SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
65. KEHILANGAN


__ADS_3

Seminggu kemudian ustadz Aditya baru mau menyampaikan berita buruk tentang pemecatan dirinya dan juga istri tercinta pada putra kembar mereka. Ummi Kulsum tidak bisa berkata apapun kecuali menangis dan membenci menantunya Daffa.


"Abi dan ummi kalian sudah tidak bisa lagi menopang hidup kita sekarang ini, karena kami sudah dipecat nak. Kita hanya hidup dengan tabungan dan uang pesangon yang ada saat ini. Abi akan mencoba mencari kerja yang lain untuk bertahan hidup, jangan kuatir ada Allah yang memberi kita nafkah bukan sekolah itu," ucap ustadz Aditya yang tidak ingin anak-anaknya bersedih.


"Abi, kami berdua mendapatkan bea siswa, kami juga bisa bekerja paruh waktu dan ada juga yang ingin kami katakan bahwa, kami di terima di universitas terkenal yang ada di Kairo Mesir. Bolehkah kami melanjutkan pendidikan kami di sana ummi, Abi? karena kami akan di kirim oleh pihak kampus ke sana." Ucap Fadil yang tidak ingin melihat Abi dan umminya bersedih.


"Ambillah kesempatan baik itu untuk suatu yang bermanfaat untuk kalian, Abi dan ummi hanya bisa mendoakan agar kalian menjadi orang yang sukses dan tetap istiqamah di jalan Allah." Abinya memberi nasehat terbaik untuk putra kembarnya ini.


Usai menasehati putra kembarnya, ustadz Aditya masuk ke kamarnya ia ingin menunaikan sholat sunnah mutlak untuk bermunajat kepada Allah. Saat itu masih jam 2 siang, ia menangis dihadapan Robbnya, mengeluhkan semua permasalahannya yang baru saja ia alami di sujudnya yang terakhir.


Usai sholat iapun melanjutkan membaca Alquran untuk menghibur hatinya. Dari luar kamar terdengar suara Abi terdengar sedih. Lama kelamaan suara itu hilang padahal bacaannya belum kelar. Ummi Kulsum yang merasa curiga suara suaminya hilang begitu saja, iapun masuk menemui suaminya. Betapa kagetnya ummi Kulsum ketika mendapati suaminya sudah berbaring di lantai di atas sajadahnya yang masih terbentang.


"Abiii!" Pekik Ummi Kulsum histeris, kedua putranya yang kaget dengan teriakan umminya ikut masuk ke dalam kamar orangtua mereka.


"Ummi, abi kenapa?" Tanya Fadhlan dengan wajah yang sudah pucat.


"Apa kita harus bawa abi ke rumah sakit ummi?" Tanya Fadil panik.


"Sepertinya Abi sudah meninggal nak, karena nadinya sudah tidak lagi berdetak." Ucap ummi Kulsum lirih.


"Innalilahi wa innailaihi rojiuun, Abiii!" Kenapa pergi secepat ini?" tangis Fadhlan menangisi abinya yang sudah tak bernyawa lagi di sisi tubuh yang sudah terbujur tak bernyawa itu.


"Hubungi mbakmu Fadhil, kita harus segera urus jenasah Abi secepatnya" Ucap ummi Kulsum sambil menangis.

__ADS_1


"Baik ummi!" Fadil segera menghubungi mbak Nadia, sedangkan Fadhlan menghubungi ketua RT dan DKM mesjid untuk menyampaikan berita duka cita itu.


Seketika tetangga berdatangan ke rumah duka setelah mendengar berita yang di sampaikan oleh pihak mesjid. Nadia yang mendengar Abinya meninggal segera ke rumah orangtuanya ditemani oleh suaminya Daffa, putranya Hafiz dan ibu mertuanya. Dalam perjalanan Nadia terus saja menangis sambil membekap wajahnya, hatinya tidak kuat lagi menahan kesedihan dari ujian demi ujian yang harus ia lalui.


Daffa memeluknya erat, ia juga tidak percaya, jika musibah yang dialami mereka datang bertubi-tubi. Mereka harus kehilangan satu persatu orang yang mereka cintai. Tidak ada kata yang mampu Daffa ucapkan pada Nadia, selain memeluk istrinya ini dengan perasaan yang sangat memilukan.


Tiba di rumah, kedua adiknya langsung memeluk Nadia. Para jamaah sudah memenuhi sepanjang jalan menuju kediaman ustad Aditya, yang mereka kenal sebagai orang yang paling sholeh. Nadia menghampiri ibunya yang duduk di sisi jenasah abinya. Ibu dan anak ini saling berpelukan.


"Nadia Abi sudah ninggalin kita nak. Kalian telah kehilangan seorang ayah, ummi harus bagaimana Nadia, kalau tidak ada Abi?" Kata ummi Kulsum sambil sesenggukan dalam pelukan putrinya.


"Ummi masih punya Nadia dan si kembar, jangan takut karena ada Allah yang akan memelihara kita ummi." Ucap Nadia memeluk erat umminya.


Ingin rasanya ia menanyakan apa yang menyebabkan abinya tiba-tiba meninggal, namun kata-katanya seakan tercekat di tenggorokannya takut mengetahui sesuatu yang akan menyakiti hatinya.


"Ya Allah, cobaan apa lagi setelah ini? apakah ini belum cukup Engkau mengujiku?" Apakah aku belum layak mendapat kembali kebahagiaanku?" Tanya Nadia sambil terisak di depan jenazah abinya.


