saja kerjaan suamiku. Baiklah sayang, jika ini bagian ibadah pertamaku untukmu, aku akan melakukannya dengan senang hati." ucap Nadia sambil tersenyum bahagia.
Ia kemudian mencoba mengenakan lingerie itu satu persatu. Timbul idenya untuk mengambil gambar dirinya saat ia sedang mengenakan lingerie transparan yang berwarna hitam.
Sudah empat hari Daffa berada di Tokyo Jepang. Di negara tersebut tujuannya hanya pada perusahaan asing yang sedang ingin menjalin kerjasama mereka di dunia otomotif. Jika malam tiba, Daffa hanya mengurung dirinya dikamar hotel, walaupun bos perusahaan asing itu sering mengajaknya jalan-jalan ke restoran, hanya untuk makan malam atau sekedar minum untuk menghilangkan tekanan setress dengan banyaknya pekerjaan.
Di pembaringannya Daffa hanya membolak balikan tubuhnya, bingung harus melakukan apa. Dipikirannya hanya ada satu orang yang ingin sekali ia temui yaitu istrinya Nadia.
"Ya Tuhan Nadia, apa yang terjadi dengan diriku saat ini, mengapa wajahmu tidak mau meninggalkan pikiranku. Ini sangat menyiksaku sayang, tahu kalau ini sangat lama mengapa aku tidak meminta fotomu." gerutu Daffa sesal.
Selang berapa menit, bunyi ponsel Daffa terdengar ada notifikasi pesan masuk. Dengan sedikit malas Daffa melihat pesan masuk yang dikiranya itu dari asistennya Rio yang selalu mengirimnya pesan lebih dari jadwal pasien minum obat.
Daffa tersenyum melihat pesan itu dari istrinya Nadia, ia membuka pesan whatsapp itu dan ternyata Nadia mengirimkan tiga foto dengan gaya yang berbeda. Foto pertama adalah gadis itu menggunakan hijab syar'i lengkap dengan cadarnya. Foto kedua hanya jilbab syar'i dan foto terakhir Daffa melihat foto yang membuat bulu kuduknya seketika merinding.
Foto itu memperlihatkan Nadia mengenakan lengerie hitam yang begitu transparan dengan posisi berdiri menggunakan sepatu high heels. Kakinya yang jenjang memperlihatkan pahanya yang mulus tertutup lengerie hitam yang hanya menutupi bagian sensitifnya saja.
Daffa meneguk liurnya yang hampir menetes karena termangu menatap foto istrinya yang sangat seksi. Tubuh Nadia yang hanya menggunakan lengerie tanpa ada dua pembungkus yang selalu menempel di tempat berharganya.
Di foto itu Nadia menuliskan caption.
"Cepat pulang tuan suami, karena aku sedang merindukanmu di pembaringan kita."
__ADS_1
Perasaan Daffa sudah tidak karuan menyikapi foto yang dilihatnya terakhir itu. Daffa menggigit jarinya karena di bawah sana ada yang makin membuat juniornya membengkak.
"Nadia, kamu nakal juga sayang, menggoda suamimu seperti ini. Tunggu kamu istriku, aku akan membuat perhitungan denganmu." ucap Daffa dengan senyum menyeringai nakal sambil menatap foto terakhir istrinya."
Foto pertama dijadikan wallpaper menghiasi cover depan ponselnya. Sedangkan dua foto lainnya, ia menyimpannya di aplikasi tersendiri dengan menggunakan sandi supaya tidak ada yang berniat jahil ketika ponselnya tertinggal atau hilang.
Daffa memandang foto itu sebentar lalu ia membalas pesan istrinya.
"Apakah kamu sudah siap bertempur denganku sayang?"
Jika kamu kalah, jangan salahkan aku kalau kamu tidak akan meninggalkan apartemen kita, karena aku akan mengurungmu, kamu sangat nakal, berani menggoda suamimu ini sayang."
Pesan terkirim, Nadia yang lagi cemas menunggu balasan dari Daffa nampak terkekeh membaca balasan dari suaminya. Ia kemudian membalas lagi pesan itu
"Aku menerima tantanganmu suamiku, kita akan lihat siapa yang akan menjatuhkan lawan duluan, ia yang akan memberi hukuman selanjutnya."
Saling balas membalas pesan hingga membuat keduanya akhirnya lelah dan mengakhiri pesan satu caption manis sebagai ucapan pamit. Keduanya sudah beralih ke alam mimpi berharap akan bertemu lagi di sana, bercinta di alam indah itu sebelum menemukan alam nyata yang menjadi tujuan keduanya dalam penyatuan cinta sesungguhnya.
🌷🌷🌷
Hanya lima hari Daffa berada di Tokyo Jepang, ia meminta perusahaan asing yang ingin berkerja sama dengan perusahaan miliknya untuk mempercepat proses kerja sama mereka. Pihak perusahaan asing itu mengabulkan permohonan Daffa yang memberi alasan dengan mengatakan ada pihak keluarganya yang sedang kecelakaan.
