
Nyonya Laila berlari menghampiri kamar inap putranya yang sedang dirawat di rumah sakit termewah di daerah Jakarta Selatan. Daffa yang masih dibawah pengaruh obat penenang tampak pulas merehatkan tubuhnya yang sudah empat malam ini sulit sekali untuk tidur.
Nyonya Laila melihat Nadia masih setia duduk di samping brangkar Daffa, sambil melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an yang ada dalam aplikasi ponselnya. Adiknya Fadil pamit pulang duluan, karena tidak kuat menahan ngantuk sebab bergadang semalaman.
"Assalamualaikum Nadia!" ucap maminya Daffa sembari memeluk tubuh Nadia.
"Waalaikumuslam mami!" sambut hangat Nadia ikut mengeratkan pelukannya pada ibu dari mantan suaminya ini.
"Apa yang terjadi Nadia, mengapa Daffa bisa bersamamu?" tanya nyonya Laila yang cemas dengan nasib putranya.
Nadia menceritakan semua kronologinya bagaimana ia bisa membawa tubuh Daffa ke rumah sakit tersebut. Nadia menceritakan apa adanya agar maminya Daffa mengerti posisinya saat ini yang bukan lagi istri dari putranya Daffa.
"Ya Allah, mengapa aku tidak tahu kalau putraku sampai depresi seperti ini?" gerutunya dengan tangis yang terdengar sesak karena melihat keadaan putranya yang sangat memprihatikan, tubuh kurus dengan kelopak mata cekung dihiasi lingkaran hitam yang terdapat dibagian bawah matanya.
Daffa kembali menyebut-nyebut nama Nadia dibawah alam sadarnya. Sesaat kedua wanita beda generasi ini melihat ke arah Daffa yang terus meracau memanggil Nadia.
"Nadia, sayang, jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu, Nadia kembalilah padaku sayang, hidupku terasa sepi tanpamu." ucapnya dalam keadaan matanya terpejam.
Nadia menangis memeluk nyonya Laila, ia juga tidak sanggup melihat keadaan Daffa yang saat ini tidak bisa lagi menatap dunia dengan keangkuhannya, jauh sebelum lelaki kharismatik itu jatuh cinta pada dirinya.
Nyonya Laila juga bingung harus berbuat apa, karena ia sendiri sulit mengambil keputusan siapa yang harus ia menangkan hati diantara dua lelaki yang sangat ia cintai.
Jika ia berpihak pada putranya, ia dan putranya harus keluar dari nama besar Subandrio Diningrat dan bersedia diceraikan oleh suaminya. Tapi jika ia bertahan, putranya yang akan mengorbankan perasaannya karena harus kehilangan seorang istri yang sangat dicintainya sampai saat ini.
Nadia, ingin pamit pulang, karena sudah ada nyonya Laila yang akan menemani putranya. Namun nyonya Laila tetap memohon pada Nadia untuk tetap tinggal sebentar sampai Daffa sudah sadar.
"Mami, Nadia pamit pulang ya, Nadia belum istirahat dari jam dua pagi sampai sekarang belum tidur." ucap Nadia yang tidak ingin lagi berada bersama Daffa. Ia tidak bisa membohongi dirinya, jika ia masih memiliki hasrat untuk memeluk bahkan sekedar ingin mencium mantan suaminya.
"Nadia, Daffa masih belum sadar sayang, tolong mengertilah keadaannya, jika kamu takut ini jadi fitnah, ada mami disini yang akan menemanimu menjaga Daffa." ucap nyonya Laila yang sangat mengetahui jalan pikiran menantunya ini. Gadis ini tetap memegang prinsipnya, menjaga hatinya, ia tetap istiqamah dengan keimanannya, walaupun hatinya sendiri sulit menerima perpisahannya dengan Daffa.
"Baiklah mami, kalau hanya sampai mas Daffa siuman saja ya, setelah itu, Nadia pulang." ucap Nadia ragu-ragu kepada ibu mertuanya.
"Terimakasih atas keperdulianmu Nadia, mami minta maaf, jika semua persyaratan perceraian ini, yang sangat merugikanmu, terutama engkau harus berkorban untuk hatimu yang harus siap terluka." ucap nyonya Laila dengan wajahnya yang terlihat sendu menahan pilu sambil menatap manik hitam milik Nadia yang saat ini wajahnya tertutup cadar.
"Sudahlah mami, semua sudah terjadi, mungkin jodoh Nadia dan mas Daffa hanya sampai satu tahun, jujur Nadia sebenarnya tidak terima dengan persyaratan kakek, tapi bagaimanapun juga Nadia tidak boleh egois demi mami dan mas Daffa.
