SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
39. RAHASIA 3


__ADS_3

Setibanya mami Endah yang merupakan germo kelas kakap di villanya, ia dengan gusar melemparkan tasnya ke sembarang arah. Ia hampir mati ketakutan karena mobil miliknya hampir menabrak gadis yang sekarang ini sudah berada di kediamannya.


Ia adalah seorang germo yang selalu menjadikan gadis muda yang sedang dalam keadaan kesulitan keuangan ataupun seorang gadis yang tidak memiliki keluarga akan ia manfaatkan untuk dijadikan wanita penghibur demi keuntungan pribadinya.


"Baringkan dia ke kamar utama dan kamu Silvi tolong ganti bajunya yang basah dengan baju tidur yang sesuai dengan ukuran tubuhnya." titah mami Endah pada salah satu anak buahnya dan juga pada body guard yang sedang menggendong tubuh Laila.


Sebelum Silvi menggantikan baju untuk Laila, rupanya Laila sudah sadar dari pingsannya, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang ia tempati dan ia melihat Selvi yang saat itu masih berdiri membelakanginya.


"Siapa kamu?" Tanya Laila kepada Silvi.


"Oh syukurlah kamu sudah sadar." Jawab Silvi yang sudah membalikkan badannya menghadap Laila yang sedang bertanya kepada dirinya sambil sedikit tersenyum.


"Di mana aku?" Apa yang terjadi padaku?" Tanya Laila yang merasa sangat asing dengan tempat itu.


"Kamu ganti dulu bajumu yang basah dan setelah itu kamu harus makan ya!" Sepertinya saat ini kamu sedang kelaparan dan tubuhmu juga lemah setelah basah kuyup karena kehujanan semalam." ujar Silvi dengan wajah tenang.


"Aku mau pulang, aku ohh!" Mengapa kepalaku sangat pusing?" Keluh Laila sambil memijit-mijit keningnya sendiri.


"Permisi non ini makanan untuk nona." Ucap salah satu pelayan di rumah germo itu.


"Ini baju untukmu, kamu harus ganti baju supaya tidak masuk angin, aku akan tinggalkan kamu dan makanlah makanan itu supaya perutmu terisi. Aku akan panggil mami untuk menemuimu, btw siapa namamu?" tanya Silvi yang ingin berkenalan dengan gadis yang baru datang ke jurang neraka ini.


"Suryani!" Jawab Laila yang menyebutkan nama tengahnya bukan nama panggilannya.


Nama lengkapnya adalah Putri Laila Suryani Larasati. Model majalah popular di masa tahun 90 puluhan. Wajahnya yang selalu menghiasi iklan-iklan televisi swasta saat itu. Namun ia tidak begitu terkenal dikalangan dunia hitam yang digeluti oleh germo dan wanita penghibur lain yang ada di rumah bordir itu. Para wanita malang itu hanya tahu melayani tamu-tamu mereka bahkan sehari bisa tujuh orang tamu yang harus mereka layani bahkan ada kegilaan para cukong yang meminta gadis panggilan itu melayani dua sampai tiga orang secara bersamaan, hingga mereka sering mendapatkan siksaan dari para lelaki maniak yang memanfaatkan mereka demi kepuasan birahinya.


Laila yang mendengar teriakan seseorang di sebelah bilik kamarnya, sesaat ia begitu terkesiap dengan jeritan yang menyayat hatinya, ada yang menyedihkan bahkan adapula yang mengerang nikmat hingga membuat bulu kuduknya berdiri.


"Ya Allah apakah aku berada di rumah pela**r?" Tanyanya dengan bahu bergidik.


Ia pun menyelesaikan makanannya dan kemudian mencari cara untuk bisa kabur dari tempat itu.


