
Daffa kembali menyetir mobilnya ke arah perusahaannya. Ia masih menunggu balasan pesan dari istrinya. Dengan satu tangannya, ia meraih ponselnya yang ada sebelah jok duduknya, namun ponselnya malah terlepas dari tangannya. Ia kemudian mengabaikannya dan kembali menaikkan laju kecepatan mobilnya. Karena kurangnya konsentrasi, ia tidak melihat kalau sudah berada di lampu merah, kecelakaan pun terjadi, mobilnya tertabrak oleh mobil lainnya dari arah samping kanan.
"Brakkk!" mobilnya oleng berputar sebentar kemudian menabrak trotoar. Kecelakaan pagi itu menimbulkan kemacetan yang sangat parah, polisi bergegas menghampiri mobil Daffa, ketika dilihat, wajah Daffa sudah bercucuran darah segar dari keningnya karena terbentur stir mobil. Ambulans datang tepat waktu, tubuh Daffa di angkut ke atas mobil ambulans itu, oleh petugas ambulans dan polisi yang sedang berjaga di jalan tersebut, Daffa segera mendapatkan pertolongan pertama di dalam mobil ambulans sambil dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Tiba dirumah sakit Daffa langsung ditangani oleh dokter IGD, sedangkan suster menyiapkan apa saja yang dibutuhkan oleh dokter untuk mengobati luka pada pasien Daffa. Dokter melihat luka Daffa yang tidak begitu parah, lelaki tampan ini hanya merasa shock akibat tabrakan hingga ia pingsan.
Pihak rumah sakit menghubungi keluarga Daffa, nyonya Laila sangat terkejut mendengar keadaan anaknya yang sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan lalulintas. Dengan paniknya wanita paruh baya ini berlari keluar dari mansionnya dan meminta sopir pribadinya mengantarkannya ke rumah sakit.
Dalam perjalanan nyonya Laila menghubungi menantu kesayangannya Nadia. Gadis ini tidak mendengar ada bunyi panggilan dari ponselnya yang berada di dalam tasnya. Karena suara murid-muridnya yang sangat berisik, panggilan telepon itu sungguh tidak bisa di dengar oleh Nadia.
"Pasti gadis itu sedang mengajar," pikir nyonya Laila, lalu beralih mengirim pesan kepada menantunya itu.
Tiba di rumah sakit nyonya Laila menanyakan keberadaan putranya pada bagian resepsionis rumah sakit.
"Selamat pagi nona, maaf saya ingin menanyakan putra saya atas nama Daffa, korban LALIN pagi ini." tanya nyonya Laila dengan wajah panik.
"Pasien masih di ruang IGD nyonya, tunggulah di depan ruangan tersebut, nanti dokter akan menemui anda sebagai keluarga pasien." ucap salah satu petugas resepsionis rumah sakit tersebut.
Disisi lain, Nadia yang baru selesai mengajar jam pertama dikelas tersebut mengambil ponselnya. Ia memeriksa banyak sekali panggilan masuk dari nomor ibu mertuanya dan dua pesan whatsapp yang masuk dari nomor yang sama. Ia kemudian membuka pesan tersebut, lalu membaca isi pesan itu, seketika ia berteriak histeris,
"Assalamualaikum Nadia sayang, tolong segera ke rumah sakit karena Daffa mengalami kecelakaan lalulintas."
"Astagfirullah, ya Allah tuan Daffa," pekik Nadia histeris.
Gadis itu meraih tasnya buru-buru menuju kantor kepala sekolah untuk meminta izin ke rumah sakit.
"Tok!"..tok!" pintu dibukanya setelah mendapat perintah dari dalam sana oleh ibu kepala sekolah.
"Assalamualaikum bu Welly, saya mau minta izin ke rumah sakit bu, karena suami saya mengalami kecelakaan lalu lintas." ucap Nadia sedih dan terkesan terburu-buru.
"Waalaikumuslam, innalilahi wa innailaihi rojiuun. Silahkan bu Nadia, semoga keadaan suamimu tidak begitu parah Nadia."
"Aamiin, saya pamit ya bu," ucapnya langsung meninggalkan ruang kepala sekolah menuju tempat parkir motornya.
🌷🌷🌷
Nadia melihat ibu mertuanya yang sedang duduk sambil berzikir di depan ruang IGD tersebut, ia memanggil ibu dari suaminya itu.
