
Nyonya Laila mengakhiri kisahnya karena sudah masuk jam makan siang, sedangkan Daffa dan Nadia masih ingin mendengarkan lagi kisah selanjutnya. Nyonya Laila mengajak keduanya untuk kembali ke dalam mansion karena udara hari itu cukup terik.
"Sayang sebentar lagi makan siang, sebaiknya kita makan dulu, kasihan bayi kalian yang lagi kelaparan di dalam tuh." Ujar mami Laila mengingatkan menantu dan putranya.
"Ya mami, masa lagi seru di suruh makan." Gerutu Daffa sambil cemberut manja pada maminya.
"Nanti kalau sudah makan kita teruskan lagi sayang, kasihan Nadianya." Ucap nyonya Laila sambil menarik lengan putranya.
Ketiganya sudah berada di meja makan di kursi mereka masing-masing. Nadia melayani suami dan ibu mertuanya dengan menempatkan nasi dan lauk dipiring keduanya dan untuknya sendiri.
"Maaf nyonya tuan besar sudah datang." Ucap kepala pelayan Ririn kepada mami Laila. Ibu dari Daffa ini meninggalkan meja untuk menyambut suaminya pulang.
"Sayang bagaimana keadaan papa saat ini dan siapa yang menunggunya di rumah sakit sekarang ini?" Tanya nyonya Laila sambil membuka jas suaminya dan memberikan kepada pelayannya.
"Keadaannya belum menunjukkan peningkatan dalam pengobatannya mami, kita hanya menunggu dan mendoakan yang terbaik untuk papa, saat ini papa sedang ditunggu oleh pelayannya sendiri." Ujar tuan Edy lalu mengecup bibir istrinya.
"Kebetulan sekarang lagi pada mau makan siang, apakah ayah mau makan bersama anak-anak?" Tanya nyonya Laila kepada tuan Edy sambil memeluk pinggang suaminya.
"Kebenaran ayah juga lagi lapar sayang, ayah sengaja pulang untuk makan bersamamu dan anak-anak." Ujar tuan Edy yang kelihatan sedikit letih.
"Assalamualaikum ayah!" ucap Nadia lalu berdiri sesaat menyambut ayah mertuanya.
"Ayo lanjutkan makanmu Nadia." Ucap tuan Edy dengan tersenyum manis menatap wajah cantik Nadia tanpa cadar.
Mereka menikmati hidangan makan bersama sambil membahas tentang keadaan kakek Subandrio yang lagi terbaring di rumah sakit.
Lima belas menit kemudian mereka sudah berpindah tempat duduk di ruang keluarga sambil bersantai sebentar, kemudian menunaikan sholat dhuhur berjamaah di mushola kecil yang terletak di taman samping, yang mengarah ke kolam ikan hingga membuat tempat itu sangat sejuk dengan gemericik air yang terus mengalir untuk mengairi kolam ikan koi yang terdapat didalam kolam tersebut.
Baru kali ini kejadian langkah ini dialami oleh mereka berempat semenjak mereka berkeluarga. Daffa yang tinggal jauh dari orang tuanya yang memilih hengkang dari rumah ibunya, kini sudah mulai membuka hati kepada ayahnya yang ia benci selama ini. Ia baru memahami betapa besar cinta ayahnya kepada ibunya, hanya saja ia tidak bisa melihat pengorbanan ayahnya yang memperlihatkan cinta itu pada ibu dan dirinya, hingga membuatnya membenci ayahnya dengan buta.
Salam terakhir mengakhiri sholat wajib tersebut, Daffa mencium punggung tangan ayahnya dengan takzim, entah mengapa siang itu ia merasa sesak ketika mencium tangan ayahnya yang selama ini ia sangat benci.
"Ayah maafkan Daffa ayah, karena sudah membenci ayah selama ini..hiks.. hiks!" Ucapnya sambil terisak.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan nak, kamu putra ayah, kamu hanya korban dari keegoisan takdir, kamu tidak perlu merasa bersalah karena tidak bisa mencintai ayah dengan kejernihan hatimu, kita semua adalah korban di sini nak, mungkin sekarang kita baru bisa merasakan kebahagiaan sesungguhnya, karena selama ini telah direnggut oleh keadaan yang tidak memihak kepada kita untuk saling menyayangi seperti keluarga lain." Ucap tuan Edy dengan tangis yang tertahan lalu memeluk putranya yang selama ini ia sia-siakan waktunya yang sangat berharga dan sudah meninggalkan kesempatan selama ini untuk berbagi kebahagiaan.
