SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
79. HAPPINESS


__ADS_3

Nadia mendatangi Farhan yang masih duduk di samping penghulu. Ia ingin menyampaikan rasa terima kasihnya pada laki-laki yang sangat baik hati itu.


"Tuan Farhan, saya tidak akan melupakan kebaikan tuan kepada saya. Terimakasih banyak karena sudah berbesar hati melepaskan saya untuk kembali lagi pada kekasih hati saya. Tapi sebelum saya pergi, saya ingin anda tahu bahwa seseorang yang selama ini diam-diam telah mencintai tuan dan tidak pernah berhenti berdoa agar Allah akan memberikan seorang imam yang sholeh untuk mendampingi hidupnya kelak dan saat ini ia sedang berada di sini.


Maukah anda bersedia menikahinya hari ini agar acara pernikahan ini tidak berlalu begitu saja dengan kegagalan ini?" Nadia menawarkan sahabatnya Rima untuk menggantikan tempatnya dihati Farhan.


"Siapa dia Nadia?" Tanya Farhan penasaran.


"Dia adalah mahasiswimu yang jatuh cinta padamu ketika ia masih duduk di bangku kuliah." Ujar Nadia.


Nadia memanggil sahabatnya Rima untuk mendekatinya. Rima yang malu-malu bertemu dengan Farhan berdiri di samping Nadia.


"Ini sahabatku yang menyimpan perasaannya dalam genggaman Allah. Jika kamu menginginkannya maukah Tuan menikahinya sekarang juga?" Tanya Nadia sekali lagi pada Farhan yang berusaha mengingat gadis yang dikenalkan oleh Nadia padanya.


"Bukankah kamu Derima sahabat dari almarhumah tunanganku Aisyah?" Tanya Farhan.


Derima hanya mengangguk dengan tetap menundukkan wajahnya. Farhan meminta Rima mengangkat wajahnya agar bisa lebih jelas melihat wajah cantik Rima. Iapun tersenyum dan mengangguk menyetujui perjodohan yang dilakukan oleh Nadia.


"Derima maukah kamu menikah denganku?" Tanya Farhan.


Derima mengangkat wajahnya melihat Nadia dan Farhan bergantian. Ia sangat terkesiap mendengar lamaran dadakan dari lelaki pujaannya. Ia mengangguk malu sambil mencuri pandang ke Farhan. Nadia meminta Farhan agar menunggu sebentar agar ia bisa menukar pakaian pengantinnya dengan Rima. Pihak MC meminta para undangan untuk tidak pulang karena pernikahan tetap dilanjutkan dengan mempelai pengantin wanita yang berbeda. Nadia segera menanggalkan gaun pengantinnya untuk Rima gunakan. Ia memakai baju syar'inya yang pernah dibelikan Daffa untuknya.


Di ruang pertemuan itu, pernikahan kembali di gelar. Farhan mengucapkan ijab kabul yang di ikrarkan oleh penghulu sebagai wali nikah Derima. Ucapan Farhan yang lugas dengan satu tarikan nafas di sambut anggukan dan kata sah dari dua orang saksi. Usai ijab qobul berlangsung. Nadia mengantar Derima yang sudah mengubah penampilannya dengan gaun pengantin yang tadi dikenakan oleh Nadia. Derima sangat cantik malam itu. Iapun menerima mas kawin dari lelaki impiannya itu.


"Selamat ya teh Rima, karena Allah telah menjawab setiap doa-doamu." Nadia menyalami Rima dengan memberikan ucapan dan doa untuk pengantin baru ini.

__ADS_1


"Terimakasih Nadia, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya untuk kamu dan tuan Daffa. Cepatlah ke bandara pasti Tuan Daffa saat ini sedang menantimu." Rima memeluk sahabatnya itu. Keduanya saling mendoakan lagi dengan tangisan haru.


"Titip Rima tuan Farhan, saya yakin anda adalah pria yang bertanggung jawab. Maaf kita tidak berjodoh karena Allah sudah memilih jodoh kita masing-masing. Semoga sakinah, mawadah, warahmah... aamiin. Aku pamit tuan Farhan" Nadia segera berlari menghampiri kedua mertuanya dan putranya.


"Mami!" Sapa Nadia lalu memeluk ibu mertuanya yang sangat ia cintai.


Tuan Edy sangat lega mendapatkan kembali bidadari untuk putranya Daffa. Mereka meninggalkan hotel tersebut menuju bandara alexandria Kairo Mesir.


🌷🌷🌷🌷


Di bandara Daffa terus memohon kepada Robby-nya. Ia tidak putus asa akan doanya. Iapun tidak ingin menghubungi orangtuanya ataupun Rima yang masih berada di tempat acara pernikahan. Ia begitu yakin Nadia akan kembali padanya atas ijin Allah.


