
Menjelang hari raya idul Fitri, keluarga Daffa sibuk mempersiapkan diri untuk menyambut hari kemenangan itu. Dua hari sebelum lebaran Tuan Edy mengundang semua kerabatnya yang masih berada di Jakarta untuk buka puasa bersama termasuk diantaranya keluarga Rio.
Berdasarkan perkiraan dokter kehamilan Hanna dan Nadia hanya hanya beda satu bulan. Nadia hanya menghitung hari untuk menantikan kelahiran bayi kembarnya. Daffa yang trauma dengan kelahiran Nadia yang pernah mengalami koma selalu bermunajat kepada Allah agar kelahiran istrinya kali ini lancar dan ibu serta bayinya dalam keadaan sehat.
Ba'da ashar, keluarga besar ini sudah berkumpul, Ummi Kulsum beserta putra kembarnya sedang bercengkrama dengan Hafiz, Tuan Edy menemani Tuan Ridwan membahas beberapa kajian fiqih yang belum begitu dipahami oleh tuan Edy. Sedangkan Hana, Nadia, nyonya Nur dan nyonya Laila membahas tentang fiqih wanita. Rio dan Daffa menjemput ustadz yang akan memberi ceramah di kediaman Tuan Edy selepas sholat magrib.
Tidak lama kemudian acara yang dinantikan mereka usai buka puasa bersama dimulai. Ceramah yang dibawakan oleh Ustadz muda yang sudah terkenal di aplikasi YouTube itu kini sedang menyampaikan isi ceramahnya dengan judul Meraih Magfirah Allah Di Penghujung Ramadhan.
Keluarga itu nampak khusu menyimak pesan menyentuh hati setiap jamaah yang saat ini hadir di mansion. Tidak terasa air mata mereka luruh di pipi mereka masing-masing hingga ceramah itupun berakhir.
Mereka melaksanakan sholat tarawih berjamaah di kediaman Tuan Edy. Ketika menjelang witir Nadia merasakan pinggangnya begitu sakit. Ia pun mengikuti rakaat terakhir dengan posisi duduk. Umminya menanyakan keadaan putrinya yang dari tadi meringis menahan sakit.
"Sayang, kalau kamu sudah tidak kuat istirahat saja, apa saat ini kamu sedang mengalami kontraksi?" Tanya Ummi Kulsum kuatir.
Daffa melirik ke arah Nadia usai sholat witir yang ditutupi dengan doa. Ia menghampiri dan menanyakan keadaan istrinya yang terus memegang pinggangnya.
"Sayang, apa sudah tidak tahan lagi hmm?" Tanya Daffa ikut mengelus pinggang istrinya.
"Iya mas ini sudah kontraksi setiap sepuluh menit sekali." Sahut Nadia.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya sayang," ucap Daffa lalu meminta pelayan mengambil perlengkapan bayi yang sudah disiapkan oleh Nadia sebulan yang lalu.
Tuan Edy langsung meminta ustadz untuk membacakan doa agar menantunya bisa melahirkan secara normal dan cucunya bisa selamat. Ustadz itu pun mengangkat kedua tangannya bermohon kepada Allah dan membaca alfatihah pada sebotol air mineral untuk diberikan kepada Nadia. Pelayan buru-buru memberikan air itu ketika Daffa sudah berada di dalam mobil. Pak Ramli segera mengantarkan majikannya ke rumah sakit.
Urusan kepulangan ustadz diserahkan ke asistennya Rio dan pelayan. Tuan Edy dan istrinya segera menyusul ke rumah sakit usai acara buka bersama.
🌷🌷🌷🌷
Diruang persalinan, Nadia ditangani oleh dokter Risna, namun pembukaannya baru lima, jadi dokter masih menunggu pembukaan lanjutan. Iapun meninggalkan Nadia dan Daffa di ruang bersalin saling memberikan semangat. Raut wajah Daffa makin tegang setiap melihat Nadia yang hanya terus berdzikir dengan tasbih ditangannya sambil meringis kesakitan. Ia juga membaca banyak istighfar.
"Apakah masih kuat sayang, atau sesar aja biar kamunya tidak merasakan sakit." Daffa menawarkan solusi untuk Nadia.
__ADS_1
"Sayang, memang seperti ini prosesnya, harus merasakan nikmatnya sakit, biar aku tahu bagaimana ummi dulu melahirkan aku, dengan begitu rasa hormat dan cintaku makin bertambah pada ummi dan aku harap kamu juga pada mami harus lebih sayang." Ujar Nadia menasehati suaminya.
Tidak lama Nadia merasakan air ketubannya pecah, ia meminta suaminya untuk memanggil dokter Risna.
"Mas sepertinya aku mau melahirkan karena air ketubannya sudah pecah."
"Benarkah, tunggu sebentar ya sayang" Daffa memencet tombol panggilan untuk dokter Risna.
"Sayang aku minta maaf jika selama ini aku menyakitimu, ridhoi aku suamiku." Ucap Nadia sebelum ia berjuang untuk melahirkan bayi kembarnya.
"Sudah siap melahirkan?" Tanya dokter Risna lembut pada pasiennya.
"Sudah dokter" ucap Nadia yang sudah membuka hijab dan cadarnya siap mengejan. Daffa hanya memberikan semangat dengan terus bertakbir di telinga istrinya.
