
"Tidak mereka sedang apa? Kenapa?" Nadia berdiri dibalik pintu mobil Rima melihat seorang polisi menyeret Daffa seperti penjahat.
"Mas Daffaaa!" jangan pergi begitu saja, tak akan kubiarkan mereka menghukummu." Tangis Nadia pecah sambil mengejar suaminya.
"Nadiaaa!" Jangan lari...Tidakkk!" Teriak Daffa ketika melihat istrinya berhenti sambil membungkuk memegang perutnya. Iapun mendorong polisi yang memegang lengan tangannya dan berlari ke arah Nadia.
Keduanya berpelukan sambil terus menangis. Ketika dua polisi ingin mengarahkan senjatanya ke arah Daffa, Kapolda menahannya dan membiarkan sepasang suami istri itu bertemu.
"Aku harus apa, jika kamu pergi begitu saja, bagaimana bisa aku hidup setelah melihatmu di kurung di jeruji besi?" Nadia terisak sedih.
"Kamu belum pulih sayang, bagaimana jika kamu pingsan?" kasihan bayi kita.
"Mengapa mereka membawamu kalau mas tidak bersalah, mas baru tersangka bukan pelaku, mengapa harus diborgol?" Aku tak rela melihatmu diperlakukan seperti ini. Tidak bisa ada yang menolongmu agar kamu terbebas dari tuduhan keji itu?" Nadia terus bertanya tanpa henti.
"Tak akan terjadi apa-apa, walaupun sesuatu terjadi padaku, tetaplah bertahan demi diriku. Aku tak punya penyesalan saat kau memasuki hidupku seperti anugerah, aku pun bersyukur akan hal itu." Ucap Daffa menggenggam tangan istrinya dalam keadaan tangannya diborgol.
"Terimakasih sudah mau mencintaiku mas Daffa, kamu rela meninggalkan semua kesenanganmu, hanya untuk mencintai wanita sepertiku." Ucap Nadia penuh sesak di dadanya yang tak tertahankan.
"Aku yang harus berterimakasih kepadamu, karenamu aku berada di jalan yang benar, karenamu hidupku menjadi lebih berarti, kau dan anak kita adalah nafasku. Jangan pernah berpaling dariku ketika semua orang meninggalkanku. Aku meminta maaf pernah melukai hatimu dengan perkataanku waktu itu bahkan menyakitimu hingga membuatmu berdarah, mengingat semua itu, rasanya tidak cukup untuk memaafkan diriku." Ucap Daffa menyesali perbuatannya.
"Lupakan hal itu, jangan dipikirkan, aku tidak keberatan, jangan kwartir, aku bahkan tidak mengingatnya lagi, setelah mendapatkan cinta kasih darimu sudah menyembuhkan semua luka yang pernah kulewati di awal pernikahan kita. Sekarang bisakah kita bertemu lagi? aku harus bagaimana? apa yang harus kulakukan jika aku merindukanmu sayang?" bibirnya bergetar dengan tangis yang membuncah.
"Tunggu saja dan teruslah berdoa, jika kamu bertanya bisakah dengan orang yang kamu rindukan, itu akan terwujud, karena kekuatan doamu yang akan mempersatukan kita lagi. Yakinkan itu Nadia. Kamu pasti bisa.
Aku mencintaimu Nadia." Pinta Daffa dengan tangis tercekat.
"Aku juga mencintaimu mas Daffa."
Ketika Nadia ingin memeluk lagi suaminya, dua polisi sudah keburu menarik tubuh Daffa hingga pelukan itu terurai. Nadia menangis histeris saat dua polisi kembali membawa masuk suaminya ke dalam kantor polisi untuk di tahan sementara di sel polres setempat.
__ADS_1
"Nadia!" Pekik Rima ketika Nadia jatuh tersungkur ke lantai.
"Aaaaaaaakk!" Bayiku, ya Allah bayiku," ucap Nadia meringis kesakitan.
"Nadiaaa!" Panggilannya dalam pegangan polisi pada dua lengannya.
"Pak lepaskan aku pak!" Istriku sedang hamil, tolong lepaskan sebentar borgolnya, aku berjanji tidak akan lari," Ucap Daffa memohon sambil menangis karena tak mampu lagi ia menahan.
Sambil menghiba belas kasih dari polisi, langit ikut serta merasakan kepiluan dua insan ini. Mendung gelap seketika, gemuruh langit menggetarkan bumi. Gerimis mulai menapaki bumi seakan menaungi dua hati yang dilanda kesedihan tanpa henti.
"Nadia, apakah perutmu sakit sayang?" tanya Daffa setelah ikatan tangannya terlepas dari belenggu hukum karena rasa empati dari pihak berwajib.