🌷🌷🌷


Ba'da ashar, jenasah almarhum ustad Aditya segera di makamkan setelah disholatkan di mesjid di daerah kediamannya. Rombongan pengantar memenuhi jalan-jalan di sekitar wilayah kediaman almarhum. Tidak ketinggalan para siswa siswi dan juga rekan guru yang ingin melepaskan kepergian seorang yang menjadi panutan bagi mereka. Jasa-jasanya serta amal sholehnya sudah ia torehkan pada semua orang yang pernah diberikannya ilmu. Ummi Kulsum tidak kuat mengantar jenazah suaminya, tubuhnya tak mampu lagi untuk tegak berdiri apa lagi harus tegar menerima kepergian sang suami yang begitu mendadak bahkan tidak ada sedikitpun firasat buruk yang dirasakannya belakangan ini bahwa ia harus kehilangan suaminya secepat ini.


Ummi Kulsum ditemani saudara dan beberapa tetangganya yang sengaja tidak ikut mengantar almarhum ustad Aditya. Daffa dan adik iparnya ikut di mobil jenazah sedangkan mobil Nadia dan mami Laila mengikuti dari belakang mobil jenazah itu.


Di pemakaman khusus untuk umat muslim, Nadia sudah duduk dengan saudara kembarnya untuk mengikuti doa terakhir untuk ayah mereka. Senja muram merunduk sedih, kehilangan sosok lelaki sholeh yang menghabiskan waktunya hanya dengan beramal sholeh. Bulir bening terdapat di setiap orang yang berada diatas pusaranya, tangis menggema seperti suara lebah yang mengintari pemakaman di sore itu. Para pelayat memberikan penghormatan terakhir pada almarhum, hingga doa terakhir dipanjatkan mereka seiring dengan hujan yang mulai mengguyur bumi.

__ADS_1


Semuanya berangsur angsur membubarkan diri kecuali keluarga almarhum yang masih setia menatap gundukan tanah merah itu tanpa ada taburan bunga ataupun air mawar yang menghiasi pusaranya. Ini sudah wasiat dari almarhum jika ia meninggal tidak ada ritual tabur bunga karena tidak ada dalam hukum Islam. Ini hanya bagian dari budaya yang tertanam di masyarakat yang belum bisa dihilangkan oleh sebagian orang kota.


"Abii!" Selamat jalan cinta pertamaku, aku akan menjalankan semua ajaran kebaikan yang pernah Abi tanamkan dalam hidup Nadia. Semoga Allah memberimu nikmat kubur dan semoga kami segera menyusulmu abi." Pinta Nadia dalam doa dan harapannya untuk Abi tercinta.


"Sayang, ayo kita pulang, Abi sudah beristirahat dengan tenang, ridhoi Abi, karena doa anak yang sholeh yang Allah ijabah." Ucap mami Laila membujuk menantunya agar cepat pulang.


"Mas Daffa bolehkah aku menginap di rumah ummi malam ini?" Tanya Nadia meminta ijin pada suaminya.


"Boleh sayang, kita akan menginap di sana tapi kita harus ke mansion dulu mengantar mami, baru kita ke rumah ummi lagi" Ucap Daffa.


"Sebaiknya mas Daffa nggak usah menginap, supaya aku memiliki waktu lebih banyak bersama ummi." Nadia menolak menginap bersama dengan suaminya.


"Apakah aku bukan bagian dari keluargamu, apakah kamu ingin aku jadi gunjingan tetanggamu karena tidak mendampingimu ketika keluargamu berduka?" Daffa menjelaskan situasi keluarga istrinya saat ini yang masih dalam masa berkabung.


"Baiklah mas, jika mas menginginkan menemani keluargaku saat ini," ucap Nadia mengalah pada kemauan keras suaminya untuk tetap berada disisinya.


Keluarga kecil itupun pulang dibawah rintihan hujan, Rio yang selalu siap mendampingi bosnya dan juga Rima sahabat Nadia ikut menunggu Keluarga itu.


"Nadia yang ridho ya!" Ucap Rima lalu memeluk sahabatnya ini.


"Aku kira kamu sudah pulang teteh." Jawab Nadia.


"Aku turut berduka cita nona Nadia, semoga ustadz Aditya husnul khatimah." Rio menimpali perkataan Rima yang sudah memberikan ucapan dukacita pada Nadia terlebih dahulu.

__ADS_1


Rima dan adiknya Ela mengantar pulang adik kembarnya Nadia, sedangkan Rio mengantar keluarga bosnya ini kembali ke mansion mereka. Semua orang hanya diam membisu, tidak ada satu suara pun yang terdengar dari mulut mereka. Pandangan mata mereka yang kosong dengan pikiran kalut yang mereka rasakan saat ini. Kehilangan seorang ayah sama halnya engkau kehilangan sebagian jiwamu, karena dialah kita ada dirahim ibu kita dan karena peluh dan darahnyalah menghidupkan kita hingga kita mendapatkan kehidupan yang layak, karena seorang ayah nama baikmu terjaga karena seorang ayah, namamu dipanggil dengan rasa hormat.


..."Selamat jalan Abi, cinta pertamaku yang mengantarkan aku pada cintaku yang terakhir, terimakasih telah melindungiku, membesarkanku dengan segenap jiwa ragamu, kehilanganmu sama halnya kehilangan bagian terdalam dari ragaku. Hatiku abiku sayang, pahlawan hidupku."...


__ADS_2