"Mami!" assalamualaikum!" panggil Nadia lalu mencium punggung tangan maminya Daffa.
"Nadia, waalaikumuslam sayang, mami sangat takut nak."ucap mami Daffa dengan wajah cemas.
"Istighfar mami, berdoalah untuk mas Daffa, semoga tidak terjadi sesuatu pada mas Daffa." hibur Nadia walaupun dia nampak sangat tegang menanti kabar suaminya dari dokter yang sedang menangani keadaan Daffa.
Tidak lama kemudian, dokter yang menangani keadaan Daffa keluar menemui keluarga pasien. Ia hanya melihat wajah-wajah cemas dan kuatir dari para keluarga pasien yang ada di depan ruang IGD tersebut.
"Keluarga Daffa!" panggil dokter Panji.
"Kami dokter!" jawab nyonya Laila."
"Selamat pagi nyonya, saya sudah memeriksa keadaan tuan Daffa, ia hanya mengalami luka ringan pada dahinya, tapi karena shock, ia jatuh pingsan dan alhamdulillah sekarang dia sudah sadar. Untuk lebih lanjutnya, kami akan memeriksa CT-scan pada kepalanya supaya lebih meyakinkan keadaan pada kepalanya." ucap dokter Panji.
"Apakah putra saya akan dirawat inap dokter?" tanya nyonya Laila kembali kepada dokter tersebut.
"Mungkin sehari atau dua hari ini nyonya, kami akan memutuskan setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Silahkan anda temui putra anda setelah perawat mengantarkannya di ruang inap." ucap dokter Panji lalu pamit dari hadapan nyonya Laila.
"Terimakasih dokter," ucap keduanya kepada dokter Panji bersamaan.
__ADS_1
"Alhamdulillah mami, mas Daffa tidak apa-apa." ucap Nadia lega setelah mendengar ucapan dokter tentang keadaan suaminya.
🌷🌷🌷
Di ruang inap pasien Daffa, sudah siap dikunjungi keluarganya. Hanya maminya yang baru menemuinya sedangkan Nadia pamit sholat dhuha karena ia belum sempat menunaikan sholat sunah yang selalu rutin ia kerjakan di masa sucinya. Melihat tampang istrinya tidak ada, wajah Daffa menjadi muram.
"Apakah Nadia tidak tahu kalau aku kecelakaan?" apakah dia tidak ingin menemuiku?" ucap Daffa bermonolog.
"Daffa, makan dulu sayang, kamu ko jadi makin kurus begini sih, apa Nadia tidak merawatmu dengan baik?" tanya nyonya Laila penuh selidik kepada putranya.
"Tidak mami, Daffa akhir-akhir ini banyak lembur, jadi tidak memperhatikan kondisi tubuh sendiri." ucap Daffa membohongi maminya.
Ketika Daffa sedang disuapi maminya, pintu kamar inap itu terbuka, sosok yang sangat dirindukannya muncul di balik pintu itu, Daffa melihat istrinya langsung tersedak, membuat nyonya Laila kaget.
"Ya Allah sayang, makannya pelan-pelan, ini hanya bubur mengapa bisa membuatmu tersedak, apa kamu baru melihat Nadia, kaya nggak pernah ketemu selama sebulan saja, emang dari tadi nungguin Nadia ya sayang?" ucap nyonya Laila yang tidak mengetahui pasangan suami istri sedang perang dingin dan belum bertemu hampir dua minggu ini.
Nadia yang mendengar ucapan mertuanya merasa serba salah, karena mereka sama sekali tidak mau melibatkan orang tua mereka, dengan masalah yang saat ini menjadi perang dingin antara mereka.
"Nadia terusin suapi suamimu, mami mau ke depan sebentar." pinta nyonya Laila yang ingin memberi kesempatan kepada keduanya bisa berdua.
Nyonya Laila memberikan mangkuk berisi bubur ke tangan Nadia, ia kemudian meraih tasnya meninggalkan ruang VVIP yang ditempati oleh putranya Daffa.
Nadia nampak malu-malu menghampiri istrinya, sedangkan Daffa menatap wajah istrinya walaupun wajah cantik itu tertutup cadar hitam, namun pesona Nadia tidak pernah terkalahkan ketika mata sayu itu memandangi dirinya.
