SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
63. CABUT GUGATAN


__ADS_3

Nadia membesuk Anjani yang masih belum sadarkan diri. Ia sudah memutuskan untuk menerima pilihan yang ditawarkan oleh tuan Fahri.


Tok...Tok!" Pintu itu pun dibuka oleh ibunya Anjani.


"Silahkan masuk Nadia," ucap ibunya Anjani menyapa Nadia.


"Assalamualaikum Nyonya, saya ingin bertemu dengan tuan Fahri." Nadia tertunduk lesu.


"Waalaikumuslam, tunggu sebentar Nadia, suamiku sebentar lagi akan tiba, ia dan pengacaranya sedang menuju ke sini." Ibunya Anjani mempersilahkan Nadia duduk.


"Apakah Anjani belum sadar nyonya?" Tanya Nadia yang melihat kondisi Anjani dengan kakinya dalam keadaan digips.


"Kakinya patah Nadia, kami juga belum tahu apakah ia masih bisa jalan atau tidak." Ibunya Anjani terlihat sedih.


"Semoga Anjani cepat pulih nyonya dan bagaimana dengan Nayla?" Tanya Anjani yang tiba-tiba ingat dengan putrinya Anjani.


"Alhamdulillah dia baik-baik saja, kasihan bayi malang itu, ia tumbuh tanpa sentuhan kasih seorang ayah, Daffa benar-benar tidak bertanggung jawab dengan putrinya." Ibunda Anjani menyesalkan perbuatan Daffa.


"Cih, jelas-jelas Nayla itu bukan anak dari suamiku, mengapa masih sesumbar aja ni orang mengumpat suamiku." Ucap Nadia membatin.


"Apakah kamu mau minum Nadia?" Tawar Nyonya Anjani lalu memberikan air mineral untuk Nadia.


Nadia meneguk minumannya lalu melihat lagi ke arah Anjani. Tidak lama kemudian, tuan Fahri dan pengacaranya datang. Tuan Fahri tersenyum manis melihat Nadia yang sudah berada di kamar inap putrinya.


"Apakah kamu sudah siap nona Nadia menandatangani surat pernyataan bahwa kamu bersedia untuk menggugat cerai Daffa?" Tuan Fahri menegaskan lagi keputusan Nadia.


"Saya mau mas Daffa dibebaskan terlebih dahulu, agar saya yakin dengan keputusan saya ini bisa menolongnya." Nadia mengancam tuan Fahri untuk lebih mendahulukan janjinya ketimbang menuntut Nadia.

__ADS_1


"Baiklah aku akan menghubungi polisi untuk membebaskan Daffa sekarang juga." Tuan Fahri menelepon polisi bagian tindakan kriminal.


"Hallo selamat sore pak Beno, saya Fahri ayah dari korban nona Anjani. Saya ingin mencabut gugatan saya pada tuan Daffa. Saya ingin berdamai dengan Daffa. secara kekeluargaan, walau bagaimanapun dia adalah menantu saya." Ucap Tuan Fahri.


"Kami akan mengurusnya tapi harus ada penandatanganan perjanjian damai ini dengan kedua belah pihak, yaitu pelapor dan tersangka Tuan." Ucap polisi Beno.


Tuan Fahri meminta pendapat pengacaranya, apa yang mesti ia lakukan. Setelah berunding sebentar ia pun kembali berbicara kepada polisi Beno.


"Pengacara saya bilang, kalau ia akan mengirim asistennya untuk mewakili saya dalam menangani masalah ini pak. Saya harap secepatnya Daffa dibebaskan hari ini juga." Ujar tuan Fahri lalu mengakhiri pembicaraannya setelah polisi Beno siap mengurus semua berkas yang harus ditandatangani oleh kedua belah pihak.


"Saya sudah melaksanakan tugas saya nona Nadia, sekarang giliran anda untuk menandatangani surat perjanjian kita." Tuan Fahri menyodorkan berkas perjanjian itu untuk dibaca oleh Nadia.


"Saya akan paraf jika sudah melihat mas Daffa dibebaskan. Jadi saya belum bisa paraf perjanjian ini." Nadia tidak ingin terkecoh dengan mulut manis tuan Fahri.


Tuan Fahri mengepalkan tangannya erat, rahangnya mengatup rapat dengan wajahnya yang sudah merah padam mendengar Nadia tidak kunjung menadatangani perjanjian mereka.


"Karena ini permasalahan yang serius makanya saya harus lebih berhati-hati untuk bertindak." Nadia tetap kekeh dengan pendiriannya.


"Baiklah kita tunggu sampai kamu melihat Daffa bebas. Dan aku harap kamu pegang janjimu." Ancam tuan Fahri.


