SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
54. MENINGGAL


__ADS_3

Gema takbir masih bersenandung di setiap mesjid yang ada di kota Jakarta dan sekitarnya. Nadia menyiapkan ketupat dan rendang yang dibawa oleh pak Ramli untuk mereka bertiga. Ketiganya makan bersama sebelum menuju mesjid untuk melakukan sholat Ied.


"Sayang tidak apa-apa jika aku meninggalkanmu sendirian bersama baby Hafiz di sini?" Tanya Daffa yang kuatir dengan keadaan istrinya tanpa ada orang lain yang menemaninya karena semua pada mengikuti sholat Ied hari ini.


"Tidak apa sayang, lagipula kamu tidak lama sholat Ied, jika aku butuh sesuatu, aku bisa minta minta tolong pada suster jaga." Ucap Nadia.


"Baiklah sayang kami berangkat dulu, hati-hati ya, jika ada apa-apa hubungi aku, jika tidak diangkat berarti aku masih sholat." Ucap Daffa seraya mengusap punggung istrinya.


Pagi itu Daffa dan Fadhlan berangkat bersama ke mesjid yang ada di area rumah sakit. Daffa mengecup kening putranya Hafiz dan mencium bibir istrinya. Fadhlan yang menunggu Daffa sedang duduk di luar kamar inap ponakannya itu.


Hari kemenangan umat Islam sedunia ini, dirayakan dengan penuh suka cita, air mata kebahagiaan nampak terasa di keluarga besar Tuan Subandrio Diningrat. Sang papa yang masih mendekam di penjara nampak menangis meratapi dosa-dosanya.


Tubuh rentanya yang makin kurus karena tidak lagi terjamin dengan makanan yang dikonsumsinya, walaupun sebenarnya ia selalu dikirimi makanan enak oleh nyonya Laila, namun teman sekamarnya selalu merampas makanan itu. Jadi kakek tua ini tetap makan nasi yang di masak oleh pelayan penjara. Di tambah lagi tidak sekalipun keluarganya datang mengunjunginya. Hatinya makin pilu mengenang bagaimana ia dulu memperlakukan putra dan cucunya yang sewenang-wenang dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya.


Kini suaranya tidak lagi di dengar, apa lagi mendapatkan perhatian, itu hanya angan belaka baginya. Penyesalan memang selalu datang di ending cerita yang menyakitkan. Buah dari perbuatannya harus ia tanggung disisa hidupnya.


Suara takbir yang menggema di area mesjid rutan Cipinang membuat lelaki tua ini terus menangis di sudut mesjid. Entah kata-kata apa lagi yang harus ia ucapkan kepada Robbnya yang di atas sana. Hanya tangis dan penyesalan lewat tobat dan istighfar.


Penjara memang tempat terbaik untuk menempa mental seseorang. Hanya orang beruntung yang bisa hijrah dari masa kelamnya menuju masa yang penuh dengan cahaya iman di dada nya. Dimalam lebaran, gemaan takbir menyeruak seantero bumi. Hatinya makin teriris mendengar lantunan takbir itu. Air matanya tidak ingin berhenti membasahi pipinya yang makin tirus. Sambil mengikuti gema takbir itu, diikuti Isak tangis.


Keesokan harinya, ia. memakai baju pemberian menantunya Laila yang dikirim melalui sopir keluarga. Ia nampak bersahaja dengan para napi lain yang sudah duduk bertafakur di dalam mesjid. Ia terus berdoa dan memohon sebelum sholat Ied dimulai.


"Ya Allah ampunilah hambaMu yang tak berdaya ini. Masa mudaku telah hilang karena menikmati keserakahanku akan kemewahan dunia.


Ya Rabb, aku rela dan ikhlas jika keluargaku tidak lagi menginginkan diriku karena ulahku yang terlalu angkuh di masa kejayaanku. Tapi rasa sepiku makin menghimpit dadaku ini. Akankah diri ini pantas Engkau ampuni ya Allah?"


Ya Allah ambillah nyawaku setelah semua dosaku sudah Engkau ampuni, agar aku tidak terlalu malu menghadapiMu ya Rabb." Ucapnya sambil berurai air mata penyesalan.


Tidak lama semua jamaah berdiri karena sholat Ied siap dilaksanakan. Para jamaah yang rata-rata penghuni sel ini, sudah berdiri di tempatnya masing-masing, merapatkan saf dan mulai khusu ketika melakukan takbiratul ihram pertama sampai ke tujuh kali di rakaat pertama. Hingga sholat itu berakhir, disujud terakhirnya tuan Subandrio menghembuskan nafasnya yang terakhir.


Jamaah yang bersebelahan dengannya sangat takut karena tuan Subandrio tidak bangkit dari sujudnya, padahal mereka sudah membaca tahyatul akhir dan mengakhiri dengan salam.


Mereka pun mengguncangkan tubuh tua itu, yang nampak tak bergeming hingga ia pun terkulai ke samping dengan wajah tersenyum. Semua yang ada disitu menangis haru dan mengucapkan kalimat istirja.

__ADS_1


Kepala sipir penjara menyampaikan berita duka itu langsung ke tuan Edy yang masih dalam perjalanan untuk mengunjungi papanya bersama sang istri. Iapun sangat syok karena belum sempat sungkeman dengan papa tercinta.


"Innalilahi wa innailaihi rojiuun!" Ucapnya seraya menutup mata mengenang wajah papanya ketika terakhir ia jumpa saat beliau berada di kamar selnya pertama kali.