"Ayahh...hiks...hik!" Tangis Daffa seakan tidak bisa berhenti.
Nadia dan nyonya Laila saling berpelukan dan ikut menangis menyaksikan ayah dan anak ini kembali bersatu dalam ikatan cinta kasih mereka. Setelah saling meminta maaf diantara mereka, Daffa yang masih ingin mengetahui semuanya, mencoba membujuk ayahnya untuk menceritakan lagi kisah cinta kedua orangtuanya, sampai mereka berani menghadapi orang tua dari pihak ayahnya dan juga istri pertama ayahnya yang saat itu belum dikaruniai keturunan dalam pernikahan mereka yang sudah jalan lima tahun berumah tangga.
Ayahnya menatap wajah istrinya, meminta persetujuan orang yang akan ia bahas kepada putra dan menantunya ini.
"Baiklah kalau kamu ingin cerita versi lengkapnya, ayah akan mengisahkannya lagi tapi ayah mohon setelah ayah menceritakan ini kepada kamu, kamu tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan sepihak, karena masalah ini sudah cukup lama dikubur dalam-dalam oleh kakekmu dan ayah mertuaku." Ucap tuan Edy menasehati putranya.
"Insya Allah ayah, jika Daffa bisa menahan diri dari ini semua karena kalian." Janji Daffa pada ayahnya.
Cerita pun kembali dimulai, Nadia dan Daffa duduk berdampingan saling menggenggam tangan, sedangkan nyonya Laila duduk dihadapan suaminya dengan wajahnya mulai muram mengingat lagi apa yang terjadi padanya saat itu.
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Sepulangnya Laila dari rumah sakit, setelah dirawat selama satu minggu lebih, tuan Edy mengungsikan Laila ke villa keluarganya di kota Bogor. Sebulan kemudian mereka melangsungkan pernikahan dengan mengucapkan ijab kabul yang diadakan di kantor agama kota Bogor. Semuanya diurus oleh asistennya Rully yang menyiapkan berkas persyaratan pernikahan mereka.
Lambat laun Laila tidak lagi mempermasalahkan ingatannya, yang hilang dan mempertanyakan asal usul keluarganya atau kehidupan sebelumnya. Tuan Edy juga tidak menyinggung bagaimana ia bertemu dengan Laila dan siapa Laila yang ia kenal sebagai wanita penghibur saat itu.
Laila yang tidak tahu apa-apa nampak nyaman, berada didekat sang kekasih yang sudah sah menjadi suaminya saat itu. Setelah tiga bulan pernikahan mereka Laila dikabarkan hamil. Tuan Edy sangat senang menyambut kabar baik ini. Namun ditengah kebahagiaannya, ia mulai bingung menjelaskan statusnya sebagai pria yang sudah beristri. Laila yang merasa saat itu tidak punya siapa-siapa lagi menerima saja dirinya sebagai istri ke dua dari tuan Edy.
"Sayang aku sangat bahagia karena akhirnya aku memiliki keturunan, tapi ada yang ingin aku katakan kepada kamu, aku mohon kamu tidak salah paham dan menuduhku penipu atau bajingan atau hal tidak ingin aku dengar darimu." Ucap tuan Edy yang sedang merangkai kata, untuk bisa memberitahukan status pernikahannya.
"Katakan apa yang ingin kamu katakan, jika berat untukmu kamu tidak perlu menceritakan kepadaku, jika ini suatu yang penting beranikan dirimu untuk bisa meyakinkanku, aku lebih senang dengan keterbukaan dari pada kamu menyiksa dirimu dengan sebuah kebohongan. Kejujuran memang menyakitkan, tapi itu jauh lebih baik dikatakan diawal pernikahan kita, setidaknya aku siap untuk menerimamu apa adanya." Ucap Laila yang tidak ingin suaminya ini terus bertele-tele dengan pengakuannya yang mungkin akan menyakiti perasaannya.