Tidak lama kemudian mobil pertama datang. Daffa sangat senang dan bernafas lega ketika mobil itu berhenti. Iapun menghampirinya mobil itu langsung membuka pintu mobil. Tapi ketika dilihatnya hanya kedua orangtuanya dan putranya Hafiz. Ia mulai mengigit sudut bibirnya. Dahinya mengernyit kecewa. Degup jantungnya tak beraturan. Rasanya ia ingin teriak namun kerongkongannya terasa kering. Ia menatap wajah kedua orangtuanya yang hanya menggeleng lemah.


Kedua orangtuanya menahan tawa mereka karena sudah berhasil mengerjai putra semata wayangnya itu. Daffa mengambil putranya dari gendongan ayahnya, lalu mengajak orang tuanya menuju pesawat.


"Mas Daffaaaa, tunggu akuuu!" Teriak Nadia mengejar kekasihnya.


Daffa membalikkan badannya dan menyerahkan putranya ke ayahnya. Wajahnya seketika berubah ceria, ia pun berseru dengan memuji nama Tuhannya.


"Maha besar Engkau ya Allah, sesungguhnya Engkau tidak pernah ingkar janji. Janjimu pasti terjadi. Ampuni aku ya Robby," ucapnya lalu merentangkan kedua tangannya menyambut bunganya yang hampir hilang itu.


Nadia yang berlari menghampiri kekasihnya itu, menyambut pelukan Daffa. Keduanya menangis haru. Kedua orangtuanya dan Rio ikut terharu menyaksikan adegan pasangan yang telah melewati semua ujian demi ujian dalam pernikahan mereka. Ketika Daffa ingin mengecup kening Nadia. Fadil menghalangi bibir kakak iparnya ini.


"Eits, sabar mas Daffa, kamu harus menikahi lagi mbak aku, baru boleh cap cup," ucap Fadil yang datang bersama penghulu yang tadi menikahkan Farhan dan Rima.

__ADS_1


Semuanya terkekeh mendengar ucapan Fadil yang menggoda pasangan ini.


"Apakah kita menikah juga malam ini sayang?" Tanya Daffa antusias kepada Nadia ketika mendengar permintaan adik iparnya Fadil.


Rio yang sudah mengetahui rencana kejutan untuk Daffa sudah menyediakan tempat untuk pernikahan pasangan paling fenomenal ini. Mereka pun kembali ke hotel terdekat dengan bandara untuk melangsungkan pernikahan sekitar jam sepuluh malam waktu setempat.


Setibanya di hotel mewah, di kamar suite room, Daffa dan Nadia kembali mengikat janji suci pernikahan. Fadil bertindak selaku wali nikah untuk Nadia menikahkan kakaknya dan Daffa. Bertindak jadi saksi pernikahan adalah Rio dan Tuan Edy Subandrio.


Daffa mengucapkan ijab kabul dengan fasih. Saksi menyatakan sah atas pernikahan mereka. Iapun menangis haru karena sangat bahagia dengan pernikahan yang penuh perjuangan untuk mendapatkan kembali bidadari surganya.


Daffa menyerahkan seperangkat alat sholat dan seperangkat emas berlian yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Iapun mencium kening istrinya begitu pula Nadia mencium tangan suaminya dengan penuh takzim. Dua orang petugas hotel yang diminta oleh Rio untuk mengabadikan momen tersebut.


Fadil memberikan selamat pada kakaknya dan kakak iparnya Daffa. Iapun memberikan doa terbaiknya untuk pasangan ini.


"Semoga tidak ada lagi ujian terberat dalam pernikahan kalian. Semoga selalu bahagia mas Daffa, aku titip kakakku yang paling berharga ini kepadamu. Ia telah banyak berkorban untukmu, ok aku pamit pulang sekalian mau mengantar penghulu. Maaf sudah memaksamu menikah malam ini. Aku ingin mas Daffa menyentuh kakakku atas ridho Allah karena telah dihalalkan." Fadil memeluk keduanya bersamaan.


"Terimakasih Fadil, salam untuk ummi dan Fadhlan." Nadia menyampaikan rasa harunya pada adiknya Fadil.


Keluarga besar itu berbincang sebentar dengan penghulu sebelum meninggalkan hotel. Malam itu mereka tidak jadi pulang ke Indonesia karena Daffa ingin menginap di hotel untuk melakukan bulan madunya bersama sang istri tercinta. Orangtuanya mengangguk bahagia dan pamit ke kamar mereka. Rio memberikan selamat kepada pasangan ini. Ia juga sangat bahagia atas pernikahan kembali bosnya dengan bidadarinya.


Nadia dan Daffa menghabiskan malam pengantin mereka sekaligus menumpahkan segala rindu yang telah memuncak di hati keduanya.


"Sesuatu yang didapatkan dengan mudah, akan hilang dan dilupakan begitu saja, jika sesuatu yang didapatkan melalui banyak rintangan, akan lebih membekas sampai ke dasar jiwa."


By Sindya

__ADS_1


__ADS_2