Dokter Risna memberikan aba-aba pada Nadia dalam hitungan ketiga, meminta Nadia untuk mengejan.
"Bismillahirrahmanirrahim, Allahuakbar!" Nadia berhasil mengeluarkan satu bayinya berjenis kelamin perempuan. Tangis bayinya menggema diruang bersalin tersebut hingga terdengar oleh Oma dan opanya di luar sana.
"Selamat ya jeng, kita punya cucu lagi." Ucap ummi Kulsum haru.
Bayi cantik yang berjenis kelamin perempuan itu diperlihatkan kepada Nadia dan Daffa lalu diletakkan dibelahan dada bundanya untuk mencari sumber makanannya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Nadia mengejan lagi untuk melahirkan bayi keduanya dan ternyata berjenis kelamin yang sama yaitu perempuan. Bayi cantik itu diperlakukan sama seperti saudaranya. Keduanya menyusu belahan dada bundanya.
"MasyaAllah, selamat datang dua bidadariku, kebanggaanku, ucap Daffa lalu mengumandangkan adzan pada keduanya.
"Sayang, perlihatkan Alqur'an kepada mereka sebagai bacaan pertama dalam hidup mereka kemudian berikan mereka sedikit madu untuk mengecapkan rasa dilidah mereka karena itu sunnah Rasulullah pada bayi yang baru lahir." Pinta Nadia kepada Daffa.
"Apakah kamu membawanya sayang?" Tanya Daffa.
"Iya sayang didalam tas baby."
__ADS_1
Daffa melakukan apa yang diminta istrinya pada bayi kembarnya.
Setelah semuanya dirapikan oleh dokter Risna dibantu dua suster, Nadia dipindahkan kamar inap, sedangkan bayi kembarnya di bawa ke ruang bayi.
Keluarga berdatangan keesokan paginya untuk melihat tamu baru Tuan Edy. Rio dan Hanna memberikan selamat kepada pasangan bahagia ini.
"Selamat jadi ayah lagi bos" Rio menyalami Daffa dan memberikan ucapan dan doa terbaiknya.
"Semoga kamu menyusul menjadi seorang ayah. Kapan perkiraan dokter istrimu melahirkan?" Tanya Daffa pada asistennya ini.
"Doakan saja bos, insya Allah bulan depan, bulan Syawal" sahut Rio.
Tidak lama baby kembar datang di bawa oleh suster untuk mendapatkan ASI dari Nadia. Daffa mengajak Rio ke kantin sedangkan Hanna memperhatikan cara Nadia menyusui bayinya.
"Mbak, sakit nggak kalau menyusui bayi pertama kali." Hanna mengamati bagaimana Nadia dengan telaten memberikan ASI untuk bayinya.
"Pertama itu memang rasanya sakit bahkan perih, tapi seorang ibu menahan itu semua demi buah hatinya dan kamu akan mengalaminya nanti jika putramu sudah lahir." Nadia berbicara dengan Hanna sambil menatap. wajah cantik bayi mungilnya yang belum mereka beri nama.
"Sudah menemukan nama untuk baby kembarnya mbak?" Tanya Hanna penasaran.
"Sebenarnya sudah ada, hanya saja belum pas aja untuk dua bidadari cantik ini. Nanti kami pikirkan lagi." Nadia memberikan satu bayinya pada Hanna untuk digendong oleh gadis itu. Ia kemudian mengambil bayi yang satunya lagi untuk disusuinya.
"Mbak Nadia, mengapa bayi selalu menangis ketika baru keluar dari rahim ibunya?" Tanya Hanna sambil menimang bayi milik Nadia.
"Karena mereka sudah terbiasa mendapatkan kasih sayang yang begitu banyak selama dalam kandungan dan ketika keluar mereka merasa dunia tidak lagi sama seperti dalam rahim ibu. Dunia tempat mereka akan diuji, merasakan panas, dingin, sakit dan proses tumbuh yang tidak mudah. Setiap kali mereka bisa melakukan sesuatu pasti sakit dulu, seperti pertama kali bisa merangkak, duduk, berdiri dan tumbuh gigi pasti melewati masa sakit sedangkan selama dalam kandungan Allah sendiri yang merawat mereka. Itulah mengapa bayi ketika lahir langsung menangis." Nadia menjelaskan semuanya dilihat dari kacamata Islam kepada Hanna.
Dua hari kemudian tepat di hari lebaran, usai sholat Ied Daffa menjemput anak dan istrinya bersama abang Hafiz.
Keluarga besar yang menunggu di mansion sudah siap menyambut anggota keluarga baru itu. Dua bayi itu di gendong oleh nyonya Laila dan ummi Kulsum.
Keluarga besar itu mengambil gambar untuk momen bersejarah itu. Beberapa kali jepretan kamera yang diambil oleh salah satu pelayan mengabadikannya momen indah di hari kemenangan.
__ADS_1
Usai foto bersama mereka kembali bersalaman saling memaafkan di hari kemenangan itu. Nadia pamit untuk ke kamar karena masih lelah pasca melahirkan. Daffa menemani istrinya dan membiarkan baby kembar bersama kedua neneknya menemani tamu yang juga datang mengunjungi mereka.