"Syukurlah sayang jika kamu mengerti akan keadaanku, aku akan berkata sejujurnya kepadamu, bahwa sebenarnya aku sudah memiliki istri sebelum kamu dan pernikahan kami yang sudah lima tahun ini belum juga dikaruniai seorang anak, sampai akhirnya aku bertemu denganmu dan aku bersyukur, aku akhirnya bisa mendapatkan keturunan darimu yang selama ini keluarga besarku sangat mengharapkannya." Ucap tuan Edy sambil memegang tangan istrinya itu.
"Bagaimana dengan istri pertamamu, apakah dia mau menerimaku sebagai madunya?" Tanya Laila yang masih kwatir jika ia adalah orang ketiga yang akan menghancurkan rumah tangga orang lain.
"Mungkin sakit hati iya, tapi ia juga harus menerima kenyataan bahwa ia tidak mampu memberiku keturunan yang sangat diharapkan oleh aku dan keluargaku." Ucap tuan Edy meyakinkan istrinya Laila.
"Baiklah, pertemukan aku dengan keluargamu dan istri pertamamu, kita nggak mungkin bersembunyi terus karena kita bukan pezinah atau penjahat." Ujar Laila yang sudah siap dengan apa yang akan terjadi nanti.
Keduanya saling berpelukan lalu menatap wajah mereka satu sama lain, saling memberi kekuatan untuk maju bersama menghadapi resiko yang akan mereka terima.
Tidak lama ada telepon masuk, tuan Edy beranjak meninggalkan istrinya di kamar dan berlalu meraih gagang telepon yang tergantung dekat ruang keluarga.
"Hallo selamat malam tuan!" Sapa Rully dari seberang telepon.
"Malam Rully, ada yang sudah kamu temukan atas penyelidikan Laila istriku?" Tanya tuan Edy dengan suara yang sangat pelan.
"Saya sudah mencari tahunya tuan, anda akan sangat kaget setelah mengetahui ini." Ujar Rully.
"Nona muda Laila ternyata seorang model dan nama populernya dalam dunia modeling adalah Larasati, dia adalah putri seorang konglomerat yang bernama tuan Indra Kusuma, yang lima bulan lalu telah tewas atas pembunuhan yang dilakukan oleh sopir pribadinya dan ibunya nona muda juga tewas, setelah diperkosa oleh orang yang sama, kabarnya nona Laila kabur dari rumahnya dimalam naas itu dan ia diketemukan oleh mami Endah yang hampir menabraknya ketika ia sedang menyelamatkan diri." Jelas asisten Rully secara detail perihal kejadian nahas malam itu.
"Degg!" Laila sepahit itukah hidup yang kamu alami saat ini sayang?"
Tuan Edy menelan salivanya dengan kasar, ia tidak menyangka istrinya adalah seorang gadis hebat dan memiliki keluarga baik-baik.
"Tuan, apakah aku harus menyelidiki ini lebih lanjut atau bagaimana tuan, aku hanya menunggu perintah darimu saja." Tanya asistennya Rully yang merasa didiami oleh bosnya.
"Untuk sementara kita abaikan saja informasi penting ini, karena saat ini istriku sedang hamil muda dan aku takut jika informasi ini sampai diketahuinya, itu akan berpengaruh pada jiwanya dan itu tidak baik untuk pertumbuhan calon bayiku dirahimnya. Lagi pula penjahat diluar sana masih berkeliaran untuk mencelakainya. Jadi ku mohon kita rahasiakan ini sementara darinya, sampai ingatannya sendiri kembali mengingat lagi siapa dirinya.
"Tapi bos sepertinya dia saksi kunci, karena berita yang beredar bahwa ia sengaja dikejar oleh para penjahat untuk membunuhnya untuk menghilangkan saksi utama."
"Saya mengerti Rully, tapi keadaan istriku tidak memungkinkan dirinya bersaksi kalau ingatannya saja terganggu."
"Baiklah bos, saya tidak akan menyelidiki lagi lebih lanjut. Saya pamit bos." Ucap asistennya Rully lalu menutup telepon umum diseberang sana.
Tuan Edy kembali ke kamarnya menemui istrinya tercinta yang sedang membaca buku. Tapi sebelumnya itu ia meminta pembantunya untuk menyingkirkan semua majalah yang ada di rak buku agar istrinya tidak melihat dirinya yang merupakan model terkenal yang menghiasi dua majalah popular yang ada di Indonesia saat itu.