Alhasil kebohongannya membawa keberuntungan, tandatangan kontrak kerjasama mereka diresmikan kedua perusahaan tersebut. Daffa tersenyum puas dan berjanji akan mengunjungi pabrik otomotif yang belum sempat ia telusuri semuanya yang ada di Jepang itu.
"Assalamualaikum Nadia, hari ini aku pulang sayang, bersiaplah untuk menyambut kedatanganku. Aku juga kangen masakanmu sayang."
Nadia membaca pesan dari suaminya. Ia kemudian membalas pesan tersebut.
"Aku sudah menyiapkan diriku untukmu, aku menggantikan seprei baru dan tempat tempur kita sudah siap menerima kehadiran kita dan aku akan memasak makanan kesukaanmu tuan suami dengan rasa cinta yang ku punya untukmu."
Keduanya mengakhiri pesan kemudian kembali melanjutkan aktivitas mereka. Daffa memejamkan matanya menunggu pesawatnya sampai tiba kembali ke tanah air. Nadia melanjutkan mengajar siswanya sampai jam pulang sekolah berakhir.
🌷🌷🌷🌷
Ada hal mengejutkan terjadi hari itu ketika Daffa pulang ke apartemennya yang lebih dulu tiba, sebelum istrinya pulang mengajar.
Karena merasa badannya agak lengket, lelaki tampan ini menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia ingin kelihatan segar saat menunggu istrinya pulang.
Saat berada di dalam kamar mandi, Daffa tidak menyadari jika ada seorang wanita pela**r yang menjadi langganannya dan sudah seringkali ia bawa ke apartemennya untuk melayani dirinya di atas tempat tidur. Karena gadis yang bernama Lia itu mengetahui kode sandi pintu apartemen Daffa, dengan mudahnya ia diam-diam memasuki kamar itu. Ia mendengar suara air gemericik di dalam kamar mandi yang menandakan ada pemilik penghuni apartemen itu. Dengan santainya ia menanggalkan bajunya dan naik di atas tempat tidur Daffa, menunggu sang pujaan hatinya yang masih berada di dalam kamar mandi keluar menemui dirinya yang sedang menanti dengan tubuhnya yang sudah polos.
Nadia yang baru pulang mengajar, merasakan ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Sesaat gadis bercadar ini berdiri lama di depan pintu apartemennya. Ia sudah hafal perangai suaminya yang selalu tiba duluan di apartemen dari pada dirinya. Dengan hati-hati ia membuka pintu itu dan berjalan mengendap-endap menuju kamar suaminya yang sekarang sudah menjadi kamar miliknya juga. Usahanya untuk mengagetkan suaminya malah berbalik pada dirinya.
Sialnya dalam waktu bersamaan keduanya membuka pintu kamar dan pintu kamar mandi secara bersamaan dan keduanya sangat kaget melihat seorang wanita tidur dengan tubuh polos di kamar mereka.
__ADS_1
Keduanya berteriak histeris hingga wanita itu kaget dan melihat ada dua orang yang sedang menatap dirinya. Kesalahpahaman pun mulai terjadi, Nadia jatuh terperosok di daun pintu yang menyangka suaminya baru selesai bercinta dengan wanita murahan itu. Sedangkan Daffa sendiri langsung memarahi wanita itu karena memasuki apartemennya secara diam-diam.
Nadia bergegas berdiri dan melarikan diri dari apartemennya. Ia tidak sanggup melihat peristiwa memalukan yang terjadi di apartemen suaminya. Daffa yang berusaha mengejar tidak mampu keluar karena ia hanya membelitkan tubuhnya hanya dengan menggunakan handuk.
Nadia mengendarai sepeda motornya entah melarikan diri ke tempat mana yang ia akan tuju, sedangkan Daffa kembali ke kamarnya ingin melabrak perempuan pengganggu itu.
"Dasar j**ng, bagaimana mungkin kamu bisa masuk ke apartemenku tanpa seijinku hah!" bentak Daffa dengan menampar pipi wanita pela**r itu.
"Maaf tuan Daffa, bukankah kamu pernah memintaku kapanpun aku boleh datang ke apartemenmu. Aku sudah di sini, tunggu apa lagi sayang, kita bisa bercinta sekarang," ujar Lia sambil memeluk tubuh Daffa dengan tidak tahu malunya.
"Lepaskan, aku tidak akan pernah lagi mau menyentuh pela**r sepertimu karena aku sudah memiliki istri." ujar Daffa geram pada Lia.
"Cih, istri katamu, bajunya saja sudah seperti kain gantungan yang tidak bisa membedakan antara depan maupun belakang ditambah dengan cadarnya seakan menutupi cacat diwajahnya." ucap Lia mencemooh Nadia membuat Daffa makin mengamuk ketika istrinya direndahkan oleh seorang pela**r.
