SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
7. MINGGAT


__ADS_3

Kepergian Nadia membuat Daffa sangat terpukul. Sudah tiga hari Daffa mencari keberadaan Nadia dari rumah orangtuanya, sampai tempat istrinya mengajar, namun belum juga terlihat batang hidung Nadia.


"Kemana kamu sayang?" mengapa tidak mau mendengarkan penjelasan aku terlebih dahulu, tanpa harus menghukumku seperti ini sayang." tanyanya terdengar frustasi.


Sebenarnya Nadia masih mengajar di sekolahnya, hanya saja gadis ini sudah bekerjasama dengan satpam penjaga sekolah supaya tidak memberi tahu keberadaannya kepada suaminya. Saat ini, Nadia menginap di rumah temannya yang sebenarnya bukan teman akrabnya, hanya saja temannya ini adalah teman satu pengajiannya yang sering mengunjungi kajian Islam di tempat abinya Nadia sering mengisi ceramah.


Nadia tidak ingin menginap di rumah orangtuanya karena takut abinya akan menanyakan alasan kepergiannya dari apartemen suaminya. Nadia tidak bisa memaafkan atas kesalahan Daffa yang telah mempermaikan perasaannya. Gadis ini memilih bertahan sampai ia yakin akan perasaan cintanya kepada suaminya.


"Nadia, apakah kamu tidak merindukan suamimu?" tanya Rima teman pengajiannya ini.


"Aku merindukannya teteh, tapi aku belum siap untuk bertemu dengannya, aku ingin membenahi hatiku terlebih dahulu, supaya aku bisa memaafkan dirinya." jawab Nadia yang masih merasa sakit hati pada suaminya.


"Tapi meninggalkan suami terlalu lama itu tidak baik Nadia, apa lagi dia sangat tulus padamu, apa salahnya memberikan ia kesempatan untuk memperbaiki dirinya, ingat Nadia, Allah saja, maha pengampun dan juga maha pemaaf, manusia adalah tempat letaknya salah dan dosa, suatu hari manusia seperti Daffa ada saatnya berada pada titik jenuh di mana dunia hitam telah melingkari hidupnya.


Mungkin itu adalah bentuk pelariannya, karena sakit hati atau rasa kecewanya pada seseorang, yang tidak bisa ia lampiaskan dengan amarah. Ia lantas mencari tempat yang dianggapnya nyaman untuk dirinya, walaupun itu adalah suatu kepalsuan." jelas Rima menasehati Nadia.


"Tapi aku tidak pernah melihat dunia itu sebelumnya Rima, hidupku hanya dikelilingi orang-orang sholihin, aku buta dengan dunianya Daffa, apa lagi ingin mengetahuinya, itu sangat membuatku jijik Rima." ucap Nadia yang masih kecewa dengan penghianatan Daffa pada dirinya.


"Hei, gadis sholehah, apakah kamu tidak takut di Yaumil akhir nanti, Allah akan mempertanyakan amalanmu yang mana saja yang sudah kamu lakukan untuk orang lain selama hidupmu?" jika amalanmu itu, hanya bertumpu pada dirimu semata, berarti kamu adalah hamba yang sangat egois yang memilih masuk surga untuk dirimu sendiri, bukan untuk mengajak para pendosa bersamamu kedalamnya. Jika kita tidak bisa menjadi orang terbaik untuk diri sendiri, cobalah berlomba dengan para pendosa yang sedang hijrah untuk mengejar amal kebaikan yang tertinggal, karena kenikmatan dosa yang pernah mereka reguk. Jangan terlalu sibuk mencari bekal akhirat untuk dirimu sendiri Nadia, ajaklah suamimu serta, karena Allah memilihmu sebagai pasangannya demi menyelamatkan lelaki malang itu dari lembah dosa yang saat ini masih ia nikmati, jangan terlalu menghakiminya ketika dia memohon kesempatan darimu untuk belajar mencintai dirimu, belajarlah memahami dirinya, sekalipun itu tidak mudah bagimu, cukuplah Allah sebagai penolong dirimu, karena Allah yang akan mengubah kepahitan hidupmu dengan manisnya iman yang ia titipkan dihatimu." ucap Rima dengan kalimat bijaknya menyikapi permasalahan sahabat seimannya ini.