"Ya Allah mengapa jadi begini, aku seperti lepas dari mulut harimau dan masuk ke mulut buaya. Ini sama saja hidupku akan berakhir durjana. Ya Allah ampunilah aku dan kedua orangtuaku dan selamat aku dari lembah terkutuk ini." Ucapnya lirih dengan linangan air mata.


Diluar sana mami Endah, sapaan germo itu sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon.


"Selamat malam madam!" Sapa pria yang ada di seberang telepon kepada germo sadis itu.


"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya mami Endah dengan suara mendayu-dayu.


"Apakah anda punya kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong?" tanya lelaki diseberang telepon menganalogikan gadis perawan dengan kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong.


"Kebetulan sekali saya punya apa yang anda mau tapi harus ada pembayaran awal setelah itu baru pembayaran akhir." Jawab mami Endah dengan suara mend*sah nakal.


"Sebutkan saja harganya madam, saya pasti akan mentransfernya tapi persiapkan gadis itu karena saya harus membawanya ke Singapura besok pagi dengan penerbangan pertama.


"Banyak sekali penawaran yang datang pada saya dan saya mengambil harga yang tertinggi tuan," ucap mami Endah yang sedang mempermaikan mangsanya untuk mendapatkan harga tinggi.


"Katakan saja hargamu secepatnya akan saya transfer ke rekening anda." Ucap si penelepon tanpa banyak basa-basi kepada madam tersebut.


"Baiklah dengan senang hati, kami akan mengemas pesanan anda dan siap berangkat besok pagi jam 6.00 kami akan mengantarkan gadis itu ke anda tuan." Ucap mami Endah lalu mengakhiri ucapannya dengan ciuman mesra diatas gagang telepon itu.


Telepon itu ditutup kemudian mami Endah bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar yang ditempati oleh Laila. Pintu itu dibuka dengan kasar, masuklah germo itu dengan mengumbar senyum kepada Laila yang sudah masuk lagi dalam selimutnya dengan wajah ketakutan.

__ADS_1


"Hei nona, tinggal di sini tidak ada yang gratis untukmu, aku akan mengirimmu besok ke Singapura untuk menemui kline kita disana, persiapkan dirimu karena besok subuh kamu sudah berada di bandara Soetta." Ucap mami Endah lalu keluar lagi dari kamar Laila.


"Ya Allah tidak mungkin aku memohon pada ular itu. Itu sama saja aku akan menghabiskan air mata dan energiku, lebih baik aku harus membebaskan diriku dari tempat ini terlebih dahulu dan mungkin kline itu akan menolongku." ucapnya bermonolog.


Malam itu Laila sulit sekali untuk tidur, ia kembali menangis mengingat nasib kedua orangtuanya dan menyesali dirinya yang seharusnya terlebih dahulu mencari tempat yang aman untuk bersembunyi sebelum berlari sejauh mungkin untuk mencapai kantor polisi. Kantuk sudah menguasai matanya, tapi ketika ia ingin memejamkan matanya, masuklah seorang gadis yang sangat cantik dan seksi dengan tubuhnya yang sangat letih, sesaat ia memperhatikan tubuh mulus gadis itu yang terdapat banyak sekali tanda merah dileher dan dadanya. Lengerie yang dikenakannya tanpa pakaian dalamnya sehingga sangat jelas tubuhnya terekspos oleh Laila. Pelan-pelan Laila mendekatinya dan mencoba menyapanya.


"Permisi mbak!" bolehkah aku tahu apa yang terjadi padamu?" Tanyanya dengan sedikit menekan liurnya karena gugup.


"Apakah kamu orang baru disini?" tanya Lisa dengan suaranya yang sudah mulai redup karena lelah.


"Iya saya baru saja tiba satu jam yang lalu. Kenalkan namaku Suryani." ucapnya memperkenalkan dirinya.