"Saya bukan orang yang suka ingkar janji Tuan, anda bisa buktikan sendiri kata-kata saya. Tapi jika suatu saat nanti kebenaran dari kejadian yang menimpa putri anda Anjani bukan kesalahan mas Daffa, aku yang akan menuntut balik anda dengan tuduhan pencemaran nama baik," Ucap Nadia mengancam balik Tuan Fahri.


"Ternyata anda punya nyali juga mengahadapi saya, sebegitu yakinnya anda kepada Daffa hingga membutakan hati anda atas nama cinta." Tuan Fahri menyeringai di depan wajah Nadia yang tertutup rapat dengan cadarnya tersebut.


"Cinta hanya bisa bicara dengan fakta, soal rasa itu adalah anugerah, cinta buta yang dimiliki putri anda dengan tuduhan yang tidak mendasar pada mas Daffa bahwa cucu anda adalah anak kandung Daffa sedangkan uji ulang sampel DNA sudah terbukti kebenarannya dengan tiga rumah sakit berbeda, hingga melibatkan rumah sakit negara tetangga," Ujar Nadia yang sudah tidak sabar dengan nyinyiran tuan Fahri pada suaminya Daffa.


"Apakah kamu sedang mengatakan bahwa putriku berbohong dengan tes DNA yang pertama yang dilakukannya pada cucuku?" tanya ibunda Anjani seakan tak percaya dengan pengakuan Nadia.

__ADS_1


"Hanya putri anda yang bisa menjawabnya, mungkin saat ini kebenaran memang selalu kalah tapi tidak pernah akan salah. Oknum dokter yang telah bersekongkol dengan Anjani, yang telah memanipulasi hasil laporan tes DNA cucu anda nyonya." Ujar Nadia lagi.


Degg!" Ibunda Anjani menelan salivanya dengan gugup, kini pandangannya beralih pada putrinya yang sedang berjuang antara hidup dan mati.


"Ibu jangan terprovokasi dengan ucapan gadis ini, mungkin saja Daffalah yang telah meminta rumah sakit itu untuk memanipulasi tes DNA cucu kita Nayla, kita harus percaya pada putri kita karena hal yang beresiko seperti itu tidak akan mungkin ia menipu kita." Ucap tuan Fahri yang masih mempercayai putrinya.


"Itu terserah pada penilaian anda, yang jelas saya sudah mengatakan kebenarannya, jika mau, saya juga bisa menuntut putri anda dan rumah sakit yang telah mengeluarkan laporan palsu itu, dengan begitu kebenaran akan terungkap dengan sendirinya, siapa yang menipu siapa tuan Fahri yang terhormat." Timpal Nadia yang makin memojokkan Tuan Fahri dan istrinya.


Tidak lama kemudian terdengar dering ponsel milik tuan Fahri, rupanya dari polisi Beno yang menghubunginya. Iapun segera menerima panggilan itu.


"Hallo pak Beno, apakah pihak berwajib sudah membebaskan menantu saya Daffa?" Tanya tuan Fahri.


"Iya Tuan Fahri, kami sudah membebaskan tuan Daffa, dan beliau sudah dijemput oleh asisten pribadinya. Semuanya sudah aman Tuan Fahri." Jawab polisi Beno.


"Terimakasih banyak pak Beno!" Ucap tuan Fahri lalu mengakhiri pembicaraannya dengan pak Beno.


Kini usahanya sudah membuahkan hasil, tinggal satu langkah lagi agar urusannya di permudahkan oleh Nadia.


"Nona Nadia, Daffa sudah pulang ke mansionnya, sekarang giliran anda memenuhi janji anda untuk menandatangani surat perjanjian ini, bahwa anda siap menceraikan Daffa setelah Daffa dibebaskan." Ucap tuan Fahri lalu menyerahkan lagi berkas yang harus ditandatangani oleh Nadia.


Sesaat Nadia memejamkan matanya. Berkali-kali ia beristighfar dan menarik nafas panjang. Ia pun menandatangani surat pernyataan yang menyatakan ia siap menceraikan Daffa setelah Daffa dinyatakan bebas oleh polisi karena sang penggugat mencabut gugatannya pada tersangka Daffa, menantu dari tuan Fahri. Setelah memenuhi janjinya, iapun pamit kembali ke kamarnya untuk mempersiapkan dirinya meninggalkan rumah sakit.


Di kamar inap miliknya, Nadia meraung sendirian. Hatinya merasakan sakit yang amat sangat, antara menyesal atau merelakan suaminya untuk wanita lain. Ini benar atau salah, tidak bisa lagi ia bedakan, yang ada dihatinya adalah ingin melihat suaminya bebas.


"Mas Daffa maafkan aku sayang, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya bisa menolongmu agar kamu tidak mendekam di penjara.... hiks..hiks!" Nadia meratapi keputusannya.


"Nadia!"....?

__ADS_1


Bersambung....?


__ADS_2