
Setelah sekian lama menunggu itikad baik dari Nadia, rupanya gadis itu belum juga mengajukan surat perceraiannya ke pengadilan agama Jakarta Selatan. Tuan Fahri tidak sabar lagi, iapun menghubungi Nadia yang masih berada di rumah ummi Kulsum.
"Nadia kapan anda memenuhi janji anda untuk menggugat cerai Daffa?"Tanya tuan Fahri gusar.
"Saya bingung Tuan untuk memulai nya karena saya tidak memiliki alasan untuk menceraikan mas Daffa." Ucap Nadia yang masih mengulur waktu agar lebih lama bersama dengan suaminya.
"Kalau kamu tidak bisa melakukannya, pengacara saya bisa membantumu, apakah kamu bersedia dibantu oleh pengacara saya dengan menunjukkan koleganya untuk mengurus perceraianmu dengan Daffa secepatnya. Jika anda masih mengulur waktu, aku tidak akan segan-segan, mengirim lagi Daffa ke penjara." Tuan Fahri mengancam Nadia hingga membuat gadis itu sangat ketakutan.
"Jangan tuan, jangan lakukan itu!" saya akan mengajukan gugatannya, beri saya waktu lagi Tuan!" Pinta Nadia mengiba kepada tuan Fahri.
"Tidak bisa, ini sudah terlalu lama, ini sudah satu bulan dari waktu yang di janjikan. Kalau anda tidak mampu, saya yang akan bertindak sendiri untuk mengurus proses perceraian kalian secepatnya." Jawab Tuan Fahri.
"Terkutuklah kamu Tuan, Allah akan melaknatmu karena kamu telah memisahkan keluargaku." Seru Nadia mengecam tuan Fahri yang sewenang-wenang terhadap dirinya." Ucap Nadia dengan mengumpat ayah Anjani.
"Itulah kalau memiliki kekuasaan, uang dan koneksi, jika orangtuamu bisa aku buat mereka dipecat oleh yayasan sekolah, apa lagi kamu...ha...ha..ha!" Tawanya menggema di ruang inap VVIP milik putrinya.
"Bajingan kamu Tuan, Allah tidak akan membiarkanmu mendzolimi keluargaku, bertobatlah sebelum ajal datang menjemputmu," Ucap Nadia menahan geram dengan mengepalkan tangannya.
Nadia menutup teleponnya lalu, ia menangis menyesali tindakannya yang terlalu gegabah mengambil sikap. Kondisinya yang labil saat itu karena harus kehilangan janin dan melihat suaminya juga mendekam di sel tahanan, membuatnya saat itu tidak bisa berpikir jernih. Sekarang setelah mengetahui pemecatan orangtuanya karena campur tangan Tuan Fahri makin membuat memuncak amarahnya Nadia.
"Ya Allah berilah aku petunjuk atas setiap musibah yang Engkau berikan kepada keluargaku, ampunilah hambaMu yang lemah ini ya Robby, hamba tidak ingin berpisah dengan suami hamba, tolong ya Allah, aku mohon," tangisnya terdengar makin kencang di dalam kamarnya.
Ummi Kulsum yang mengira putrinya sedang berusaha melawan perasaannya untuk melepaskan suami yang sangat dicintai Nadia demi dirinya, mendiamkan putrinya mengemas perasaannya sendiri di kamarnya.
__ADS_1
"Nadia, tidak apa saat ini kamu terluka nak, karena suatu hari nanti Allah akan menggantikan seorang suami yang sangat sholeh untukmu, tidak seperti suamimu yang sekarang ini, yang selalu memberikan kita banyak masalah. Melihatmu hancur, itu akan membuatku kesal. Jangan melakukan sesuatu yang membuatmu sesal, akan jauh lebih sulit untuk memperbaiki keadaan nanti. Kamu hanya perlu menderita sedikit sekarang ini dan nanti kamu bisa melanjutkan kembali hidupmu yang akan membuatmu bahagia ." Ucap ummi Kulsum di dalam kamarnya.
Di perusahaan Daffa sedang berdiskusi dengan asistennya Rio tentang rencananya Nadia yang ingin ia berbaikan dengan Anjani, tapi konsekuensinya adalah mereka harus bercerai hanya demi mendapatkan kebenaran dan meluruskan kembali berita yang simpang siur yang juga merugikan perusahaan atas kasus Daffa yang sempat ditahan di Mabel polisi Jakarta Selatan.
"Apakah ide istriku harus aku turuti atau bagaimana menurutmu Rio?" Tanya Daffa.
"Kalau bos meminta pendapat saya, sebaiknya lakukan apa yang dipinta nona muda, mungkin dengan cara menjebak Anjani, akan memudahkan bos dan nona Nadia kembali bersama tanpa ada penghalang antara kalian." Jawab Rio tegas.