"Apa kau bilang hah?" jangan kau samakan dirimu dengan dirinya, yang lebih menjaga kesuciannya dari lelaki manapun. Tidak seperti dirimu yang sudah sering mejajakan tubuhmu ke pria manapun, keluar kau dari apartemenku atau ku seret tubuhmu yang polos itu keluar dari sini." ancam Daffa kepada Lia yang telah merusak momen berharga yang sangat ia nantikan hari ini.
Lia memungut bajunya dan buru-buru memakainya. Ia kemudian berlalu dari hadapan Daffa dengan wajah tertekuk menahan kesal. Daffa mengantar perempuan itu keluar dari kamar apartemennya. Ia kemudian memanggil teknisi apartemen untuk mengganti kode sandi pintu kamar apartemennya.
"Sial!" mengapa aku sampai lupa mengganti kode sandi pintu untuk mencegah wanita-wanita jala**g yang pernah masuk ke kamar ini. Ya Tuhan bagaimana caraku menjelaskan ini pada Nadia, istriku maafkan aku sayang, maafkan kebodohan suamimu ini." ucapnya lirih seraya duduk di atas sofa di ruang tamu.
Daffa mengenakan pakaiannya lalu menghubungi nomor ponsel istrinya, berkali-kali panggilan darinya tidak dijawab oleh Nadia. Ia mencoba mengirim pesan menjelaskan keadaan sebenarnya bahwa ia tidak melakukan hubungan intim dengan Lia, namun sayang tidak satupun pesannya dibalas oleh istrinya.
"Sayang, apa yang kamu lihat tadi, tidak seperti yang kamu pikirkan karena ini hanya salah paham, aku akan menjelaskan semuanya padamu, sekarang pulanglah atau aku akan menjemputmu. Katakan di mana kamu sekarang sayang, ku mohon Nadia beri aku kesempatan untuk mengklarifikasi masalah ini. Aku mohon Nadia, pulanglah sayang."
Nadia hanya menangis membaca pesan whatsapp dari suaminya. Ia tidak ingin membalas pesan dari suaminya. Saat ini ia hanya merenungkan apa yang harus ia lakukan dengan pernikahannya yang baru seumur jagung. Ia kemudian mengambil air wudhu dan menunaikan sholat mutlak dua rakaat untuk menenangkan hatinya, di salah satu mesjid, di
mana, di tempat yang sama, ia pernah di pertemukan dengan ibu dari suaminya, nyonya Laila.
Setelah menunaikan sholat, ia kemudian membaca Alquran yang ada di aplikasi ponselnya. Kerinduannya pada Tuhannya, ia tumpahkan dengan penuh rasa kecewa. Bulir bening itu terus lolos dari bola mata indahnya. Raut wajah kesedihan yang juga tercampur rindu pada sang suami yang sudah ia buat janji untuk melakukan malam pertama mereka yang sudah lama tertunda.
"Mas Daffa mengapa disaat aku sudah siap menerima semua perlakuanmu untuk bisa memilikimu, malah kamu merusaknya dengan pengkhianatan. Apakah kamu sedang meremehkan perasaanku, apa arti semua pujian dan juga perhatianmu dalam sepekan ini?" apakah begini caramu membalasku?" ucapnya bermonolog.
Hampir dua jam Nadia merenungi diri dengan bertafakur kepada Sang Pemilik jiwanya. Ia terus berdialog dengan hati kecilnya untuk mencari setiap jawaban atas pertanyaan yang makin membuatnya sesak. Namun jawaban itu masih kabur untuk dicerna olehnya.
Nadia tidak bisa memaafkan dan menerima perlakuan Daffa yang sangat jelas membawa masuk wanita murahan itu ke dalam kamar yang akan ia habiskan malam pertamanya yang sudah sejak lama ia belum merasakan kenikmatan malam pertama untuk seorang wanita seperti dirinya. Tidak tahu memulainya karena ia juga ingin merasakan makna sebuah pernikahan seutuhnya.
Lama ia bertanya dan bertanya, entah dengan dirinya sendiri dan dengan Sang penciptaNya.
"Ya Allah, berilah aku petunjuk dan kekuatan serta jawaban atas setiap pertanyaanku pada Engkau ya Allah. Ampuni dosaku jika aku pernah melakukan dosa di masa lalu yang tidak aku sadari hingga membuatMu murka pada hambaMu yang lemah ini,
Ya Allah, yang maha pengasih, rubahlah akhlak tercela suamiku, agar ia meninggalkan jalannya yang membawa dirinya ke pintu neraka-Mu. Tunjukkan jalan bagiku atas kebenaran yang aku harapkan dari dirinya. Persatukan kami ya Allah dengan cinta kasih dariMu.
Ya Robby, aku yakin Engkau memberikan dia untukku, karena aku percaya pilihanMu untukku tidak akan pernah salah, Engkau maha adil ya Allah, berilah keadilan Mu untuk diri, hambaMu yang masih belum begitu memahami suami hamba."
__ADS_1