"Sayang besok kita akan ke Jakarta, aku harus kembali ke perusahaan dan kamu akan tinggal di rumah orang tuaku sampai aku bisa membelikan rumah untukmu. Apakah kamu mau, hmm?" Tanya tuan Edy sambil membelai rambut istrinya.
"Iya sayang, terimakasih sudah mau mencintaiku." Ucap Laila mengecup bibir suaminya.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷
Keesokan harinya pasangan ini berangkat ke Jakarta menemui keluarga besar tuan Edy. Kebetulan hari itu hari libur jadi keluarga besar pasti sedang berkumpul.
Tuan Edy memperkenalkan Laila pada ibunya terlebih dahulu, awalnya semuanya baik-baik saja, tapi ketika tuan Subandrio yang baru keluar dari ruang kerjanya menemui menantu keduanya, yang sudah diceritakan oleh putranya nampak senang karena ia akan menjadi seorang kakek.
Tapi langkahnya terhenti ketika Laila menghampirinya untuk bersalaman. Matanya terbelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, wajahnya seketika pucat pasi, tangannya gemetar dengan jantungnya seakan hampir mau lompat dari raganya. Ia saat ini seakan sedang melihat hantu yang akan mencekiknya. Ia kenal benar dengan wajah yang tidak asing ini, yang merupakan putri sahabatnya yang telah mereka bunuh dan ibunya diperkosa dengan keji oleh sahabatnya tuan Hermanto hingga tewas. Ia terpaku ditempatnya tanpa bisa melangkah.
"Papa ini istriku Laila, gadis yang aku ceritakan tempo hari pada papa."
"Laila ini papaku, Subandrio Diningrat." Ucap tuan Edy memperkenalkan keduanya.
Laila meraih tangan tuan Subandrio untuk ia salim, sedangkan tuan Subandrio sedikit heran mengapa Laila tidak mengenalnya.
"Apakah dia pura-pura tidak mengenalku, apa yang terjadi pada gadis ini, bukankah seharusnya dia sudah mati sama seperti kedua orangtuanya, berarti dia diselamatkan oleh putraku selama ini. Astaga!" jangan-jangan ia hilang ingatan karena kecelakaan itu dan mengapa harus dia yang menjadi menantu keduaku, orang yang seharusnya aku hindari malah datang kepadaku sebagai menantuku dan ironisnya saat ini ia sedang mengandung cucuku. Permainan takdir seperti apa ini." Ucapnya dalam diam menatap wajah cantik Laila yang sangat mirip dengan ibunya nyonya Alea.
"Apakah papa baik-baik saja ataukah papa pernah mengenal Laila sebelumnya." Tanya tuan Edy yang melihat perubahan wajah papanya yang kelihatan kurang sehat.
"Maafkan papa Edy, sepertinya papa kelelahan dan merasa sangat pusing, papa mau ke kamar dulu dan nak Laila terimakasih sudah menjadi bagian dari keluarga ini." Ucap tuan Subandrio dengan perkataan yang buru-buru, lalu meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya.
Di dalam kamar ia menghubungi sahabatnya yang sekaligus besannya tuan Hermanto, ia menceritakan semuanya tentang Laila yang saat ini menjadi menantu keduanya.
"Apa??" Laila putri Indra Kusuma sekarang menjadi menantumu, bagaimana ini bisa terjadi, bukankah anak buahku mengatakan bahwa Laila sudah tewas karena ledakan mobil yang terjadi beberapa bulan yang lalu. Ya Tuhan mengapa sekarang menjadi runyam begini Subandrio. Apakah kamu tidak bisa meminta putramu menceraikannya, dengan alasan kamu tidak mau menerimanya sebagai menantu karena dia adalah seorang pela**r. Aku akan meminta bukti keberadaan dia selama berada dirumah bordil yang merupakan tempat langgananku.
"Sepertinya dia hilang ingatan, kamu nggak usah kwatir karena aku akan mengatasi ini dengan caraku sendiri." Ucap tuan Subandrio yang sudah menemukan solusinya untuk menyingkirkan menantunya tersebut.
"Ok kalau begitu aku sangat mengandalkanmu Subandrio sebelum ia akan menjebloskan kita ke jeruji besi." Ucap tuan Hermanto lalu menutup telepon itu dengan kasar.