"Aku rasa tidak usah menjawab pertanyaanmu itu, karena kamu akan merasakan sendiri, seperti apa yang aku rasakan setiap hari bahkan setiap saat, kau harus terpaksa tersenyum dengan nada manja merayu dan becanda dengan para lelaki brengsek yang menginginkan tubuhmu." Ujar Lisa dengan matanya mulai terpejam dengan posisi tidur tengkurap memeluk bantal.


"Apakah kamu melayani mereka seharian?" Tanya Laila yang masih ingin tahu banyak pekerjaan gadis malang ini.


"Aku dan hampir semua gadis di sini harus berperan seperti yang di inginkan para pelanggan, yang ingin kami melakukan apa saja seperti yang mereka pinta. Sekalipun tubuhmu lelah mereka tidak peduli, mereka hanya menginginkan milikmu untuk mereka salurkan na*su bejat mereka. Aku mengantuk ingin tidur karena besok aku harus melayani tamu lagi." Ucap Lisa lalu langsung terkapar menelusuri mimpinya yang bisa ia nikmati di saat tidur lelapnya.


Laila kembali menangis meratapi nasibnya yang malang, karena tidak mampu melawan apa lagi untuk kabur, ia hanya bermunajat agar Allah yang akan membebaskannya dari neraka ini. Ia bangkit menyelimuti tubuh gadis yang usianya tidak jauh dengan dirinya.


"Semoga suatu hari nanti, kamu akan bebas dari sini saudaraku, yakinlah ada Allah yang akan menyelamatkanmu, walaupun duniamu kotor, namun Allah tetap mendengar jeritan hatimu yang ingin kebebasan sama sepertiku." ucapnya hingga terdengar oleh gadis yang bernama Lisa itu.


Laila mengecup kening gadis itu lalu kembali ke tempat tidurnya. Iapun masih terjaga sampai masuk waktu azan subuh. Ia pun berpikir lebih baik tidur di pesawat dari pada disini. Setidaknya ia akan bertemu dengan banyak orang tanpa ketakutan untuk dirong-rong oleh mami Endah.


🌷🌷🌷


Keesokan harinya, dengan ditemani oleh empat orang bodyguard Laila menemui seorang pria yang tidak lain ada Rully asisten tuan Edy. Merekapun sudah berada di ruang tunggu dan siap berangkat. Hanya satu bodyguard yang boleh menemani Laila dan Rully sedangkan yang lainnya kembali ke markasnya mami Endah untuk menjalani perintah selanjutnya.


Tidak lama pesawat internasional Jakarta Singapura sudah tinggal landas membawa dua orang yang telah siap bertemu dengan orang yang sangat penting yang bernama tuan Edy. Waktu tempuh satu jam 30 menit pesawat mereka sudah mendarat di bandara setempat. Asisten Rully segera mengajak Laila untuk bertemu dengan tuan Edy yang sudah menunggu mereka di hotel mewah yang ada di si kota besar di negara tersebut.


Ketika memasuki kamar hotel tersebut, tuan Edy yang masih berdiri membelakangi Laila nampak asyik memperhatikan jalanan ibukota yang ramai dengan kendaraan dan tatanan kota Singapura yang begitu indah. Tidak lama kemudian iapun berbalik melihat wajah gadis yang sudah ia bayar untuk memuaskan nafsunya. Begitu leganya Laila bahwa lelaki yang ditemuinya masih muda dan sangat tampan. Inilah pertemuan pertama keduanya yang langsung jatuh cinta pada pada pandangan pertama. Laila yang sangat cantik dan tuan Edy yang sangat rupawan.


Kesalahan Laila saat itu adalah tidak menceritakan keadaannya saat itu juga, di mana dirinya sedang dilanda prahara. Keluarganya yang dibantai oleh dua lelaki brengsek yang telah menghancurkan hidupnya. Ia hanya bernegosiasi untuk dinikahi walaupun hanya secara sirih atau sah di mata agama. (Percakapan sudah di bahas di episode sebelumnya)


Singkat cerita ia kembali ke Indonesia dengan bodyguardnya bersama asisten Rully. Tapi kepulangannya ke Jakarta hanya membawa sial bagi dirinya, ia dipertemukan kembali dengan tuan Hermanto yang saat itu sedang bersembunyi di kamar mami Endah. Dengan perjanjian yang cukup menggiurkan bagi mami Endah dan tuan Hermanto yang hanya meminta mami Endah, menyuruh Laila untuk menandatangani surat pernyataan agar ia bisa bebas dari rumah bordil tersebut.