"Kenapa sayang, ada apa dengan papa?" Tanya mami Laila ketika melihat suaminya menangis.


"Papa sudah meninggal Laila, ia meninggal disujudnya yang terakhir. Pihak penjara ingin membawa pulang papa ke mansion sekarang." Ucap Tuan Edy menahan kesedihannya.


"Allaahummaghfir lahu warham hu wa'aafi hii wa'fu anhu." Doa Nyonya Laila turut bersedih atas kepulangan papa mertuanya ke hariban Illahi. Ayah, apakah kita sebaiknya tetap ke penjara atau balik pulang menunggu jasad papa dirumah?" Tanya mami Laila ingin memastikan tindakan mereka selanjutnya dengan berita duka ini.


"Kita tetap ke rutan mami, tolong kabari Daffa dan juga keluarga Nadia." Pinta tuan Edy pada istrinya.


"Baik ayah." Ucap mami Laila lirih.


Di rumah sakit Daffa dan Nadia saling meminta maaf di hari kemenangan umat Islam ini.


"Mas Daffa, maafin Nadia ya mas," ucap Nadia lalu mencium tangan suaminya penuh takzim.


Keduanya saling berpelukan lalu menghampiri putra mereka yang sudah lebih baik kondisinya saat ini. Demamnya sudah turun sekarang hanya masa pemulihan.


"Kapan bayi kita bisa pulang Nadia?" tanya Daffa yang ingin pulang bersama keluarga kecilnya ini.


"Kata dokter dua hari lagi mas Daffa." Sahutnya.


🌷🌷🌷


Ponsel Daffa berdering berkali-kali. Daffa melihat layar ponselnya dan ternyata itu adalah maminya. Daffa menerima panggilan itu lalu bertanya kepada maminya, tapi tidak lama kemudian iapun nampak kaget mendengar ucapan maminya.


"Apa?" kakek meninggal di mesjid?" tanya Daffa sangat syok mendengar orang yang selama ini paling ia benci kini sudah tiada.


"Ayahmu meminta kamu tidak perlu ikut proses pemakaman. Tungguin saja bayimu bersama Nadia, nanti malam mami baru ke rumah sakit." Ucap mami Laila dengan nada sedih.


"Ada apa mas Daffa, kenapa dengan kakek?" tanya Nadia yang merasa ada hal yang sangat penting yang membuat suaminya syok.

__ADS_1


"Kakek baru saja meninggal saat sholat Ied."jawabnya.


"Semoga beliau Husnul khatimah mas."ucap Nadia lalu berdoa untuk kakek Subandrio.


"Aamiin." jawab Daffa ketika istrinya mendoakan kakeknya.


"Apakah mas ingin pulang?"


"Tidak sayang, kita diminta untuk tetap di sini, lagi pula wartawan pasti datang meliput berita di mansion, aku malas juga meladeni pertanyaan mereka.


"Pergilah sebentar mas, karena beliau ada kakekmu dan juga kamulah penerusnya, hargai keberadaannya walaupun hatimu enggan untuk memaafkannya, tunjukkan rasa pedulimu untuk hari ini." Ucap Nadia menasehati suaminya yang nampak keras kepala.


"Baiklah sayang, jika kamu mengijinkan. Lantas bagaimana dengan baby kita?" tanya Daffa yang tidak tega meninggalkan istrinya berdua saja dengan putranya.


Baru saja Daffa mengawatirkan istri dan putranya. Datanglah kedua mertuanya menjenguk baby Hafiz. Perasaan Daffa sangat bahagia.


"Assalamualaikum Abi, Ummi!" ucapnya lalu menyalami keduanya bergantian dengan permohonan maaf sedalam-dalamnya.


"Waalaikumuslam Daffa maafkan Abi dan ummimu ya nak." Ucap ustadz Aditya.


Ummi Kulsum tidak begitu tulus memaafkan menantunya ini, walaupun begitu ia tidak peduli karena baginya abi sudah cukup untuknya. Setelah acara sungkeman antara mereka Daffa lalu pamit untuk pulang ke mansionnya, iapun menceritakan tentang duka keluarganya hari ini kepada kedua mertuanya. Orangtua Nadia juga syok mendengar berita duka ini.


"Kalau begitu Abi ikut denganmu nak ke mansion untuk menyolatkan jenasah kakekmu." Ucap ustadz Aditya.


"Alhamdulillah, terimakasih Abi. Mari Abi ikut mobil Daffa saja." Ucap Daffa lalu berjalan berdua dengan ayah mertuanya ini menuju rumah duka di kediaman kakeknya.


Sekarang tinggal ummi Kulsum dan Nadia yang sedang menunggu Hafiz yang sekarang sudah bangun. Nadia menggantikan baju putranya setelah ia membersihkan tubuh mungil itu dengan kain waslap. Wajah bayi itu sangat senang saat bertemu lagi dengan bundanya. Ia terus tersenyum melihat wajah bundanya.


"Dede Hafiz sudah sembuh?" tanya ummi Kulsum yang juga senang melihat cucunya untuk pertama kali. Ketika usia bayi itu sudah menginjak lima bulan.


"Sudah nenek," ucap Nadia mewakili putranya.


Anak dan ibu ini akhirnya bercanda dan bermain bersama dengan Hafiz yang sudah mulai membaik.

__ADS_1


__ADS_2