"Assalamualaikum tuan!" sapa Nadia lembut pada suaminya.
"Waalaikumuslam sayang, apakah kamu datang untukku?" tanya Daffa dengan wajah sendu.
"Maafkan aku tuan, aku sudah menyebabkan tuan mengalami kecelakaan..hiks..hiks!" sesal Nadia.
"Apakah ada yang sakit tuan?" tanya Nadia yang hanya melihat kening suaminya yang sudah ditempeli kain kasa putih.
"Iya Nadia, ini sangat sakit!" disini, di hatiku, bukan di keningku. Mungkin lukanya disini namun sakitnya melebihi luka ini." ucap Daffa seraya menunjukkan antara kening dan hatinya, membuat wajah Nadia tertunduk malu dan juga merasa bersalah.
"Apakah anda ingin makan lagi tuan?" tanya Nadia dengan bibirnya masih gemetar seakan sedang mengalihkan arah pembicaraan Daffa yang sudah berlebihan menurutnya.
Daffa mengambil mangkuk bubur dari tangan Nadia, lalu ia meletakkan mangkok itu kembali di meja samping brankar. Daffa menarik lembut tangan Nadia.
"Sayang, apakah kamu tidak merindukanku?" ucap Daffa dengan nada lirih sambil menggenggam tangan istrinya erat.
Nadia hanya mengangguk dengan wajah yang masih tertunduk.
"Apakah kamu mau memaafkanku?" tanya Daffa dengan anggukanistrinya.
"Mendekatlah padaku sayang karena aku sangat merindukanmu." pinta Daffa agar Nadia lebih mendekatkan tubuhnya
Nadia maju selangkah untuk lebih dekat dengan suaminya. Mungkin saat ini, Daffa bisa mendengar degup jantung Nadia yang tidak mau berhenti berdetak kencang saat bersama suaminya.
Ketika tubuh itu makin mendekat, dengan cepat Daffa memeluk tubuh istrinya yang sangat ia rindukan. Gerakan reflek tangan Daffa pada tubuhnya membuat Nadia terperanjat.
"Sayang, jangan lagi meninggalkan ku seperti ini, aku bisa gila dan bahkan ingin mati seandainya kamu tidak mau memaafkanku." ucap Daffa sambil menangis dipundak istrinya.
Keduanya saling berpelukan sambil menangis. Rasa penyesalan mereka yang sudah saling menyakiti dengan kesalahpahaman
yang terjadi antara mereka. Daffa meminta istrinya untuk membuka cadarnya, ia ingin sekali menatap wajah cantik istrinya karena sudah dua minggu lebih tidak bisa ia nikmati setelah kepulangannya dari Tokyo Jepang.
Nadia membuka cadarnya, menuruti perintah suaminya. Ketika penutup tipis itu terbuka, yang terjadi bukan tatapan tapi ciuman Daffa yang langsung mendarat dibibir sensual milik istrinya.
__ADS_1
Luma**an bibir itu berlangsung seru karena rindu yang telah menusuk kalbu sampai tak mampu melawan pilu yang berujung sendu.
Sejuta lara dihati tak mampu lagi tergambar dengan kata-kata, hanya dengan ciuman mungkin akan meredam gejolak rindu yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Nadia, istriku, maafkan aku sayang." ucapan itu yang terus di ulang Daffa ketika ciuman mereka terhenti sejenak setiap kali ingin mengambil udara disekitar mereka kemudian melanjutkan kembali tanpa mengenal kata berhenti.
"Mengapa tubuh tuan begitu kurus seperti ini?" tanya Nadia usai berciuman dengan suaminya.
"Karena tidak ada yang memasak untukku." jawab Daffa sekenanya.
"Kan tuan bisa makan di restoran atau pesan antar, bukankah tuan biasa melakukannya sebelum menikah denganku?"
"Aku sudah terbiasa dengan makan masakanmu Nadia. Jadi makanan olahan orang lain menjadi hambar dilidahku."
"Baiklah nanti kalau tuan pulang dari rumah sakit aku akan memasak untukmu lagi."
"Benarkah sayang," tanya Daffa dengan senyum mengembang diwajahnya.
"Hmm" anggukan Nadia meyakinkan suaminya.