Nadia menyimak semua nasehat bijak dari temannya Rima, gadis yang seusianya ini yang belum menikah tapi sangat fleksibel dalam bergaul, wawasannya tentang hidup tidak hanya dilihat dari salah satu sisi baiknya saja, tapi ia juga belajar memahami orang yang tidak sekufu dengannya untuk menjadikan orang-orang itu sebagai ladang dakwah untuknya.


Inilah keistimewaan Rima yang membuat Nadia nyaman berada dekat dengan teman pengajiannya ini. Rima hidup hanya berdua saja dengan adiknya Ela semenjak kedua orangtuanya meninggal.


Gadis ini tidak mau menyerah pada keadaan, ia yang bekerja disalah satu kedutaan Arab Saudi sebagai penerjemah bahasa Indonesia Arab atau Arab Indonesia atau lebih tepatnya bagian arsip surat-surat yang masuk dari Arab Saudi untuk kedutaan Arab Saudi yang berada di Indonesia. Walaupun anak yatim-piatu, tapi Rima ditinggalkan oleh orang tuanya dengan banyak warisan, dengan warisan itu ia membiayai pendidikannya hingga jenjang S2 di Kairo Mesir.


"Baiklah teteh, beri saya kesempatan untuk mempertimbangkan kembali nasehat teteh untuk memaafkan mas Daffa." ucap Nadia yang sedikit luluh setelah mendengarkan nasihat temannya Rima.


"Jangan lama-lama ya sayang, supaya setan tidak ikut membantumu dalam mengambil keputusan, ayo kita sholat isya dulu, tuh sudah kedengaran azan, dengan begitu hatimu lebih tenang menghadapi dilema pernikahanmu." ajak Rima kepada Nadia yang masih menyeka air matanya.


Keduanya melaksanakan sholat isya dengan penuh kekhusyuan. Sholat adalah salah satu jembatan umat muslim untuk melakukan komunikasi dengan Sang Khalik, di atas sajadah mereka, di setiap ruku dan sujud adalah kenyamanan kita untuk lebih mendekatkan diri dengan Pemilik jiwa kita yang ada dalam genggamanNya. Walaupun belum menemukan solusinya namun ketenangan sudah kita dapatkan dengan menunaikan sholat.


🌷🌷🌷

__ADS_1


Hari ke sepuluh, keadaan Daffa yang sudah tidak lagi semangat menapaki hidupnya makin parah keadaannya. Ia berangkat ke perusahaan hanya mengerjakan tugasnya semaunya. Rio yang hafal dengan tabiat Daffa hanya bisa menarik nafas berat. Tapi Rio melihat keadaan Daffa kali ini lebih parah daripada sebelumnya. Tubuh lelaki tampan ini nampak kurus dengan wajah yang makin tirus, jambangnya dibiarkan tumbuh menghiasi wajah tampannya. Wajah dingin itu kelihatan lebih menakutkan dari pancaran auranya yang muram.


Rio ingin sekali membantu menemukan istri bosnya ini, ia sudah mengerahkan anak buahnya untuk melacak keberadaan Nadia tapi sulit dilakukan karena tidak mengetahui seperti apa penampilan Nadia karena disekolah gadis itu mengajar hampir semua guru wanitanya memakai pakaian syar'i dengan cadar yang menutupi wajah mereka dengan sangat rapat. hanya pupil mata mereka yang terlihat selebihnya kain panjang yang menjuntai dari atas kepala hingga ujung kaki. Hanya orang-orang terdekat mereka yang bisa mengenali wajah mereka.


"Bos, aku ingin sekali membantumu menemukan istrimu, namun timku menemukan kendala karena tidak tahu seperti apa rupa istrimu bos, karena kami tidak bisa mengenalinya." ucap Rio yang memberikan penjelasan kepada bosnya, bagaimana cara mereka menemukan Nadia dengan menandai wajah gadis itu.


"Apakah selama ini kamu ikut mencari istriku Rio?" tanya Daffa sambil mengernyitkan dahinya menatap wajah asistennya Rio.


"Iya bos, aku tidak tega melihat anda begitu terpuruk setelah nona muda meninggalkan anda." jawab Rio memberi alasannya.


"Rio, apakah ini karma untukku?" yang selama ini telah menyia-nyiakan istriku dan mempermaikan semua wanita yang pernah aku tiduri diantara mereka?" ucap Daffa sedih.


