
Daffa buru-buru turun dari tangga menghampiri Anjani yang sudah tergeletak dengan darah yang mengucur dari bibir dan kepalanya. Daffa mendekatkan jarinya pada urat nadi pada leher Anjani yang ternyata masih berdetak. Para pelayan yang tadi berada di dapur berhamburan keluar menemui tuan mereka yang sedang panik.
Tuan Fahri yang melihat putrinya yang jatuh tersungkur dari atas tangga, mendekati putrinya. Ia yang sudah naik pitam karena menantunya ini, membentak Daffa yang ingin membalikkan tubuh putrinya yang masih dalam keadaan telungkup.
"Jauhkan tangan kotormu dari putriku pembunuh!" Bentak tuan Fahri dengan mata menyalang marah.
"Tolong hubungi ambulans pak Ramli," titah Daffa pada sopir pribadi ayahnya.
Tidak lama kemudian Rio baru datang dengan pengacaranya langsung tertegun dengan apa yang mereka lihat saat ini. Sedangkan tuan Fahri menghubungi polisi dengan laporan terjadi pembunuhan dikediaman Tuan Edy.
"Apa yang terjadi bos?" tanya asisten Rio dengan suaranya terdengar gemetar.
Daffa hanya menggeleng lemah, kejadian yang begitu cepat membuat ia tidak bisa berpikir bagaimana peristiwa naas ini terjadi pada Anjani.
"Tuan Daffa tolong ceritakan kepadaku apa yang terjadi supaya aku bisa buat berita acara bahwa bukan anda yang melakukan ini semua." Ucap pengacaranya sangat kuatir dengan keadaan Daffa yang kelihatan sangat terguncang atas kecelakaan yang dialami oleh Anjani.
"Saya tidak tahu." Ucapnya dengan pandangan kosong yang masih menatap tubuh istri keduanya ini.
Tidak lama mobil polisi dan ambulans datang bersamaan. Polisi bergerak masuk ke dalam mansion tuan Edy Subandrio Diningrat untuk mengamankan pelaku. Sedangkan petugas medis membawa tandu untuk mengangkat tubuh Anjani.
"Selamat siang pak!" ucap tuan Fahri kepada polisi.
"Apa yang terjadi tuan, siapa yang melaporkan kami tadi?" tanya polisi kepada tuan Fahri.
"Saya sendiri pak, menantu saya Daffa yang telah sengaja mendorong putri saya dari atas tangga." Ucap tuan Fahri sambil menunjuk ke arah Daffa yang duduk di bawah tangga sambil memperhatikan tim medis yang sedang mengangkat tubuh Anjani yang dipindahkan ke tandu untuk dibawa ke ambulans.
"Apakah korban masih hidup?" tanya polisi itu lagi pada salah satu petugas medis.
"Masih pak, nadinya masih berdenyut." Ucap salah satu petugas medis tersebut.
Kini salah satu polisi itu beralih ke Daffa yang masih duduk termenung ditemani oleh asistennya Rio.
"Selamat siang tuan Daffa, kami mohon kerjasamanya untuk ikut kami ke Polda guna memberikan pernyataan atas kejadian ini, anda boleh berhak didampingi pengacara." Ucap petugas tersebut dengan memasang borgol pada tangan Daffa.
__ADS_1
"Pak, tuan saya tidak bersalah, ini murni kecelakaan," ucap asisten Rio membela bosnya.
"Maaf pak, anda bisa menyampaikan keberatan itu di kantor polisi." ucap petugas polisi tersebut lalu menggelandang Daffa ke mobil polisi yang sudah tunggu di halaman mansionnya.
"Lho ada apa ini? ada apa dengan putra saya? kenapa putra saya di borgol pak?" tanya Nyonya Laila yang baru tiba di mansionnya.
Perasaannya makin bingung ketika melihat mobil polisi dan ambulans ada di depan mansionnya. Mobil ambulans sudah berangkat ke rumah sakit membawa tubuh Anjani yang sedang terluka. Bunyi sirine ambulan mulai bertalu-talu melewati setiap jalan menuju rumah sakit.
"Mami tolong jaga anak dan istriku Nadia," ucap Daffa dengan ekspresi wajah sedih.
"Ada apa denganmu nak?" teriak nyonya Laila histeris melihat putranya dibawa masuk ke mobil polisi.
Sedangkan ditempat berbeda tuan Fahri yang menemani putrinya didalam mobil ambulans sangat terpukul melihat putrinya yang masih belum sadar.
"Anjani bangun nak, jangan seperti ini." Ucap tuan Fahri sedih.
"Sabar tuan, putri anda akan ditangani oleh dokter ahli, setelah kita sudah tiba di rumah sakit." Ucap petugas medis menenangkan tuan Fahri.