"Duduklah Suryani, aku mau bicara penting padamu, aku tahu kalau kamu tidak ingin menjalani hidup seperti ini, sebagai gantinya kamu harus melakukan sesuatu untukku, jika kamu ingin bebas dari tempat ini dan tidak lagi melayani klien saya maka kamu harus menandatangani beberapa berkas seperti surat pernyataan, bahwa kamu berada di sini tanpa ada paksaan dan tidak akan melaporkan keadaanmu kepada pihak berwajib." pinta mami Endah.


Laila yang tidak mengetahui kalau berkas itu adalah warisannya yang akan beralih kekuasaan harta warisan orang tuanya tersebut atas nama tuan Hermanto dan tuan Subandrio. Iapun menandatanganinya tanpa ingin banyak bertanya atau mau membacanya. Baginya kehormatan lebih penting dari pada apapun. Usai melakukan apa yang dipinta oleh mami Endah iapun pamit untuk pulang lagi ke kediamannya karena ingin mengetahui apa yang terjadi pada kedua orangtuanya. Tuan Hermanto sangat puas dengan cara kerja mami Endah, dengan begitu mudah mendapatkan tandatangan dari Laila. Tuan Hermanto tetap pada niat awalnya untuk menghilangkan nyawa Laila supaya gadis itu tidak akan buka mulut tentang kejadian tiga malam lalu dikediamannya.


Laila menumpangi taksi menuju ke rumahnya, namun ada hal yang tidak disangkanya, jika ada anak buah dari tuan Hermanto sedang mengikutinya dari belakang. Pak sopir yang merasa diikuti, memberi tahu pada penumpangnya yang saat ini sedang memejamkan matanya.


"Neng sepertinya ada yang mengikuti kamu." ucap sopir taksi itu sambil melirik ke kaca spion dalam mobil.


"Ya Allah, apakah benar pak?" tanya Laila panik sambil melihat ke arah belakang.


Dan benar saja mobil itu hampir mendekati taksi itu. Laila meminta sopir itu ngebut dan tidak usah mengantarkannya ke tempat tujuan. Baru saja beberapa meter taksi itu melintasi jalan raya yang lengang itu, mobil yang mengikuti mereka akhirnya memepetkan mobil taksi itu hingga kecelakaan tidak terelakkan. Mobil taksi itu hilang kendali kemudian terguling tiga kali hingga terseret sekitar dua ratus meter dan berhenti dengan posisi mobil itu terbalik.


Setelah memastikan mobil itu, sebentar lagi akan meledak karena tangki bensinnya sudah mulai bocor dan percikan api terlihat di bawah mesin. Mobil suruhan anak buah tuan Hermanto meninggalkan tempat kejadian perkara.


Tidak lama kemudian datanglah pertolongan dari mobil lain yaitu tuan Edy dan asistennya Rully, yang sejak tadi mengikuti mobil penguntit dan taksi yang ditumpangi oleh Laila. Asisten Rully buru-buru menghentikan mobilnya dan tuan Edy langsung memasuki mobil yang terbalik itu untuk menyelamatkan gadisnya Laila.


Api sudah mulai menjalar ke badan mobil, Laila yang kepalanya sudah bersimbah darah tampak pingsan.