"Untuk hal itu saya tidak paham bos karena saya bukan ahlinya dalam menasehati orang lain terutama bos." ucap Rio merencanakan dirinya pada tuannya ini.


"Sebentar Rio, jika kamu ingin membantuku, lihat profil istriku ini," ucap Daffa seraya menyerahkan ponselnya yang terdapat foto yang dijadikan Daffa sebagai wallpaper menghiasi halaman depan ponselnya."


"Astaga bos!"


"Oo.. bukan bos, aku tidak melihatnya, hanya saja aku tidak bisa bayangkan bagaimana gadis secantik ini bisa anda dapatkan, walaupun hanya matanya saja yang terlihat tapi bisa menyihir mata orang lain yang menatapnya, pasti istrimu sangat cantik bos?" puji Rio dengan polosnya.


"Kau!" lancang sekali mulutmu memuji istriku, aku hanya ingin kamu melihat bentuk matanya supaya kamu mudah mengenalinya bukan menyimpan wajah istriku dalam pikiranmu yang kotor itu."


"Kalau ada yang sama seperti istrimu itu, aku juga mau bos." ucap Rio polos kepada Daffa yang sedang menatap tajam wajahnya.


"Dasar kamu Rio, otak mesum" lebih baik kamu mulai bekerja lagi." ucap Daffa mengusir asistennya Rio.


"Maafkan saya bos, kita selama ini sibuk dengan wanita-wanita cantik yang memamerkan wajah, bahkan tubuh mereka di hadapan kaum lelaki, tapi kita lupa sosok wanita yang menyembunyikan kecantikan mereka yang hanya untuk suami dan keluarganya, yang boleh menatap wajah mereka, ini sangat amazing bos. Dan saya kagum dengan bos yang bisa mendapatkan istri seperti nona muda Nadia." puji Rio membuat Daffa makin kesal.


"Berhentilah bicara omong kosong tentang istriku Nadia dan bantulah aku mencari istriku tanpa melibatkan anakbuahmu!" titah Daffa pada asistennya ini.


"Baik bos, saya akan lakukan perintah bos secepatnya, doakan saya supaya cepat berhasil mendapatkan informasi tentang keberadaan nona muda." ucapnya lalu pamit dari hadapan bosnya ini.


Daffa hanya mengangguk lembut dan sedikit berdehem mempersilahkan Rio mencari istrinya Nadia. Sedangkan ia sendiri berencana mendatangi lagi sekolah di mana tempat istrinya mengajar. Karena ia yakin kalau Nadia berada di sekolah itu hanya saja tidak ingin bertemu dengannya.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


Keesokan harinya, Daffa berangkat ke sekolah Nadia. Ia sengaja mengganti mobilnya dengan mobil baru supaya bisa mengelabuhi Nadia. Ia menghentikan mobilnya sedikit lebih jauh dari gerbang sekolah tersebut karena ia yakin Nadia akan melintasi jalan ini dengan begitu ia mudah mencegah istrinya.


Sesuai dugaannya, istrinya melintas di depan mobilnya dengan menggunakan sepeda motornya.


Nadia yang tidak mengetahui bahwa ia sedang diikuti oleh suaminya dari belakang dengan santainya memasuki pintu gerbang sekolahnya. Ketika sepeda motor Nadia masuk ke gerbang sekolah, Daffa ikut masuk dengan mobilnya, dengan hati-hati ia memarkirkan mobilnya tidak jauh dengan tempat parkir motor Nadia.


Ketika Nadia berjalan menuju ruang guru, dengan cepat suaminya meraih pergelangan tangannya. Nadia begitu terkejut melihat suaminya sudah berada disampingnya. Ia hampir saja berteriak tapi ia buru-buru membekap mulutnya karena tidak ingin ada yang mengetahui kalau ia dan suaminya sedang tidak akur.


"Nadia, tunggu sayang aku ingin bicara denganmu, jangan lari lagi dariku. Aku mohon pulanglah sayang."


"Maaf tuan aku mau mengajar, dan di sana bukan tempatku lagi, anda bisa membawa wanita sebanyak yang anda inginkan." ucap Nadia ketus kepada Daffa sambil melangkahkan kakinya meninggalkan suaminya.


"Nadia apakah sangat sulit bagimu untuk mendengarkan penjelasan aku sebentar saja?" ucap Daffa sedikit berteriak.