"Sayang, tapi aku mau ini." ucap Daffa sambil menunjukkan dua bukit kembar Nadia.
Nadia merasa sangat malu hingga ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya setelah mendengar godaan nakal dari suaminya.
"Apakah kamu malu sayang, kapan kita bisa melakukannya Nadia?" ucapnya nggak sabaran.
"Nanti kalau tuan sudah sembuh." jawab Nadia dengan tersipu malu menatap wajah suaminya.
"Baiklah aku akan pulang besok karena aku tidak merasa keadaanku parah, tapi hatiku yang kacau lagi parah karena terlalu merindukanmu." ucap Daffa sambil nyengir menampakkan giginya yang tersusun rapi dan putih bersih.
Nadia juga ikut tertawa memperlihatkan kedua lesung pipinya yang menambah kecantikannya, melihat tertawa lepas Nadia membuat Daffa diam sesaat sambil menatap tajam wajah Nadia yang makin membuatnya kagum.
"Sayang, apakah belum habis pesonamu yang sedang kamu tawarkan padaku?" ucap Daffa yang tidak habis pikir dengan kejutan Nadia yang terus membanjiri imajinasi liarnya.
"****!" senyum itu yang membuat ia menutupi wajahnya karena takut akan berakibat fatal pada dirinya, ataukah jangan-jangan dia bukan manusia seutuhnya tapi bidadari yang menjelma menjadi manusia." pikir Daffa yang tidak bisa menggambarkan kecantikan istrinya melebihi artis terkenal manapun. Jika kamu tidak menggunakan cadar maupun hijab kamu sudah menjadi incaran para pencari bakat mungkin menjadikanmu penyanyi, model atau artis flm terkenal. Foto wajahmu pasti akan terpampang disetiap majalah atau papan iklan baliho yang menghiasi di pinggir-pinggir jalan ibu kota Jakarta." ucap Daffa dalam hatinya sambil menatap wajah cantik istrinya.
"Tuan mengapa terus menatap wajahku seperti itu, apakah ada yang salah dengan wajahku?" tanya Nadia mengembalikan ekspresi wajah seriusnya.
"Aku hanya tidak habis pikir mengapa pilihan hatimu justru jatuh padaku?" apakah kamu tidak salah menetapkan pilihanmu hidup mu padaku sayang?"
"Ketika waktu menuntut aku untuk memilih, aku pun memutuskan memilih dirimu walaupun aku tidak mengenalmu sama sekali tapi hatiku saat itu bergetar hanya dengan satu namamu tuan Daffa. Itu sangat terasa dekat tanpa perlu tahu siapa kamu sebenarnya." ucap Nadia membuat lelaki ini makin besar kepala.
"Sayang, aku merasakan akan cinta mu, tapi aku telah mengabaikanmu begitu lama, bahkan berpikir untuk meninggalkanmu atau mengembalikanmu lagi kepada orangtuamu, jika aku melakukan itu, aku termasuk orang yang sangat merugi Nadia..hiks..hiks!"
"Tuan, mungkin aku memilih bertahan hidup denganmu kendati kata-katamu sangat sakit menusuk jantungku. Dan mungkin cintaku
terlalu kuat dan mau menutupi
jiwamu yang dendam akan pribadimu yang keras,
sehingga kita bisa bersama saat ini"
"Nadia, apa yang harus aku lakukan supaya salah dan dosaku padamu termaafkan olehmu?" ucap Daffa dengan wajah memelas kepada istrinya.
"Cukupkan dirimu dengan nama Allah tuhanmu, hijrahlah suamiku sampai kamu sendiri bosan dengan dosa yang pernah kamu lakukan." ucap Nadia menghibur suaminya dan menguatkan tekad suaminya agar meninggalkan dunia yang fatamorgana yang dikenalnya selama ini.
"Bantu aku Nadia, untuk bisa keluar dari kubangan lumpur dosa yang sudah menutupi jiwaku hingga pekat tak terlihat cela untuk meraih iman yang hakiki." pinta Daffa penuh harap pada istrinya yang sangat ia kagum dari sisi keilmuan Nadia. Gadis ini bagaikan malaikat pelindungnya dari syahwatnya yang berawal dari kebencian namun berakhir dengan rasa cinta yang mendalam diantara mereka.
__ADS_1