__ADS_1


Tuan Edy berusaha menarik tubuh Laila yang masih terikat oleh seat belt mobil. Asisten Rully mencoba menyelamatkan sopir taksi itu namun naas ketika ia ingin menyelamatkan nyawa sopir itu mobil pun meledak. Beruntunglah tubuh Laila bisa diselamatkan satu menit kemudian sebelum mobil itu meledak.


"Rully cepat buka pintu mobilnya, kita harus membawa gadis ini ke rumah sakit, cari rumah sakit terdekat." titah tuan Edy kalap sambil menggendong tubuh gadisnya.


"Iya tuan!" Tukas asisten Rully yang sudah membuka pintu mobil itu lalu menyalakan mesin mobilnya, dengan kecepatan tinggi. Hanya dalam waktu dua puluh menit, mereka sudah tiba di rumah sakit.


Suster dan dokter yang sudah siap di tempat menyambut tubuh Laila untuk dibawa ke ruang IGD. Tidak lama kemudian dokter keluar lagi untuk meminta persetujuan dari wali Laila untuk menandatangani pernyataan operasi karena bagian otak Laila mengalami penyumbatan pembuluh darah darah yang akan menyebabkannya lumpuh jika gadis itu tidak segera dioperasi.


"Maaf tuan kami butuh tanda tangan anda karena pasien harus segera dioperasi, jika tidak segera dioperasi mungkin nyawanya tidak akan tertolong atau dia bisa saja sembuh, tapi akan mengalami kelumpuhan otak yang akan menyebabkan bagian tubuhnya yang lain bisa jadi cacat." Ucap dokter seraya menyodorkan surat pernyataan untuk tindakan operasi segera mungkin.


"Baik dokter, tolong lakukan yang terbaik untuknya, aku harap anda bisa menyelamatkannya dokter." ucap tuan Edy dengan suara tercekat menahan tangisnya.


Walaupun baru dua hari mengenal Laila, tuan Edy merasa ia sudah sangat dekat dengan Laila. Dokter pun meminta suster untuk membawa Laila ke kamar operasi. Tuan Edy juga mengikuti brankar yang membawa tubuh cintanya itu bersama dengan asistennya Rully.


Tiga jam kemudian operasi berjalan dengan baik, dokter Adrian beserta timnya merasa lega bisa menyelamatkan nyawa Laila. Setelah dibereskan tubuh cantik itu, Laila kembali dibawa ke kamar inap VVIP. Tuan Edy yang setia menemani gadisnya merasa sangat bersyukur mendapati Laila bisa melewati masa kritisnya.


Ia mencium gadisnya itu berulang kali dengan tetesan air matanya yang sudah membasahi pipinya dan pipi Laila yang masih terbaring lemah.


"Hai sayang, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi pada hidupmu, walaupun pertemuan kita baru sesaat tapi hatiku sudah terikat kepadamu. Cepat sembuh cintaku, aku akan menikahimu bukan sebagai istri siri tapi kamu akan aku halalkan dalam ikatan suci yang akan diakui oleh agama maupun negara." Bisik tuan Edy ke telinga Laila.


Mungkin Laila mendengar perkataan indah dari pria tampan yang dua hari ini sudah mengambil hatinya, ia meneteskan air matanya yang mengalir disudut matanya lalu jatuh menimpa kupingnya. Tuan Edy begitu mesra mengisap air mata itu ketika bulir bening itu kembali menetes dari sudut mata kekasih hatinya ini yang belum sadar pasca operasi.


Keesokan harinya Laila sudah siuman pasca operasi, ia melihat sosok lelaki yang ada disampingnya tapi, ia tidak mengenali wajah tampan itu sama sekali.


"Laila apakah kamu sudah sadar sayang?" tanya tuan Edy dengan wajah sendu kepada Laila yang menatapnya bingung.


"Siapa kamu?" Saya tidak mengenalmu." Bentak Laila sambil memegang kepalanya yang terasa berat.


"Degg! Sontak saja tuan Edy terkejut jika Laila tidak mengenalnya.