"Mas katakan bukan kamu yang membunuh Anjani!" pinta Nadia yang ingin tahu peristiwa itu langsung dari mulut suaminya.
"Dari semua orang yang menganggap diriku adalah pembunuh, kuharap kamu tetap mempercayaiku," ucap Daffa yang ikut duduk sambil berlutut dihadapan istrinya.
"Aku percaya mas tidak mungkin melakukan hal keji itu,... akhhhh sakit mas Daffa!" teriak Nadia yang tidak kuat lagi menahan kontraksi pada rahimnya.
Karena rasa kemanusiaan, Kapolda mengizinkan Daffa mengangkat tubuh istrinya dan dibawa ke rumah sakit. Tiga mobil polisi ikut mengawal mobil Rima yang membawa tubuh sahabatnya ini.
Rio ikut menemani bosnya dalam mobil Rima.
"Nadia mengapa kamu nekat datang melihatku di kantor polisi. Padahal rahim kamu belum kuat." Ucap Daffa sambil menangis.
"Aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak akan membiarkan melihatmu terkurung di penjara walau hanya satu jam." Ucap Nadia sambil menahan sakit.
"Tapi kita kehilangan buah cinta kita sayang." Ucap Daffa menahan sakit dihatinya.
"Maafkan aku mas Daffa, aku tidak sanggup mempertahankan bayi kita." Ucap Nadia lemah kemudian pingsan karena sakit pada rahimnya akibat pendarahan yang sudah tidak dapat dikendalikan.
__ADS_1
"Nadia,.... Nadia...sayang!" Jangan tutup matamu, tatap aku, aku mohon!" hiks...hiks..hiks. Ya Allah cobaan apa ini?" teriak Daffa histeris.
Mobil Rima berkelok-kelok mengikuti mobil polisi yang sudah berada didepan mobilnya untuk menghalau lalu lintas kendaraan yang cukup padat siang itu agar cepat tiba di rumah sakit.
Setibanya mereka di rumah sakit Nadia segera di sambut oleh tim dokter siap masuk ke ruang bersalin untuk melakukan penanganan pada rahimnya. Dokter Risna yang memeriksa keadaan Nadia hanya menggeleng kepalanya kepada rekannya sesama dokter dan dua suster ketika melihat jalur lahir yang sudah keluar Fetus.
"Kandungannya tidak bisa diselamatkan, kita harus melakukan kuret." Ucap dokter Risna memerintahkan dua orang suster untuk mempersiapkan peralatan medis.
Infus dan oksigen kembali di pasang pada tubuh gadis malang itu. Lampu sorot dalam ruangan itu dinyalakan agar mempermudah dokter Risna dan teamnya membersihkan rahim Nadia.
Diluar kamar bersalin, Daffa yang juga berlumuran darah masih duduk termenung dan di awasi oleh empat orang polisi. Tidak lama dokter Risna keluar menemui suami pasien. Daffa bergegas berdiri lalu menghampiri dokter yang menatapnya dengan wajah sendu.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi janin nona Nadia tidak bisa diselamatkan." Ucap dokter Risna dengan tenang.
"Nadia sayang, maafkan aku, aku tidak bisa menjagamu, andai saja aku tidak mengikuti amarahku, mungkin kita tidak akan kehilangan calon bayi kita." Ucap Daffa merasa sangat bersalah.
"Sekarang waktunya anda kembali ke kantor polisi tuan Daffa!" Ucap salah satu petugas polisi yang bernama Beno.
"Baik pak, saya sudah siap kembali lagi ke sel tahanan polres." Ucap Daffa lalu meninggalkan ruang bersalin.
"Tuan Daffa, bagaimana dengan Nadia, jika dia sadar dan mencarimu, apa yang harus aku katakan kepadanya," tanya Rima dengan suara tercekat menahan tangis.
"Rio, tolong temani Rima di sini, sampai kedua orangtuanya datang." Pinta Daffa pada asistennya Rio.
"Baik bos, aku akan tetap di sini menunggu nona muda sadar.
Baru saja Daffa melangkah, kedua orangtua Nadia bersama dengan adik kembarnya menghampiri Daffa yang tertunduk lesu.
"Apakah ini yang kamu bilang cinta? Daffa, jika hanya penderitaan saja yang bisa kau berikan kepadanya. Aku akan meminta putriku untuk menceraikanmu, jika kamu sangat mencintainya, relakan dia untuk bisa hidup bahagia dengan lelaki lain." Ucap Ummi Kulsum tanpa empati sedikitpun pada menantunya ini.
__ADS_1
Polisi menggiring tubuh Daffa tanpa memberi kesempatan lagi ia berbicara dengan anggota keluarga.