__ADS_1
"Maafkan mami Nadia, karena mami tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan pernikahan kalian." ucap nyonya Laila yang sudah berkaca-kaca menatap wajah menantu kesayangannya ini.
"Nadia, sayang!" panggil Daffa yang baru siuman membuat Nadia dan nyonya Laila serentak menengok ke arah Daffa yang sedang menatap kedua wanita yang sangat ia cintai ini.
"Alhamdulillah sayang, putraku, kamu sudah sadar sayang." ucap nyonya Laila penuh rasa syukur, lalu menghampiri putranya.
Nyonya Laila memeluk putranya yang masih terbaring lemah. Nadia hanya menyeka air matanya tanpa ingin mendekati Daffa yang masih menatapnya dengan wajah sendu.
"Nadia, mengapa kamu menjauh dariku sayang?" tanya Daffa yang berharap Nadia mau mendekatinya.
Nadia hanya menggelengkan kepalanya sambil terisak. Nyonya Laila menghampiri Nadia, ia memohon Nadia sekali saja menyenangkan hati putranya.
"Nadia, jika kamu tidak ingin mendekati Daffa karena menjaga kehormatanmu, setidaknya, mami mohon lakukan ini demi mami sayang." pinta nyonya Laila sambil mengatupkan kedua tangannya menempatkan di bibirnya sambil menangis.
"Maaf mami, Nadia tidak bisa, mas Daffa harus belajar untuk menerima kenyataan, ia tidak boleh lemah, jika ingin meraih lagi kebahagiaannya. Nadia tidak suka dengan mas Daffa yang cengeng, Nadia mau melihat mas Daffa yang super cuek, yang berbicara datar dengan tatapan dingin. Nadia menyukai mas Daffa karena kekurangannya, kesempurnaannya bukan hal yang membanggakan Nadia, justru cinta Nadia teruji, ketika melihat seorang Daffa yang arogan." ucap Nadia dengan perkataan yang serentetan tanpa jeda.
Daffa dan nyonya Laila, hanya mendengarkan kata-kata Nadia tanpa ingin menyela. Daffa tahu Nadia ingin membuatnya marah, ia tidak ingin terpancing dengan perkataan istrinya itu. Ia tetap menatap manik hitam istrinya dengan wajah memohon.
"Apakah kita tidak bisa bicara sebentar saja tanpa kamu harus mengingatkan aku tentang masa lalu yang ingin aku lupakan sayang." ucap Daffa dengan lelehan air mata yang menggenangi kelopak mata cekungnya.
"Sebaiknya mas Daffa, berhenti mencintaiku dengan begitu mas Daffa akan bisa menerima cinta yang lain untuk menetap dihatimu selamanya." ujar Nadia menasehati mantan suaminya ini.
"Sebaiknya aku segera pulang, aku sudah sangat lelah mengurusmu, kamu bisa mengurus dirimu sendiri tanpa aku di sampingmu. Jangan terlalu manja dan merasa duniamu seakan sudah runtuh. Tidak semua orang seberuntung mas Daffa dan tidak sedikit juga yang mengalami kegagalan hidupnya, hanya karena sekelumit kisah cinta yang berakhir karam.
Mas Daffa harusnya lebih mengenal kehidupan para kaum papah, yang mengais rejekinya entah dengan cara halal maupun haram yang mereka tempuh, demi untuk bertahan hidup, karena lapar yang menyerang perut mereka.
Tidak sedikit laki-laki dewasa maupun remaja usia tanggung yang meletakkan kehormatan mereka dibawah kakinya, hanya ingin mendapatkan rejeki yang halal dengan pekerjaan yang dianggap hina sebagian orang seperti kalian. Entah jadi babu, buru, tukang sapu jalanan ataupun pembersih toilet umum, mereka rela melakukan itu semua, hanya ingin memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Bagaimana dengan nasib para pemulung, yang kesehariannya harus mengacak-acak sampah, dengan mencari barang bekas yang bisa ia jual kembali demi menghilangkan rasa lapar hari ini yang dirasakan oleh keluarganya.
Dan para gadis yang kau tiduri, tidakkah kamu bertanya, apakah diantara mereka ada yang menangis, setelah melayani kepuasan birahimu, dengan bayaran yang tidak setimpal dengan dosa yang akan mereka tanggung nanti ketika mereka pulang menghadap Tuhan mereka. Bagaimana dengan rejeki yang mengharuskan mereka menjadikan hasil keringat mereka dengan mendapatkan rejeki yang haram untuk mereka agar bisa bertahan hidup.