Nadia berbalik, ingin rasanya ia membentak balik suaminya, tapi urung dilakukannya, bagaimanapun juga ia adalah istrinya Daffa, ia tidak ingin mengusai suaminya dengan amarahnya.


"Ingat Nadia jangan tergoda dengan ucapan setan yang sedang menghasutmu," ucap Nadia mengendalikan dirinya.


"Aku tidak punya waktu mendengarkan penjelasanmu tuan, maafkan aku." ucap Nadia lalu berlari menuju ruang guru yang tidak jauh dari tempat parkir motornya.


Dengan terengah-engah Nadia duduk di ruang partisi meja kerjanya, ia menangis sendirian karena guru yang lain belum datang pagi itu. Tidak lama ponselnya berdering, ia mengambil ponsel itu dan melihat nomor suaminya yang meneleponnya. Nadia menjawab panggilan suaminya, ia tidak berkata apa-apa hanya menempelkan ponselnya di kupingnya untuk mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh Daffa kepadanya.


"Assalamualaikum Nadia, mungkin kamu belum bisa menerima kenyataan bahwa aku pernah masuk ke lembah pekat yang mengurung kehidupanku sebelumnya, sampai kedatanganmu dalam hidupku. Tahukah kamu?" ketika aku berusaha untuk mempercepat kepulanganku dari jadwal yang seharusnya satu minggu. Aku berlari seperti orang gila ketika menghampiri parkiran mobil hanya ingin menunggumu terlebih dahulu di apartemen kita.


Aku memang bejat Nadia, tapi cintaku padamu adalah kebenaran, dan wanita itu masuk ke kamar apartemen karena ia hafal kode sandinya yang belum sempat aku ganti, sedangkan saat itu aku sedang berada di dalam kamar mandi dan tidak mengetahui kedatangan wanita itu, ketika aku keluar dari kamar mandi, disaat yang sama kamu juga membuka pintu kamar kita dan kita sama-sama melihat wanita itu sudah berada di tempat tidur kita dengan tubuhnya yang sudah polos, aku juga sama kagetnya dengan kamu melihat wanita itu walaupun aku mengenalnya.


Sekarang jika kamu ingin lari dari hidupku, apakah kamu sedang mendorongku lagi ke jurang yang sama dimana aku pernah meleburkan diriku dalam lumpurnya dosa?" apakah aku tidak cukup berharga untuk ikut hijrah menemui duniamu, yang saat ini sedang kamu menaburkan amalan terbaikmu, untuk mencapai surga yang merupakan impian setiap umat muslim di dunia ini?" Jika kamu masih marah padaku, pikirkan lagi kata-kataku ini sayang, aku bukan hanya mencintaimu karena na*suku akan tubuhmu yang indah itu atau kecantikan dirimu yang hampir mendekati sempurna, namun aku mencintaimu karena Allah tuhan kita sayangku Nadia, assalamualaikum sayang, aku pamit mau berangkat ke perusahaan kita." Daffa yang terdengar pasrah akan nasib cintanya kepada gadis impiannya ini, yang selama ini telah terbungkus oleh rapi dengan pakaian syar'i miliknya. Busana Muslim syar'i lengkap dengan cadarnya merupakan kado yang berisi pualam indah yang mengeluarkan cahaya menyilaukan mata, ketika kain tertutup itu telah tersingkap oleh Daffa saat melihat bagaimana indahnya tubuh istrinya itu.


Nadia mendengar penuturan suaminya dengan bercucuran air mata, ia menahan tangisnya agar tidak terdengar oleh suaminya. Nadia berlari keluar ruangannya melihat lagi suaminya. Dari jauh tempat parkir mobil ia hanya sekilas melihat mobil suaminya yang sudah berlalu pergi.


Nadia kembali ke partisinya, menangis meraung di ruang kerjanya sendirian, ia merasa sangat sedih atas penuturan suaminya yang masih terngiang-ngiang dibenaknya. Ia bingung dengan perasaannya sendiri, bukan perkara gampang memutuskan seseorang, hubungan memang bisa diputuskan, masalah nya habis putus tapi masih cinta, itulah perkara bagi sepasang kekasih yang sedang ingin berbulan madu tapi terhalang dengan kesalahpahaman keduanya hingga menyakiti diri sendiri yang masih mempertahankan harga diri.

__ADS_1


__ADS_2