"Tapi ada yang sangat membuatku kuatir Rio, sikap ummi yang tidak bisa dipengaruhi oleh Nadia apa lagi aku yang paling ia benci saat ini. Ditambah lagi jika kami benar-benar berpisah ia ingin Nadia menikah lagi dengan laki-laki lain yang lebih sholeh dariku dan itu membuatku sangat murka." Ujar Daffa cemas.
"Bos, itu gampang diatur toh segalanya bisa kita halangi apa bila itu terjadi, tapi yang paling penting saat ini kebenaran yang harus kita dapatkan dan kalau bisa Anjani dan Tuan Fahri sekalian kita penjarakan agar ia tahu kebenaran bisa mengalahkan kelicikannya yang selama ini memanfaatkan bos. Lebih baik dekati musuhmu dengan cinta setelah kau dapatkan tujuanmu singkirkan ia seperti kau singkirkan sampah yang menganggu penciumanmu." Ucap Rio, meyakinkan bosnya Daffa.
Daffa tampak berpikir keras apa yang dikatakan oleh asistennya Rio, walaupun ini rasanya berat baginya, namun hanya cara ini satu-satunya untuk menyingkirkan manusia sampah itu.
🌷🌷🌷🌷
"Daffa, aku akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkanmu lagi sayang, kamu tidak perlu memikirkan istrimu yang bergaya kampungan itu karena apa yang tidak ia miliki ada padaku saat ini, kecantikan, kemolekan tubuh dan uang serta kekuasaan aku punya semuanya... ha..ha..ha!" Tawanya sambil berkaca dengan cermin kecil yang terdapat di kap bedaknya.
"Sudah siap sayang, kita pulang hari ini?" Tuan Fahri mengangkat putrinya untuk dipindahkan ke kursi roda.
"Ayah, apakah aku boleh bertemu dengan suamiku?" tanya Anjani sambil didorong oleh ayahnya menuju lobi rumah sakit.
"Jangan sekarang Anjani, biarlah Daffa mendatangimu bukan kamu yang mendatanginya." Ucap tuan Fahri yang tidak mau berurusan dulu dengan menantunya itu.
__ADS_1
Ketika Anjani sudah hampir sampai di lobby hotel, Daffa menyapanya dengan membawa satu ikat buket bunga mawar. Anjani yang melihat kedatangan Daffa memekik kegirangan memanggil suaminya itu.
"Hai Anjani, apakah kamu sudah sembuh?" Tanya Daffa so mesra.
"Sudah lumayan Daffa, apakah bunga itu untukku?" Tanya Anjani berbinar-binar.
"Iya tentu saja ini untukmu, maaf aku baru bisa menjengukmu Anjani karena aku sangat sibuk akhir-akhir ini." Daffa memberi alasan.
"Tidak apa Daffa justru kedatanganmu akan membuatku lebih cepat pulih, tapi sayang kakiku lumpuh dan aku harus menjalani terapi seminggu dua kali di rumah sakit ini juga." Jawab Anjani manja.
"Jangan sedih sayang, aku rasa terapi dengan sistem teknologi canggih yang ada di rumah sakit ini akan membuatmu cepat pulih." Daffa mulai beraksi dengan siasat terbaiknya untuk menjebak Anjani dengan kelembutannya.
"Mengapa kamu tiba-tiba baik pada ku Daffa, apakah kamu sedang bermasalah dengan Nadia?" tanya Anjani heran dengan sikap Daffa padanya.
"Nanti saja kita bicarakan sampai di mansion milikmu." Ujar Daffa yang tidak ingin membahas Nadia pada Anjani.
"Baiklah, kalau begitu aku ingin kamu tetap disisiku hingga aku sembuh." Jawab Anjani kegirangan.
"Siap Anjani, demi kesembuhanmu aku akan melakukan apapun untukmu." Seru Daffa antusias.
Daffa menggendong Anjani masuk ke dalam mobilnya dan tuan Fahri bersama istrinya tercengang melihat perubahan sikap Daffa yang tiba-tiba datang menjenguk Anjani di rumah sakit dan lebih mengagetkan mereka, yaitu Daffa mau berbaikan dengan Anjani.
"Mengapa menantumu tiba-tiba berubah begitu ayah?" Tanya ibu Anjani setengah tak percaya perubahan Daffa yang sangat manis pada putrinya.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu sayang, mungkin ia sudah bosan berurusan dengan keluarga kita dan memilih berdamai dengan kita. Dia juga takut mendekam lagi di penjara atas tuduhan mencelakai Anjani." Ujar Tuan Fahri percaya diri.
"Apakah perbuatan ayah tidak berlebihan, bukankah itu sebuah penipuan, bagaimana kalau mereka memiliki bukti dan berbalik menyeret ayah ke jeruji besi?" Ah aku tidak mau ayah dan Anjani akan berakhir di sel tahanan hanya karena keegoisan kalian berdua yang ingin menahan Daffa untuk tetap disisi Anjani." Ujar ibu Anjani yang merasa tidak nyaman dengan ulah putri dan suaminya ini.