Berapa banyak air mata yang mereka tumpahkan, usai melakukan hubungan intim denganmu, ketika mereka sudah berada dalam kesendirian. Untuk apa mereka melakukan itu, kalau bukan karena ketakutan mereka ketika melihat anak-anak mereka yang sedang kelaparan, atau uang sekolah anak-anak mereka yang masih dalam tunggakan, atau bisa jadi mengobati orang - orang terkasih mereka yang sedang sakit parah." ucap Nadia sengit.
"Nadia, itu bukan ucapan kamu sayang, yang aku kenal. Berhentilah menipu dirimu sendiri Nadia, kamu juga merasa hancur saat ini bukan?" tanya Daffa dengan suara parau.
"Jika aku terluka dan merasa hancur, apakah seluruh dunia harus tahu bahwa aku telah teraniaya oleh keluarga suamiku?" apakah semudah itu aku harus menghukum diriku sendiri hanya karena terpisah dengan seorang lelaki tampan seperti dirimu?" apakah hanya kamu, orang terakhir di dunia ini yang harus aku tangisi hmm?" ucap Nadia berapi-api kepada Daffa yang sedang mendengarkannya dengan cucuran air mata tanpa henti.
__ADS_1
"Mami, Nadia tidak seperti itu mami, itu bukan Nadiaku." rengek Daffa memeluk maminya.
"Dasar pecundang, tidak tahu malu." ujar Nadia lalu meninggalkan Daffa dan ibunya tanpa pamit.
Gadis ini berlari melewati koridor rumah sakit, ia berlari meninggalkan kekasih hatinya yang sedang menjerit memanggil namanya. Ia tidak lagi memperhatikan sopan santunnya di depan mertuanya. Ia mengingkari hatinya untuk dibenci kedua orang yang sangat dicintainya.
Ia tidak ingin mereka mengenang ketulusannya karena akan membuat kedua orang itu terus mengiba dirinya. Daffa yang malang dan Nadia yang menyedihkan, sepasang suami-istri yang berbeda karakter bersatu dalam ikatan pernikahan, saling belajar, saling memberi dan saling melengkapi hingga akhirnya menjadi sekufu, sejajar dalam pandangan, sehebat dalam berbagi dengan dunia mereka masing-masing tanpa saling merendahkan satu sama lain.
Di kamar inap, Daffa terus memanggil nama Nadia, pria ini berteriak histeris dan melemparkan apa saja yang ada di depannya hingga jarum infus ditangannya terputus. Darah berceceran di sekitar seprei dan sekitar ruang kamar inap itu. Dokter dan beberapa orang suster berhamburan menghampiri kamar inap miliknya. Nyonya Laila juga sangat takut melihat amukan putranya, iapun juga menangis histeris sambil menyebut Tuhannya dan nama putranya.
Empat orang perawat pria menahan tubuhnya dan suster memasang lagi jarum infusnya. Setelah ditunggu Daffa sulit bergerak, akhirnya dokter menyuntikkan lagi obat penenang ke botol infus Daffa. Setelah menunggu beberapa saat mantan suami Nadia ini, akhirnya terkulai lemas karena reaksi obat penenang yang sudah menyusup dalam jaringan syarafnya. Ia kembali tertidur dengan panggilan terakhir nama kesayangannya, Nadia.
Nyonya Laila yang dari tadi menatap pemberontakan putranya kembali merasa tenang, ia hanya terus berzikir, tak ingin lagi berkata apapun. Dokter Alim menemuinya dan mereka akhirnya terlibat dalam suatu dialog serius, menceritakan bagaimana kondisi Daffa yang tidak bisa secepatnya move on dari keterpurukannya, karena ia masih membutuhkan sosok mantan istrinya tersebut.
"Dokter bagaimana dengan putra saya?" tanya nyonya Laila dengan wajahnya yang sekarang Kelihatan pucat dengan tubuh yang masih gemetar.
"Maaf nyonya, jika yang anda harapkan kesembuhan dari putra anda tuan Daffa, mungkin sedikit sulit saya mengatakannya, bahwa putra anda tidak bisa sembuh dalam waktu singkat. Ia akan sembuh kecuali ia sendiri yang menginginkan dirinya sembuh, bukan karena pengobatan dari kami. Sakit yang datang dari dalam jiwa seseorang sulit sekali untuk disembuhkan kecuali lingkungannya dan dirinya sendiri yang bisa membuat ia semangat untuk sembuh kembali." jelas dokter Alim yang menerangkan secara detail perihal kondisi kejiwaan yang dialami oleh Daffa.