"Sialan kamu Indra Kusuma!" Kamu sengaja mengirim putrimu ke keluarga kami dan menjadi madu dari putriku untuk membuat hidupku tidak tenang. Aku harus meninggalkan Indonesia sebelum putrinya Indra Kusuma mengenali wajahku." Ujarnya dengan bercucuran keringat dingin karena mendengar berita yang saat ini sedang mengancam jiwanya mulai sekarang dan entah sampai kapan. Sejak malam pembunuhan itu terjadi ia selalu dihantui rasa bersalah, wajah Indra dan istrinya selalu datang dalam mimpinya, untuk meminta pertanggungjawabannya, dan itu berlangsung setiap malam, hingga membuatnya takut untuk memejamkan mata.
🌷🌷🌷
Setelah melahirkan putranya Daffa, keadaan rumah tangganya mulai kacau. Maya yang mulai iri dengan madunya, mengancam suaminya untuk tidak terlalu memperhatikan Laila dan putranya jika tidak ingin orang lain tahu bahwa ia sudah menikahi seorang pela**r, sedangkan di keluarganya tuan Edy sendiri, istri tuan Subandrio yang awalnya menyukai menantunya Laila ketika mengetahui asal Laila yang merupakan seorang wanita penghibur, beralih membenci menantunya itu karena hasutan dari sang suami. Hal ini membuat tuan Edy makin tertekan, ia meminta papanya untuk tidak memberitahukan bagaimana awal mula ia bertemu dengan Laila istrinya yang merupakan seorang gadis dari kalangan pela**r, yang sebenarnya tidak seperti itu, karena Laila masih suci saat ia nikahi.
Tuan Edy yang tidak ingin anak dan istrinya akan mengalami siksaan batin, iapun memboyong istrinya pindah ke rumah kontrakan, hingga mansion yang dibangunnya menjadi sebuah istana indah lengkap dengan para pelayannya hingga saat ini yang ditempati oleh nyonya Laila.
Laila hanya pasrah mengikuti suaminya tanpa mengerti apa yang sedang terjadi. Tuan Edy menjalani pernikahan keduanya selama 27 tahun dengan penuh penderitaan, ia harus menjadi seorang ayah yang sangat jahat pada putranya, ia tidak begitu maksimal memperhatikan putranya Daffa sehingga anak itu tumbuh tanpa figur seorang ayah yang diharapkan oleh Daffa karena ancaman keluarga besarnya dan juga istri pertamanya Maya.
🌷🌷🌷
Sampai suatu hari ketika pernikahan kedua putranya Daffa dan Anjani, putri dari tuan Fahri yang merupakan keponakan dari tuan Hermanto. Tuan Hermanto yang akhirnya datang ke Indonesia tanpa rasa kwartir jika dirinya akan aman untuk menghadiri acara sakral cucu keponakannya akan menikah dengan Daffa cucu dari sahabatnya sendiri.
Nyonya Laila yang baru pertama kali melihat tampang tuan Hermanto yang tidak lain ayah mertua suaminya Edy sangat syok ketika mereka berpapasan di acara tersebut. Laila sangat gugup dan hampir pingsan ketika melihat wajah lelaki itu yang merupakan pembunuh kedua orangtuanya. Ingatannya seketika pulih melihat wajah sadis seorang Harmanto. Keringat dingin mengucur deras, wajahnya makin pucat, ditambah lagi ia mengingat lagi peristiwa naas itu yang terjadi 28 tahun yang lalu. Suaminya tuan Edy menghampiri istrinya yang sepertinya sedang ketakutan akan sesuatu.
"Sayang, apakah kamu sedang sakit?" tanya tuan Edy seraya menggenggam tangan istrinya yang terasa sangat dingin.
"Mas aku ingin kita pulang sayang karena aku tidak sanggup lagi berada di sini." Ucap nyonya Laila dengan bibirnya yang gemetar.
"Baiklah, lagipula Daffa sudah meninggalkan acara ini, mungkin dia kembali ke apartemennya, sebaiknya kita pulang juga. Tapi apa yang terjadi padamu sayang, sepertinya kamu kelihatan ketakutan pada seseorang, apakah ada yang sedang mengancam dirimu?" Tanya tuan Edy penasaran atas perubahan sikap istri keduanya ini.
__ADS_1
"Sayang, aku akan jelaskan kepadamu, tapi tidak disini, aku mohon kita pulang sekarang juga." Ucap Laila setengah memaksa suaminya untuk meninggalkan tempat acara pernikahan putra mereka.