"Laila ini aku sayang, kekasihmu, aku Edy, kita berjanji akan menikah dalam waktu dekat ini." Ucap tuan Edy sedih melihat perubahan Laila yang tidak mengenali dirinya.


"Aku tidak ingat apapun, tolong jangan paksa aku untuk mengingat sesuatu, aauhh!!" kepalaku sangat sakit." Pekik Laila sambil meringis memegang kepalanya yang terasa sangat nyeri.


Tuan Edy memencet bel untuk memanggil dokter atau suster jaga saat itu, para medis itu datang menghampiri kamar inap pasien Laila.


"Dokter mengapa dia tidak mengingat apapun, apa yang terjadi dokter?" Tanya tuan Edy kepada dokter dengan perasaan yang sangat gugup.


"Mohon tenang tuan!" Saya harap anda bisa keluar sebentar supaya kami bisa menangani nona ini dengan lebih teliti." Ucap dokter Adrian yang berusaha menenangkan kekasihnya Laila.


Tuan Edy menuruti apa kata dokter Adrian dengan meninggalkan kamar inap Laila. Dokter mulai memeriksa lagi keadaan pasiennya ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Laila, sekedar melengkapi diagnosanya agar bisa dianalisis secara medis. Laila menjawab semua pertanyaan dokter tentang apa yang dirasakannya. Setelah dirasa cukup, dokter keluar menemui tuan Edy yang masih berdiri di balik pintu kamar itu.


"Maaf tuan sepertinya, nona Laila mengalami amnesia. Sebaiknya anda harus bersabar dan mencoba merangsang ingatannya perlahan-lahan, dengan begitu ia bisa mengenali lagi orang-orang yang ada disekitarnya terutama orang yang ia cintai yaitu tuan sendiri." Ucap dokter Adrian memberikan saran kepada tuan Edy tentang permasalahan Laila yang saat ini mengalami amnesia.


"Aku saja baru mengenalnya dua hari, memori terindah apa yang kupunya untuk memancing ingatannya kembali. Ya Allah Laila mengapa kamu harus mengalami ini sedangkan aku tidak mengenalmu sama sekali." Ucap tuan Edy dalam hatinya, sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Dokter Adrian meninggalkan tuan Edy yang bingung dengan keadaan Laila. Ia kembali ke ruang kerjanya, sedangkan tuan Edy kembali menemui ratunya yang sedang menatap kosong langit-langit kamar inapnya yang semua serba putih.


"Sayang jangan bengong begitu, ada aku disini tunangan kamu. Jangan terlalu memaksakan dirimu untuk berpikir sesuatu yang tidak bisa kamu ingat. Cukup aku yang ada dipikiran kamu saat ini ya." Ucap tuan Edy menghibur Laila.


"Apa yang sebenarnya terjadi yang padaku tuan, mengapa aku bisa berada di sini dan bagaimana dengan keluargaku, apakah aku memiliki orangtua atau saudara?" Tanya Laila yang ingin menemui orangtuanya.


"Aduh!" mampus aku kalau kaya gini, apa yang harus aku jawab, kenal saja baru tahu namanya, bahkan orangtua dan tempat tinggalnya pun, belum sempat aku tanyakan, ya Allah Laila mengapa jadi serumit ini menghadapimu." Ucap tuan Edy seraya menepuk jidatnya karena dirinya sama sekali buta tentang asal usul Laila.

__ADS_1


"Mengapa tidak menjawab pertanyaanku, apakah aku yatim piatu atau aku tunas wisma atau... tolong jawab pertanyaanku, jangan biarkan aku terus menebak siapa diriku jika kamu benar-benar tunanganku dan kekasihku." Ujar Laila dengan suara yang cukup keras memaksa tuan Edy memberi tahukan siapa dirinya.


Tuan Edy hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kepalanya juga terasa lebih pusing daripada Laila yang saat ini sedang mengalami amnesia.


__ADS_2