Mobil ambulans bergerak cepat untuk segera sampai ke rumah sakit. Sedangkan di mansion sudah berkerumun wartawan untuk mendapatkan informasi tentang pembunuhan yang dilakukan oleh Daffa terhadap Anjani. Pihak keamanan mansion mengusir para pewarta berita infotainment tersebut untuk tidak berspekulasi tentang berita yang masih simpang siur yang akan disampaikan oleh media.
Di sisi lain Nadia yang sedang ngobrol dengan sahabatnya Rima merasakan dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Rima yang ketakutan berusaha memanggil dokter, namun tangannya di tahan oleh Nadia.
"Aduh!" keluh Nadia sambil memegang dadanya yang terasa nyeri.
"Ada apa Nadia? apakah kamu sakit?" biar aku panggil dokter ya." ucap Rima panik.
"Tidak usah teteh Rima, ini hanya sebentar ko." Ucap Nadia yang coba menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan lembut.
Tidak lama ponselnya berdering, Nadia meraih ponselnya di atas bufet dan melihat panggilan masuk dari Fadil. Nadia menerima panggilan itu, kemudian menyapa adiknya itu.
"Hallo, assalamualaikum Fadil!" ada apa?" tanya Nadia.
"Mbak Nadia, tolong nyalakan televisi disitu, ada mas Daffa keluar diberita siang secara live," ucap Fadil.
__ADS_1
"Emang ada apa Fadil? sampai mas Daffa ada di berita siang." tanya Nadia yang merasa tak percaya dengan perkataan adiknya.
"Cepat nyalain tv mbak, entar mbak Nadia akan tahu sendiri." Jawab Fadil.
"Teteh tolong nyalakan televisinya," pinta Nadia pada Rima.
Rima menyalakan televisi dan mencari siaran berita tentang Daffa. Keduanya sama-sama menyimak berita yang disampaikan oleh seorang wartawan tepat di depan gerbang utama mansion.
"Astaghfirullah, ya Allah mas Daffa!" Pekik Nadia histeris hingga membuat Rima mematikan lagi televisi tersebut.
"Nadia jangan percaya dulu dengan berita tersebut, kita harus mendengarkan sendiri dari sumbernya langsung. Hanya tuan Daffa yang bisa menjawab pertanyaanmu. Aku mohon kamu tidak terpengaruh dengan berita yang belum jelas kebenarannya." Ucap Rima menenangkan sahabatnya.
"Rima aku ingin ke kantor polisi sekarang, tolong antarkan aku ke sana!" Pinta Nadia memohon pada sahabatnya ini.
"Nadia kondisimu baru baikan, kasihan janinmu jika kamu nekat ke sana, pasti akan terjadi sesuatu pada kandunganmu." Ujar Rima sangat kuatir dengan keadaan sahabatnya ini.
Nadia tidak ingin menjawab lagi ucapan sahabatnya, ia turun dari brangkar dan mengambil jilbab dan cadarnya. Beruntungnya infus sudah tidak lagi menempel pada punggung nya.
"Baiklah kalau kamu ngotot ingin ke kantor polisi, aku akan mengantarmu, aku mohon kamu jalannya hati-hati." Pinta Rima kuatir dengan keadaan Nadia yang belum benar-benar stabil.
"Iya tolonglah teh Rima, aku ingin bertemu dengan suamiku, aku harus ada di sampingnya saat ini. Ia pasti membutuhkanku saat ini." Ucap Nadia seraya berjalan ke luar dari kamar inapnya.
Suster yang melihat Nadia, berusaha menahannya, namun tekad Nadia yang tidak ingin dihalangi oleh siapapun, membuat suster itupun mengalah dan membiarkan Nadia menemui suaminya.
Nadia yang sudah berada di dalam mobil Rima, meminta sahabatnya ini untuk lebih cepat mengendarai mobilnya. Rima yang berusaha menyalip setiap mobil yang ada di depan kendaraannya, harus ekstra hati-hati untuk bisa sampai ke kantor polisi yang membawa Daffa.
"Cepat teteh, kita harus bertemu dengan mas Daffa" teriaknya histeris. Entah air mata itu datang dari mana, yang sekarang ini sudah membanjiri wajahnya, seolah tidak ingin berhenti membasahi wajahnya yang makin pucat karena berita yang tadi didengarnya.
Karena kantor polisi lebih dekat dengan rumah sakitnya akhirnya mobil milik Rima sampai juga di depan kantor polisi. Dan di saat yang sama Nadia melihat suaminya sedang di giring oleh dua orang polisi ke dalam kantor pengayom masyarakat tersebut.
"Mas Daffaaa!" teriak Nadia kencang, hingga membuat pria malang itu memalingkan wajahnya ke arah suara yang sangat ia kenal yaitu istrinya yang memanggil namanya.
"Astaghfirullah, Nadia!" Ucapnya ketika melihat Nadia berlari ke arahnya.
__ADS_1
"Sayang, jangan larii!" Teriak Daffa kencang.
Bersambung.....?