Air mata nyonya Laila luruh, bersamaan dengan tubuhnya yang jatuh terduduk di sofa yang dekat dengan tempatnya berdiri. Dokter dan beberapa perawat pamit meninggalkan kamar inap Daffa setelah mereka membereskan kekacauan yang ditimbulkan oleh Daffa hampir melukai dirinya sendiri. Jauh di luar sana di mana Nadia sudah berada di dalam taksi pulang menuju rumahnya. Gadis ini masih terisak mengenang dirinya, yang tega mengatai Daffa dengan kata-kata kasar dan meninggalkan Daffa dan nyonya Laila begitu saja tanpa ada rasa iba pada keadaan Daffa yang masih menginginkan dirinya, untuk tetap tinggal menemani Daffa yang sedang sakit.
"Maafkan aku mas Daffa, jika aku mengikuti apa yang kamu inginkan, bagaimana caranya kita akan memulai lagi membuka lembar kehidupan yang baru, bukankah akan lebih sulit jika kita masih melibatkan perasaan kita untuk terus saling memiliki seperti sepasang suami istri?" Maafkan aku mas, hanya dengan cara ini, kamu belajar bagaimana caranya untuk kembali bangkit menghadapi ujian yang Allah sedang berikan kepada kita saat ini." ucapnya membatin.
Tidak lama taksi pun berhenti di alamat yang disebutkan Nadia saat memesan taksi online itu. Nadia turun dari taksi online itu setelah membayar uang sesuai tarif taksi online tersebut. Dengan ucapan terimakasih taksi itupun berlalu dari depan pagar rumahnya. Nadia berjalan masuk ke rumahnya dimana dirinya sudah ditunggu oleh anggota keluarganya.
"Assalamualaikum umi, abi maaf Nadia baru pulang dari rumah sakit." ucap Nadia dengan wajah tertunduk.
"Waalaikumuslam Nadia, duduklah sebentar nak, abi dan umi mau bicara denganmu." ucap umi Kulsum pada putrinya yang kelihatan sangat lemas yang sudah duduk di hadapan mereka.
"Nadia bagaimana keadaan Daffa?" abi sudah mendengar cerita kalian dari adik kembarmu." tanya ustadz Aditya kepada putrinya ini.
"Sangat memprihatikan abi, mas Daffa sepertinya belum siap kehilangan Nadia, tapi Nadia tidak mau terbawa suasana dengan kondisi mas Daffa, Nadia sudah pasrahkan kondisi mas Daffa kepada Allah, hanya Allah yang bisa membolak-balik hati hambaNya. Nadia tetap memegang prinsip hidup agar terhindar dari fitnah seperti abi ajarkan kepada Nadia dan adik kembar Nadia," ucapnya dengan bersimbah air mata.
"Syukur alhamdulilah, putri abi sudah sangat dewasa sekarang dalam menyikapi hidup, bagaimanapun keadaannya, kita harus tetap menjaga Allah dengan demikian, Allah juga akan menjaga diri kita dari kemaksiatan dan juga fitnah yang keji yang dilontarkan oleh beberapa orang yang memiliki hati dengki dan pikiran sempit." ujar ustadz Aditya menasehati putrinya.
"Kalau begitu Nadia pamit istirahat dulu abi, umi, Nadia sangat lelah hari ini," ucapnya, lalu meninggalkan kedua orangtuanya setelah mendapat anggukan kepala dari keduanya.
__ADS_1
Nadia menghempaskan tubuhnya diatas kasurnya yang empuk, kembali meratapi nasibnya didalam sana, meluapkan semua sesak dan sesal dalam hatinya. Hanya ini yang bisa mengobati jiwanya. Biarkan semuanya berlalu, cukuplah waktu yang akan menyembuhkan segalanya. Nadia akhirnya terlelap karena lelah telah mengusai jiwa raganya. Sambutan pagi yang harusnya dengan ceria namun tidak lagi berlaku untuk keluarga ini. Mereka harus menahan segala kepedihan tanpa harus menyalakan siapapun karena mereka sangat yakin Allah akan mengembalikan kebahagiaan untuk putri mereka yang sangat sholehah itu.
"Biarkan purnama berlalu, jika hidup memilih untuk tetap setia pada Ilahi, biarlah cinta diam di tempatnya, jika ia tidak ingin kamu memilikinya, biarkanlah rintangan menghalangi kebahagiaanmu karena tiada duka yang tak akan selamanya tinggal dan tiada sepi yang selalu merantaimu selamanya karena takdir hidup harus tetap dijalani sampai titik nadir menyambut ajal menjemput kita nanti. Lelap, lelapkan tidurmu sampai waktu yang akan membangunkanmu agar kamu tetap tersenyum dihari esok."